NAMA ADALAH DOA

NAMA ADALAH DOA DAN HARAPAN ORANG TUA
Penulis : Nurman Ihsan ( Penulis Lepas )

Lebar sungai itu sekitar tiga meteran. Sungai itu dapat dilewati dengan jembatan bambu di atasnya. Kedalamannya hampir pusar orang dewasa. Di dasarnya terdapat begitu banyak bebatuan kecil. Airnya sungguh jernih.

Di atas air yang jernih itu , terlihat banyak capung yang beterbangan. Capung-capung tsb seakan-akan hampir tak pernah hinggap. Kadang pula, capung-capung itu menyentuhkan badannya berulang-ulang kali. Biasanya capung model ini berwarna merah atau kekuningan.

NAMA ADALAH DOA & HARAPAN ORANG TUA

NAMA ADALAH DOA & HARAPAN ORANG TUA

Masyarakat sekitar memberi nama sungai tersebut sungai melati. Sebab tak jauh dari jembatan itu terdapat hamparan tanaman melati. Hamparan yang cukup luas di sepanjang alur sungai.

Jarak hamparan ini dengan bibir sungai sekitar 5 meteran.  Mengapa sungai itu dinamakan sungai melati? Sebab bila ada insan yang lewat dekat sungai tersebut akan tercium harumnya bunga melati bila tertiup oleh angin.

Tak jauh dari hamparan tanaman melati , terdapat sebuah saung. Saung melati namanya. Saung ini dikelilingi oleh tanaman melati pula. Sehingga bila seseorang yang berada didalamnya akan merasakan kebahagiaan tersendiri. Selain tanaman melati, terdapat pula 2 pohon tin. Pohon ini tingginya sudah mencapai 2 meter dengan buah yang muncul bagai tiada henti.

Sekitar 100 meter dari lokasi saung, terdapat sebuah rumah panggung berbahan kayu. Disinilah Pak Syafei sekeluarga tinggal. Di samping rumahnya, ada mushola panggung kecil. Siapakah Pak Syafei ini? Dia adalah seorang yang berani berkata: “saya adalah petani”. Dia bangga menjadi petani. Tapi petani yang punya tujuan. Tujuan jangka pendek dan jangka panjang , berwawasan ke depan serta mencintai lingkungan yang lestari.

Pernah suatu ketika, dirinya ditanya pada seseorang.
“ saya bersyukur bila ada orang seperti Pak Syafei yang mau tinggal di desa ini?”
” Hidup ini adalah sebuah pilihan, Pak Madun. Pilihan hidup saya sejak muda, memang mau tinggal di desa. Hidup di desa memberikan ketenangan hidup. Kedamaian hidup. Jauh dari polusi. Sehingga hidup jadi sehat. Tetapi walaupun tinggal di desa terpencil. Hidup ini sudah saya rencanakan bersama istri saya. Semoga berhasil ke depan,” katanya dengan penuh keyakinan.
” Semoga saja, amin. Masyarakat jadi terbantu, pak. Tapi bukankah lebih enak bekerja di kota pak?”
” Soal enak itukan relatif, Pak Madun. Bagi saya pribadi lebih enak tinggal di desa. Soal bekerja, bekerja di manapun kalau diniatkan untuk mencari nafkah dengan benar karena Allah SWT, maka itu akan berpahala kok. Begitu pula jadi petani. Dan itu menjadi ibadah kita kepada Allah”
” Banyak orang mau ke kota, tapi Pak Syafei justru mau jadi petani? Apa alasannya, pak?

Pak Syafei diam sebentar. Kemudian dia jawab kembali.
” Menjadi petani banyak manfaatnya bagi orang lain. Bisa banyak mendapat pahala. Gambarannya seperti ini, pak Madun. Bila ada orang yang menebang pohon sehingga hutan rusak. Terus terjadi banjir, maka kira-kira orang itu berdosa nga?”
“ wah, itu mah dosa besar pak”
“ Betul itu, apalagi kalau ada korban jiwa. Nah, sekarang kebalikannya. Bila ada orang yang menanam banyak pohon. Pohon-pohon itu jadi rindang , lingkungan lestari dan udara menjadi sejuk . Apakah itu berpahala, pak Madun?”
“ Jelas itu dong, pak”
“ Pak Madun tau nga, sekarang ini hutan-hutan kita setiap menitnya hilang seluas lapangan bola. Itu akibat penebangan liar”
“ yang benar, pak”
“ bahkan bisa lebih dari itu, pak Madun”
“ wah gawat dong kalau begitu pak”
“ itulah sebabnya pada zaman sekarang ini, menanam pohon adalah pekerjaan mulia. Sebab pohon-pohon itu akan mengeluarkan oksigen. Jutaan oksigen tersebut dihirup banyak orang. Pahala yang kita dapatkan akan terus mengalir selama banyak orang menghirup oksigen dari pohon yang kita tanam.”
“ Subhanallah, pak Syafei. Benarkan itu?”
“ itulah salah satu alasan saya mau jadi petani, pak Madun”

Pak Syafei tinggal bersama istrinya, Fathia Diah Lestari. Mereka mempunyai 3 anak, laki-laki semua. Anak-anak mereka lahir di Hesa Harapan ini.

Anak pertama, Zubair Firdaus. Umurnya 11 tahun. Dia sekarang kelas 6 SD. Badannya gagah, segagah cita-cita ayahnya sewaktu muda. Dia sangat suka akan lingkungan hidup. Hatinya mudah tersentuh dengan kejadian atau fenomena alam.

Pernah suatu ketika dia melihat ada ulat bulu di pohon jeruk peras. Adiknya, jamil ingin membuang dan membunuh ulat tersebut dengan kayu tapi dilarangnya,” jangan Mil, biarkan ulat itu”.
“ tapi dia makan daun jeruk, bang. Kan nanti bisa habis daunnya dong”
“ betul sih, tapi kamu tau nga? Hanya dengan memakan duan-daun inilah ulat itubisa jadi kupu2 yang indah, dik!”

Suatu hari di teras mushola, pak syafei sedang memandang pohon tin yang baru tadi pagi ditanamnya. Pak syafei sebelumnya mencangkok pohon tin ini dari pohon tin yang berada di saung melati. Pohon tin itu sudah ada buahnya. Dia takjub dengan pohon tin. Pohon ini mengeluarkan buah tanpa melalaui proses pembungaan. Taklama berselang datang zubair. Dia duduk di sebelah bapaknya.

Setelah itu dia bertanya pada ayahnya,” ayah, setiap tanaman pasti punya manfaat. kalo pohon tin ini apa manfaatnya ya?”
“ betul itu, setiap tanaman pasti ada manfaatnya bagi manusia atau makhluk lain. Ada yang sudah diketahui, tapi masih banyak yang belum diketahui. Nah kalau pohon tin ini, buahnya sangat berguna bagi tubuh, malah banyak yang bilang kalau buah ini disebut buah surga”
“ buah surga ayah?”.
“ iya, begitulah Nabi Muhamad membuat perumpamaan pada tanaman ini, buah dari surga. Dan ini diperkuat oleh penelitian para ahli, buah tin adalah buah yang mendekati buah sempurna, anakku.
“ benarkah, ayah?” Zubair seakan tak percaya.
“ itulah salaah satu keistimewaan buah yang disebutkan dalam Al-Quran, bang”.

Suasana saat itu begitu cerah, angin yang bertiup dari arah bukit membuat kesejukan bagi alam sekitarnya. Angin kesejukan itu pun, dapat dirasakan oleh keluarga Pak Syafei. Aliran angin tersebut, bukan saja memberikan kesejukan semata. Tetapi juga memberikan kesehatan bagi penduduknya.

Pada suatu kesempatan, Pak Syafei sedang duduk di teras mushola. Selang tak beberapa lama, anak tertuanya datang kearahnya. Mereka pun terlibat suatu pembicaraan.

“ ayah, boleh saya tahu, kenapa saya dinamakan zubair?”
“ ayah senang kau tanyakan itu, nak. Tapi mungkin ada alasan lain yang membuat kamu bertanya?”
“ iya ayah, tadi di sekolah pak guru meminta kepada setiap anak untuk mengetahui, apa alasan diberi nama oleh ayahnya”
“ apa benar kamu ingin tau, nak?”
“ benar, ayah. Soal nama ini, sebetulnya ingin saya tanyakan pada ayah beberapa tahun yang lalu tapi baru sekarang saya utarakan”
“ begini, sewaktu ayah kuliah, ayah pernah membaca sebuah buku. Buku itu berkisah di zaman Umar bin Khatab jadi Khalifah. Waktu itu Sang Khalifah akan melewati sebuah jalan. Di jalan tersebut terdapat banyak anak-anak yang sedang bermain. Begitu mengetahui Sang Kholifah akan melewati jalan tersebut semua anak-anak tersebut kabur dari jalan tersebut kecuali satu orang anak. Mereka lari karena kewibawaan Sang Kholifah. Melihat kejadian itu sang Kholifah menuju anak tersebut

” Hai anakku, kenapa engkau tidak lari bersama teman-temanmu?” tanya Umar ketika itu
Sambil menghadap Umar, dia berkata tegas,
” Wahai Tuan KhAlifah, aku tidak melakukan kesalahan apa-apa pada tuan jadi untuk apa aku melarikan diri dari tuan” . Kemudian dilanjutkan,” Dan jalanan ini tak sempit, maka aku tidak perlu memperluasnya buat jalan tuan”.
“ hebat sekali anak itu, ayah”
“betul, anakku. Anak itu hebat, anak itu ternyata bernama Abdullah bin Zubair. Itu artinya Abdullah anak Zubair. Bapaknya bernama Zubair, Zubair bin Awwam. Sang ayah, Zubair bin Awwan lah yang telah mendidik anaknya sehingga bisa punya karakter seperti itu”. Sang ayah diam sebentar.
“ bisa dilanjutkan, ayah?”
“ oh iya, Zubair bin Awwam adalah sahabat Nabi Muhamad SAW, dia termasuk orang yang masuk Islam di masa-masa awal. Kalau tak salah, dia termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam. Di masa-masa awal kenabian, saat jumlah kaum muslimin masih sedikit, suatu ketika terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedang lalu berkeliling kota Makkah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih muda belia.Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecek kebenaran berita tersebut. Seandainya berita itu benar, ia bertekad menggunakan pedangnya untuk memenggal semua kepala orang-orang kafir Quraisy atau ia sendiri yang gugur”
“ apakah dia ketemu Rasulullah, ayah?”

“ iya, di satu tempat, di bagian kota Makkah yang agak tinggi, ia bertemu Rasulullah. Rasulullah menanyakan maksudnya. Ia menceritakan berita yang ia dengar dan menceritakan tekadnya. Maka, beliau berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya selalu diberi kemenangan. Rasulullah sangat sayang kepada Zubair. Beliau bahkan pernah menyatakan kebanggaannya atas perjuangan Zubair. Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam”
“ saya juga kagum kepada sahabat Rasulullah ini, ayah. Dia masih muda, tetapi pembelaannya kepada sang nabi luar biasa”
“ betul, bang. Bahkan dalam suatu peperangan, namanya perang Yarmuk, perang dengan Bangsa Romawi. Ketika itu, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya yang lari ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, “Allaahu Akbar”, lalu menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya”

Cerita itu amat berkesan di hatinya. Sejak membaca kisah tersebut Syafei muda punya cita-cita. Kelak, bila dia dikaruniakan anak pertama laki-laki akan dinamakan Zubair. Dia ingin mempunyai anak yang berani seperti itu dalam menegakan nilai-nilai kebenaran. Dan dia telah memenuhi janji tersebut. Anak pertamanya lahir, kemudian dia namakan Zubair. Lengkapnya Zubair Firdaus.

“ begitulah bang, sekilas tentang kepahlawanan Zubair bin Awwam. Masih banyak lagi kisah-kisah yang telah ditorehkan demi kejayaan islam. Dari sekian banyak prestasinya, dia tak luput mendidik anaknya, Abdullah bin Zubair sehingga menjadi anak yang pemberani. Dia tak takut berada di jalan umum saat Umar bin Khattab lewat, sebab dia tak salah”
“ oleh sebab itu, ayah menamakan saya dengan nama Zubair. Betulkah ayah?”
“ anakku, nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah cita-cita besar dari orang tua yang akan melekat pada anak bila dia telah dewasa. Begitulah doa dan harapan ayah. Agar kamu menjadi orang yang hebat. Orang yang mempunyai jiwa kepahlawanan, tetapi pada saat yag sama berani pada kebenaran.
“ seperti itukah harapan yang akan ayah inginkan dari saya?”
“ ya, seperti itulah ayah dan ibumu harapkan, bang”
“ terima kasih, ayah. Saya begitu bangga dengan nama pemberian ayah itu”. Selanjutnya, zubair cium tangan ayahnya. Dan sang ayahpun, mencium kening anaknya dengan perasaan bahagia.

Sejak saat itu, Zubair mulai belajar silat. Silat gerak rasa dari seorang guru yang bernama Kang Rasyid. Karena ketekunannya, dalam waktu yang tak terlalu lama dia dapat dapat “rasa” dalam ilmu silat. Rasa ini dalam bahasa silat, bila dalam berkelahi disentuh saja dapat dirasakan. Dan tangan akan berkelit, dengan sasaran yang mematikan.

Pernah suatu ketika, ada teman SDnya yang dipalak anak SMP. Dia sempat menegur anak SMP tersebut, karena tak terima Zubairpun dipukulnya. Dengan cepat pukulan itu dihindarinya, tetapi pada saat yang bersamaan tangannya sudah membuat jatuh anak SMP tersebut. Jelas anak SMP itu lari. Itulah kehebatan ilmu silat gerak rasa, gerakan menghindar sambil memberikan pukulan. Dengan ilmu silat itulah, zubair begitu disegani teman-teman sebanyanya.

Anak yang kedua, Jamil Firdaus. Umurnya 9 tahun. Dia kelas 4 SD. Perawakannya sedang tetapi amat lincah. Wajahnya teduh dipandang. Sewaktu pertama kali tinggal di desa ini bersama istrinya perasaan hidupnya tentram. Apalagi bila melihat mentari keluar di pagi hari melewati sela-sela bukit. Ada nilai keindahan yang mereka berdua rasakan. Keindahan alami. Keindahan hidup. Keindahan yang membuat orang lain bahagia. Akhirnya mereka sepakat memberi nama anak keduanya Jamil. Lengkapnya Jamil Firdaus.

Jamil artinya indah, mereka berdua ingin anak-anaknya memberikan keindahan hidup pada orang lain seperti keindahan sang mentari keluar menyinari dunia….

Anak yang ketiga, Ahmad Firdaus. Umurnya 4 tahun. Wajahnya mirip istrinya. Mereka menamakan Ahmad karena punya kisah tersendiri dan amat berkesan dihati pak syafei.

Waktu itu, Pak Syafei dan istrinya beserta anak-anaknya berkunjung ke rumah orang tuanya. Tetapi sebelum mereka sekeluarga sampai dirumah orang tuanya, mereka mampir ke salah satu toko baju dekat terminal. Di sana mereka membeli beberapa potong baju buat orang tuanya.

Saat itu hujan mulai turun rintik-rintik. Pak Syafei dan istrinya karena membawa Zubair yang berumur 6 tahun dan Jamil 4 tahun dengan terburu-buru meninggalkan toko tersebut. Dan mencari kendaraan umum yang menuju rumah orang tuanya. Tanpa disadari ada tas plastik besar yang tertinggal.

Setelah 10 menit berada di kendaraan tersebut mereka baru menyadari ada barang mereka yang tertinggal. Isinya pakaian, madu hutan asli beserta dompet istrinya. Setelah berunding dengan istrinya, Pak Syafei turun dari kendaraan tersebut langsung kembali ke toko tersebut. Dan akhirnya sampai di toko tersebut

Dilain pihak, sang pemilik toko melihat ada plastik hitam tertinggal di tokonya. Begitu mengetahui ada barang yang tertinggal di tokonya maka sang pemilik langsung mengamankan tas plastik tersebut.
” ada yang bisa saya bantu pak” tanya pemilik toko. ” Ohh Bukankah bapak tadi belanja di toko ini?”
”Ya pak, tadi saya belanja di sini. Karena terburu-buru tas plastik besar saya tertinggal. Isinya pakainan, madu dan dompet istri saya” jelas Pak Syafei
”Alhamdulillah. Tas plastik ada di dalam. Sebentar saya ambilkan”, ucap pemilik toko sambil masuk ke dalam tokonya. Kemudian dia keluar lagi sambil menyerahkan tas tersebut kepada Pak Syafei.
” Ini punya pak. Coba dilihat kembali”

Pak Syafei mengambil tas tersebut kemudian melihat isinya. Tidak ada yang kurang.
”Bagaimana saya harus membalas semua ini?” pintanya
”Tak perlu dibalas pak. Ini sudah kewajiban saya menjaga hak orang lain. Sudah banyak kok kejadian seperti ini”
”Boleh saya tau nama bapak ?” pinta Pak Syafei
”Ahmad Mubarok, panggil saja pak ahmad” ujar pemilik toko tersebut.
”Terima kasih Pak Ahmad. Saya Syafei. Syafei Firdaus lengkapnya. Semoga toko bapak selalu diberkahi”, doanya. Kemudian Dia lanjutkan ” Pak Ahmad, saya permisi dulu. Assalamu’alaikum…”

Akhirnya kejadian itu diceritakan pada istrinya. Istrinya merasa takjub dengan kejadian ini. Mereka pun sepakat akan menamakan anaknya yang ketiga dengan nama depan Ahmad. Ahmad artinya terpuji. Dia ingin agar anaknya bisa melaksanakan amal-amal terpuji selama hidupnya. Dan bisa mencontoh perbuat terpuji Pak Ahmad Mubarok.
Ya, beberapa tahun kemudian, tepatnya 5 tahun kemudian, anak ketiga lahir. Anak itu diberi nama Ahmad. Ahmad Firdaus lengkapnya. Ahmad juga nama kecil dari Nabi Kita.

Sebagai orang tua dia telah memberikan nama-nama yang mengarah kepada nilai-nilai kebenaran. Nama-nama itu sudah disiapkan sebelum anaknya lahir. Dan dia memberikan nama belakang sama kepada ketiga anaknya dengan Firdaus. Dia ingin agar anak-anaknya memahami bahwa Firdaus adalah surga yang tertinggi.
Sebagai orang tua, Pak Syafei sadar betul bahwa Nama itu adalah Doa. Nama adalah harapan-harapan kedua orang tua agar anaknya dewasa seperti apa. Andai saja kedua orang tua paham nama itu adalah doa. Maka mereka akan memberikan nama anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya. Sebab itu nama adalah doa dan harapan mereka untuk masuk surga.

*****

Siang itu jamil sudah sampai di rumah. Baru pulang dari sekolah. Dia ucapkan salam kepada orang rumah. Membuka sepatunya, kemudian masuk. Ditaruh tasnya. Dia cium tangan ibunya yang berada di ruang tengah. Masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Setelah itu, dia menuju kamar mandi untuk cuci tanan dan kaki. Dan keluar menuju ibunya.

” Bu nanti jam 4 sore teman-temanku mau datang. Rencananya mau bakar ikan di dekat saung melati”
” Berapa yang akan ikut, nak”
” Tadi di sekolah kami janjian. Yang ikut 4 orang”
” Apa yang mau kau siapkan?”
” Biasa buat bumbu ikan bu”. Jawab Jamil. ” Tapi kali ini tolong ibu yang siapkan bumbunya nanti jamil yang ngulek ya”
” Ikannya bagaimana?”
” Kami janjian di saung melati, kemudian mancing bersama. Ikan yang didapat itulah yang akan dibakar”.
” Ya sudah. Sekarang kamu sholat dan terus belajar”.
Jamil segera keluar menuju mushola yang berada di samping rumahnya. Tidak lupa diajaknya adiknya ke sana.

Di mushola

Mushola itu berbentuk panggung. Mushola itu mushola keluarga. Berukuran 3 x 6 meter. Di sampingnya ada sumur kecil dan kamar mandi. Sumur tersebut sekelilingnya diberi batu bata setinggi 1 meter. Di dekatnya ada gentong yang berfungsi sabagai tempat wudhu.
Sumur itu dalamnya 3 meteran. Di atasnya ada timba yang digunakan untuk mangambil air. Jamil menimba air. Air dimasukan ke gentong. Jamil berwudhu, setelah selesai diikuti Ahmad. Terus mereka berdua sholat zuhur bersama. Selesailah sholat kemudian Jamil berdoa. Setelah itu Jamil berkata kepada adiknya.

” Ayo Mad, kita teruskan bacaan Iqro-nya. Dia segera menuju tempat buku iqro berada. Diambilnya 2 buku iqro. Satu buku diberikan adikknya, sambil dibukakan halaman 19 nya.
“ Sekarang sampe Iqro 1 halaman 19. Coba lihat. ini huruf Tho. Apa mad?”
” To”
” Sekali lagi”
” To”
” Ulang 3 kali”
” To. Too. Too”
” Tho. Jangan Thooo. Cukup Tho. Jangan panjang O nya ”.
“ iya, kak Jamil. Tho…”

Mereka pun terus belajar sampai 1 halaman. Setelah selesai mengajari adiknya iqro, Jamil mengulang sebentar pelajaran yang tadi dipelajari di sekolah. Sedang Ahmad kembali membaca iqro yang tadi dipelajar

Sore harinya

Jamil sudah menyiapkan alat pancingnya. Dia segera menuju saung yang dikelilingi kebun melati. Di sebelah kebun melati ada empang. Empang itu empang pribadi ayahnya. Ukuran empang tersebut panjangnya sekitar 20 meter dengan lebar 3 meteran.
Sang ayah, Pak Syafei membuat peraturan tegas, empang itu hanya boleh dipancing. Ikan-ikan diempang itu hanya digunakan untuk lauk pauk, tidak boleh asal sekedar mancing. Atau bila ada acara santai, seperti bakar ikan diperbolehkan asal ikan tersebut bukan sekedar dimakan. Tetapi harus ditemani sama nasi.

Tetapi bila ada tetangga yang membutuhkan ikan, Pak Syafei mengijinkan tetangganya untuk mengambil 5 ekor ikan saja. Dan dengan syarat pula, harus dipancing. Di Empang tersebut biasanya banyak ikan sepat, tawes, mujair, nila, gabus dan betok. Ikan-ikan ini kalau dibakar sungguh enak. Dan dia pun memancingnya….

Di teras rumah

Pak syafei sudah datang. Dia mengucapkan salam. Dari kejauhan dilihatnya Zubair sedang memberi makan kambing. Tetapi tidak ada Jamil. Seharusnya dia membantu abangnya.
Istrinya pun keluar. Kemudian Pak Syafei berkata,” Bu kemana si Jamil ?”
” Dia lagi mancing yah. Sebab sore ini dia mau bakar ikan dengan teman-temannya. Dia sudah minta ijin pada ibu”.
” Oh Begitu. Kalau begitu akan saya susul ke sana”. Pak Syafei beranjak pergi. Dia menuju mushola panggung. Dia mengambil pancingan yang berada di bawah mushola panggung.

Di Empang Dekat Saung

Jamil sedang asyik memancing. Melihat pelampung yang terbuat dari kayu bergerak-gerak dia segera menariknya ke atas. Yap. Dia dapat seekor ikan tawes sebesar 3 jari tangan. Dimasukan ikan tersebut ke dalam korang. Sudah 3 ekor yang dia dapat. Kemudian dia isi kailnya dengan cacing, kemudian dia lemparkan ke air.
Baru 10 detik di atas air, sudah disambar lagi. Dia tarik dan kena lagi. Kali ini ikan betik kecil yang nyangkut. Seukuran jempolnya. Dia lepaskan dari mata kail. Ikan itu dimasukan lagi ke dalam empang. ” ikannya masih kecil, biar gede dulu ahh” ucapnya pelan.

” Asalamualaikum, kapten”. Itu adalah panggilan kesukaan Jamil. Mengapa Jamil dipanggil kapten? Sebab dia di kelas atau di desanya bagitu hebat bermain bola. Di kelasnya bahkan di desanya pernah menjadi juara karena kemahirannya mengolah bola. Dan dia selalu jadi kapten. Sehingga banyak teman-temannya yang memanggilnya kapten.
” Hei ayah. Ada apa, ayah? Tadi aku sudah minta ijin sama abang Zubair tidak membantunya”
” Oh begitu. Katanya kamu mau bakar ikan?. Tapi kamu belum jawab salam ayah!”
” Oh iya, wa ’alaikum salam ayah. Sama teman-temanku. Ayah mau mancing juga”. Karena dilihat ayahnya membawa pancingan.
Ayahnya menganggukkan kepala sambil bertanya ” Sudah dapat berapa?”
” Tiga ayah. Tadi dapat yang kecil satu tapi sudah aku lepas”
” Kenapa kau lepas?”
” Ikannya biar besar dulu yah”
” Hebat itu. Ayah suka bila ikan-ikan kecil yang kita dapat dilepas kembali. Secara tidak langsung kita sudah melestarikan lingkungan”.

Kemudian ayah menuju ke sebuah papan yang bertulis ” Ikan Hanya Boleh Diambil dengan Dipancing”. Posisi papan yang dipaku di sebuah pohon itu agak miring. Pak Syafei memegang papan itu dan mengatur posisi papan supaya rata kembali. Setelah itu dia kembali.

Pak Syafei segera duduk di samping Jamil. ”Kapten, boleh ayah pakai cacingmu”
”Kenapa ayah mesti minta ijin dahulu”
” Kamu yang mencari cacaing itu. Cacing itu milik kamu. Siapapun yang meminta harus ijin kepadamu”
” Silahkan ayah. Ambil sesuka. ayah”
” Terima kasih”. Segera ayah memasukan umpan ke mata kailnya. Dan dilemparkan disela-sela pohon-pohon air. Sambil berkata ” Bismillah”.
Di sela-sela penantian itu sang ayah berujar, ” Kau tau arti ekosistem alam , kapten?”
” Ekosistem?”
“ Iya, ekosistem alam”
“ ekosistem itu terdiri dari 2 kata, eko dan sistem. Eko artinya satu dan sistem ya sistem atau juga lingkungan. Jadi bisa disebut satu mata rantai lingkungan. Bagitu ayah?”
“ ada berapa jenis ekosistem?”
“ ada ekosistem alam dan buatan”.
” Contohnya”
” Ekosistem alam itu bisa gunung, sungai, danau. Kalau buatan itu contohnya sawah dan kolam. Oh ya, empang ini dibuat atau ada sejak dulu, ayah?”
” itu berarti kamu sudah mengerti. Kalau kita paham akan arti sesuatu maka akan mudah menjelaskannya. Empang ini dulu kecil. Kemudian ayah dan dibantu beberapa tatangga melebarkannya”
” jadi ini bisa disebut ekosistem buatan dong”
’ Betul itu”
” Ayah, Kenapa empang ini hanya boleh dipancing saja?”
” Anakku, empang ini tak terlalu luas. Kalau empang kecil ini dijaring dalam 2 hari saja ikannya akan habis. Apalagi kalau diracun. Dalam beberapa jam ikan di sini akan habis. Kalau di racun kita perlu waktu sekitar 6-8 bulanan supaya ikan di empang ini banyak kembali. Berarti engkau butuh waktu 6-8 bulan buat bakar ikan bersama teman-temanmu’.
” Tulisan itu berarti menjaga ekosistem dong”
” Tentu. Engkau tentu ingin agar empang ini terus banyak ikannya bukan?”
“ tentu, ayah”
“ maka biarkanlah, ikan-ikan disini berkembang biak secara alami. Oleh sebab itu, eceng gondok dan tanaman air harus ada di emapang ini.
“ Mengapa, ayah”
“ tanaman air itu menghasilkan oksigen sehingga aair di dalam empang ini akan sehat bagi ikan-ikan. Disamping itu, tanaman air berguna bagi ikan untuk meletakkan telur-telurnya.
“ ohh begitu ya”

Sekilas Pak Syafei memandang barisan bukit yang berada di kejauhan. Setelah itu, dilihat pelampungnya. Pada saat itu, dia sedang berfikir secara serius. Ada yang ingin dia sampaikan kepada anaknya. Sebuah agenda besar bagi hidupnya. Masa depan bagi anaknya. Dan inilah saat yang tepat. Dimulailah dengan satu pertanyaan ringan.

” Mil, apakah kau suka dengan namamu?”
” kenapa ayah katakan itu?”
” Apakah kau suka?”
” Bahkan saya bangga, ayah” sambil menengok ke ayahnya.
” Kau tau arti namamu, Jamil Firdaus”.

Jamil agak kaget mendapatkan pertanyaan seperti itu. Dia mencoba berfikir sejenak. Akhirnya diucapkan juga,
” Jamil itu indah. Firduas itu, kata ibu artinya surga. Jadi kira-kira artinya keindahan surga, ayah”.
” Itu yang kau pahami, kapten”
” kira-kira seperti itulah, ayah”
” Ayah senang itu, kamu paham. Begini sayang, ayah dan ibumu dalam memberi nama kamu dan saudara-saudaramu punya keinginan dan harapan. Untuk namamu pun, ayah punya keinginan dan harapan besar”.
Pak Syafei berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan,
” Dalam segi arti yang kau katakan tadi betul. Jamil itu indah. Bisa juga keindahan. Yang disebut indah bukan saja pemandangan. Tapi juga perbuatan baik. Setiap kita melakukan perbuatan baik, maka itu juga keindahan. Keindahan yang bisa dirasakan orang lain. Coba kau rasakan, harum apa ini?”
” harum melati, ayah”
” Apa yang kau rasakan setiap kali mencium harum melati?”
” Setiap rasa harum itu masuk ke tubuhku maka dada ini terasa lapang sekali. Kurasakan tubuh ini makin segar, ayah”.

Pak Syafei mau melanjutkan ceritanya tetapi jorannya terlihat dimakan ikan. Dia tarik jorannya. Diujung kailnya sudah mengelepar-gelepar seekor ikan tawes seukuran tangan. Ikan itu dipisahkan dari kail dan dimasukan ke korang.
” Ayah hebat. Ini ikan yang besar. Bisa dibakar buat nanti kan sama teman-temanku” pinta Jamil.
” Silahkan saja” . Pak Syafei memasukan cacing ke kail. Melempar ke air. Dan menunggu kembali ada ikan yang memakannya. Sang ayah kembali melanjutkan
” Begitulah melati, anakku. Dia akan mengeluarkan harum kepada siapa saja yang didekatnya. Ayah dan ibumu ingin agar kamu melakukan kebaikan kepada siapa saja, agar keharuman kebaikanmu dapat dirasakan, terutama kepada orang yang ada disekelilingmu.”

Memang betul setiap kebaikan yang kita lakukan akan melapangkan jiwa. Dan jiwa-jiwa yang lapang akan senantiasa sehat. Itulah salah satu rahasia mengapa Nabi kita, Muhamad SAW selalu sehat sepanjang usianya”.

Kemudian sang ayah melanjutkan tutur katanya,
” Anakku, Nama itu adalah Doa. Nama adalah harapan dan keinginan ayah dan ibumu. Mereka ingin kelak ketika kamu dewasa ingin seperti nama itu”
Si jamil hanya diam.
“Dan kau adalah harapan dan keinginan ayah agar selalu berbuat kebaikan kepada siapa saja. Bila kamu lakukan itu maka kau menambah pundi-pundi amal kebaikan orang tuamu. Bila demikian surga Firdaus mendekati orang tuamu. Itulah gambaran namamu. Namamu adalah doa ayah ibumu. Begitulah harapan ayah?” sambil dibelai rambut anaknya dengan beberapa air mata yang menempel pada bola mata.
” Ya, ayah. Jamil akan ukir penjelasan ini dihati agar dia tetap diingat selamanya.” katanya mantap sambil mencium dahi ayahnya. Dia duduk kembali. Kemudian dia bertanya:
” Ayah ,mengapa nama belakang kami semua sama, semuanya ada Firdausnya?”
” Ayah senang kau tanyakan itu. Firdaus Itu bukan nama marga atau keluarga. Pertama, Itu adalah cita-cita. Firdaus adalah surga tertinggi. Kuingin keluarga kita, setiap melakukan kebaikan apa saja bermuara kepada cita-cita ini. Cita-cita meraih surga tertinggi. Kedua, ayah menghendaki agar ada ikatan persaudaraan yang lebih kokoh diantara kalian. Bagaimana?”
” Terima kasih ayah”.
” Ya sudah, sekarang ayah mau ke rumah” . Pak Syafei mulai berdiri tetapi pelampungnya bergerak-gerak. Tangannya bergerak cepat. Disambarnya joran ke atas. Seekor ikan gabus besar dia dapatkan. Jamil segera melepaskan ikan tersebut dengan perasaan gembira. Dan Pak Syafei segera meninggalkan lokasi tersebut.

Tak lama kemudian teman-teman Jamil sudah berkumpul di tempat itu.
” Bagaimana Mil. Sudah dapat berapa?”
” Coba saja lihat korangnya”.
Salah seorang temanya, Indra mengangkat korang itu dari air. sambil berteriak
” Wah pesta besar kita sore ini” . Yang diikuti kegembiraan teman-teman yang lain. Mereka pun memancing bersama. Tak lama berselang dari tempat itu sudah terlihat asap beterbangan ke udara yang diikuti aroma ikan bakar.

******

Di teras rumah

Pak Syafei terlihat bahagia. Dia telah menjelaskan nama adalah doa, nama dalah harapan kepada Jamil. Beberapa waktu sebelumnya, dia telah menjelaskan nama adalah doa dan harapaan kepada Zubair. Sebagian amanahnya sebagai orang tua telah ditunaikan.

Di tangannya sudah terdapat 2 buah amplop putih. Satu amplop bertuliskan buat Abang Zubair. Satu lagi buat Kapten Jamil. Isinya adalah tulisan yang pernah dijelaskan kepada kedua anaknya. Nama itu adalah doa dah harapan orang tua.
” Bada maghrib akan aku serahkan kepada keduanya” katanya pelan. Sambil dilihat seekor burung yang kembali kesarang menemui anak-anaknya. Hidup ini memang indah. Seindah datangnya senja.

Selesai.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in CERITA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s