BUDIDAYA TANPA PUPUK KIMIA

BUDIDAYA PADI TANPA PUPUK KIMIA
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Tanaman Butuh Pemupukan

Bila pertanyaan, apakah mungkin tanaman padi bisa menghasilkan panen yang baik tanpa pemupukan??

Jawaban saya : tentu tidak

Tapi, bila jawaban tsb kita geser sedikit saja, apakah mungkin  tanaman padi bisa menghasilkan panen yang baik tanpa pupuk kimia ??

Jawaban saya : tentu bisa, bahkan sangat-sangat bisa !!

Tentu saja, ada sanggahan dari pihak lain.

“ Ahh, mana mungkin bisa. Mana ada tanaman padi, hasilnya baik tanpa pupuk kimia sama sekali,,,”.

Sekali lagi: sangat-sangat mungkin,,,

Ini telah dibuktikan oleh petani-petani SRI Organik, bukan hanya satu-dua musim. Tapi sudah di atas 7 tahunan. Bahkan mungkin bisa lebih lagi. Dan, hasilnya fantastis : di atas 7-8 ton/ha. Ini adalah hasil minimal.

Realitas Di Lapangan

Anda kenal dengan padi bunda? Berapa rata-rata dosis pemupukannnya ?  berapa jumlah anakkannya? Berapa hasilnya? Berapa jumlah gabah hampa? Dll

Padi bunda, berdasarkan deskripsinya, jumlah anakkannya sekitar 10-15. Maka disarankan ditanam dengan jumlah banyak bibit /tancep. Oleh sebab itu, kebutuhan benih padi bunda besar.

Kemudian, padi bunda biasanya dalam 1 malai, jumlah gabah hampa cukup banyak. Itupun sudah dipupuk dengan pupuk kimia yang banyak.

Bagaimana kalau padi bunda ditanam dengan SRI Organik?

Ketika saya di NOSC, saya lihat ada 4 kotak sawah yang ditanam padi bunda dengan SRI Organik. Kotak tsb sebagai demplot. Ada 1 kotak yang seluar 80 m2. Dan 3 kotak lagi masing-masing 16 m2.

Apa hasilnya?

Bibit yang ditanam dengan SATU BIBIT SAJA dapat menghasilkan /mencapai 35an anakkan.  Atau kalau dirata-ratakan sekitar 20an anakkan. Padahal, bibit tsb baru berumur sekitar 35 hst ( ditanam umur 7  hst). Artinya, jumlah anakkan masih mungkin bertambah lagi.

Ingat itu dari SATU BIBIT saja. Bisa menghasilkan anakkan yang banyak. Kalau padi bunda dengan pupuk kimia  biasanya ditanam 2-5 bibit/tancep. Itupun jumlah anakkan 10-15. Jadi tiap bibit, cuma menghasilkan 3-5 anakkan saja.

Karena belum panen, saya belum  bisa melihat jumlah bulir hampanya. Semoga, saya bisa melihat jumlah malainya. Dan menghitung jumlah bulir hampanya.

Mau bukti lain?

Tahun 2012, BATAN bekerjasama dengan NOSC untuk tanam padi pandan putri di Hambalang. Mereka ingin mengetahui, bila hasil rekayasa padinya ditanam dengan SRI organic.

Padi pandan putri kalau dilihat dari karakter/deskripsinya menghasilkan jumlah anakkan sekitar 10-15. Itupun kalau ditanam 2-5 bibit/tancep. Sekali lagi, itupun pakai pupuk kimia.

Bagaimana kalau ditanam dengan SRI Organik?

Menurut teman saya yang tanam panda putri dengan SRI Organik, jumlah anakkannya dapat mencapai 82/rumpun. Bahkan yang ditanam dipolybag bisa mencapai 98 anakkan. Ingat, asalnya Cuma SATU BIBIT SAJA. Sekali lagi, dapat menghasilkan 82-98 anakkan. Tapi kalau jumlah rata-ratanya sekitar 20-30 anakkan.

Para peneliti BATAN yang bergelar Doktor, yang melakukan pemulian padi pandan putri tentu saja heran. Bagaimana bisa???

Ketika mereka bertanya kepada petani SRI Organik,” kalian pakai pupuk apa?”

“kami tak pakai pupuk kimia pak?”

“kalian pakai pupuk apa, beli dimana?”

“kami pakai pupuk buatan sendiri, pak?”

“ahh, masa sih?”

“betul pak, kami cuma pakai pupuk kompos dan MOL (POC). Itupun buatan sendiri”

Nah loh, meraka saja, para pakar pemulia dengan gelar doctor bingung; kok bisa ya?

Tapi, jngan bingung. SRI Organik memang oke.

Betul, mereka cuma pakai pupuk kompos dan MOL. Mereka adalah formulator sejati. Sebab pupuk yang mereka gunakan buatan  sendiri. Sebab apa? Pupuk kompos dan MOL gampang dibuat sendiri !!!

Mereka budidaya padi tanpa pupuk kimia sedikitpun. Hasilnya: panennya banyak.

Tak itu saja, pertanian mereka lestari. Lingkungan jadi sehat.

Hidup pertanian SRI Organik.

Kalau Anda penasaran, coba saja kontak NOSC,,,

About these ads

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI, PUPUK ORGANIK. Bookmark the permalink.

20 Responses to BUDIDAYA TANPA PUPUK KIMIA

  1. suli says:

    Ya Pak Ihsan bisa lebih dari 7 tahunan…..banyak tempat seperti tasikmalaya, ciamis dll sudah merasakan jerih payahnya sekarang, tahun 2000an daerah itu baru mendapat sosialisasi SRI organik, pantas kiranya NOSC salah satu wadah pembelajaran para petani untuk bisa mengadopsi SRI. penting kiranya petani meninggalkan cara lama(konvensioanal) karena secara ekonomi kurang menguntungkan dalam usaha tani, walaupun beberapa langkah ada modifikasi SRI yang bersifat individual disesuaikan kondisi geografis,faktor air, curah hujan,kantong hama dan penyakit.

  2. suli says:

    maaf ralat sedikit….sudah merasakan hasil jerih payahnya sekarang sekarang ini,….terima kasih

  3. Pulung says:

    setuju….Mas Nurman…..dengan semakin sehat kondisi tanah….akan semakin tinggi hasil panennya, apalagi dengan membuat POC sendiri….biaya akan semakin dikurangi.

  4. efendy manan says:

    Idem juga Mas Nurman…dan pak pulung
    Sebelum masa Bimas diberlakukan di Indonesia petani kita sudah sangat terbiasa bercocok tanam tanpa pupuk kimia.malah harus di “ancam” untuk memakai pupuk kimia.Tapi sekarang kita malah semakin sangat bergantung pada pupuk kimia.Memang sangat naif kalo kita melarang petani memakai pupuk kimia,namun setidaknya ada usaha menurunkan penggunaan pupuk kimia ke arah yang wajar.
    Saya secara pribadi sangat mengapresiasi blog mas nurman sebagai ajang pembelajaran kepada petani kita untuk kembali ke organik.

    • NURMANIHSAN says:

      Betul mas efendy, bertani adalah pilihan.
      Saya pribadi tidak melarang pupuk kimia. Ya itu tadi, saya rasa kita bisa mengurangi pupuk kimia dan pestisida kimia pada titik tertentu/terendah.
      Sebaliknya memasukkan kompos dan POC/MOL kedalam sawahnya.
      Dan hakimnya petani sendiri, mana budidaya yg terbaik buat dirinya.

      Sy pribadi senang, bila blog ini menjadi salah satu media pencerahan bagi petani di Indonesia.

  5. kebetulan saya baru dan baru pertama kali menanam padi minggu ini
    saya sangat tertarik dengan artikel mengenai POC/MOL
    cuman kalau beli di pasaran merek yang recommended dan banyak di pasaran apa ya mas..?

  6. ghambertani says:

    Di tempat saya masih ada mas, tanaman padi tanpa pupuk kimia. Tapi di lahan itu tidak bisa tanam dgn bibit muda, minimal harus 30hari. Pernah ada yg mencoba memberikan pupuk kimia tapi hasil panen malah berkurang 50 %. Bahkan di lahan ini juga tidak menggunakan pupuk organik. Varietas yang cocok adalah CILAMAYA.

  7. Tono says:

    Maaf numpang Sharing. Saya membuat mol dari bahan: 1 batang pisang, 2 sabut kelapa, 3 daun2an, kotoran,air kelapa,dll untuk basis nitrogennya. Tapi setelah saya cek sederhana pakai lampu, hasilnya masih kalah dengan poc JMG dari UD. JAVA. Saya buat lagi mol dari kuning telur ayam jawa untuk nutrisi pelengkap. Tapi setelah saya cek lagi, tetap masih kalah dgn Jmg. Mohon sarannya. Trims atas jwbn dan roomnya

  8. suli says:

    Mas …gham

    Saya sangat tertarik tanpa pupuk kimia varietas cilamaya bagus, artinya lahan bapak masih murni humus/organik melimpah.sekarang jarang ada lahan lahan seperti itu. pertahankan sawah sawah itu terhindar dari pestisida dan pupuk kimia, Insya Allah beras yang di hasilkan organik jangan di jual. sawah yang sudah terlanjur sakit (tidak seimbangnya ekosistem) penyembuhannya memerlukan waktu yang lama dan di butuhkan tenaga dan pikiran lebih. sawah sawah tersebut sepertinya yang tidak terkena BIMAS masa lalu. syukurnya masih ada ya petani seperti Pak gham….kalau di purbalingga ada Pak Gatot.

  9. efendy manan says:

    Buat mas Tono dan Mas Ardhy…
    Boleh sharing ya…Memang salah satu indikasi MOL atau POC itu bagus secara sederhana selain dilihat dari kandungan makro-mikro juga dari nyala lampu.Nyala lampu mengindikasikan daya hantar listrik melalui ion2 yang biasa disebut elektrolit dalam larutan MOL/POC.Semakin tinggi ion2 elektrolit dalam MOL/POC maka nyala lampu makin terang,bahkan bisa menyalakan lampu 200 watt dengan terang!!!
    Elektrolit sendiri terdiri dari ion-ion bebas yang bersifat konduktif/mudah menghantarkan aliran listrik dalam bentuk asam,basa atau garam2.Jika dihubungkan dengan MOL atau POC,Ion-ion bebas yang terkandung didalamnya merupakan senyawa sederhana hasil reduksi/perubahan baik secara kimiawi,biologi maupun enzimatis dari bahan-bahan organik melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroba.Elektrolit inilah yang sangat mudah diserap oleh tanaman-karena MOL atau POC biasa diaplikasikan secara Foliar(lewat stomata daun) sehingga harus siap saji.
    Dengan kata lain makin tinggi kandungan ion-ion bebas maka makin tinggi “makanan siap saji” bagi tanaman.Sehingga bisa dikatakan MOL atau POC itu bagus.
    Demikian semoga dapat membantu

  10. busa'i says:

    ma kalau bikin MOL dari rumput laut bisa tidak

    • NURMANIHSAN says:

      Trima ksh pak busa’i
      Bisa pak, cuma rumput lautnya direndam dulu pakai air tawar dulu pak. setelah itu, baru ditumbuk/dipotong2/blender baru dibuat MOL. caranya bisa lihat di http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2012/11/27/ayo-buat-mol/
      menurut saya di daerah pantai, pertanian bisa bagus bila media tanam pakai cocopeat kemudian diberikan pupuk dan disemprot dng MOL rumput laut.
      apalagi, banyak sabut2 kelapa di daerah pantai yg terbung percuma, bahkan banyak yg dibakar. tks

  11. busa'i says:

    dan unsur yang dominan kira kira N, P, K ………..?

  12. efendy manan says:

    Bisa pak BUsa’i,Rumput laut banyak mengandung unsur-unsur mikro dan trace element yang sangat diperlukan oleh tanaman.Walaupun unsur N,P,K relatif rendah.Dalam rumput laut juga mengandung zpt auksin…

  13. Suryana suprat says:

    Di daerah saya limbah pabrik kelapsawit,terutama tandan kosong dan sabut sawit apa sama nilainya dgn sabut sawit. Dan bagai mana cara merangkai lampu untuk ngetes MOL.Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s