SEPEDA DARI KAMBING 1 ( Cerita )

SEPEDA DARI KAMBING
( Penulis : Nurman Ihsan, SP )

Anak burung itu jatuh dari sarangnya. Dia mengepak-ngepakan sayap kecilnya, bergerak ke kanan ke kiri. Setelah sekian lama melakukan gerakan tersebut, anak burung itu terlihat kelelahan.

Tak berapa lama, ada anak kecil yang melihat peristiwa itu. Diambilah burung itu. Dibawa ke teras rumahnya. Burung tersebut, diletakkan di tempat yang beralaskan rumput-rumput kering.

Sekitar pukul 12.00, Jamil pulang dari sekolah. Dia adalah kakak anak kecil yang meletakan burung di teras rumahnya. Dilihatnya, ada seekor anak burung. Setelah mengucap salam. Dia masuk, didapatinya adiknya sedang menggambar gunung.

” Mad, burung siapa itu?”
” Burung ahmad, kak. Tadi ahmad dapet di bawah pohon”
” Dah dikasih makan?”
” Belum kak. Dia nga mau makan. Tadi Ahmad kasih beras burung itu nga mau makan”
” Kita kasih makan yuk”
” Pake apa kak?”
” Pake belalang bisa. Ulat daun juga bisa”
” Sekarang kak”
” Sebentar ya. Kakak mau ganti baju dan sholat dulu” .

 

Di Halaman Belakang
Saat itu , di kebun belakang mereka di tanam jagung. Tanaman-tanaman jagung tersebut masih berumur sekitar satu bulan. Di sana juga, terdapat pula tanaman kedelai yang habis panen. Tanaman kedelai yang habis panen dapat dijadikan umpan kambing.

Di kebun jagung itulah banyak belalang. Mereka membawa serokan ikan untuk menangkapnya. Segera saja, Jamil dan Ahmad menangkap belalang. Setelah beberapa ekor mereka dapatkan. Segera mereka kembali ke rumah.

Di Teras Rumah
Di tangan Jamil dan Ahmad masing-masing terdapat seekor belalang. Jamil segera menyentuhkan belalang itu ke paruh burung. Segera saja anak burung itu membuka mulutnya. Sambil bersuara, ” ciep.. ciep…”

” Burung itu lapar, kak”
” Ya. Dia belum makan sejak kau temukan” jawab Jamil sambil memasukan belalang ke mulut anak burung. Kemudian dia berkata , ”Mad tolong ambil air”.

Ahmad segera berlari ke dapur. Dia mengambil segelas air. Di taruh gelas itu di samping anak burung.
” Kak sekarang aku dong yang kasih makan” , sambil disodorkan belalang itu ke anak burung.
Anak burung itu, terus saja membuka mulutnya sehingga belalang mudah masuk kedalam mulutnya. Jamil pun memberikan belalang yang kedua. Ahmad pun demikian.

Taklama kemudian datanglah Zubair. Zubair adalah kakak sulung mereka. Dia baru pulang sekolah dengan sepedanya. Sepada itu ditaruh dibawah rumah panggung. Dia naik ke atas sambil mengucapkan salam. Dia menegur mereka berdua:

” Sedang apa kalian. Ehh, anak burung didapat dari mana?”
” Ini bang Zubair, kasih makan anak burung. Ahmad tadi dapat di bawah pohon”
” Kok tidak di taruh lagi ke sarangnya. Nanti burung itu dicari oleh induknya. Kalau kita merawatnya kurang telaten nanti bisa mati”.
” Dia mau makan kok bang” protes Jamil kepada Zubair.
” Betul. Tetapi kalau ada sarangnya sebaiknya ditaro kembali. Burung itu masih membutuhkan kasih sayang induknya. Bagaimana Mad?
” Nga apa-apa bang. Ahmad sih terserah saja. Bagaimana Kak Jamil?
” Ya sudah sekarang saja kita taruh di sarangnya” kata Jamil sambil keluar membawa anak burung itu. Ahmad dan Zubair segera menyusul Jamil.
” Pohon yang mana Mad” kata Jamil sambil menengok ke arahnya.
” Itu kak yang bercabang dua” sambil menunjuk pohon tersebut.

 

Jamil melihat ke atas pohon itu, diperhatikan dengan seksama. Matanya tertuju kepada daun yang agak lebat. Di situlah terdapat sarang burung. Dipanjatnya pohon sambil memegang anak burung itu. Sampai di atas dilihatnya ada seekor lagi. Segera diletakan anak burung itu di sana.

Di Kebun Belakang
Sore hari itu, Jamil dan Zubair sedang memberi makan kambing-kambing piaran mereka. Kambing-kambing tersebut diberikan makanan berupa daun lamtoro dan remputan.

Di kebun belakang terdapat 3 kandang panjang. Ada 2 kandang yang saling berhadapan. Ke dua kandang itu, khusus untuk pembesaran kambing jantan muda. Setiap 1 kandang panjang berisi 10 kandang kecil yang diberi sekat. Setiap sekat diisi 1 ekor. Jadi jumlah keseluruhan kambing yang ada di 2 kandang panjang itu ada 20 ekor.

Pada tahun ini, ayah mereka juga sudah membuat lagi 2 kandang panjang dengan model yang sama. Kandang itu dibuat di dekat rumah Pak Nasrul. Disana, kambing-kambing tersebut dipelihara oleh saudara Pak Nasrul. Untuk 2 kandang ini, Pak Syafei membuat kesepakatan dengan sistem kerja sama.

Sedangkan kandang panjang yang satunya lagi, berisi 6 kandang berukuran 1,2 m x 1,5 m. Kandang-kandang tersebut diperuntukan buat induk betina. Saat itu, induk betina ada 6 ekor. Ada 3 induk yang melahirkan. 2 induk melahirkan masing-masing 1 dan 2 ekor. Sedang induk yang satunya, 3 ekor. Sehingga total anak kambing mereka 6 ekor.

Mereka tersenyum bahagia melihat anak-anak kambing itu tumbuh sehat. Mereka makin bersemangat untuk memberikan makan bagi induknya. Disela-sela memberi makan, mereka juga sering memerah susu kambing. Tetapi hal itu dilakukan, bila anak kambing sudah memasuki umur ke 10 setelah kelahirannya.

Sejak ayahnya beternak kambing, Jamil dan Zubair sudah memiliki sepada. Sepeda dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Bila mengenang peristiwa tersebut, mereka sungguh beruntung, sebab sang ayah memberikan pelajaran dan pengalam hidup yang akan mereka kenang sepanjang hayat. Untuk lebih jelasnya, peristiwa itu terjadi sekitar 3 tahun lalu.

Bersambung… baca disini

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in CERITA. Bookmark the permalink.

2 Responses to SEPEDA DARI KAMBING 1 ( Cerita )

  1. Pingback: KISAH CINTA SEORANG PEMUDA | CERITA BUAT KATA, KATA ITU ADALAH CINTA

  2. Pingback: KISAH CINTA SEORANG PEMUDA | CERITA BUAT KATA, KATA ITU ADALAH CINTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s