SEDOTAN DUIT BUAT BENIH HIBRIDA

PARA PEMULIA MELAWAN BENIH HIBRIDA
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

” musim ini tanam padi apa pak”

” mau coba tanam Intani-2, kata teman-teman hasilnya bagus “

” bapak tau jenis padi apa Intani-2 itu?”

” nga tau, mas”

” bapak tau harganya”

” iya sih, kata teman harga benihnya mahal”

” kata teman bapak berapa harganya?”

” mereka bilang bisa 40.000 per kilo, mas. Tapikan nanti bisa bapak tanam kembali buat bibit”

” teman bapak nga cerita lebih lanjut?”

” cerita apa ya mas?”

” Benih padi Intani-2 itu benih hibrida. Itu artinya setelah panen benihnya tidak bisa dipakai kembali”

” masa sih, mas? tapi tumbuhkan kalo ditanam?”

” kalau tumbuh ya tumbuh, cuma hasilnya akan jauh berkurang”

” kenapa bisa begitu, mas?”

” ya memang diciptakan untuk seperti itu, direkayasa supaya petani beli terus. Supaya petani tergantung pada benih hibrida”

” kalau hasilnya bagus kan bisa ketutup biaya pengeluaran petani”

” itu yang petani harapkan hasil bagus, tapi kalau hasilnya kurang bahkan gagal panen bagaimana pak?”

Padi varietas Intani-2 adalah salah satu benih hibrida yang ada di Indonesia. Benih hibrida digadang-gadang salah satu cara untuk bisa mengenjot produksi di Indonesia untuk mencapai swasembada pangan khususnya beras.

Pertanyaannya : ” Apa betul kita berharap dari benih hibrida untuk menigkatkan produksi beras nasional?”

Kebutuhan benih hibrida di Indonesia?

Dalam satu tulisan dikatakan bahwa padi hibirida dijadikan andalan menggenjot produksi beras nasional. Sayang dari kebutuhan benih padi hibrida nasional sebesar 8.000 ton, kemampuan di dalam negeri hanya sekitar 3.000 ton. Selebihnya diperoleh dari impor.

Menurut Direktur Perbenihan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Bambang Budianto di Jakarta, Rabu (12/10), dari 3.000 ton produksi benih hibrida, sebesar 1.500 ton berasal dari kontribusi BUMN Benih Sang Hyang Seri. Sedangkan sisanya dipenuhi perusahaan benih swasta.

Siapa pihak swasata yang bermain  di benih hibrida?

Berdasarkan info dari GATRA 13 januari 2012, PT Long Pin Hi-Tech adalah yang memasukkan benih padi hibrida China ke Indonesia sejak tahun 2004, lewat perusahaan afiliasinya di Jakarta, PT Bangun Persada, Long Pin sampai saat ini terus memasukkan benih hibrida impor. “Jumlahnya mencapai ribuan ton,” kata sumber GATRA. Tapi importir benih bukan hanya Long Pin. ”Banyak pemain besar memasukkan benih ke Indonesia,” katanya.

Kebanyakan dari mereka sebenarnya perusahaan multinasional, seperti Dupont, Bayer, dan Charoen Phokphand. Dupont bermain lewat PT Dupont Indonesia, seperti Bayer dengan PT Bayer Indonesia-nya. Sedangkan Charoen mendirikan PT Bisi Internasional Tbk. Di luar tiga besar ini, ada pula beberapa perusahaan nasional, seperti PT Biogene Plantation, Triusaha Tani, dan Sumber Alam Sutera (SAS). Nama terakhir ini adalah perusahaan yang menjadi bagian dari Artha Graha Network milik taipan Tomy Winata.

Berapa harga dasar atau biaya untuk membuat benih padi hibrida?

Memproduksi benih, baik padi atau jagung hibrida, hanya butuh biaya produksi 15.000 – Rp 20.000 per kg. Padahal harga benih padi maupun jagung hibrida di pasaran, Rp 40.000 – Rp 50.000 per kg.

Jadi kalau kebutuhan benih hibrida di Indoensia sekitar 8.000 ton, dengan harga Rp. 40.000 saja maka duit yang bersedar untuk benih padi hibrida sekitar 320 milyar. Dengan laba Rp. 20.000 saja maka keuntungan dari benih padi hibrida mencapai 160 milyar. Tapi bila keuntungan 35.000 berarti laba yang didapat dari benih padi hibrida sekitar 280 milyar. Ini baru dair benih padi hibrida, belum dari tanaman pangan yang lain.

Kegagalan benih-benih hibrida

Yang digembar gemborkan dari benih hibrida adalah hasil yang tinggi bisa mencapai 10 – 11 ton/ha. Padahal tak selamanya padi hibrida mencapai angka tsb. Banyak berita yang menggambarkan kegagalan benih hibrida.

Pengalaman pahit terkait benih hibrida dirasakan Yudi Prasetyo, petani asal Desa Jambu Kidul, Klaten, Jawa Tengah. Menurut Yudi, ketika usia padi hibrida Intani-2 di lahan miliknya baru dua bulan, wereng mulai menyerang. Hanya dalam waktu 10 hari setelah serangan pertama, tanaman padi yang menjadi tumpuan hidupnya amblas. Ketika itu, kata Yudi, pemerintah menganjurkan penggunaan pestisida untuk membasmi wereng. Pemerintah memberi bantuan pestisida murah seharga Rp 10.000 per liter, meski harga hara sebenarnya Rp 40.000.Namun upaya penyemprotan ini gagal. Setelah pestisida disemprotkan, serangan wereng justru makin hebat. “Di tempat saya, sebelum dikasih pestisida, masih hijau. Tapi, sesudah dikasih pestisida, dua hari saja sudah habis,” tutur Yudi. “Biasanya saya bisa panen padi satu ton. Ini habis, tinggal di pinggir-pinggir saja,” tambahnya ( Gatra 13 januari 2012 )

Padahal benih hibrida selain harganya mahal bangettt ( bisa 5 – 8 x lipat mahalnya ) dibanding varietas unggul lokal juga rakus pupuk. Selanjutnya tak tahan hama dan penyakit, belum tentu cocok dengan agroklimat daerah indonesia  sebab sebagian besar benih hibrida diimpor dari Cina. Agroklimat daerah cina amat berbeda dengan keadaan  negara kita.

Banyak petani beralih dari benih hibrida

Kalau melihat varietas unggul lokal pun tak kalah hasilnya dengan padi hibrida. Padi Inpari 10 misalkan. Di lampung, banyak petani yang tadinya memakai benih hibrida banyak yang beralih ke Inpari 10.

Penggunaan benih padi hibrida tahun 2012 diperkirakan turun. Hal ini disebabkan banyaknya petani yang mengalami gagal panen setelah menggunakan benih padi hibrida impor. Untuk itu, sejumlah petani mulai beralih memakai benih lokal yang terbukti memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Seiring banyaknya petani di Lampung yang gagal panen akibat kualitas benih padi hibrida impor yang tidak bermutu, permintaan benih Inpari 10 Laeya juga melonjak sehingga PT BCL melakukan pembenihan sesuai dengan permintaan sejumlah gapoktan yang ada di Lampung. Harga benih padi hibrida impor ini jauh lebih mahal Rp50 ribu per kilogram, sedangkan harga Inpari 10 Laeya hanya Rp8.000/kg. ( Lampung post )

Pemulia tanaman padi lokal >< benih hibrida

Bila di suatu kabupaten/kota seperti di Indramayu bisa menghasilkan ratusan pemulia  tanaman maka daerah tersebut akan bebas dari benih hibrida yang sebagian besar adalah impor. Dalam bahasa lugasnya, bila kita impor berati “ngasih makan negara orang”. Mengapa uang tsb tak  beredar di daerah sendiri?

Jadi bila kab/kota bisa meniru Kab Indaramyu dalam menghasilkan para pemulia padi pada hakekatnya mereka membantu pemerintah dalam menghemat anggaran negara. Sebab selama ini kebutuhan benih hibrida mnedapatkan subsidi dari pemerintah sebesar Rp 219 miliar untuk lahan seluas 300.000 hektare.

Andaisaja unang sebanyak itu digunakan untuk memberikan pelatihan kepada para petani untk menjadi petani pemulia maka negara ini akan swasembada pangan dalam waktu singkat. Sebab mereka akan melahirkan atau menciptakan varietas-varietas yang hasilnya jauh melebihi produksi padi hibrida.

Apakah ada padi hibrida yang panjang malainya 52 cm dan jumlah bulir per malai 702 milik pak Ito? padahal Pak Ito bisa melakukan itu tanpa subsidi pemerintah. Bahkan hasilnya bisa ditanam kembali. Mengapa? alasannya sederhana saja : Pak Ito menjadi pemulia untuk disebar ke petani lain. Sedang para pencipta padi hibrida punya cita-cita agar petani beli terus, agar petani bergantung terus pada perusahaan. Agar duit petani tersedot ke perusahaan besar. Agar duit petani disedot negara lain.

About these ads

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI, PEMULIAAN TANAMAN. Bookmark the permalink.

6 Responses to SEDOTAN DUIT BUAT BENIH HIBRIDA

  1. suli says:

    Selamat pagi Pak Nurman
    Wah tulisan yang aku tunggu…ini penting buat petani.
    Saya tulis sebagian mengutip dari tabloid Respect edisi 6 agust-sept 2010
    Siapa yang menguasai benih akan menguasai kehidupan,10 perusahaan ini menguasai 67% atau 2/3 dari pasar benih global bersertifikat dengan jumlah $14.785 m (sumber ETC Group,2009,berdasarkan data 2007). ETC Group memperkirakan pada 2007 saja,benih hasil rekayasa genetik milik monsanto,termasuk yang lisensinya di beli oleh perusahaan sekitar 250 perusahaan lain,mencapai 87% dari luas tanaman hasil rekayasa genetik di seluruh dunia.
    1.Mosanto (AS) $ 4,964 m 23%
    2.Dupont (AS) $ 3,300 m 15 %
    3.Syngenta (Swiss) $ 2,018 m 9%
    4.Groupe Limagrain (perancis) $ 1,226 m 6%
    5.Land O’Lakes $ 917 m 4%
    6.KWS AG (Jerman) $ 702 m 3%
    7.Bayer Crop science (Jerman) $ 524 m 2 %
    8.Sakata (Jepang) $ 396 m < 2%
    9.DLF Trifolium (Denmark) 391 m < 2%
    10.Takii (Jepang) $ 347 m < 2 %

    Indusri Benih di Indonesia di kuasai
    1.PT.Bisi International,Tbk
    2.Syngenta International
    3.Dupont Indonesia
    4.PT.East West Seed Indonesia
    5.Mosanto Indonesia

    Di mana benih para petani ??????yang bisa kita simpan dan mempertukarkan antar petani dari malai malai 'emas'sejati. caranya dengan kembalikan tradisi 'wiwitan' proses awal memetik benih yang di lakukan perempuan. untuk malai malai terbaik.dari padi padi inhibrida. dengan cara yang bijak saya yakin petani bisa memanen sesuai harapan.

    • NURMANIHSAN says:

      Selamat Malam Mas Suli,
      Trima kasih info tambahannya, info yang memberikan pencerahan bagi petani kita. Sekarang kita sadar, kita “telah dijajah” oleh perusahaan asing dalam hal benih.
      Smoga muncul kedepan pemulia2 baru dengan hasil yang lebih baik. Amin

  2. suli says:

    Lihat bagaimana mereka menciptakan benih ‘terminator’ supaya kita beli terusss……kadang sebagian petani tidak peduli dengan harga yang selangit,mereka (produser)mengelusnya dengan produktifitas tinggi jadi biaya benih tertutupi, namun di lain pihak rentan hama dan penyakit. pada padi hibrida begini ‘pengendalian hama dan penyakit di sarankan dengan kaidah kaidah PTT’ artinya petani tidak boleh lengah sedikitpun dengan mempersiapkan ‘peralatan tempurnya beserta amunisi kelas wahid’..lantas siapa yang ikut kena peluru nyasar dari pertempuran habis habisan itu ? mereka tak berdosa (baca:predator) terkapar sia sia….tidak seperti nenek moyang mereka dulu menjadi sahabat petani. petani sekarang lupa ,di sawah yang di lihat hanya tanaman dan hama plus penyakit. saat ada hama ya itu tadi…..

    Sudahlah lupakan benih benih hibrida dan terminator yang belum sesuai dengan SDM petani kita, kembalikan tangan tangan arif bijaksana untuk menyikapi khususnya padi pada tatanan yang selaras,patuh pada perintah alam.

  3. Lia says:

    selamat sore Bpk. Nurman
    saya Lia dari bogor, kebetulan sekali pak sedang mengerjakan tugas yang membahas mengenai impor benih hibrida yg dilakukan pemerintah untuk swasembada, tetapi disisi lain impor hibrida hanya menghabiskan biaya dan petani pun sering mengalami kerugian dengan benih hibrida ini.
    Maaf pak, klo saya boleh tau menurut bapak solusi apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan petani agar masalah impor hibrida ini dapat diselesaikan?

  4. NURMANIHSAN says:

    Trima ksh atas komennya,,,
    Menurut saya, langkah yang harus diambil adalah :
    pertama, petani harus punya kemampuan menjadi pemulia tanaman baca http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2012/04/06/pemulia-tanaman/. Mengapa? sebab setiap tempat punya padi lokal. Nah, padi lokal inilah yg jadi objek pemulian oleh petani dengan dikawinsilangkan oleh varietas tertentu. Jadi tercipta di tiap daerah varietas unggul lokal yg spesifik lokasi.
    Sayangnya, pihak lain yg bergerak dilevel ini seperti FIELD Indonesia yg sukses melahirkan pemulia tanaman berkualitas. Peran pemerintah di bidang ini masih sedikit.
    2. Rubah UU yg merugikan petani, baca http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2012/05/18/kisah-duka-para-pemulia/. Beri kemudahandan penghargaan petani pemulia yg sukses melahirkan Varietas Unggul Loka.
    3. Meninjau kembali perusahaan pemasol benih hibrida yg tak mematuhi peraturan dan kerja sama.
    4. Biasanya sebagian besar benih hibrida yg ada di petani (ditanam petani) adalah bantuan dari pemerintah. Artinya petani pun tak mau/enggan membeli benih hibrida. Masalahnya benih hibrida tsb sebagian besar impor. Kenapa pemerintah tak meracik benih hibrida sendiri dalam jumlah yg sama dengan impor.
    5. Pemerintah harus menciptakan varietas unggul yg hasilnya sama dng benih hibrida.
    6. dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s