KEHEBATAN SEEKOR CAPUNG ( 1 )

CERITA KEHEBATAN SEEKOR CAPUNG ( 1 )
Penulis : Nurman Ihsan ( Penulis Lepas )

KEHEBATAN DAN KEINDAHAN CAPUNGSungai Harum mengalir bagai tiada henti. Di atasnya, ada 15 batang bambu sebesar betis orang dewasa. Bambu – bambu tersebut diikat sedemikian rupa hingga berbentuk jembatan. Jembatan bambu limabelas. Begitulah masyarakat di desa itu memberi nama jembatan tersebut. Pak Syafei yang membuat dengan dibantu anak – anaknya dan beberapa orang tetangganya.
Siang itu hari libur, Pak Syafei dan kedua anaknya sedang duduk diserambi depan. Tiba – tiba dari arah tempat tidur , ada suara yang membuat Pa Syafei dan ke-2 anaknya kaget.

“ Pak, kesini sebentar. Ahmad nih ngompol di kasur, padahal kasur itu baru dijemur, “ panggil istrinya.
Pak Syafei segera menuju kamar. Dilihatnya ada kasur yang basah. Hampir berbentuk lingkaran. Diatasnya terlihat Ahmad ketakutan, dia takut dimarahi ayahnya.
“ Benar Ahmad ngompol ? “ tanya ayahnya
“ Benar yah, tadi pagi Ahmad lari – lari. Sebelum tidu,r Ahmad lupa pipis dulu, maafin Ahmad ya. Ahmad janji tak mengulanginya lagi, ayah “.
“ Ya sudah, sekarang kamu ke kamar mandi, cuci badan kamu, terus ganti baju ya nak “. Ahmad segera menuju kamar mandi. Sementara ibunya sibuk membuka seprei. Dilanjutkan dengan merapikan kasur.

Setelah itu Pak Syafei kembali ke teras depan. Dia telah duduk di posisinya semula. Zubair yang pertama kali mengomentari kejadian yang baru disaksikannya. Dia berkata,” Ayah, bagaimana kalau puser Ahmad digigitin capung aja, biar tidak ngompol lagi. “
“ Betul Yah, temanku si Deni pernah cerita sejak puser adiknya digigit capung tidak pernah ngompol lagi, “ timpal si Jamil.
Pak Syafei tersenyum simpul mendengar komentar anak – anaknya. Di dalam hati tersimpan rahasia kehebatan seekor capung dan kegunaannya bagi manusia. Bila ada kesempatan yang baik, dia akan menceritakan kehebatan seekor capung kepada anak – anaknya.

Di Kebun Singkong

Suatu sore Jamil sedang memetik daun singkong dan daun pepaya di kebun Belakang. Dia disuruh ibunya . Daun singkong dan daun pepaya tersebut rencananya akan dimasak pada esok hari. Jamil ingin ibunya memasakan buntil daun singkong dan daun pepaya, yang didalamnya ada parutan kelapa muda dan ikan teri. Itu adalah makanan kegemarannya.

Di tengah keasyikannya memetik daun tersebut, dia melihat seekor capung sedang memakan serangga kecil. Selama ini, dia berfikir makanan capung adalah daun – daunan. Apakah capung ini masuk kelompok binatang omnivora, makan daun dan daging?. Akan kutanyakan ayah tentang kejadian ini, begitu kata – kata yang terdengar di kepalanya.

Ditepi sungai

Saat itu Zubair sedang memancing di tepi sungai. Lokasi yang dipilih 100 meter dari kebun melati. Di lokasi tersebut letak sungai agak lebar. Dan aliran sungai agak tenang. Hampir 2 jam dia memancing. Di korangnya ( tempat ikan ), sudah terkumpul 4 ekor gabus dan 2 ekor ikan tawes.

Saat – saat memancing seperti itulah , dia sering melihat capung – capung menyentuh-nyentuh air. Para capung tersebut melakukannya berulang – ulang. Dan itu menimbulkan pertanyaan dibenaknya. Capung – capung tersebut sedang apa ? sedang minum atau mandi ?.
”Akan kutanyakan pada ayah kejadian – kejadian ini “, bibirnya bersuara rendah.
Setelah sholat Ashar, ayah mengajak Zubair dan Jamil silaturahim ke tetangganya. Dia adalah Paman Jamal. Anak – anak Pa Jamal usianya tidak berbeda jauh dengan kedua anaknya, namanya Yusuf dan Umar. Yusuf Kelas 6 SD dan Umar 3 SD.

Di mushola Pak Jamal

Mereka berkumpul di teras mushola Pak Jamal. Yang tidak hadir saat itu adalah Umar. Suasana sore saat itu amat indah. Seindah kicauan burung-burung yang kembali ke sarangnya setelah mencari rizki buat anak-anak mereka.
”Kemana Si Umar, Paman” , Kata Jamil. ” Kok nga kelihatan sih?”
”Ohh, dia ada di kebun neneknya. Katanya mau mencari sesuatu” Jawab Paman Jamal. ”Coba saja kau susul dia, nak Jamil”.
Jamil sudah hafal letak kebun nenek Umar. Dia segera bergegas ke sana. Cuma butuh 3 menit perjalanan dari mushola.

Di Kebun Nenek Umar

Disana sudah ada 2 anak yang seusia Umar. Bertiga dengan Umar. Mereka sedang asyik dengan permainannya, sehingga tak memperhatikan kehadiran Jamil. Terlihat Umar sedang memegang lidi yang diujungnya berwarna putih di tangan kanannya.
”Itu pasti getah nangka”, bathin Jamil.

Jamil melihat Umar sedang berjinjit-jinjit mendekati seekor capung. Tetapi capung tersebut keburu kabur. Sedang di tangan kirinya terdapat plastik putih yang berisi beberapa ekor capung.
Lain halnya dengan kedua temannya, si Budi dan Iwan. Kalau si Budi sedang menerbangkan capung yang sudah dibuatkan baju dari kertas. Dengan susah payah capung tersebut terbang dengan lucunya kemudian mendarat. Lantas capung tersebut diterbangkan lagi.

Setelah capung ”berbaju” selesai dimainkan. Dia menerbangkan capung lain. Tetapi capung tersebut terbang rendah. Trus dikejar lagi. Diterbangkan lagi. Kalau seperti itu berarti ada capung yang sayapnya dipendekan atau gunting sama Budi.
Si Iwan lain cerita, dia sedang memegang bambu kecil yang ujungnya diikatkan plastik. Sudah banyak capung yang dia dapatkan. Dan mereka asyik dengan dunianya.

”Hei sedang apa kalian?” Tegur Jamil. Mereka tampak kaget. Si Budi kabur meninggalkan teman-temannya. Dia memang takut terhadap si Jamil, apalagi kalau dia berbuat salah. ”Eh kok malah kabur? Tunggu Buuud” teriak jamil.
”Wan kejar Budi ya. Nanti kita ketemu di mushola Umar. Aku nga marah kok. Jangan lupa. capungnya juga dibawa” kata Jamil ke arah Iwan.
”Oke, kapten” jawab Iwan sambil berlari kearah kaburnya Budi.
Selanjutnya si Jamil ke arah Umar
”Dapat berapa capungnya Mar?”
”Baru 4 ekor bang Jamil” nih lihat. ”Capung sekarang pada gesit-gesit jadi susah ditangkap, biasanya dapat 10 ekor”
”Emang kamu nga kasihan sama capung itu. Lihat tuh sayapnya, nempel begitu. Dia nga bisa terbang lagi” tunjuk Jamil ke plastik Umar.

Selanjutnya dia menuju capung yang tadi dimainkan si Budi. Dia melepaskan baju-bajuan yang ada pada capung tersebut. Kemudian, capung tersebut diterbangkan ke angkasa. Seakan-akan capung mengucapkan berjuta terima kasih kepada Jamil.
”Kamu ditunggu ayahku dan bapak kamu di teras mushola” Kata Jamil kepada Umar. ”Tapi capungnya kamu bawa sekalian ya, jangan dibuang”.
Mereka berdua menuju mushola sambil berlari, seakan-akan itu adalah perlombaan. Mereka ingin sampai duluaan di mushola tersebut.

Di teras Mushola

Sesampai di depan mushola mereka terengah-engah. Jamil duluan, diikuti Umar. Lantas mereka menuju sumur. Mencuci kaki. Kemudian menuju teras mushola. Di tangan si umar masih terdapat lidi yang bergetah nangka dan 4 ekor capung di dalam plastik.
”itu apa Umar” ujar Pak Syafei
” ini mainan anak-anak, paman” ujar Umar polos
”mainan kok menyiksa binatang” jawab Jamil. ”kan capung-capung tersebut nga bisa terbang lagi”. Lantas Jamil menceritakan semua kejadian yang dilihat di kebun nenek Umar.

Bersambung baca disini

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in CERITA. Bookmark the permalink.

One Response to KEHEBATAN SEEKOR CAPUNG ( 1 )

  1. Pingback: KEHEBATAN SEEKOR CAPUNG ( 2 ) | CERITA BUAT KATA, KATA ITU ADALAH CINTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s