ANGKAT TANGAN KITA, BERSYUKURLAH

ANGKAT TANGAN SAMBIL SYUKUR
Penulis : Nurman Ihsan

Pagi itu, Jamil dan Zubair duduk di atas bangku dekat meja makan. Mereka ingin sarapan pagi. Pak Syafei saat itu, duduk di hadapan mereka berdua. Dia menemani anak-anaknya sarapan. Di sela-sela makan Pak Syafei berkata,” Bang Zubair dan kau Jamil, coba ajaklah teman-teman kalian ke sini nanti sore.”
” ke rumah, ayah?” jawab mereka berbarengan

” Ayah akan buat permainan buat teman-temanmu. Bagaimana bisa?”

” Permainan apa ayah?” jawab Jamil

” Berapa orang teman yang harus saya ajak ke sini, ayah?” tanya Zubair pula

” Soal permainan, itu ayah rahasiakan. Sebaiknya ajaklah teman akrab kalian saja. Kalian boleh bawa 4 sampai 5 orang. Insya Alloh akan ada hadiah dari ayah”

” Oke deh” jawab mereka serempak.

Selesai sarapan, dicium tangan ayahnya. Dan mereka pun berangkat ke sekolah dengan sepeda. Jarak rumahnya dengan sekolah mereka sekitar beberapa kilo meter saja

Sore Hari Jam 14.30
Di teras mushola telah berkumpul 12 orang anak. 2 orang diantaranya Jamil dan Zubair. Pak Syafei sudah ada di tengah-tengah mereka. Dia membawa tas di punggungnya. Anak-anak diperintahkan untuk masuk ke dalam mushola. Pak syafei segera membentuk menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok terdiri 3 orang.

” Anak-anak kira-kira permainan apa yang akan paman berikan?”

” Apa ya?” jawab mereka berisik. Sambil tengok kanan kiri.

” Kayanya akan ada lomba mancing?” jawab Danu. Salah satu teman sekelas Jamil.

” Ada lagi?” pancing Pak Syafei

”main bola jumlah kita kan 12 jadi satu grum 6 orang, dan paman wasitnya” ujar salah seorang diantara mereka.

” mungkin ada lagi?”

Anak-anak diam. Tidak ada jawaban dari mereka. Mereka masih meraba-meraba permainan apa kiranya?

” Baiklah, apa di antara kalian ada yang punya burung kutilang? ?” tanya Pak Syafei?”.

Terlihat 2 orang anak mengangkat jari mereka.

” Apa makanan burung kulitang itu?”

” Bisa serangga, bisa buah-buahan”, kata salah satu dari dua anak yang menunjuk terebut.

” Betul itu. Serangga apa saja yang dimakan?”

” Bisa capung, lalat, belalang, dll”

” Oke, anak-anak. Nanti kita akan coba lomba cari belalang. Kelompok yang mendapat belalang yang banyak itulah yang menang. Sekarang paman akan catat nama-nama kalian. Sebut nama kalian. Mulai dari Jamil terus ke sampingnya. Mulai…”

” Jamil ”

” Zaenal ”

” Danu ”

” Mukkhlis ”

” Sutikno dipanggil Tikno”

“ Supriyono dipanggil Supri ”

“ Ridho “

” Zubair “

“ Muhamad Irfan dipanggil Irfan aja “

“ Arif “

“ Sigit “

“ Rohman “

“ Baiklah anak-anak. Sekarang paman akan sebutkan nama-nama kalian ada di kelompok mana. Kelompok 1 : Jamil, Zaenal dan Danu. Kelompok 2 : Mukhlis, Sutikno dan Supriyono, Kelompok 3 : Ridho, Zubair , Muhamad Irfan. Kelompok 4: Arif, Sigit dan Rohman. Masing-masing kelompok silahkan menentukan ketua kelompoknya. Sekarang kita langsung ke lapangan.”

Di Lapangan Bola

Lapangan itu letaknya 500 meter dari rumak Pak Syafei. Di sana terdapt 2 tiang gawang terbuat dari bambu. Dipingir lapangan tersebut dikelilingi oleh pohon-pohon.

Anak-anak berbaris rapi berdasarkan kelompok. Ketua kelompok berada di depan. Jamil, Supri, Zubair dan Sigit ada di depan kelompoknya masing-masing. Pak Syafei sudah berada di depan mereka. Dia mengeluarkan 4 buah kantong palstik putih. Kemudian dibagikan ke masing-masing ke ketua kelompok. Dia mulai memberikan instruksi:

” Paman akan buat ketentuan. Pertama, waktu kalian cuma 20 menit. Kedua, kantong plastik tidak boleh berpindah tangan dari ketua kelompok. Kalau itu terjadi maka kelompok tersebut gugur. Ketiga, cari belalangnya tidak boleh keluar dari lapangan bola. Keempat, selesai acara ini kantong plastik tolong dikumpulkan. Yang punya burung kutilang harap membawanya. Kelima, bila paman tepuk tangan berarti waktunya selesai. Kalian harus kembali ke posisi semula dalam hitungan ke-10 . Bila lewat, kelompok tersebut gugur. Bagaimana setuju?” suara Pak Syafei terlihat bersemangat.

” Setuju….”

” Baiklah kita mulai sekarang. Satu… dua… tiga… Mulai……”

Ada kelompok yang langsung berpencar. Masing-masing sibuk dengan buruannya. Tingkah laku mereka amat lucu. Ada yang langsung mengejar kemanapun belalang itu terbang. Ada yang mengendap-endap. Bila dapat satu dimasukan kedalam kantong plastik.

Tetapi ada satu kelompok yang tidak melakukan itu. Kelompok 3. setalah aba-aba mulai mereka tidak langsung berpencar jauh. Zubair segera memberi komando :

” Teman-teman jarak kita jangan jauh-jauh cukup 10 meter saja. Kalau dapat satu jangan dimasukan dulu ke kantong. Pegang pakai tangan kiri kalian. Kalau dapat 2-3 baru dimasukan. Ok”

” Akur deh ” seru ridho dan irfan

Anan-anak sibuk dengan belalangnya. Pak Syafei terlihat menuju arah tiang gaawang. Dia mengikat 12 slayer ke salah satu tiang gawang. Tak terasa waktu pun berlalu. 15 menit sudah lewat. Tinggal 5 menit lagi. Kemudian balik lagi ke tempat semula. Dan 5 menit pun berlalu.

” Anak-anak waktunya sudah habis. Dia pun bertepuk tangan berulang kali. Satu.. dua… tiga… empat…”. Belum hitungan ke-10 semua kelompok sudah berkumpul ke posisinya semula. Ketua kelompok berdiri di depan.

” Sekarang, kalian saling tukar. Kelompok 1 tukar dengan kelompok 2. kelomok 3 dengan 4. kemudiam hitung jumlah belalang tersebut”

Dengan cara di tukar tersebut, maka tiap-tiap kelompok akan teliti dalam menghitung. Hampir semua anak manghitung jumlah belalang tersebut. Perhitungan pun berakhir.

” Sekarang sebutklan jumlah belalang itu. Di mulai dari kelompok satu…”

“ Kelompok 1 ada 14 ekor “

“ Kelompok 2 ada 15 ekor “

“ Kelompok 3 ada 24 ekor “

“ Kelompok 4 ada 11ekor “

Selanjutnya Pak Syafei kembali berujar : ” Jadi yang paling banyak dapat kelompok 3. Berarti yang menang kelompok 3. Sekarang kita lanjutkan ke permainan ke-2”. sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Di tangannya kini sudah ada 12 slayer hitam.

” anak-anak permainan ini paman namakan ”Kembali Pulang. Sekarang kita menuju ke gawang itu” tunjuk Pak Syafei kearah tiang gawang yang telah diikat slayer pula. Mereka pun kesana. Dan berbaris kembali.

” Permainan ini sederhana saja. Masing-masing kalian nanti berjalan ke arah tiang gawang yang di depan sana”. Sambil diarahkan tangannya ke tiang gawang yang satunya.

” setelah sampai di sana ikatlah slayer ini sampai tertutup mata kalian. Setelah itu kalian kembali ke sini lagi. Tidak boleh lari. Jalan biasa saja. Ambil slayer yang paman ikat di bambu ini. Mudahkan. Waktu kalian hanya 15 menit. Sekarang kita ke sana.”

Mereka pun sudah di posisinya. Mengikat kepala mata mereka dengan slayer. Setelah aba-aba dari Pak Syafei permainan di mulai. Mereka pun berjalan. Ada yang berjalan kedua tangannya di depan, ada yang menyeretkan kaki. Ada yang berjalan arahnya ke samping. Ada yang saling tabrak. Setelah 15 menit hanya 2 anak yang berhasil mangambil slayer.

Anak-anak berkumpul kembali berdasarkan kelompoknya. Pak Syafei sudah di depan mereka. Dia pun berkomentar :

” Diantara kalian hanya 2 yang berhasil. Sekarang permainannya kita ubah sedikit. Ketua kelompok tidak ditutup matanya. Dia hanya mengarahkan 2 temannya yang matanya ditutup. 2 orang ini tidak boleh berpegangan. Hanya 4 kata yang boleh diucapkan ketua kelompok yaitu maju, mundur, kanan dan kiri. Selesai ini kita istirahat dan sholat. Kita mulai lagi dari tempat semula. Waktu permainan 15 menit. Bagaimana siap anak-anak?”.

” Siap ” teriak mereka sambil berlari ke posisi permainan.

Permainan pun dimulai. Ketua kelompok sibuk mengarahkan 2 temannya. Karena hanya 4 kata yang digunakan, ketua kelompok kadang-kadang memakai kata lain. Kalau itu terjadi Pak Syafei menegurnya atau ketua kelompok yang lain. Karena ada yang mengarahkan maka sebelum 15 menit seluruh kelompok bisa menyelesaikan permaianan tersebut. Setelah itu anak-anak istirahat dan sholat ashar di mushola Pak Jamal dengan perasaan gembira.

Di Mushola Pak Jamal

Mereka berwudhu. Dilanjutkan sholat berjamaah. Sholat selesai. Diikuti dengan doa. Setelah itu anak-anak diarahkan membentuk setengah lingkaran. Pak Syafei ada di hadapan mereka. Ada raut kesenangan di wajah mereka. Dalam kesempatan ini pak Syafei ingin memberikan sebuah perenungan buat mereka. Dia ingin memulai dari sesuatu yang ringan dahulu.

” Anak-anak sudah cape belum?”

” Belum paman…. ” jawab mereka serempak

” Habis ini pertandingan apa lagi paman?” tanya Danu

” Menurut kalian apa lagi?” pancing Pak Syafei

” Main bola paman”

” Lomba lari ”

” Berenang di sungai ”

” Bagus itu. Bisa kita lakukan lain waktu. Sekarang paman mau memberikan kaos kepada kalian semua” kata Pak Syafei .

Saat itu juga dikeluarkan 12 kaos dari tasnya. Kaos putih berkerah hijau. Di bagian depan ada logo Daun berwarna hijau yang diberi lingkaran. Di bagian belakang ada tulisan LSM ”Daun Hijau”. Dibawahnya tertulis Lingkunganku adalah Rumahku. Setiap anak mendapatkan satu kaos. Dan anak-anak amat senang mendapatkannya. Saat itu juga semua anak-anak langsung memakainya.

Melihat peristiwa itu pak Syafei tersenyum. Suatu saat anak-anak ini akan dididik dan diarahkan mencintai lingkungan hidup. Tetapi saat ini dia ingin memberikan hal yang lain. Lantas dia berkata:

” Anak-anak coba perhatikan paman, pegang mata kiri kalian dengan tangan kiri. Cukup 5 menit saja. Mulai…”. Anak-anakpun mengikutinya. Baru 2 menit berjalan ada perasaan tidak nyaman di mata mereka. Penglihatannya jadi tidak sempurna. 5 menit pun berlalu.

” Cukup. Sekarang kalian ganti. Mata kanan yang ditutup dengan tangan kanan kalian. Mulai…” . Sama seperti mata yang kiri. Ada perasaan yang tidak enak di mata kanan . Akhirnya selesai juga.

” Bagaimana menurut kalain, kalau mata kita ditutup begitu apa enak?” tanya Pak Syafei

” Tidak paman” seru mereka

” Betul itu. Coba sekarang tutup mata kalian semua”. Anak-anak pun menutup matanya masing-masing.

” Coba kalian bayangkan pulang ke rumah masing-masing dengan mata tertutup seperti ini. Bisa tidak?”

” Tidak…” seru mereka

” Apakah kalian dapat main sepak bola ?”

” Tidak..”

” Apakah kalian bisa sekolah ”

” Tidak…”

” Apa yang kalian lakukan bila mata ini tidak bisa melihat?”

” Di rumah saja paman” jawab Sigit

” Berdoa supaya sembuh” jawab Irfan

” Berobat ke Puskesmas” jawab Rohman

” Ok. Sekarang buka mata kalian” pinta Pak Syafei. Anak-anak segera membukanya. Ada perasaan bahagia ketika mereka membuka kembali matanya. Ada diantara mereka yang yang mengucek matanya. Ada matanya digerakkan ke atas. Ada juga yang mengedip-ngedipkan matanya.

Melihat hal itu Pak Syafei berkomentar, ” Bagaimana rasanya bila kita dapat melihat kembali?”, pancing Pak Syafei. Anak-anak terdiam.

” Andaikan paman punya uang 10 juta. Paman ingin membeli dua mata kalian. Apa kalian mau menjualnya?”

” Tidak…”

” Kalau paman naikkan jadi 25 juta. Apa kalian mau?”

” Tidak …”

” Kalau 50 juta bagaimana?”

” Tidak..”

” Kalau 500 juta bagaimana?”

Mendengar jawaban-jawaban mereka Pak Syafei kembali meneruskan nasehatnya. ” Anak-anak, sebenarnya diri kita ini kaya raya. Mata kita saja ditukar dengan 500 juta kita tidak mau. Belum lagi tangan kita, kuping kita, jantung kita. Kalau mau ditukar dengan uang 1000 juta pun kita tidak mau. Oleh sebab itu kita harus menjaga pemberian Tuhan ini dengan baik”.

Di pandangi sekilas satu persatu anak-anak di depannya. Diteruskan kembali ceritanya:

” sewaktu kita dlahirkan oleh ibu kita ke dunia ini. Alhamdulillah kita lahir dalam keadaan hidup dan sehat. Kita harus bersyukur. Sebab ada bayi yang lahir tetapi beberapa jam kemudian meninggal. Ada bayi juga yang tidak sehat sewaktu dilahirkan. Ada yang matanya buta, ada yang bibirnya sumbing, ada yang bicaranya terganggu atau gagu, ada yang kakinya pincang, ada yang cacat mental atau idiot dan sebagainya.”

Pak Syafei sengaja berhenti sejenak. 25 detik dia terdiam. Dia ingin melihat reaksi anak-anak. Apakah ada reaksi dari wajah mereka ingin melanjutkan cerita ini. Dari berhenti sejenak itulah Pak Syafei melihat ada rasa agar cerita ini dilanjutkan…

” Oleh sebab itu bila kita melihat ada bayi atau teman-teman kita yang buta maka kita pegang mata ini. Alhamdulillah kita masih melihat. Kita harus bersyukur”. Sambil dipegang kedua matanya.

” Bila kita melihat teman kita ada yang gagu. Kita harus bersyukur. Kita tidak boleh mengejeknya. Apalagi kita sampai menirukan suara teman kita yang gagu tersebut. Demikian pula bila ada teman kita yang cacat mental atau idiot. Itu adalah kehendak Tuhan. Oleh sebab itu janganlah kita mengejeknya. Kalau itu menimpa diri kita bagaimana?

Ada butiran air mata di sebagian mata anak-anak. Mungkin diantara mereka ada yang pernah mengejek temannya dengan sebutan si buta, si gagu, si tuli., si pincang dan sebutan-sebutan lain.

” Anak-anakku, bila ada teman kita yang buta, gagu dll, itu adalah takdir mereka. Itu bukanlah kemauan mereka.. Merekapun sebenarnya tak mau dengan kekurangan tersebut. Oleh sebab itu janganlah kita mengejeknya karena dia tidak bisa melihat, tidak bisa berbicara, tidak bisa mendengar, tidak bisa berjalan normal. Setiap orangpun tidak ingin ada yang cacat ”.

Mulai saat itulah mereka baru memahami betapa sayangnya Tuhan kepada mereka, mereka hidup norman tanpa satu kekurangan apapun. Mungkin ada diantara mereka yang pernah melakukannya dan mereka berjanji tidak mau mengejek lagi. Mulai saat itulah mereka bertekad dalam hati tak akan mengulanginya. Dan saat itupula mereka lebih mengerti akan arti bersyukur.

Pak Syafei pun mengakhiri nasehatnya dengan berkata, ” Ayo anak-anak, angkat tangan kita. Marilah kita bersyukur kepadaNya”

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in CERITA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s