PANEN PADI 17 TON/HA

MENGHITUNG HASIL PANEN PAKAI LOGIKA
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Bila ada seseorang yang tanam padi hibrida mendapatkan hasil panen sampai 17 ton/ha dan yang inbrida 12 ton. Jelas hasil tsb adalah luar biasa. Sebab kebanyakan petani di Indonesia, rata-rata mendapatkan hasil panen sebesar 5-6 ton/ha.

Jelas hal ini menimbulkan pro dan kontra. Bagi yang pro, akan mengangguk setuju saja, sambil dipelajari bagaimana cara budidaya tsb.

Tapi bagi yang kontra, masih timbul rasa ragu, bahkan ketidakpercayaan sama sekali,,,

” tapi pak, tunggu dulu, saya belum percaya”
” kenapa memang?”
” dapat hasil 10 ton/ha susah, apalagi 17 ton/ha, omong kosong”
” bagaimana cara budidaya anda?”
” biasa saja, pak.”
” biasa bagaimana, pakai model SRI nga? pake jajar legowo nga?  pakai POC ? atau baca saja tulisan saya cara budidaya padi,,,”
” saya biasa aja, pakai pupuk kandang, pupuk kimia dan pakai obat pestisida kok”
” banyak pakai pupuk kandangnya?”
 ” banyak sih tidak, sekedarnya. kalau pupuk kimia banyak juga”
” jadi, bapak mau dapat hasil berapa ton/ha?”
” bukan soal itu, tapi kalau 17 ton/ha susah dicerna akal pak?”
 

Ada juga petani yang aktif komentar di Oksigen Pertanian, ketika ditanya oleh tetangganya tentang hasil 17 ton/ha tsb.

” bagi saya, hasil 17 ton/ha itu betul atau tidak, itu tidak masalah. yang saya ambil dari hasil tsb adalah ilmunya,,,”

Ayo Pakai Logika

Menurut saya, masalah hasil, bisa dicerna dengan logika kok. Saya sudah sering  membahas tulisan tentang ubinan padi. Atau juga mengkonversi tanaman padi di dalam pot ke dalam hektar.

Jadi, hasil 17 ton/ha bisa diuraikan dengan logika. Lebih detailnya, kita bisa bicara dengan angka-angka kok.

Bagaimana caranya

Pertama, kita menghitung jumlah rumpun/tanaman per hektar

Dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm, kemudian pakai legowo semua sisipan baris, maka jarak tanam menjadi 30 cm x 15 cm.

Jadi, jarak tanam 30 cm  x 15 cm

Didapatkan hasil: jumlah tanaman sekitar 222.200 tanaman

Karena memakai legowo 4 : 1, maka didapat jumlah tanaman sekitar 177.800 tanaman. Itu kalau jarak antar legowo 60 cm.

Jadi, jumlah tanaman/ha tsb ada di antara 177.800 – 222.200 tanaman

Tapi, mas avi pakai jarak antar legowo 40 cm. Jadi, agak gelimet lagi menghitung jumlah tanaman. Tapi, tetap bisa diketahui berapa kira-kiranya.

Menurut (hitungan) saya, dengan jarak tanam 30 x 30 cm, sistem tanam legowo 4:1, model sisipan semua baris, jarak antar legowo 40 cm, didapat hasil  jumlah rumpun : sekitar 207.400 tanaman.

Bila sudah didapat jumlah rumpun maka akan  mudah menghitungnya.

Kedua, Membagi jumlah hasil panen dengan jumlah rumpun

Jadi, sudah jelas, hasil 17 ton/ha didapat dari 207.400 tanaman

= 170.000.000 gram/ha : 207.400 tanaman

= 82 gram/tanaman

Apa artinya ini ?

Bila kita ambil 5 – 10 tanaman mas avi secara acak, kemudian kita  rontokan bulirnya, maka akan didapatkan angka rata-rata sekitar 82 gram.

Menurut saya, masih ada kemungkinan bila hasil per tanaman akan bertambah menjadi 90-100 gram/tanaman. Sebab lahan mas avi, dengan perlakuan organik, dari musim ke musim akan semakin subur.

Bila 90 gram/tanaman akan didapat hasil 18,6 ton/ha

Bila 100 gram/tanaman akan didapat hasil 20,7 ton/ha

Berapa jumlah bulirnya

Bila saya asumsikan, berat bulir gabah per 1000 bulir GKP adalah 30 gram, maka jumlah bulir dalam 1 tanaman tsb adalah 2.733 bulir.

Kalau saja tingkat kebernasan sebesar 85 % maka jumlah bulir pertanaman tsb sebanyak 3.215 bulir

Bila 1 tanaman terdapat 20 -25 anakkan maka tiap malai berisi,

1 tanaman 20 anakkan, 1 malai rata-rata berisi 161 bulir

1  tanaman 25 anakkan, 1 malai rata-rata berisi 129 bulir

Rendemen beras

Bagi saya, ending dari cerita cara budidaya padi mas avi adalah yang paling menarik. Mengapa ? sebab gabah tidak dijual langsung. Tapi, dijadikan beras.

Jelas ada alasan khusus, sebab rendemen berasnya sangat tinggi.  Rata-rata bisa mencapai 80 %. Bahkan lebih sedikit. Jelas saja, dia  tidak mau dijual dalam bentuk gabah.

Begitulah bila dalam budidaya padi, ada perlakuan sistem tanam, pola SRI, pemupukan berimbang, penambahana bahan organik/kompos, perlakuan MOL/POC yang rutin tiap pekan. Hasilnya rendemen beras tinggi.

Kesimpulan

Banyaknya hasil panen ditentukan oleh

1. Jumlah rumpun per hektar

2. Jumlah anakkan padi

3. Jumlah gabah bernas

4. Berat 1000 bulir padi

5. Cara budidaya yang benar

Dengan cara budidaya non hibrida yang benar dan tepat, maka bisa dapatkan hasil panen padi sebesar 17 ton/ha.

Catatan :

Hasil yang didapat mas avi sebanyak 17 ton/ha, didapat di MT 3. Untuk di MT lain, biasanya hasil panen tidak sebesar di MT-3.

Mengapa di MT-3 hasilnya tinggi ? sebab di MT-3 cahaya matahari (panas) yang hasilkan maksimal, asalkan kebutuhan airnya tercukupi.

 

About these ads

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

101 Responses to PANEN PADI 17 TON/HA

  1. Parwito says:

    Saya sangat senang mendengar berita ini mas dan akan saya sampaikan kepada teman-teman tani. Meskipun saat ini teman-teman tani juga sudah mengaplikasikan bertanam padi secara alami dg metode SRI tetapi memang masih ada yang baru MT1 dan MT2 tetapi melihat hasilnya yang cukup bagus, mereka semakin optimis mengambil jalan sunyi ini (5 orang bertanam secara alami) diantara ratusan petani yang memakai pupuk kimia sintesis. Yang menggembirakan pada panen perdana di Dusun Sidokumpul, Desa Leran, Kec. Kalitidu, Bojonegoro-Jatim dari benih 2 kg padi merah dapat menghasilkan gabah kering giling 627 kg (dengan anakan rata-rata 15-20 anakan). Ada juga di Desa Sukoharjo petani dengan luasan sawah 1300 M2 pada MT3 dengan jenis padi Cianjur yang memperoleh 1,2 ton gabah kering sawah

    Pada MT2 ini juga menanam padi merah dengan umur 40 hari, anakannya sudah mencapai 30 anakan dan ini menunjukkan bahwa pemberian MOL (kalau kami menyebutnya bakteri cair yg terdiri dari tape singkong, tempe, susu fermentasi, molase (larutan gula) dan air 1 galon (kurang lebih 19 liter) yg diberikan seminggu sekali sebelum pengolahan lahan, setelah tanam minggu 1 sampai minggu 4 mampu memperbaiki kondisi tanah dan menigkatkan tingkat kesuburan tanah melalui bakteri yang ada di MOL. Jadi jangan ragu, lakukan dengan sepenuh hati, rasa optimis dan jangan lupa lakukan dengan gembira yang terakhir tentunya dengan doa yang kita panjatkan kepada Allah. Saya juga yakin apa yang dilakukan Mas Avi juga begitu, disamping pengetahuan yang memadai dalam mengelola bakteri-bakteri untuk perbaikan di sawahnya.

    Terima kasih Mas Nurman yg selalu menyemangati kita.

  2. cantrik says:

    Pertama baca 17 ton, saya g bisa beropini pak. Tidak terfikir percaya atau tidak, yang terbersit adalah rahasia, teknik, dan perlakuan yg dipakai mas Avi. Judul perjudul budidaya ala mas avi saya baca.. Pada akhirnya, ilmu dan pengalaman mas avi bagi saya lebih berbobot dari 17 ton yg dia capai.

  3. Kalau saya termasuk orang yang suka berkhayal dan bermimpi… he 3x,,,Tapi alhamdulillah mimpi mimpi dan juga semua khayalan saya bisa di nyatakan,,Nah sekarang saya juga lagi bermimpi dan berkhayal bisa produksi padi di atas 15 ton/ha bahkan dalam khayalan saya 30 ton/ha..he 3x,,Banyak hal di dunia ini berawal hanya dari khayalan,,semoga khayalan saya inipun bisa di nyatakan suatu saat…..

  4. suli says:

    Semoga menjadi bahan acuan atau referensi petani petani semua termasuk saya, karena beberapa hal banyak yang mas avi adalah melakukan sendiri (nyemplung ke sawah) , masih banyaknya rantai makanan di sawah, ilmu ilmu biologi yang beliau padukan dengan pertanian, serta daya dukung lahan seperti pupuk organik menjadi barang wajib.
    Dan diperlukan seperti mas avi memang….seperti berkunjung ke rumah mas yuri, ikut mengurai permasalahan sawah sawah di dekat muara citanduy, atau sekedar sambil jalan ke kuwarasan gombong, bagaimana agar petani sadar memakai pupuk organik, jerami padi. atau lain tempat di mana teman petani berada.

  5. arif says:

    assalamu’alaikum wr. wb
    salam kenal buat mas nurman, mas avi, mas efendi, mas cantrik. dan semua para petani dunia maya.
    perkenalkan saya Arif dari karawang. berawal dari iseng-iseng gogling pertanian organik, akhirnya singgah di oksigen pertanian sejak januari 2013 lalu, alhamdulillah setelah membaca semua informasi yang ada di blog ini saya semakin sangat tertarik untuk mengembangkan pertanian. terima kasih buat mas nurman yang sudah membuat blog pertanian ini, saya yakin dengan semua ilmu (informasi) yang diberikan oleh semua nara sumber itu adalah ibadah dan kelak dikemudian hari Allah SWT akan membalas dengan pahala yang berlipat ganda, amiin.
    kurang lebih 3 tahun saya berani menceburkan diri kelumpur. awalnya saya bertani hanya modal bertanya dan belajar otodidak. alhasil dimusim pertama alhamdulilah dapat 3 ton dari luas 0.5 Ha. lambat laun saya semakin jatuh hati di pertanian walaupun boleh dibilang petani mah cape kulitnya jadi hitam, tapi ga masalah klo suadah menjelang panen melihat bulir padi yang menguning dan daun yang terhampar hijau rs lelah semua itu tergantikan semua. apalagi klo sudah terima bayaran dari tengkulak padi. wah pokoknya seneng dah.
    pertanian di tempat saya belum banyak berani yang bereksperimen sistem konvensional, mereka ga muluk -muluk dapat 5-6 ton saja udah bagus. tapi klo bagi saya klo bisa lebih kenapa engga! apalagi setelh membaca pertanian yang mas Avi lakukan dg hasil yang luuuaar biasa, subhanallah.
    musim tanam ini saya akan mencoba ilmu yang mas-mas berikan. tapi saya ada sedikit pertanyaan baut mas Nurman, Mas Avi atau yang lainnya.
    1. jika lahan yang sudah di berikan pupuk organik, pupuk hayati spt agrobio, EM4 dll. biasanya
    sebelum tandur saya memberantas hama keong racun dan samponin ataw jns niklosamida.
    apakah ini tdk membunuh Mikrobanya? solusinya bagaimana?
    2. saya ingin ada pembahasan, bagamana cara mengatasi hama penggerek batang, baik pra dan
    pasca serangan, sebab di tempat saya sudah hampir 4 musim banyak petani yang gagal
    panen
    mungkin itu aja, takut kebaanyakan tanya. mhn maaf saya blm bisa share infonya karena msh awam. terima kasih.

    • cantrik says:

      Waduh ternyata saya paling pemula dalam menanam padi. Secara ilmiah saya tidak bs menjelaskan. Menurut saya jika air di sawah bisa dibuang, dibuat macak macak aja pak, dibuat parit dipinggir petak. Diparitnya itu ditabur irisan pepaya mentah. Jangan dibunuh pak, diberi makan. Sawah tetangga yang memakai furadan dan pembasmi keong, pertumbuhan padinya lambat dan kerdil.

      • avi says:

        Begini mas arif..saran dr mas cantrik itu sangat tepat dg pembuatan parit disekeliling lahan utk mengendalikan keong,lakukan pergiliran air dg metode SRI,lakukan pengapuran dilahan dan bs dikasih irisan pepaya muda atau irisan batang euphorbia,dlm parit bisa dikasih kapur aktif(gamping)insyaa allah keong g akan berani lewat.Dlm pengendalian penggerek batang butuh siasat,pengamatan,penanganan dan kesabaran.Jgn main semprot sembarangan.
        Mas arif nanti bs tukar pengalaman sama bapak haji iwan sutiawan beliau dr karawang jg.Beliau sdh memakai agensia hayati/pesnab dlm mengendalikan PBP

  6. arif says:

    Rencana saya juga gitu mas cantrik, parit yang dipinggir petakan saya kasih daun-daunan dengan anggapan keongnya nanti akan berkumpul, setelah itu keongya dikumpulkan

  7. suli says:

    Salam kenal pak arif….
    Akhirnya keluar juga petani petani di sentra lumbung padi jawa barat, pak haji iwan dari pedes, teman saya, pak haji ade (cukup menyimak aja) dari cilamaya wetan….saya pikir permasalahan di sawah karawang sama , perlu berkumpul bareng tuh pak arif. di perlukan pikiran lebih untuk mengurai permasalahan khususnya hama dan penyakit yang menurut saya ‘sakti’. saya lebih mendukung tidak membanjiri dengan kimia, pak ade sudah mau mencoba BM yang punya pak efendy, pak iwan sudah memakai primanu (maaf tidak ikut promosi). kadang kadang saya sendiri, ngikutin kaki datang ke sawahnya pak haji ade di cilamaya.

  8. arif says:

    Betul brow, akhirnya sy jd kenal petani krwg yang ramah lingkungan. karawang ga hanya terkenal sebagai lumbung padinya jawa barat, tapi juga sebagai surganya para produsen obat pestisida. Tapi sayang para petani disini masih beranggapan pupuk kimia dan pestisida adalah segalanya. dan akhirnya lahanpun jadi kering hara malah kaya pestisida akibatnya produksi berkisar 5-7 ton/Ha. bahkan sering gagal panen jika hama penggerek menyerang. Mainsetnya masih konvensional ga akan berkembang.
    setelah membaca informasi dr para nara sumber tambah lagi wejangan dari mas Avi walaupun via telpon semakin meyakin saya tuk back to organik. kendati hasilnya mungkin tak se WOOW yang mas Avi lakukan paling tidak bisa lebih baik dari sebelumnya.

  9. cantrik says:

    Kebetulan saya tanam bibit muda dan menggunakan legowo. Nah sewaktu mau mengoyos/nggasrok gulma pertama kali, penggiat organik di tempat saya menyarankan memakai gasrokan yg menggelinding/gelebeg. Tujuannya agar gulma rebah, dan keong berpindah kesitu. Dengan catatan area legowo tidak lebih rendah dari area tanam, dan air macak2. Monggo dikoreksi.

  10. efendy manan says:

    Oya,mau nambah mas suli….pak H.Iwan sudah ada verticilium lecanii dan coryne bacterium…tinggal diperbanyak aja.Diharapkan dengan adanya agens hayati bisa membendung gempuran hama penyakit disana..daripada terus bersandar pada pestisida semata.

  11. Ugi says:

    Pak parwito, bisa dishare itu gmn cara mbuat MOL nya.
    Takaran bahan, plus dosis apliksi yg biasa smpean buat

  12. Saya punya sawah dengan luas -+ 2590 m2,menurut Mas avi saya di suruh cari cara supaya bisa mengatur air agar sawah segitu luasnya bisa produksi di atas 4 ton,,selama ini sawah saya memang ngga bisa di atur pengairannya bahkan yang baru tanam seminggu yang lalu tinggal separo habis di makan keong mas,Nah saya punya ide untuk membuat pagar keliling sawah pakai tembok cor fungsinya ,Pertama untuk menahan air agar tidak masuk sawah kita,yang kedua untuk menanggulangi hama tikus dan yang ketiga untuk menanggulangi hama keong mas agar lebih mudah dalam penanggulangannya,kemudian atas saran dari mas Agus woyo di tengah sawah di kasih sumur bor untuk pembuangan air,,,,mohon sarannya para pakar pertanian apakah cara seperti ini bisa mengatasi permasalahan pengaturan air ,keong mas dan juga tikus atau mungkin sudah ada yang menerapkan cara ini mohon sharenya…Rencana saya Insyaallah tahun depan proyek di mulai…..

    • arif says:

      KLO permasalahan keong mungkin masih bisa ditangani sebab pergerakannya lambat, tapi klo sibuntut itu wahhh susahnya ga karuan, klo di saya biasanya para petani menggempur sarang-sarang yang ada ada di saluran sekunder. tapi yang paling jitu mah mas arealnya tinggal di pagari seng 1m kemungkinan besar tikus ga bisa masuk lahan kita

      • Temboknya kan di aci yang sebelah luar mas jadi licin dan tingginya 50 cm di atas pematang untuk menghindari tikus melompat kemudian jarak antara tembok dengan pematang sekitar 20-30 cm sebagai parit sekaligus untuk memaksa tikus berenang terlebih dahulu sehinga otomatis tidak dapat memanjat tembok yang licin,kalau seng umur pakainya yang tidak lama,,karena pasti cepat karatan

    • cantrik says:

      Yang bukan pakar pertanian boleh nimbrung ya mas,. Tekadnya mantap. Jika ditembok cor, apa gak ada hambatan dalam olah tanah mas? Perbaikan saluran pembuangan, mis selokan atau irigasi barangkali bisa diusulkan ke yg berwenang. Mis diperdalam, diperlebar. Jumlah sumur dan kedalamannya harus dihitung cermat kayaknya.

      • ngga ada saluran pembuangan mas cantrik,kalaupun ada jaraknya sangat jauh jadi sangat lambat pembuangan air,sedangkan tanaman baru kalau kena banjir dalam satu malam pasti ludes sama keong mas,,la wong ujung tanamannya ngga kelihatan kalau banjir ,,

  13. avi says:

    Rekan rekan tani dan pembaca semua,Hasil 17ton/ha itu matematis dan realistis.Tidak mudah mendapatkan tp jg tidak sulit mewujudkannya asalkan mau berdoa,berusaha,beriman dan bertawakal.Bersahabatlah dg alam pasti alam akan ramah,sayangi lahan niscaya lahan jg akan sayang.
    Dlm mewujudkan hasil 17ton/ha pantang bagi sy membakar jerami,menebar molusida,nemasida dan herbisida.Silahkan rekan2 tani berekperimen dg lahan pembanding yg tidak memakai pestisida tsb,efeknya sangat jelas dan nyata.Gulma dan keong bs dikendalikan dg teknis dan siasat memang butuh modal dan tenaga lebih skalian diniati amal dan berbagi kpd sesama tp sy yakin itu tertutupi oleh hasilnya.
    Jgn pernah pny anggapan hama dan gulma itu musuh,mereka adalah suara ekosistem alam,jika mereka menggila pasti ada yg salah dg kita dan kita hrs memperbaikinya

    • cantrik says:

      Ramah dengan alam, belajar ikhlas insya allah berkah, tidak ada hama melainkan mahluk hidup yg memerlukan tempat dan makanan. Ini wejangan pertama dari Pak Sutar ketika saya mau menanam padi. Di MT2 ini, yg notabene MT2 pertama saya,..saya makin merasakan kebenaran wejangan tsb, melalui perantaraan pengalaman berjibaku dg keong, dan gulma.

  14. cantrik says:

    Ada kenikmatan sendiri ketika tiap sore banyak yg memunguti keong untuk pakan bebek. di sawah orang lain keong musnah, di sawah sy malah melimpah. Disaat orang lain panik terkena serangan ulat, alhamdulillah padi saya aman. Ulat banyak berkumpul di area legowo, memakan gulma, terutama gulma yg seperti bayam. Sawah memberi nutrisi bagi batin saya.

  15. martono says:

    mau banget dapet hasil panen 17ton/h.makasih pa ihsan atas rumah bp yg telah menyediakan ramuan2 pertanian yg super top ini.begitu juga buat pak avi yg selalu berbagi pengalaman2 super topnya,jamu2 mujarbnya sangat bermanfaat bagi kita semua para petani yg ingin perubahan terutama peningkatan hasil yg mantab banget.mudah2 kita bisa mengikuti langkah2 pertanianya pak avi yg sudah sukses.lanjutkan pak avi,sudah dapat 17 harus bisa dapat 27 pak..he he he

  16. martono says:

    mau banget atuh pak dapet 17 ton/h.makasih banget pa ihsan yg udah menyediakan kamarnya untuk berbagi pengalaman2nya pak avi yg sudah berhasil mencetak nilai tertinggi dalam pertanianya.mudah2an kita2 bisa mengikuti jejaknya pak avi yg sudah berhasil.lanjutkan pak avi skarang dapat 17 mudah2an nanti bisa jadi 27 ya ga pak ihsan..hehe

    • avi says:

      bnyk suka dukanya panen capai 17T/ha pak,metode SRI membuat sy jd kalong(malam g pernah tidur dan siang cm ada wkt tidur 3 jam)model perawatan yg slalu jd omongan tetangga,blm lg pas panen bnyk berita miring dimulut tetangga yg g tau ilmu matematis ada yg bilang pakai dukun ada jg yg bilang pakai pesugihan.Alasannya kalau mlm sy selalu dilahan itu mencurigakan pd hal cm gilir air

      • arif says:

        heee masa sarjana biologi pakai pesugihan. klo tiap malam kesawah gitu itu mah “DEDEMIT”. biarkan saja tetangga mau ngomong apa mas toh mereka ga ngebantuin apa-apa.

    • iwan says:

      pupuk ny apa pak kl blh bagi pegalaman…mks

  17. avi says:

    bener mas yuri,tengah dikasih sumur utk penyerapan air tp jgn lupa dikasih pagar sumurnya takutnya nanti ada yg nyemplung.Jgn lupa jg kasih parit mengitari lahan mas.Tehnik spt itu sy pernah lihat di daerah ponorogo cm disana kebalikannya dg daerah mas yuri,cor utk menahan air agar tak mudah lari dan sumur sbg sumber air irigasinya,

    • Dalam rencana saya pagar cor tersebut jaraknya sekitar 20-30 cm dari pematang,jadi di sebelah dalam pematang ,nah yang 20-30 cm untuk parit,yang saya maksud di sini sumur bor yang dalamnya sekitar 30-50 mtr jadi keluar cuma pipa 1-2″ paling di kasih tanda supaya ngga keinjak sama traktor,,kalau mas arif bilang pakai seng menurut saya memang bagus cuma umur pakainya yang terbatas karena sawahnya selalu tergenang air otomatis sengnya cepat karatan di samping itu saya juga ragu bisa menahan air sampai 50 cm,cuma biaya pengangkutannya memang murah atau mungkin bisa pakai atap kanopi,,,kayaknya itu juga tahan panas dan tahan di rendam di air,,,cuma rentan di curi…dan harganya selangit…

      • avi says:

        kalau atap kanopi kayanya memang mengundang sibuntut kepala hitam(pencuri)pasal ringan dibawa dan harga mahal hehehe

  18. Agus siswoyo says:

    Ternyata di share di sini juga, ikut nimbrung mas yuri…
    Nglanjutin usul saya yg pakai sumur bor itu, yg namanya sumur itu sepenuh apapun isinya keliatannya gak akan meluber keluar isinya, dikasih berapapun akan meresap airnya, itulah kaidah yg saya pakai, smua tergantung volumenya.
    Volume extra spt di foto mas yuri memang butuh experimen lebih lanjut. Saran saya musyawarahkan dan ajak petani sekitar kompak dlm penanggulan/solusinya. Jika sendiri, saya kurang setuju, soalnya keliatannya extrim banget.
    Masalah pagar 50 cm. Saya kurang setuju tikus gak bisa melompat. Saya udah membuktikan ada tikus yg bisa melompat pagar 50 cm dari tanah lahan bukan dr pematang. Begitu pengalaman saya yg tiap malem bercengkrama dg tikus sawah.
    Sendiri adalah 1 lidi. Bersama adalah sapu. Banjir dan tikus perlu kebersamaan, walaupun sendiri diusahakan bisa.

    • Betul mas ,,tapi kalau bersama sama ndak ada yang mau bikin pagar tembok,,karena mereka ngga bakalan mau mengeluarkan uang,dan lagian petani di sini ngga kompak jadi susah mas,,soal volume air yang ektrim memang kayak gitu di tempat saya tapi kalau sawahnya udah di pagar cor otomatis volumenya tidak seektrim yang di foto fb,,karena air dari luar tidak masuk,di samping itu kalau udah di pagar keong mas akan lebih bisa di batasi yang masuk kelahan saat banjir,,karena kalau banjir keongnya juga ikut banjir mas,,dan ngga perlu waktu lama untuk habisin tanaman kita karena di sini keong mas populasinya sangat luar biasa kalau mt 2..

    • sutopo says:

      mas sekalian,sawah saya jg byk keong,,tp malah jd berkah untuk makan bebek dam lele,…dan diambilin untuk dijadikan MOL,.YG SULIT ADALAH TIKUS mau sehebat apapun TANAMANYA klo tikus sulit….ada cr untuk ngatasin tikus?HASIL 17 TON bg saya masuk akal bukan ngimpi..asal faktor x,y yg mengurangi alias hama bs teratasi,seperti inpari 19 dgn bulir rata 200 sd 300 saja dengan prosentase bernas 80 persen,dgn jumlah anakan 15 sd 30 ,tak kira hasil 17 ton bkn mimpi asal faktor hama bisa diatasi.YG GAK MAS NURMAN

  19. sutopo says:

    mas sekalian,sawah saya jg byk keong,,tp malah jd berkah untuk makan bebek dam lele,…dan diambilin untuk dijadikan MOL,.YG SULIT ADALAH TIKUS mau sehebat apapun TANAMANYA klo tikus sulit….ada cr untuk ngatasin tikus?

    • Betul Mas sutopo,keong disawah memang bisa untuk bikin mol dan pakan bebek maupun entog tapi itu dengan catatan jumlahnya sedikit,kalau daerah saya dalam satu petak 50m x50 m keongnya itu sampai berkarung karung,,kemudian saat ada hujan lebat satu malam saja maka tanaman yang baru tanam maka ngga kelihatan ,pematangnya sampai ngga ada yang kelihatan ,,dalam keadaan seperti itu dalam satu malam maka satu petak di jamin ludes oleh keong mas,,di tempat saya sering keejadian sore masih ada tanaman besok paginya udah ngga ada tanamannya…

  20. Agus siswoyo says:

    Ijin mau nyimak trik/cara ngusir ato bunuh tikus dari bahan-ramuan-fermentasi yg udah TERBUKTI DIBUKTIKAN SENDIRI.
    Soalnya saya blom pernah coba ramuan semprot/tabur apapun untuk ngusir tikus, blom ada praktek cm sebatas logika ‘ya’ ato ‘tidak’.
    Pengalaman saya mentok pake listrik:
    Sehabis tanam, sawah-sawah orang laen ato milik pribadi yg dekat tanggul dikasih kawat semua, trus tiap menjelang maghrib dialiri listrik pake gen-set ato listrik rumah. Menghidupkannya bisa berkala beberapa jam semalem ato beberapa malem 1 minggu, tergantung ada tidaknya serangan ato tikus berkeliaran.
    Pas proses ato sehabis proses traktor, pasti tikus naik semua ke tanggul, soalnya lahan ditraktor, pematang diperbarui semua. Inilah kesempatan menghabisi tikus. Habis maghrib pasti tikus turun semua dr tanggul ke lahan.
    Pertama kali pasang listrik pasti takut kena manusia, dijaga sambil diingatkan jk ktmu petani yg malem ke sawah, lama kelamaan jd hafal kalo ada yg pasang listrik jd pada takut ke sawah…apalagi yg kita pasangi termasuk sawah orang juga, jd mereka malah bertrima kasih pada kita, sekalian bekerja sekalian ibadah..
    Musuh alami tikus ikut mati kena listrik ndak apa-apa, toh kalah jumlah dg tikus, itu di tempat saya…

    • SUTOPO says:

      BERBAGAI CARA SDH TAK COBA,UMPAN PAKE BERAS,IKAN,TELUR KETELA,TEBU,BENGKOANG..RAMUAN SEMPROt baunya mt ampun sampai yg nyemprot sampai hampir pinsan,udah,gerbong plastik yg untuk melon itu 70 cm itu pun bisa diloncati,pake listrik efektìf 3 hr,habis itu tikus loncat diatas kawat dan buat lobang dibawah kawat,dibuat 3sap kawat malah tikus seperti panjat pinang,..DIBURU ANJING SUDAH,PENGASAPAN BELERANG….SEMUA CARA dah di cb hasilnya nihil..ada saran lain

      • Adimaz says:

        buat mas sutopo coba terapkan cara yg telah saya tuliskan…mudah2xan bisa mengurangi hama tikus mas.

  21. avi says:

    Si abu abu hitam berbuntut ini memang jd momok petani,menghadapinya sy msh mengandalkan langkah seribu dan menebar musuh alaminya cuma kadang musuh alaminya dibantai orang yg g bertanggung jawab,Populasi tikus didaerah sy sudah naik dan sy sdh pasang status awas,mudah mudahan dg doa,usaha,iman dan tawakal msh bs mendapat hasil yg maksimal

  22. SUTOPO says:

    YG bisa saya katakan 1,sehebat apapun, benih,cara budidaya,pupuk dan apapun itu,kita hanya kuasa merancang..lebih dari itu tak kuasa ,hasil adalah cuman ditangan YG MEGISI BIJI.ALLAH tangalah.

  23. Agus siswoyo says:

    Pak sutopo…
    Tikus buat lobang di bawah kawat ? Bukannya pasang kawatnya dg jarak dr tanah itu kira-kira tikus gak bisa lewat gitu…apa tanahnya kering gak basah yg dimaksud ? Logikanya jika tanahnya macak2 pasti tikusnya lewat gitu aja, ato mngkin lompat itu cara si tikus menghindar…
    Tikus panjat kawat ? Ya harusnya mati dong pak…si tikus kan kena (+)listrik sedang dia punya darah dan air dlm tubuhnya ditambah nginjak bumi sekalian, lengkaplah syarat kematian buat si tikus lewat listrik kawat tsb…
    Mas navi…ak jg lakukan langkah seribu itu ketika tikus jarang dan ketika tanaman masih muda jadi masih bisa kejar-kejaran dg si tikus krn medan lahan msh terbaca jelas…jika dah rimbun padinya, pintar si tikus larinya…si tikus asal aja larinya tp kita mikir 2x cari jalan lari yg gak merusak rumpun dan pandangan kita sering terhalang rumpun yg lebat…

  24. suli says:

    Alhamdulilah sudah kembali lagi…kluyurannya 4 hari ketinggalan berita
    Ada yang langsung di buka di google, tidak lain oksigen yang makin hingar bingar…
    Oke semua teman petani….komen komen terakhir masalah ‘den baguse’ maaf bukan berbau klenik tapi saya lebih senang menyebutnya begitu….
    Cobalah fokuskan ke predator alaminya si burhan(Tyto alba), telusuri daerah mana yang sudah sukses, bila perlu ke perkebunan kelapa sawit, karena awalnya pemakaian burhan dari sana, lantas di ujicobakan di lahan pertanian, beberapa masalah di lapang banyak sekali harus di rembug bersama PPL, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda, kenapa pemuda ?? saya pikir semua petani di sini pernah menjadi pemuda. burhan itu tidak bisa membuat sarang sendiri sampai bagaimana ketersediaan pakan dan sifat sifat alaminya juga perlu di pelajari.

    Mas yuri bisa mencari CSR ke pertamina cilacap, buat proposal, minta bantuan pelatihan budidaya/penangkaran, pembuatan kandang penangkaran, kalau sudah ada kelompok Tani di desa lebih gampang, ada ketua dll (oraganisasi resmi) pegupon bisa swadaya masyarakat di desa sampeyan, libatkan pemuda dalam pengawasan sarang pegubon dan isinya (di buru/tembak). jika sukses nanti magang lurah semoga jadi.beberapa literatur sepasang burhan semalam bisa menghabiskan 3-4 ekor tikus, daya jelajahnya 22 ha.jika pasangannya punya piyik 6-8 ekor tikus, bisa menjadi mesin pembunuh berapapun jumlahnya walaupun tidak semuanya di makan (Mamalia Kingdom,Richard Carington)
    Pak haji Ade…
    Nah gitu…nyemplung aja di oksigen, semoga banyak oksigen segar…. benar mas avi lumpur di sawah pak haji dalam, hitam dan mantap, langsung saya pikir 10 t/ha…..namun hama dan penyakit minta ampun, benar mas arif, lahan subur monsanto, bayer, sygenta, basf…dll biarlah saya sebut nama nama, saya petani ini, lagian dulu saya hafal produk produknya. mas avi, ayo kapan kapan liat sawah pak ade memecahkan bareng bareng permasalahan di sana.semoga saya belum terbang lebih jauh lagi.

    • arif says:

      sehari yang lalu saya berkunjung kerumah pa H. Ade mau lihat pembiakan isholat sekalian ngambil benih dari mas Avi. sepanjang perjalanan dari kec. batujaya. tirtajaya. kutagandok, kutawaluya. rawamerta, telagasari, wadas, bayur dan cilamaya. luar biasa hamparan sawah yang sangat luas. saya berpikir klo saja para petani menerapkan pola pikir bertani yang ramah lingkungan dan tiap Ha nya menghasilkan 10 ton/Ha, saya yakin Negeri kita ga lagi mengimpor beras vietnam, thailand dll.

      tapi yang tejadi tiap musim yang dikeluhkan petani selau sama penggerek dan penggerek batang lagi. ga bisa bertemu dengan petani yang tersenyum bahagia karena hasil panennya dapat 17ton (yang berhasil baru dikendal). tapi saya berkeyakinan cara konvensional saja saya pernah dapat 10ton. bagaimana jika mengikuti cara mas avi, tambah lagi tambah lagi kesuburan tanahnya masih bagus. sumber ilmunya di oksigen pertanian. hmmmm sekarang saatnya mewujudkan mimpi

  25. suli says:

    mau ala suli partono ….
    Pak ihsan sebenarnya pernah dengar….air kencing sendiri, pak avi jika nanti lewat dari prapatan kuwaru kearah meles, tepatnya desa serut, paling timur ada warung kopi dari kayu, nah dari warung dua sawah nyampe (sawah pak kardi selatan jalan) urinenya di taruh di botol bekas aqua 1.5 lt isi setengahnya lobangi kanan kiri, digantung, 1400 m2 ada 16 botol. entahlah den baguse enggan mampir….kalau saya masih permanen, disemprotkan.pak ihsan pernah liat sawahnya pas varietas logawa MT1

  26. suli says:

    Kalau pagar tembok???
    wah mas yuri, jangan dah…sayang duitnya, mending buat beli sawah lagi. belum kepikiran kan setelah di tembok nanti sawah sampeyan masih subur ??? subur,gombyor, belete jero sedengkul,ngo mlaku angel karena ke airi air dari mana mana, saluran irigasi, jika banjir air dari pekarangan,runtah runtah, got, septik tank meluap, dari kandang sapi tetangga yang hanyut, faeces, urine maksudnya, bangkai ayam mati hanyut sampai sawah. kalau saya biarkan sajaa begitu, tambah sawah saja. makanya di dunia jual beli sawah, sawah dekat tanggul irigasi lebih mahal kenapa? karena lebih subur, gombyor.belutnya banyak.

  27. avi says:

    td siang pas kontrol lahan lihat anak2 mbeling sambil nenteng tito alba yg dah g bernyawa rasanya jengkel banget

  28. Parwito says:

    Teman-teman perkenankan ikut nimbrung, kalau ngga salah penanganan Tikus pernah ditayangkan di TVRI kalau ngga (salah satu desa yang sudah berhasil mengaplikasikan di Makasar). Jadi tikus-tukus yang sudah mati dari hasil perburuan dikumpulkan dalam tong kemudian direndam dengan air dan dibiarkan hingga hancur, kemudian airnya disaring dan air inilah yang kemudian disiramkan ke areal persawahan.

    Untuk Mas Suli dan Mas Yuri, saran saya kalau mau membuat proposal CSR saya sarankan masuk saja ke Semen Holcim karena pengalaman saya di Pertamina prosesnya lebih lama (menunggu persetujuan dari Jakarta), sedang Semen Holcim bisa cepat karena keputusannya bisa langsung di Cilacap. Ini berdasarkan pengalaman saya sebagai warga yang bersebelahan dengan pabrik Semen Holcim (kurang lebih 300 meter dari pabrik). Meskipun kedua-duanya juga memberikan bantuan dalam proposal yang kita ajukan. Apalagi sekarang Semen Holcim juga sedang menggalakan program Go Green Indusry, yang salah satunya juga mendukung program penghijauan dan usaha tanaman sayur di warga (salah satu kegiatan).

    Terima kasih

    • cantrik says:

      Masukan pak Parwito bagus sekali pak Yuri. Dulu pak Sutar juga begitu, tapi bukan ke industri melainkan ke instansi pemerintah.
      Pak Parwito Cilacapnya sebelah mana ya? Ayo kita kopi darat mini.

    • Makasih Pak Parwito atas sarannya,,pasti nanti saya pertimbangkan dengan petani petani di sini.. Oh ya suka pulang ke cilacap ngga,,kalau pas di cilacap bolehlah nanti kita kopi darat.. :)

  29. Parwito says:

    Penggunaan mol dari Tikus sebagai media untuk mengusir tikus barangkali kalau dinalar karena mencium baunya sendiri jadi si tikus berpikir di lahan tersebut sudah ada yang masuk (yang lebih berkuasa), ini sebagai guyonan saja biar lebh santai mikirin tikus tapi secara ilmiah teman-teman yang lebih paham bisa menjelaskan.

    Terima kasih

  30. h.iwansutiawan says:

    Ass…
    Waduhh ketinggalan lagi infonya nihh…
    Kalau baca yang begini emang semangat trus..mencoba gaya gaya baru dalam bertani,,
    Menyikapi masalah tikus emang hama ini yang bikin pusyyying..saya ada sedikit cerita musim tanam kamarin ada gangguan sedikit terus saya coba apa yang d dapat dari oksigen pertanian pake singkong alhamdulillah berhasil juga tapi tapi harus rutin singkong rebusnya..dan kita harus tau membaca arah datang tamu kita yang satu itu..
    Tapi yang pasti kita harus mau mengeluarkan sebahagian hasil kita melalui zakat mallnya..Insya Allah berhasil dan sukses…
    Pokoknya BRAVO OKSIGEN PERTANIAN
    Maju terus petani indonesia
    Dan untuk Rekan rekan yang pakar pertanian jangan bosen memberikan ilmu dan pengalamannya..
    Terimakasih

  31. Parwito says:

    Mas Cantrik..saya memang asli Cilacap desa Karangtalun, Cilacap Utara (300-500 Meter) dari tembok semen Holcim dan saya sering mengajukan proposal kegiatan untuk kgt lingkungan dan respon keduanya cukup bagus (Tahun 1998-2001). Tapi sekarang sudah menetap di Surabaya mas sejak tahun 2002, mudah-mudahan bisa ketemu di kopi darat besok (25 Juni 2013).

  32. rahayu says:

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Salam kenal Mas Nurman, Mas Efendi, Mas Avi dan Bapak-bapak petani di blog ini. Perkenalkan saya Rahayu dari Jember, Jawa Timur, saya petani pemula yang masih meraba-raba dalam bertani. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu dipertemukan dengan blog ini, setelah membaca sebagian tulisan-tulisan disini, sangat bermanfaat dan tertarik untuk menerapkan ilmu yang diperoleh yaitu pertanian organik dan berbagai pengalaman dari mas-mas dan bapak-bapak, meski ada beberapa istilah yang saya tidak mengerti. Saya kagum dengan hasil panen Mas Avi yang Subhaanallah luar biasa, tapi ada beberapa pertanyaan buat Mas-mas dan Bapak-bapak semua 1. Saat penyemprotan POC dan MOL apakah bisa dicampur? 2. Di beberapa daerah di Jember termasuk daerah sawah saya, terserang hama tikus (sepertinya sudah KLB), wereng dan penggerek batang, bagaimana cara mengantisipasi hama tersebut?apakah menunggu serangan baru dibasmi? Terima kasih.

    • avi says:

      wa’alaikum salaam mbak atau bu rahayu,untuk dua pertanyaan mbak sy coba jawab sedikit,mungkin rekan2 yg bisa melengkapi
      1.untuk aplikasi POC bisa dicampur dg MOL tp POC dan MOL tidak bisa dicampur dg pestisida kimia
      2.untuk pengendalian OPT seperti tikus,wereng,penggerek sebaiknya dilakukan dg kaidah kaidah PHT(pengendalian hama terpadu) meliputi tindakan preventif dan kuratif

      • rahayu says:

        terima kasih mas avi atas jawabannya, saya mau tanya lagi… POC dan MOL kalau membuat sendiri masa kadaluarsanya berapa lama? berapa ml dosis POC atau MOL dicampur air per liternya? berapa ml dosis POC dicampur MOL dengan air per liternya? Saya belum begitu paham bentuknya binatang wereng dan penggerek, karena dari pengamatan banyak binatang kecil-kecil dan macam-macam bentuk yang melekat dibatang padi. Kalau mau tanya langsung njenengan lewat telpon apa boleh? saya mau tanya istilah-istilah yang tidak paham. terima kasih.

      • avi says:

        boleh mba rahayu ini no hp sy 085866161232
        Untuk pemakaian mol/poc dosis bermacam macam mba,antara 30ml/14L air sampai 200ml/14L air.
        Wereng hijau biasa menempel didaun kalau wereng batang coklat biasa menempel dibonggol dan batang padi

    • arif says:

      wa’alaikumsalam wr.wb.
      mba rahayu. selamat bergabung dan bertemu dengan para petani di dunia maya. untuk penyemprotan POC dan MOL saya rasa bisa digabung, karena semuanya bersifat organik tidak saling meracuni.
      untuk mejawab masalah hama tikus, wereng dan penggerek, pupuk organik dan kimia pestisida nabati atau kimia dll. silahkan saja buka semua menu, arsip tulisan yang ada di blog ini. bagi saya blog ini mengubah mainset dan menginspirasi dalam budidaya tanaman padi. saya saja sampai mencetak semua arsip tulisannya.

      selamat bergabung

      • rahayu says:

        terima kasih mas arif atas jawabannya, saya akan mengikuti jejak njenengan mencetak tulisan-tulisan di blog ini, mempelajarinya dan menerapkan, setiap menu tulisan sangat bermanfaat bagi saya.

      • arif krwg says:

        klo mas Avi orgnya sangat wellcome sekali mba, saya saja pernah telp dia sampai satu jam. pokoknya dia mau berbagi info lah. lanjutkan niatnya jgn patah semangat

  33. Parwito says:

    Mas Yuri, Insya Allah saya pulang minggu depan karena ada anggota keluarga yang meninggal (31 Mei 2013), kebetulan tgl tsb sedang tugas luar kota jadi ngga bisa pulang. Insya Allah kita bisa ketemu, yang pasti setiap lebaran saya pulang. Semoga bisa terus berbagi pengalaman.
    Terima kasih

  34. Syahrir h.s says:

    Mas mau nanya lagi nih, jika kita memakai pu2k kimia dan pu2k kimia cair dan racung hama kimia. aplikasi pemupukan hingga mencapai 10ton perhektar gimanah caranya ??? Jika tdk memakai pu2k organik dan pu2k organik cair.

    • avi says:

      mohon maaf mas syahrir,utk budidaya padi full kimia sy blm pernah mencoba,mungkin mas arif atau rekan lain bs menjawabnya terutama mas arif yg sdh pernah mencapai 10T/ha

  35. satriyo says:

    mas nurman…sawah yg saya garap kurang lebih 2 hektar,,tempat di kec. alas barat kab. sumbawa, NTB ,,umum nya 2 kali tanam,, dan musim ketiga bero alias istirahat..dosis pumupukan 250kg NPK dan 200kg urea..dg 2 kali pemupukan 20 hari hst 150 NPK dan 100kg urea,, 35 HST 100kg NPK dan 100kg urea,,jarak tanam 30 x 30 dg isi per lubang 2-3,,jenis padi kadang ciherang,,situ bagendit ato 64,,penyiangan rumput pake herbisida/cliper ( rumput mati tp padi tidak terganggu) saat umur 30 Hst..di daerah kami hasil garapan kami termasuk yg terbaik tp hasil nya di banding standar di jawa kok masih jauh, untuk hasil 4 ton per hektar kok g pernah ter penuhi alias selalu di bawah 4 ton,, apa nya yang salah.. mohon arahan..makasih
    Reply

  36. Parwito says:

    Mas Satriyo untuk mengurangi atau menghilangkan gulma/rumput ketika menggunakan pupuk kandang (sapi, kambing atau kerbau) sebenarnya bisa menggunakan bakteri padat untuk memfermentasikan pupuk kandang sehingga biji-bijian bisa mati karena proses dekomposisi (pematangan). Adapun bahan membuat bakteri padat antara lain: bekatul/dedak, sekam (kulit padi), larutan gula/molase, air dan ragi tempe/tape. Perbandingan bekatul/dedak dengan sekam 1:2 (bekatul 5 kg: sekam 10 kg), 1-2 butir ragi tempe/tape dihancurkan dan diaduk rata dengan bekatul dan sekam, kemudian disiram air (14-15 liter) yang sudah dicampur dengan molase/larutan gula 1/4 liter, ketika sudah rata, sekam dan bekatul yang sudah jadi ditumpuk/diperam dalam karung beras selam 5-7 hari (2 hari sekali diaduk). Ciri kalau sudah jadi aromanya seperti tape. Bahan inilah yang akan dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 (volume). Bakteri padat ini juga bisa membantu mempercepat pembusukan/pematangan sampah (sampah rumah tangga) untuk menjadi kompos.
    Selamat mencoba

    Terima kasih

  37. suli says:

    Salam kenal Pak Satriyo….
    Ini hanya gambaran ala petani jadul aja, tanah sumbawa apakah terbentuk dari hasil erupsi ??? atau tanah seperti apa, pulau jawa hampir terbentuk oleh semua hasil erupsi gunung berapi/letusan /abu vulcanik dan materialnya. oke…namun jangan patah arang….sumbawa lumbung ternak nasional, cobalah awali dengan pemakaian pupuk dasar (kompos) dari sapi sapi sumbawa, bila perlu sekuat tenaga memberi kompos tentunya yang sudah di fermentasi. pada masa bera gunakan untuk mengangkut kompos tadi, tetap konsisten berikan makanan kepada tanah. salam untuk petani sumbawa, salam untuk peternak sapi bali atau ongole…

    • satriyo says:

      salam kenal juga mas suli… say ini petani pemula mas…kemaren uda minta ilmu nya mas avi… akhir juli ini mo panen habis itu mau coba resep nya mas avi walo blm bisa maksimal…

  38. Pak Sutopo, tikus memang salah satu momok bagi petani, sedikit cerita teman dan logika saya.

    Seorang teman didaerah Ngoro Jombang bercerita, suatu ketika tikus mewabah, banyak lahan yang gagal panen. Salah seorang kerabatnya mempunyai tanaman yang tidak banyak dirusak, resepnya (kalo ini ada kleniknya :) ) menjelang maghrib lahan diputari sampil membawa kemenyan yang dibakar, walhasil serangan terhenti dilahan itu.

    Dalam pandangan saya, faktor bau yang menyengat dan baru itulah si denmasbagus enggan mendekat atau beroperasi didaerah itu. Kemudian saya berangan2 mungkin (untuk menghindari fitnah dll) kemenyan bisa diganti dengan aroma menyengat lain, misal minyak wangi atau minyak serimpi, yang dipasang dengan jarak tertentu dan diganti secara berkala. Sampai saat ini belum saya terapkan karena belum ada gangguan (dan semoga saja tidak ada :) ) Jadi monggo dicoba trus update infonya.

  39. Faris Mohamed says:

    Kami adalah pengusaha baja dan pencegah serangga yang berasaskan ‘HERBA’ jenama “SUKUBUMI” dari Johor, Malaysia. Pihak kami telah berjaya mengeluarkan produk yang khusus mencegah serangan Siput Gondang Emas/ Keong Emas.

    Kelebihan produk kami adalah;
    1. Tidak susah untuk di gunakan
    2. Tidak mempunyai bahan kimia
    3. Tidak menganggu eko sistem
    4. Tidak merbahaya kepada.pesawah
    5. Mesra alam

    Sekiranya ada pengusaha/pedagang/agensi bertanian ingin bekerjasama dengan pihak kami, kami amat mengalu-alukannya.

    InsyALLAH keperitan para pesawah di sebabkan Siput Gondang Emas / Keong Emas akan dapat di cegah dan seterusnya di atasi.

    Untuk maklumat lanjut boleh menghubungi kami di alamat ini : haraventures@gmail.com

    Faris Mohamed
    HARA VENTURES SDN. BHD.

  40. avi says:

    akhirnya ada tetangga yg mau koment :-D

  41. cantrik says:

    iya… siip. semoga semakin banyak lagi..:-)

  42. Adimaz says:

    ass..bapak2x,mas2x dan semua master2x yg ada di oksigen pertanian ini saya mau shering sedikit tentang pengalaman saya untuk menggendalikan hama tikus entah itu kebetulan at tidak.. pertama sekali saya mulany hanya coba2x tpi setelah beberapa kali sy terapkan dan hasilny dapat mengurangi serangan hama tikus tsb dan jg alhamdulillah padi saya terhindar dari hama tersebut,carany sangat sederhana dan jg bahanny gampang sekali di dapat..cara yg saya terapkan ialah mengupulkan sisa busa/gabus bekas tempat atau kotak elektronik misal gabus/busa bekas tempat tv,kulkas dll..carany saya potong2x sebesar telapak tangan dan saya sebarkan di petak sawah yg terserang hama tikus tsb dengan catatan sawah harus tergenang air..ya mungkin in saja pengalaman yg dapat sampaikan kepada teman2x yg ad di oksigen pertanian ini..mudah2xan dapat bermanfa’at..kurang lebihny saya minta ma’af wass..BRAVO OKSIGEN PERTANIAN!!!.

  43. efendy manan says:

    Bagus mas dimaz…cara sederhana tapi sangat mudah diaplikasikan..apalagi gabus mudah didapat disekitar kita…Bagi teman-teman Oksi yang terkena serangan tikus bisa dicoba.

  44. Adimaz says:

    ya mas,soalny saya pernah di beritau oleh temen saya…waktu it dia bilang”kalo mau cara ngendaliin hama tikus gampang ya sambil berdoa kita jg harus berusaha..jangan di bunuh cuma di takut-takuti aj..cari aja bekas ban sepeda,di potong dan di beri cat warna putih..ya di buat semacam ular gtu lah supaya tikusny takut karna di kirany ular beneran’ sy pun berpikir kalo ngumpulin ban bekas susah harus banyak..

  45. Adimaz says:

    jadi pilihan saya jatuh pd gabus bekas tpt elektronik,selain ringan dia juga dpt mengapung di atas air kalo airny beriak pasti gabusny bergoyang ap lgi gabus tsb kebanyakan berwarna putih jika terkena cahaya dia akan memantul.. ya mungkin di kirain tikus gabus tersebut adalah kucing yg mau memangsany soalny tikus takut banget ama kucing kayak flim kartun tommy and jerry he3x, y kalo mau kreatip lg gabusny dicat belang2x biar kayak kucing beneran btul kan mas he3x.

  46. Alif klaten says:

    maaf sbagai ptani pmula sy kok msih bingung ya?,klau tikus cma ditakut”i tentu jmlahnya akan sgat bnyak,karna kan g ada yg mati dibunuh,trus klau dah bnyak mreka makan apa ya? he he he
    mklum sy msih ptani pemula ,jdi comennya tdk sperti dewa” pertanian

  47. Antie Aisha says:

    Assalamualaikum Wr Wb

    Saya seorang ibu rumah tangga dengan kegiatan hari2 sebagai bakul kue dan dosen bahasa inggris di salah satu PTS di Jakarta. Ayah saya mempunyai lahan sawah seluas 1.4H di daerah Pulo Kalapa Karawang (dekat Syeh Kuro). Ini adalah kampung kakek saya dari pihak ibu. Setelah panen terakhir kemarin bulan Oktober 2013, ayah saya berencana menyewakan lahan sawahnya karena selalu kecewa dengan petani yg mengolah sawahnya tersebut.

    Dengan tidak sedikitpun berbekal pengetahuan tentang persawahan, saya memberanikan diri untuk mengurus sawah ayah saya. Hampir 2 bulan ini saya berkutat dengan berbagai macam artikel dari berbagai blog tentang persawahan. Semakin banyak saya membaca, semakin jauh saya bertentangan dengan pola pertanian di lahan ayah saya. Tapi saya tetap mempertahankan pola pikir saya yang saya dapatkan ilmunya dari artikel2 yg saya baca.

    Ketika saya menemukan blog ini tadi malam, saya sangat senang sekali. Saya sudah baca hampir 80% artikel yg ada di blog ini. Hampir semua menjawab pertanyaan saya yang selalu berputar-putar dikepala saya. Dan yang ingin saya ketahui lebih lanjut adalah pengalaman2 bapak2 yang telah mengaplikasikan teori2 diatas pada lahan sawahnya, bagaimana hasilnya, apa kesulitannya dan apa kekurangan atau kelebihannya.

    Faktanya, petani diwilayah saya hampir semua pemikirannya sudah kimiawi minded. Ketika saya menanyakan kemungkinan penggunaan pupuk organik, mereka sepertinya pesimis dengan hal itu. Jujur saja sempat bikin saya down karena saya sangat termotivasi dengan pengolahan padi organik yang didasari oleh keprihatinan saya terhadap persawahan di kabupaten Karawang yang sudah didominasi oleh pupuk Kimiawi.

    Saat ini saya sedang menyemai benih sebanyak kurleb 35kg (mulai sebar tgl 15 Desember 2013). Sebelumnya saya memilah 40kg benih dengan sistem perendaman air garam dengan telur bebek sebagai indikasi kecukupan garam. Hasil benih bagus yang didapat kurang lebih 35kg. Petani yg menggarap sawah ini meminta pupuk Urea untuk disebar setelah 10 hss. Saya belum dapat POC untuk menggantikan pupuk Urea tsb, tapi saya menemukan artikel disini tentang pupuk ZA yang lebih ramah dibanding urea. Untuk pengaplikasiannya saya minta pendapat bapak2 disini.

    Satu yang saya petik dari pembahasan bapak2 paddy’s master bahwa peran yang paling penting dalam pengolahan sawah adalah niat yang tulus, ikhlas dan berbagi (bahkan pada hama sekalipun). Harapan saya saat ini adalah bantuan dari bapak2 semua untuk membimbing saya mengelola lahan sawah ayah saya sehingga saya dapat memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan ayah saya.

    Mohon maaf jika komentar saya amat sangat panjang. Semoga tidak menggangu siapapun dan saya ucapkan banyak2 terima kasih atas perhatiannya.

    Sukses Selalu Oksigen Pertanian!!

  48. efendy manan says:

    Saya sangat salut dengan tekat ibu menjadi petani padi.karena di zaman sekarang hampir tidak ada anak muda yang mau berkutat dengan lumpur sawah,lebih baik menjual atau menyewakan sawahnya kepada orang lain…
    InsyaAllah kita bisa sharing jika ibu menginginkan…ini no hp saya di 081-336828357…tks Efendy manan

  49. avi says:

    lama rasanya sy g nongol disini mohon maaf temen2 bukan lupa atau tak ingat ini krn kesibukan st yg semakin padat.
    Ibu antie aisha utk lahan karawang,subang dan indramayu sy knl betul tingkat kesuburan msh sangat tinggi cuma OPT nya jg luar biasa terutama penggerek batang,kresek,wereng,tikus dan keong.Saran sy harus extra dlm pengamatan,penanganan OPT secara tepat waktu tepat sasaran dan tindakan pencegahan
    utk teknis budidaya ibu bs mempelajarinya dr artikel2 OKSIGEN PERTANIAN ini

  50. Salut ada seorang dosen berniat terjun ke pertanian… padahal pekerjaan dosen jauh lebih mapan dan nyaman di bandingkan mengurus sawah,, saya cuma pesan apapun halangannya nanti anggap itu sebagai sebuah tantangan untuk bisa memecahkan masalah yang sangat komplek dalam pertanian,, dan yg utama tetap semangat dan pantang menyerah..

  51. Maju terus bu Dosen, kalu ngikutin Master2 di Oksigen Pertanian maka sebentar lagi ibu bakal di bilang Petani aneh, Gk bisa nyawah ko Nyawah, Itu retorikanya di lingkungan petani kita, Mengingat faktor SDM dan Mereka hanya belajar dari turun temurun tanpa mau tahu bahwa ada hal-hal baru di dunia pertanian yang mana mereka tidak pernah update

  52. ibnu Munawir says:

    Setuju mas eko !! Maka kedepan, bila ibu dosen yang tentu setiap langkap menggunakan teori bisa sukses dalam bertani maka para mahsiswanya akan mudah meniru keberhasilan ibunya untuk mau bertani. Yang sekarang ini ada anggapan bahwa bertani adalah profesi yang tidak menjajikan. Semoga sukses bu Dosen !!!

  53. suli says:

    Salam kenal Bu Aisya….
    Bedanya ibu dengan saya adalah ibu pemilik sawah, saya penyewa sawah di karawang…..namun saya salah satu orang yang mundur dari persawahan di karawang….namun jangan berkecil hati bu…semua ada solusinya.
    mas avi benar ….beluk, penggerek/kleper wah….wah….serangannnya Hmmmmm. beberapa hal banyak untuk koreksi di karawang adalah….
    -pemakaian pestisida kimia diluar kendali
    -pemakaian bahan pemusnahan hama seperti solar, setrum listrik dll
    -prinsip ada hama dan penyakit…..segera di musnahkan begitu juga rumput pematang
    -setelah panen di biarkan begitu lama lahan,tidak segera di garap memungkinkan hama sudah sangat lapar menunggu makanan berikutnya
    -air irigasi…inilah biang keroknya sungai citarum menurut green peace, pencemaran sungai terburuk di dunia, airnya aja sudah tercemar….mikroba di sawah sudah lenyap.
    -pola tanam padi terus menerus.
    Langkah awal
    -organik padat.
    -pematang biarkan saja tumbuh rumput seperti biasanya
    -pengendalian hama dan penyakit,bisa konsultasi ke BPOPT jatisari
    -pupuk kimia separo dosis
    -keong….ini hanya ide, jangan sekali sekali memakai senjata biologi yang bernama saponen, pakailah bebek…30 ekor cukup untuk sehektar
    -sawah milik lebih bebas mau di apakan di sulap lahan sapi plus rumputnya oke, 10 tahun lagi di jadikan sawah organik 100% sangat bisa.

  54. Idris says:

    Saya telah berusaha mencari pengkelasan atau klasifikasi produktivitas pertanian (dalam hal ini yang bersatuan ton/ha) tapi sampai sekarang saya belum menemukan pengkelasan ini. Apakah Anda memiliki info tentang pengkelasan produktivitas panen ini?

    • NURMANIHSAN says:

      Trim Mas Idris
      Memang kalau mengacu pada klasifikasi pembagian produktivitas secara spesifik belum jelas.
      Secara umum yg dapat kita jadikan patokan adalah rata-rata produksi padi nasional diantara 5-6 ton/ha. Ini bisa dijadikan produktivitas standar/umum.

      Menurut saya pribadi ( bisa dikoreksi )
      produktivitas rendah di bawah 3 ton/ha
      produktivitas kurang di atas 3 ton/ha – 5 ton/ha GKP
      produktivitas standar di atas 5 ton/ha – 6 ton/ha GKP
      produktivitas baik di atas 6 ton/ha – 8,5 ton/ha GKP
      produktivitas super di atas 8,5 ton/ha – 10 ton/ha GKP
      produktivitas di atas 10 ton/ha GKP fantastis

  55. indah says:

    Panen 17 ton/ha?????????????????
    menteri Pertaniannya Bisa Geleng-geleng…
    17 ton? Ngibul……

  56. ricardo says:

    rumus mana yang cocok untuk menghitun ton/ha meskipun kita sering melakukannya tapi masih kesalahan jadi kita sulit mengabil kesimpulan…..

  57. Maman says:

    Panen 17 ton/ha wah hebat…..itupun kalo gak kena wereng, tikus dan kresek???
    Gimana supaya tanaman padi gak kena kresek dan patah leher/busuk batang…

  58. tu umar says:

    wawwwww…hebat……padi sawah ajalah dari pada nanam sawit…

  59. opang says:

    ok,,,
    Saya coba,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s