KARENA CINTA, PROSES BELAJAR ITU TERCIPTA

PETANI KECIL DI GUBUK KECIL
Penulis : Nurman Ihsan ( Penulis Lepas )

Saya pernah bertemu dengan seorang petani di Jakarta, tepatnya di Joglo pinggir (perbatasan dengan Karang Tengah Ciledug), namanya Pak Asikin. Dia hidup dengan istrinya di sebuah rumah, bahasa halus dari gubuk.

Pertemuan itu bermula, ketika saya tertarik, melihat masih ada sawah yang di daerah tersebut. Luas hamparan sawah yang ditanami padi itu ada sekitar 1 ha. Untuk sampai kesana, walau sekedar melihat sawah itu, saya harus melewati tumpukan sampah dengan ratusan lalat yang menempel pada daun dan rerumputan. Di sawah itu, tanaman padi sudah mengeluarkan malai (tempat menempelnya butir-butir padi).

Biasanya, pada fase seperti itu, banyak hama yang menyerang malai tersebut. Salah satunya, adalah walang sangit. Walang sangit (Leptocorisa Oratorius) adalah hama yang meresahkan para petani, sebab hama ini menghisap cairan bulir padi muda sehingga padi itu jadi kosong.

“mau cari apa, pak?” sapa seseorang yang sudah sepuh, mungkin umurnya mendekati 65 tahunan. Nama orang tua sepuh itu, Pak Asikin.
“oh, tidak cari apa-apa, saya cuma lihat tanaman padi. saya liat banyak walang sangitnya”
“betul itu, pak. biasanya kalo padi seusia ini, ya banyak walang sangitnya”
“biasanya walang sangit ini, diapain pak asikin?”
“ya disemprot pake obat”
“selain itu, pake cara apa lagi pak asikin?”
“ya disemprot aja, atau kadang dibiarkan saja”
“begini, pak asikin. saya kan pernah kuliah di pertanian, trus pernah buat alat perangkap walang sangit dari botol minuman bekas minuman (saya keluarkan contohnya). alatnya sederhana kok”
“caranya bagaimana, pak?”
“botol ini kan kedua sisinya (panjang 8 cm, lebar 3cm) dipotong, jadi seperti ini, kemudian kedua potongan dikeataskan. setelah itu, tutup botolnya dibuat lubang kecil, gunanya agar kawat dapat dimasukan.
“pak asikin, tau fungsi kawat ini?” (saya sengaja memberi pertanyaan)
“buat apa, pak?”
“kawat ini, seperti tusuk sate pak. cuma satenya kita ganti dengan daging keong mas atau bangkai kepiting. setelah membusuk nantinya, walang sangit akan datang ke botol itu, kadang-kadang wereng juga masuk ke botol itu juga.
“walang sangitnya mati, pak?”
“walang sangitnya belum mati, makanya botol itu harus diisi dengan air + rinso, supaya kenapa pak asikin?”
“kenapa ya?” (malah balik bertanya,hee)
“nanti kalau banyak walang sangit yang datang, mereka akan berebutan memakan bangkai tersebut, sehingga banyak yang jatuh ke dalam air rinso tersebut, jadi mati deh tuh walang sangitnya?”
“botolnya ditaro dimana, pak?”
“kita cari bambu, botolnya kita ikat deh. kita taro dipinggir sawah, pak asikin. tingginya, kita letakkan sama dengan tinggi tanaman padi. setiap 3 sampe 5 meter kita pasang lagi”

Diakhir dialog, ada sebuah ungkapan terima kasih yang begitu tulus, ungkapan itu setulus awan dilangit…
Mengapa saya melakukan itu?
Jawabannya, cuma satu : CINTA. Ya cinta.

Cinta tuk sekedar memberikan pemahaman yang sangat sederhana, dan itu amat berguna bagi orang yang bernama, Pak Psikin.
Dia merasa terhormat, ada yang mau datang ke gubuknya. Bukan sekedar datang, dia mendapatkan pencerahan. Pencerahan buat memecahkan solusi hidupnya…

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s