FOKUS PADA PEKERJAAN

BELAJAR FOKUS PADA SETIAP PEKERJAAN

Fokus Dan Prioritas : Seperti Membuka Makanan Kaleng …
Oleh Muhaimin Iqbal

Ketika sebuah kapal penumpang terbakar di laut lepas, sejumlah penumpang yang bisa berenang melompat dan berhasil selamat mencapai pulau karang terdekat .  Di antara yang selamat tersebut ada dua orang politikus, dua orang ekonom, dua orang ilmuwan dan sisanya orang kebanyakan yang tanpa keahlian khusus.  Dua orang politikus yang selamat adalah satu di eksekutif pemerintahan, satu di  parlemen. Dua ekonomnya adalah satu ekonom kapitalis dan satu lagi ekonom sosialis. Adapaun dua ilmuwannya adalah ahli kimia dan ahli fisika.

Karena jauhnya pulau karang tersebut dari pulau yang berpenghuni, bantuan lewat laut baru akan bisa tiba dalam satu dua minggu. Untuk sementara bantuan hanya bisa diterjunkan lewat udara dan tidak ada sarana komunikasi antara orang-orang yang terdampar di pulau  tersebut dengan team bantuan yang di pesawat.

Sambil menunggu kapal penyelamat yang akan datang satu dua minggu kedepan, bantuan yang diterjunkan dari pesawat adalah makanan agar mereka yang terdampar dapat survive selama menunggu bantuan berikutnya. Sayangnya makanan yang diterjunkan dari pesawat tersebut semuanya berupa makanan kaleng dan pihak pemberi bantuan lupa untuk menyertakan alat pembuka kalengnya.

Dalam menyikapi bantuan makanan dalam kaleng inilah ternyata latar belakang para survivor di pulau karang tersebut berperan sangat dominan. Sang eksekutif pemerintahan sibuk meyakinkan survivor lainnya agar memilih dia sebagai pemimpin dulu, setelah itu dia berjanji akan membukakan kalenng-kaleng makanan yang ada. Sang anggota parlemen sibuk membuat aturan bagaimana kaleng makanan boleh dibagi dan aturan bagaimana membukanya.

Sang ahli fisika berusaha menangkap sinar matahari, memfokuskannya pada tutup kaleng agar tutup kaleng meleleh dan berharap kemudian bisa terbuka. Sang ahli kimia sibuk mengambil air dari laut untuk membasahi tutup kaleng karena menurut teori dia dengan itu tutup kaleng akan berkarat dan setelah itu akan mudah dibuka.

Sang ekonom sosialis sibuk mengusulkan pembagian kaleng-kaleng makanan yang sudah diturunkan di pulau karang karang tersebut agar dibagi sama rata sama rasa.  Lantas yang terakhir adalah si ekonom kapitalis, dia berhasil memukau seluruh survivor untuk sejenak meninggalkan aktifitas masing-masing dan mendengarkan usulannya.  Begini usulannya, “Bapak-bapak dan ibu-ibu para survivor, faktanya kita punya potensi makanan yang cukup. Kita tidak perlu panik, kita asumsikan saja kita bisa membukanya…”.

Beberapa hari berlalu, semua survivor semakin tidak bisa nahan rasa lapar. Para poltikus, ekonom dan ilmuwannya ternyata tidak ada yang berhasil membuat kaleng makanan terbuka.  Para politikus tidak bisa membuka kaleng dengan otoritasnya, para ilmuwan tidak bisa membuka kaleng dengan ilmu dan experiment-nya,  dan para ekonompun tidak  bisa membuka kaleng dengan kompetensi yang dibangunnya.

Kemudian satu survivor dari rakyat kebanyakan yang tidak memiliki kehalian khusus, didorong rasa laparnya yang tidak tertahankan lagi mengambil makanan kaleng yang menjadi jatahnya. Dicarinya batu sebesar kepalan tangan kemudian dipukulinya keras-keras kaleng makanan tersebut dan akhirnya terbuka.

Yang lain lagi yang juga tidak memiliki keahlian khusus, tidak pula menemukan batu sekepalan tangan – tetapi dia melihat daratan yang dinjaknya adalah batu karang yang keras.  Maka tidak berpikir panjang dia lantas membanting makanan kaleng jatahnya ke batu karang, sekali cuma penyok tetapi tetap tidak membuka, dua kali belum juga membuka baru yang ketiga kali dibanting sekuat tenaga baru kaleng terbuka. Walhasil akhirnya semua bisa membuka kaleng dengan caranya sendiri-sendiri dan  kemudian bisa makan cukup sampai kapal penyelamat datang.

Mengapa para politikus, ilmuwan dan ekonom tersebut diatas tidak bisa (memberi jalan untuk)  membuka kaleng ?. Itu karena mereka terperangkap oleh posisinya, jabatannya, ilmu maupun kompetensinya . Mereka menjadi kehilangan prioritas dan tidak focus mengatasi masalah yang imminent.

Sebaliknya mengapa justru rakyat kebanyakan yang tanpa ilmu yang khusus, tanpa keahlian maupun  jabatan justru pada bisa mengatasi masalahnya ? Ini karena rasa lapar yang tidak tertahankan lagi yang membuat mereka sangat focus untuk membuka kaleng makanan  dengan cara apapun, tidak ada prioritas lain, tidak ada agenda lain selain membuka kaleng ini – maka terbukalah kaleng makanan meskipun tanpa pembukanya yang proper.

Demikianlah rata-rata kita, menyikapi masalah dengan kacamata kita sendiri, berusaha mengatasinya berdasarkan kapasitas kita, ilmu kita atau kompetensi kita. Padahal masalah-masalah kehidupan itu kadang tidak terduga, sering begitu komplek, atau bahkan sebenarnya simple tetapi hanya berada diluar perimeter wawasan kita, maka yang diperlukan adalah fokus pada masalahnya dan menaruh prioritas pada upaya penyelesaiannya – insyaAllah masalah apapun akan terselesaikan.

Berikut Ini adalah tulisan kedua Pak Iqbal. Dia menulis kembali sehingga saya  melampirkan kembali tulisannya,  sehingga apabila digabungkan kedua tulisan ini, maka Anda akan mendapatkan tiga prinsip keunggulan dalam bidang apapun, baik itu pekerjaan, usaha, ‘amal dlsb. Tiga prinsip ini adalah Fokus, Prioritas dan Ketajaman.

Ketika orang masih hidup dengan kayu bakar, ada seorang saudagar yang memiliki banyak pencari kayu. Suatu hari dia menerima tukang pencari kayu baru yang badannya tegap berisi dan otot-ototnya menunjukkan keperkasaannya, suatu potensi yang sempurna untuk seorang tukang kayu. Hari pertama bekerja, dia diberi kapak baru yang masih kinclong untuk memotong-motong kayu. Dia juga diberi gerobak yang ditarik keledai untuk membawa kayu hasil pencariannya.

Ketika sore hari tiba, tukang kayu baru ini datang dengan gerobak penuh terisi potongan – potongan kayu bakar. Dengan gembira sang saudagar menyambutnya :  “kerja yang bagus wahai tukang kayu, teruskan dan engkau akan aku naikkan pangkatmu bila dapat menjaga hasil yang seperti ini”.

Esuk harinya dia kembali bekerja dengan membawa kapak dan gerobaknya, namun ketika sore hari pulang – sang saudagar tidak memberinya pujian karena dia hanya datang dengan membawa gerobak yang  ¾ terisi. Sang saudagar maklum, mungkin tenaga baru ini masih belajar – jadi diberinya waktu.

Esuk hari berikutnya dia bekerja lagi dan berangkat membawa kapak dan gerobak keledainya. Ketika sore hari tiba, sang saudagar tidak tahan untuk tidak memanggilnya karena dia melihat gerobaknya hanya terisi separuh. Dia bertanya : “mengapa hasil kerjamu seperti ini ?, apa engkau sakit ?, atau males ?, atau tidak menyukai pekerjaanmu ?”.

Tukang kayu tersebut menjawab : “ Tidak tuan, saya bekerja sama kerasnya dengan hari pertama saya bekerja, saya senang dan semangat sekali dengan pekerjaan ini dan saya juga sedikit istirahat”. Kemudian dia melanjutkan : “Tetapi kapakku yang semakin hari semakin tumpul, sehingga diperlukan lebih banyak ayunan untuk setiap potong kayu-nya, itulah yang menghabiskan waktuku sehingga kayu bakar yang saya bawa pulang semakin sedikit”.

Sang saudagar yang berpengalaman ini balik bertanya : “Apakah kamu tidak tahu bagaimana mengasah kapakmu, untuk menjaganya tetap tajam setiap hari berangkat bekerja ?”. Dengan pertanyaan sang majikan ini si tukang kayu langsung tahu, bahwa dia harus mengasah kapak setiap pagi agar dia bisa optimal memotong kayu.

Mengasah kapak ini kemudian menjadi kebiasaan si tukang kayu, dan karena kinerjanya yang persistent baik – sang saudagar memenuhi janji untuk menaikkan pangkatnya. Setelah melalui pelatihan yang cukup, dia naik pangkat dari pencari kayu bakar menjadi tukang kayu untuk membuat rumah.

Di karirnya yang baru-pun tukang kayu ini rajin ‘mengasah kapak’nya sehingga hasil kerja dia semakin hari semakin bagus. Sang saudagar senang dengan pekerjaan ini dan selalu memberinya upah yang semakin baik. Tetapi usia ada batasnya, si tukang kayu semakin tua dan mulai lelah bekerja.

Dia pamit untuk berhenti bekerja ke majikannya, dan majikannya-pun menyetujui. Hanya saja sang majikan memberi syarat bahwa dia boleh berhenti bekerja setelah menyelesaikan satu rumah lagi – rumah terakhir pesanannya. Si tukang kayu setuju untuk menyelesaikan satu rumah lagi sebelum benar-benar berhenti bekerja.

Tetapi karena dia sudah lelah, sudah ingin cepat berhenti bekerja – dia menjadi kehilangan fokusnya. Dia selesaikan ala kadarnya rumah pesanan terakhir sang majikan, maka ketika rumah tersebut selesai dan diserahkan ke majikan – tampilannya sangat buruk tidak seperti karya-karya dia sebelumnya.

Ketika kunci rumah diserahkan ke majikan, sang majikan mengembalikan kunci tersebut kepadanya sambil berkata : “wahai tukang kayu, kunci dan rumah ini adalah untukmu – sebagai hadiahku kepadamu”. Si tukang kayu kaget bukan kepalang, dengan penuh sesal dalam hati dia berkata : “ Seandainya saya tahu rumah terakhir itu untukku, pasti aku akan buat yang terbaik yang aku bisa buat”.

Begitulah kita semua, kita sering tidak tampil maksimal dalam kerja, dalam usaha dan dalam beribadat karena kita tidak rajin ‘mengasah kapak’. Kebanyakan  kita jarang mau belajar, jarang menghadiri majlis-majlis ilmu dan enggan berguru pada orang lain yang memiliki kelebihan.

Kita juga sering kehilangan fokus, dalam bekerja kita mengira bahwa pekerjaan ini hanya untuk kepentingan majikan kita sehingga kita bekerja hanya sekedar memenuhi kewajiban. Padahal sesungguhnya pekerjaan apapun yang kita lakukan baliknya pasti untuk kita sendiri.

Begitupun Allah yang telah memberi kita dunia ini untuk ladang beramal terbaik, sehingga siapapun ketika waktunya tiba ‘berhenti bekerja’ (berhenti beramal alias mati), ingin dihidupkan kembali agar dapat beramal yang lebih baik lagi. Bahkan orang-orang yang syahid di jalan Allah sekalipun, mereka ingin dihidupkan kembali kemudian syahid lagi, dihidupkan lagi dan kemudian syahid lagi dst.

Karena semua kebaikan akan balik pada diri kita – hal jazaa ul ihsaani illal ihsaan – maka mengapa kita tidak ‘rajin mengasah kapak’ sehingga mampu berbuat lebih dari yang menjadi kewajiban dan tidak kehilangan fokus sampai akhir hayat ?. Semoga Allah memudahkannya. Amin.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s