HIDUP DI NEGERI HARAPAN

BILA KITA HIDUP MENUJU NEGERI IMPIAN
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN BANTEN )

Tulisan ini adalah kumpulan dari tulisan Pak Muhaimin Iqbal di Gerai Dinar, yang dimuat secara bersambung di situsnya. Membaca rangkaian tulisan ini akan membuat kita mempunyai gambaran yang utuh tentang negeri impian atau harapan yang bersumber dari ajaran Islam yang mulia.

Sebuah negeri yang menjadi impian kaum muslimin, dan negari ini telah ada sebelumnya di Era Kejayaan Umat Islam beberapa abab yang lalu. Dan ini merupakan sekedar dongeng atau cerita tidur. Negeri yang pernah menghasilkan penduduknya enggan menerima zakat, negeri yang ilmu pengetahuan berkembang pesat, negeri yang nilai inflasinya  mendekati zero, negeri yang tingkat keamanannya teraman di dunia, dll.

Apakah ada negara di dunia ini yang mendekati kriteria di atas??? jawabannya tentu tidak, sebab negeri yang kita maksud mengaplikasikan Al Quran dan Perjuangan Nabi Muhamad SAW sebagai standar hidupnya.

Tulisan ini dibuat secara bersambung

(Episod 001) Dinaria : Lahirnya Sebuah ‘Negeri’…

Waktunya adalah di paruh awal dekade kedua abad 21, ketika teknologi jaringan dan social media menjangkau hampir separuh penduduk bumi. Ketika korporasi-korporasi raksasa dunia berhasil membangun sukses yang luar biasa, tetapi pada saat yang bersamaan negeri-negeri mereka berguguran bangkrut karena tidak lagi bisa membayar hutang-hutangnya.  Dampak dari kebangkrutan negara-negara ini, jumlah rakyat miskin dunia yang semakin membesar – tidak ada lagi yang mengurusinya. Fasilitas layanan publik menjadi tidak terurus dan krisis sosial-pun mengancam seluruh dunia. Saat itulah sekitar  3 milyar penduduk dunia yang sudah saling terkoneksi melalui berbagai jaringan dan social media, merasakan sebuah kebutuhan yang sama – yaitu sebuah ‘negeri’ yang mampu mengayomi kebutuhan mereka secara bersama-sama.

Karena renteten kebangkrutan negara-negara di dunia dunia  justru dipicu oleh system yang dibanggakan negeri-negeri adikuasa hingga dekade pertama abad 21, penduduk dunia tidak lagi percaya pada segala bentuk system yang ada. Mulailah dilakukan upaya besar-besaran untuk menemukan system apa yang kiranya akan paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat ultra modern saat itu.

Teknologi yang telah berkembang dua – tiga decade sebelumnya mempermudah upaya pencairan ini. Sebelumnya telah ada teknologi jaringan yang membuat hampir seluruh keinginan penduduk dunia dapat terdeteksi melalui  kata-kata yang sering mereka ketikkan di berbagai search engine. Kolaborasi raksasa dari berjuta keahlian di sejumlah bidang ilmu juga telah dirintis sebelumnya, bahkan cikal bakal kolaborasi ekonomi berbasis kesetaraan dalam berbagi telah pula mulai bermunculan.

Walhasil hanya dalam beberapa bulan setelah kebangkrutan negeri adikuasa menjadi epicentrum runtuhnya negeri-negeri lainnya, masyarakat dunia sudah bisa mensarikan system apa gerangan yang akan menggantikannya. Masyarakat dunia tetap membutuhkan ‘negeri’, tetapi ‘negeri’-nya tidak harus berbatas geografis. Mereka butuh pemimpin yang mampu memahami dan melayani kebutuhan masyarakat, bukan pemerintahan yang menjadi beban masyarakatnya.

Masyarakat dunia membutuhkan system hukum dan perundang-undangan yang adil, bukan hukum dan perundang-undangan yang lahir dari kebutuhan segelintir orang yang berkepentingan. Masyarakat dunia butuh akses yang sama terhadap sumber –sumber daya alam, capital, pasar dan tentu juga ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Dengan teknologi jaringan dan social media yang ada, masyarakat dunia memiliki kesempatan yang sama untuk mengutarakan ide dan pendapat-pendapatnya. Maka ketika mereka mencari bentuk pemerintahan dunia-pun berjuta pendapat mengemuka di dunia maya. Berbagai system pemerintahan dunia baik yang pernah ada sebelumnya maupun konsep baru diuji dan dikritisasi. Rata-rata penuh dengan kelemahan seperti sejarah yang telah membuktikan kegagalannya untuk yang pernah ada, dan untuk konsep yang baru rata-rata gagal dalam detil – gagal dalam hal kelengkapannya untuk mampu mengurusi berbagai sendi kebutuhan masyarakat dunia yang amat bervariasi.

Namun ternyata ada satu system pemerintahan yang terbukti paling lama diterapkan di muka bumi ini, tidak kurang dari 14 abad teruji. Memang berbagai kritik sejarah juga menyerang system ini, tetapi rata-rata ini bisa dibuktikan bahwa masalahnya ada pada pada orang atau pelaku sejarahnya dan bukan pada system-nya. Juga ketika diuji untuk menghadapi berbagai persoalan baru yang dihadapi oleh manusia ultra modern, system ini ternyata mampu menjawabnya dengan amat sangat baik.

Perang pemikiran dan adu konsep di dunia maya dan social media yang dapat disaksikan dan diikuti oleh separuh penduduk bumi secara transparan ini akhirnya memunculkan satu konsep kepemimpinan global. Kepemimpinan yang kewenangannya terbatas, yang diawasi dan diatur dengan undang-undang yang bukan dibuat oleh manusia. Undang-undang dari suatu system yang adil yang dibuat oleh Sang Pencipta, yang mengatur pemimpin sama ketatnya atau bahkan lebih dibandingkan dengan rakyat biasa. Undang-undang yang paripurna, yang tidak ada sedikit-pun lalai dalam mengatur urusan penduduk dunia ini – sampai sekecil-kecilnya.

Setelah undang-undang ini disepakati, maka ‘negeri’ baru inipun terbentuk. Dua hal yang kemudian perlu segera didefinisikan yaitu dimana wilayah ‘negeri’ ini dan siapa yang diakui sebagai penduduknya. Untuk wilayah disepakati bahwa seluruh bagian bumi, dimana ada penduduknya yang mau mentaati undang-undang tersebut diatas – maka wilayah tersebut adalah termasuk wilayah ‘negeri’ baru ini. Demikian juga dengan penduduknya, dimanapun dia berada – asal mengakui dan tunduk terhadap undang-undang yang ada – maka dia juga diakui sebagai penduduk ‘negeri’ ini.

Dengan pengaturan wilayah dan penduduk ini, hanya dalam bilangan hari bermilyar manusia dari seantero dunia mendaftar untuk diakui sebagai penduduk resmi ‘negeri’ yang baru saja lahir. Mereka tidak perlu meninggalkan statusnya sebagai penduduk dari negeri fisik dimana dia berada, tetapi pada saat bersamaan mereka telah menjadi warga dari suatu ‘negeri’ yang baru ini – lengkap dengan hak dan kewajiban-kewajibannya.

(Episod 002) Dinaria : Negeri Baru Memilih Pemimpin…

Dalam puing-puing kehancuran ekonomi dan krisis social yang menjalar di seluruh dunia, ‘negeri’ yang baru saja terbentuk membutuhkan segera pemimpin yang ideal untuk jamannya. Segudang masalah menunggunya, dan segudang harapan dari bermilyar penduduk menanti jawaban. Melihat tanggung jawab yang luar biasa ini, nyaris tidak ada orang cerdas di muka bumi yang mau mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin. Sebaliknya berjuta orang yang tidak memenuhi syarat nekad mencalonkan diri untuk memimpin negeri dengan penduduk sekitar 3 milyar jiwa ini. Lantas bagaimana menyeleksinya ?.

Teknologi jaringan dan social media telah membuat penduduk Dinaria yang wilayahnya mencakup seluruh bagian bumi seperti masyarakat yang hidup di satu desa kecil saja. Satu sama lain begitu mudah untuk saling mengenal, maka berjuta orang yang telah mencalonkan diri untuk memimpin tersebut diatas dengan mudah dapat diketahui riwayat hidup mereka sampai sedetil-detilnya karena selalu ada yang bisa mengenali mereka.

Walhasil tidak ada calon yang dominan yang memenuhi syarat untuk memimpin, tetapi keberadaan pemimpin ini mutlak perlu agar negeri yang baru terbentuk tidak kembali bubar. Maka ditempuhlah cara yang kedua  yaitu meminta masyarakat dunia untuk mengusulkan calon-calon pemimpin yang mereka anggap ideal lengkap dengan alasan pencalonannya serta detail jati dirinya.

Para calon pemimpin yang diusulkan inipun tidak lepas dari penelitian dan kritisisasi oleh sejumlah ahli dari berbagai bidang yang dibentuk khusus untuk melakukan pemilihannya. Hasilnya tetap tidak ada yang sempurna tetapi team pemilihan berhasil memilih tujuh orang yang paling mendekati kriteria pemimpin yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat itu, selanjutnya pemilihan pemimpin diserahkan kepada tujuh orang terpilih tersebut.

Karena sedari awal memang tidak ada satupun dari tujuh orang yang terpilih ini yang berambisi untuk menjadi pemimpin, pemilihan diantara mereka juga menjadi alot.  Bukan karena ada yang ngotot ingin memimpin, tetapi justru sebaliknya karena diantara mereka saling mempersilahkan yang lain untuk memimpin.

Ajang saling mempersilahkan ini baru berakhir ketika salah satu dari mereka ada yang mengusulkan kriteria yang unik untuk memilih satu dari tujuh orang terpilih tersebut. Kriteria ini  dipandang sangat masuk akal karena mereka akan memilih berdasarkan siapa yang paling memahami undang-undang yang dipekati ketika negeri mereka terbentuk, yaitu bukan undang-undang yang dibuat manusia berdasarkan kepentingannya – tetapi undang-undang yang dibuat Sang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui.

Begitu kriteria ini disepakati, segera tujuh orang ini saling meneliti latar belakang calon yang lain secara mendetil sampai ketika sang calon masih bayi. Hasilnya diketahui bahwa ada satu diantara tujuh calon tersebut, yang sudah hafal undang-undang yang mereka sepakati tersebut sejak dia berusia kurang dari 10 tahun. Di usia belasan dia sudah begitu banyak karyanya yang menunjukkan pemahaman yang luar biasa atas undang-undang dan petunjuk yang datangnya dari Sang Pencipta tersebut.

Setelah disepakti dialah yang harus memimpin rakyat yang mewakili separuh penduduk bumi, sang pemimpin ini justru lemas tertegun di kursinya. Dia merasa tidak sanggup dengan besarnya amanat yang kini harus dipikulnya, pada saat yang bersamaan dia juga akan merasa  sangat bersalah apabila membiarkan 3 milyar rakyat tanpa pemimpin yang seharusnya.

Maka ketika didaulat untuk menyapa rakyatnya yang pertama kali dia ucapkan adalah : “Aku didaulat untuk memimpin kalian bukan karena aku yang terbaik dan paling mampu diantara kalian, sangat bisa jadi kalian yang ada di belahan lain dari dunia ini mengetahui lebih baik dari yang aku tahu, memiliki kemampuan yang lebih dari yang aku bisa – maka ingatkanlah aku bila aku salah, dan berilah aku nasihat…”.

Pesan sang pemimpin ini segera menyebar ke seantero dunia melalui berbagai jaringan dan social media, tiba-tiba dunia terasa sejuk karena telah hadir seorang pemimpin yang kata-katanya saja sudah mententeramkan hati rakyatnya.

(Episod 003) Dinaria : Kabinet 7 Menteri dan Lahirnya Nama Negeri…

Tidak seperti pemerintahan baru di negeri-negeri yang lama dimana ada beban birokrasi yang sudah terlanjur gemuk dan jumlah pegawai yang berpuluh juta, pemerintahan baru di negeri baru bisa mulai segala sesuatunya dari nol. Di satu sisi ini pekerjaan yang sangat berat karena harus membangun segala sesuatunya dari awal, di sisi lain juga merupakan keberkahan tersendiri karena pemerintahan baru tidak memiliki beban birokrasi dan bejibun-nya pegawai yang ikut andil dalam membuat bangkrut negeri-negeri sebelumnya. Maka dari sinilah, dari satu lembar kertas putih pemimpin baru mulai menyusun pemerintahannya.

Yang pertama dirasa sangat mendesak adalah adanya sekretariat negara dimana seluruh masalah rakyat diidentifikasi dan didokumentasikan, seluruh program kerja pemerintahan nantinya dipantau, dan seluruh bidang-bidang kerja pemerintahan di koordinasikan  satu sama lain. Sekretariat negara juga menjadi semacam knowledge centre tentang seluk beluk negeri bagi rakyat maupun pemimpin-pemimpinnya.  Penganggung jawab sekretariat negara ini adalah menteri sekretaris negara.

Yang kedua dibutuhkan adalah pekerjaan-pekerjaan komunikasi dan diplomasi dengan negeri-negeri geografis – yaitu negeri bentuk lama – yang sudah ada di muka bumi. Karena wilayah dan rakyatnya yang tumpang tindih dengan wilayah dari rakyat negeri geografis, sangat wajar negeri bentukan baru ini disikapi dengan curiga bahkan antipati oleh sebagain negeri-negeri lama di dunia. Pekerjaan-pekerjaan komunikasi dan diplomasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan pekerjaan-pekerjaan lain yang bersifat membangun kedaulatan dan ketahanan negeri baru, dan dirangkum dalam ruang lingkup pekerjaan menteri pertahanan.

Yang ketiga adalah menyangkut alasan lahirnya negeri baru ini, yaitu kebutuhan yang sama dari rakyat di seluruh dunia akan kesejahteraan sosial. Ini menyangkut urusan kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, kebudayaan dan sejenisnya.  Pekerjaan ketiga ini akan ditangani oleh menteri kesejahteraan sosial.

Yang keempat adalah menyangkut pemenuhan hajat hidup yang berkesinambungan bagi tiga milyar penduduk negeri baru. Ini menyangkut kegiatan-kegiatan perdagangan, pertanian dan industri yang dikepalai oleh menteri perekonomian.

Yang kelima adalah pekerjaan-pekerjaan untuk menjamin ketaatan hukum  bagi siapapun penduduk negeri. Pekerjaan ini diserahkan kepada kementerian hukum dan peradilan.

Yang keenam adalah adalah urusan hutang piutang negeri, kekayaan, sumber-sumber pendapatan negeri dan pengelolaan belanja.  Keseluruhan pekerjaan ini dicakup dalam ruang lingkup menteri perbendaharaan negeri.

Yang ketujuh adalah institusi yang dapat menampung dan menyuarakan aspirasi rakyat sekaligus menjadi mitra para pemimpin negeri dalam menjalankan tugasnya agar benar-benar untuk kepentingan rakyat.  Majiis ini dipimpin oleh seorang ketua majlis – setingkat menteri , tetapi bukan berarti pembantu dari pemimpin tertinggi.

Selain tujuh menteri tersebut diatas,  pemimpin tertinggi juga akan menunjuk para gubernur di wilayah-wilayah yang dipandang perlu kemudian.

Belajar dari kegagalan negeri-negeri sebelumnya yang sumber petakanya adalah uang kertas yang bisa dicetak dari awang-awang sehingga menimbulkan inflasi yang luar biasa, maka pemerintahan negeri baru untuk sementara memutuskan tidak mengeluarkan uangnya sendiri.

Uang yang bisa digunakan adalah segala bentuk benda riil yang memiliki nilai pasar, likwuid, dikenali dan diakui bernilai oleh seluruh penduduk yang menyebar di seantero bumi. Di antara benda-benda riil yang memenuhi syarat ini adalah emas, perak, gandum, kurma dan bahkan juga garam dlsb.

Di antara benda-benda riil bernilai intrinsik tersebut yang paling mewakili untuk difungsikan efektif sebagai medium of exchange (alat tukar), unit of account (satuan pencatatan) dan store of value ( penyimpan nilai) adalah emas dan perak.

Karena emas dengan nama Dinar atau Dinarium sudah dikenal lebih dari dua ribu tahun sebelumnya, maka Dinar ini pula yang digunakan sebagai unit account dalam pembukuan dan seluruh pencatatan pendapatan dan belanja negeri.

Meskipun negeri baru menggunakan Dinar sebagai uangnya, negeri ini memutuskan untuk tidak mencetak Dinarnya sendiri. Seluruh emas yang ada di dunia, asal berkadar minimal 22 karat (0.917) diakui sebagai Dinar sesuai beratnya.  Misalnya ada rakyat di Afrika yang memiliki bongkahan emas yang ditemukan di lahannya seberat 1 kg dan terbukti berkadar 95%, maka bongkahan ini diakui sebagai 1000/4.25 atau sekitar 235 Dinar. Di negeri lain ada yang menemukan bongkahan emas seberat yang sama tetapi kadarnya hanya 85 %, maka ini harus dimurnikan dulu mencapai minimal 91.7% – kemudian ditimbang dan diakui sebagai Dinar sesuai berat hasil pemurnian.

Dengan cara seperti ini otomatis emas yang ada di seluruh dunia dapat digunakan sebagai instrument pembayaran yang sah, tanpa harus membuat pemerintahan menghabiskan waktu untuk mencetak dan mengendalikan nilai uang.  Uang yang hakiki lahir di pasar dan mekanisme pasar pula yang menentukan nilainya.

Bukan hanya sebagai instrument transaksi , batasan rakyat miskin yang perlu disantuni ditentukan dalam Dinar (20 Dinar), demikian pula batasan orang kaya yang memiliki kewajiban terhadap yang lain. Jadi uang negeri baru ini bukan hanya sebagai alat bayar, tetapi juga menjadi standar hukum yang menentukan hak dan kewajiban berdasarkan undang-undang mereka. Dari sinilah lahir nama negeri itu Dinaria…

(Episod 004) Dinaria : Pidato Di PBB…

Sebenarnya tidak menjadi penting bagi Dinaria untuk diakui di PBB atau tidak, baginya badan dunia yang lahir di abad sebelumnya ini telah gagal memainkan peran yang seharusnya dalam menjaga keamanan dan memakmurkan penduduk dunia.  Bahkan resolusi-resolusi penting yang menyangkut penyelesaian konflik justru paling sering di-veto oleh negeri adikuasa yang memiliki hak khusus di badan tersebut.  Tetapi undangan khusus untuk berbicara di forum yang dihadiri oleh para pemimpin negeri-negeri dari seluruh dunia sungguh merupakan kesempatan yang paling baik,  untuk menjelaskan langsung hal-hal penting yang terkait dengan ‘negeri’ baru ini – sekaligus menjawab kecurigaan dan kekawatiran yang ada di antara mereka selama ini.

Berikut adalah penggalan penting dari isi pidato tersebut :

“Tuan-tuan kepala negara, kepala pemerintahan atau yang mewakili … Terima kasih dan penghargaan yang setingginya saya ucapkan karena kehadiran tuan-tuan di majlis ini, berangkat dari negeri-negeri yang jauh, meninggalkan berbagai urusan penting negeri tuan-tuan, untuk hadir secara khusus mendengarkan apa yang akan kami sampaikan ini.

 Hanya beberapa hari setelah dideklarasikan, bermilyar penduduk dunia mendaftar untuk menjadi penduduk resmi negeri kami. Mereka-mereka ini adalah penduduk-penduduk dari negeri tuan-tuan, dan mereka tinggal di negeri tuan-tuan.  Mereka ini akan tetap demikian, menjadi penduduk dan tinggal di negeri tuan-tuan – tetapi pada saat yang bersamaan mereka juga telah menjadi penduduk dan tinggal di lingkungan negeri kami.

Tidak ada niatan kami untuk mengambil alih penduduk ataupun wilayah dari negeri tuan-tuan, sebaliknya justru keberadaan kami akan menjadikan penduduk negeri tuan-tuan makmur dan wilayahnya terjaga. Keberadaan kami akan mengisi celah antara kebutuhan dan harapan (needs and wants) penduduk negeri tuan-tuan dengan apa yang tuan-tuan sudah bisa berikan kepada mereka.

Milyaran penduduk negeri tuan-tuan tidak akan mendaftar dengan sukarela untuk juga menjadi penduduk negeri kami, bila mereka tidak merasakan adanya kebutuhan dan harapan mereka  yang belum bisa dipenuhi di negeri tuan-tuan – yang insyaAllah akan dapat kami penuhi atau setidaknya kami usahakan maksimal untuk memenuhinya.

Berikut antara lain adalah apa-apa yang kami lakukan untuk memenuhi kebutuhan atau harapan penduduk kami yang juga penduduk dari negeri tuan-tuan sekalian :

Memberi makan bagi satu milyar lebih penduduk yang terancam kelaparan di negeri tuan-tuan.

Merawat orang-orang sakit, orang tua yang sudah tidak mampu bekerja di negeri tuan-tuan yang sebelumnya terlantar karena tidak ada cukup anggaran dari tuan-tuan untuk mereka ini.

Memberikan pekerjaan bagi ratusan juta orang yang kini menganggur di negeri tuan-tuan karena system ekonomi tuan-tuan yang telah menghilangkan lapangan pekerjaan untuk tenaga kerja yang masih seharusnya produktif .

Memberikan perlindungan hukum bagi mereka yang terdhalimi di negeri tuan-tuan.

Memberikan kemerdakaan bagi mereka yang terenggut kebebasannya tanpa alasan yang jelas .

Mengambil alih secara ihsan dengan membeli atau dengan kerjasama untuk sumber-sumber daya yang melimpah di negeri tuan-tuan yang selama ini belum teroptimalkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Pengambil alihan ini semata-mata untuk menjamin agar segala bentuk sumber daya alam yang terkait langsung dengan hajat hidup orang banyak – tetap diperuntukkan bagi orang banyak, bukan untuk segelintir kelompok atau golongan saja di negeri tuan-tuan.

Menyuburkan lahan-lahan gersang karena salah urus sehingga dapat dijadikan lahan-lahan yang subur bagi pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduk seluruh bumi.

Menjaga kelesatarian alam, mencegah pencemaran udara dan air dan menggerakkan budaya menanam untuk melestarikan bumi untuk dapat diwariskan sampai generasi yang akan datang.

Menjamin kesamaan akses terhadap sumber-sumber kemakmuran seperti pendidikan, pasar, sumber daya alam, intellectual property dlsb.…..

Tuan-tuan yang terhormat…

Barangkali tuan-tuan ingin bertanya bagaimana kami akan dapat melakukan semua ini…?. Inilah jawabannya.

Bukan kami  sendiri yang akan bisa memakmurkan bumi ini, tetapi inilah tugas kami yang diberikan oleh Sang Pencipta bumi dan seisinya ini. Dia yang Maha Bijaksana, tidak akan memberikan tugas yang berat yang tidak dapat kami laksanakan. Dia yang Maha Pencipta telah menciptakan bumi dalam dua masa dan menciptakan isinya dalam empat masa untuk kemakmuran penghuninya – dan inilah tugas kami, untuk memakmurkan bumi seisinya dan bukan untuk menjadi penguasa bumi itu sendiri.

Tugas kami hanya melaksanakan, agar semua berjalan sesuai kehendakNya.  Seperti air yang seharusnya mengalir ke semua tempat terendah di muka bumi sampai tercapai kesamaan permukaan, maka demikianlah tugas kami. Mengalirkan air kemakmuran ketempat-tempat yang seharusnya dan menghilangkan halangan-halangan yang membuat air menggenang di sebagian bumi , sedangkan bagian lain kekeringan.

 Tuan-tuan yang terhormat…

Tuan-tuan tidak perlu mencurigai keberadaan kami, tidak perlu pula melarang penduduk negeri tuan-tuan untuk juga menjadi penduduk negeri kami.  Keberadaan kami akan di justifikasi oleh manfaat yang dapat kami berikan kepada penduduk-penduduk kami.

Bila kami gagal untuk hadir memenuhi kebutuhan dan harapan mereka , maka  dengan sendirinya mereka akan keluar dari negeri kami.  Sebaliknya bila kami bisa hadir untuk memenuhi kebutuhan dan harapannya, maka tidak akan ada yang bisa melarang penduduk negeri tuan-tuan untuk juga masuk menjadi penduduk negeri kami.

 Tuan-tuan yang terhormat…

Tuan-tuan adalah rakyat asalnya dan cepat atau lambat akan menjadi rakyat kembali, dalam hati kecil tuan-tuan pasti masih dapat merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat dari negeri tuan-tuan, dapat merasakan kebutuhan dan harapan mereka, maka jangan halangi mereka untuk menggapai kemakmuran dan kebebasannya, jangan halangi mereka untuk menjadi bagian dari penduduk negeri kami, jangan halangi kami  mengemban fungsi memakmurkan bumi dengan melayani rakyat kami yang juga rakyat tuan-tuan sekalian…”.

Pidato ini disambut dengan tepuk sorak yang riuh rendah penuh antusias dari hampir keseluruhan kepala negara dan kepala pemerintahan yang hadir. Tetapi tentu saja dari setiap ide yang sangat baik sekalipun tetap ada yang tidak setuju karena alasan-alasan tertentu, salah satu yang nampak tidak setuju ini adalah kepala negara besar dengan hak veto di PBB – yang biasanya banyak tersenyum, kali ini ia tertunduk lesu tidak tahu harus berbuat apa karena pamornya telah kalah oleh pemimpin negeri baru – yang memimpin negeri bukan karena ambisi dan mencalonkan diri untuk kelompok atau golongannya, dia memimpin negeri karena tidak mau lari dari amanah yang diembankan di pundaknya, amanah untuk menjadi pemakmur dunia.

(Episod 005) Dinaria : Panca Program Untuk Rakyat…

Sungguh tidak mudah untuk menampung aspirasi rakyat yang jumlahnya bermilyar, terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama, menyebar di seantero bumi dan dengan berbagai kesenjangan yang luar biasa dibidang  ekonomi, social  dan budaya. Tidak mudah untuk memilih dan memilah mana yang harus ada ( must have) dan mana yang sebaiknya ada (nice to have), tidak mudah pula menyatukan aspirasi yang bisa saling bertentangan satu sama lain. Tetapi justru di sinilah mengapa masyarakat dunia memerlukan pemimpin sejati – yang sudah sejak berabad-abad tidak ada lagi dijumpai di  muka bumi ini.

Setelah bermusyawarah dengan tujuh menterinya yang keseluruhannya telah mempersiapkan tugasnya masing-masing secara seksama, maka sang pemimpin mensarikan dan merangkai seluruh program kerja kedalam lima program saja. Pertimbangannya adalah bila terlalu banyak akan sulit dipahami rakyat, sulit diukur dan dipantau – sehingga sulit pula untuk dinilai apakah sesungguhnya pemerintahan negeri baru ini berjalan atau tidak.

Dengan hanya memiliki 5 program saja yang kemudian disebut dengan Panca Program, Key Performance Indicators (KPI) menjadi jelas, mudah diingat dan mudah diukur. Dengan teknologi jaringan yang sudah sangat maju di jaman ultra modern saat itu, 5 KPI ini dapat disaksikan secara real time – day to day – oleh seluruh rakyat di muka bumi.  5 KPI untuk mengukur kinerja Panca Program pemerintah-pun dapat di – drill down atau di uraikan untuk masing-masing wilayah, masing-masing program kerja dst.

Panca Program ini menjadi semacam janji atau komitmen pemerintah untuk rakyatnya, rakyat bisa menagih janji ini kapan saja kepada pemerintahnya  bila ada hal yang tidak terpenuhi atau dilanggar.  Panca Program ini adalah sebagai berikut :

Menjaga Keimanan

Pemimpin negeri akan menjamin bahwa ajaran agama bisa disosialisasikan di seluruh negeri, tetapi tidak boleh ada paksaan kesiapapun dan dari manapun. Rakyat bisa memilih untuk memeluk agamanya setelah semua informasi sampai kepadanya tanpa adanya halangan.

Segala bentuk penghalang dakwah harus dapat dihilangkan, dan rakyat dilindungi untuk dapat memeluk agamanya dan melaksanakan ajaran-ajaran agamanya secara maksimal.

Menjaga Keselamatan Jiwa

Pemimpin negeri akan berusaha maksimal untuk mengamankan jiwa rakyatnya di seantero bumi dari segala bentuk ancaman. Potensi-potensi ancaman terhadap jiwa rakyat diidentifikasi dan diatasi.

System berbasis teknologi informasi yang sudah dapat menjangkau seluruh permukaan bumi di jaman itu dimanfaatkan untuk menjadi instrument deteksi dini untuk setiap masalah yang bisa mengancam jiwa penduduk negeri.

Menjaga Kemerdekaan Berpikir

Pemimpin negeri menjamin tidak akan ada rakyat yang tertindas yang tidak bisa mengutarakan pikiran-pikirannya. Pemikiran yang rusak  yang merugikan orang lain diluruskan dengan pemikiran yang mengarah kepada kebaikan.

Negeri akan memfasilitasi berkembangnya pemikiran yang sehat, dengan pendidikan sejak dini untuk memahamkan raktyat tentang undang-undang kehidupan – yang juga merupakan petunjuk yang sangat detil untuk seluruh aspek kehidupan – yang datangnya dari Sang Pencipta itu sendiri.

Menjaga Kehormatan

Seluruh rakyat akan dilindungi kehormatannya sehingga tidak ada satupun penduduk negeri atau bagian dari wilayah negeri mendlalimi satu sama lain. Tidak boleh ada perbudakan manusia atas manusia lain dalam bentuk apapun di seluruh wilayah negeri.

Menjaga Harta Rakyat

Pemerintah akan melindungi harta rakyat dari segala bentuk ancaman, baik berupa ancaman penurunan nilai karena inflasi ataupun ancaman pengambilan harta yang tidak secara hak oleh siapapun dengan cara apapun.

System yang memberi peluang pencarian harta yang adil bagi siapapun akan terus dikembangkan, sebaliknya system yang menimbulkan ketimpangan dalam kesempatan mencari harta  akan terus dicegah keberadaannya.

Setelah Panca Program ini diformulasikan, seluruh need and wants rakyat di seantero dunia di masukkan ke salah satu dari lima program tersebut diatas – yang paling sesuai. Tidak ada satupun keinginan atau kebutuhan yang tidak bisa masuk ke salah satu dari lima program ini.

Untuk mengatasi satu milyar rakyat yang lapar di seluruh dunia misalnya, kelima program tersebut diatas bisa terangkai dalam satu solusi yang paripurna. Rakyat diberi kesempatan bekerja yang sama sehingga mampu menghidupi diri dan keluarganya, kehormatannya akan terjaga dari meminta-minta, pikirannya tidak lagi tertindas oleh para rentenir, penjajah dan sejenisnya, jiwanya-pun aman dan merdeka dan dia bisa menjaga keimanan dan beribadat sesuai keyakinannya.

Untuk menjamin pelaksanaan Panca Program ini, rakyat dilibatkan dalam memberikan umpan balik pencapaiannya sehingga kinerja pemimpin dan para pembantunya dapat setiap saat diketahui oleh rakyat maupun oleh para pemimpin itu sendiri.  Sekali lagi teknologi informasi dan social media yang saat itu telah berkembang sedemikian rupa – membuat dashboard KPI pemerintahan negeri bukan lagi menjadi sesuatu yang tersembunyi. *****

(Episod 006) Dinaria : Perjalanan Ke Lima Benua…

Bila engkau mampu berjalan terus kebarat, melewati ujung paling barat dari negeri barat, maka engkau akan menemukan ujung paling timur dari negeri timur…”. Kalimat nasihat ini benar secara geografis dan benar pula secara folosofis.  Secara geografis karena bumi ini bulat, bila kita berjalan terus kebarat, kita sampai juga ke belahan bumi bagian timur. Secara filosofis benar karena segala sesuatunya telah diciptakan oleh Sang Pencipta secara berpasang-pasangan, bersama kesulitan ada kemudahan.  Maka Sang Pemimpin memulai pekerjaannya dengan secara harfiah melakukan perjalanan panjang menemui rakyatnya di lima benua, dimulai dengan perjalanan ke barat.

Benua pertama yang dikunjungi adalah benua Amerika, dia prioritaskan benua ini karena dari sinilah asal muasal kebangkrutan negeri-negeri sebelumnya.  Di belahan utara benua ini dia temui negeri yang di abad sebelumnya memimpin dunia dengan teknologi, ekonomi dan militernya. Tetapi justru karena inilah mereka sombong, mereka bertindak seolah-olah polisi dunia yang bisa menyatakan siapa yang salah dan siapa yang benar, menghukum yang dia pandangnya salah meskipun tanpa mereka bisa buktikan,  mendukung yang mereka anggap benar – sekalipun seluruh dunia menyatakannya bersalah.

Negeri adikuasa yang adigung adiguna ini rupanya keropos di dalam, negeri ini hancur oleh kebangkrutan ekonominya yang merupakan komplikasi dari hutang-hutang yang menumpuk , ekonomi yang ribawi yang juga penuh maisir dan gharar. Pusat bisnis kebanggaan mereka yang dikenal sebagai Jalan Tembok, tidak lebihnya seperti casino raksasa.

Kepada rakyatnya yang berdomisili di benua ini, Sang Pemimpin menasihatkan untuk meninggalkan perilaku sombong, meninggalkan riba, maisir (perjudian) dan gharar (spekulatif) dan mulai menggunakan keunggulannya di masa lalu dalam hal inovasi teknologi dan kreativitasnya untuk menggerakkan sektor riil.

Selanjutnya Sang Pemimpin menyeberangi laut ke barat, dikunjunginya benua kecil di antara timur dan barat – orang menyebutnya benua ini Australia.  Dia jumpai masyarakatnya yag pandai bertani dan berternak di tanah-tanah yang luas karena penduduknya sedikit. Sayangnya di benua ini kehidupan sosial masyarakatnya rusak karena tidak dibimbing dengan panduan hidup dari Sang Maha Kuasa.

Kepada rakyat yang bermukim di negeri ini, Sang Pemimpin menasihatkan agar mempelajari agama dengan benar – pelajari sampai akar-akar nya – sampai mereka bisa memperoleh petunjuk akan jalan hidup yang bisa membawa kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sang Pemimpin-pun melanjutkan perjalanannya kearah barat laut menuju ujung timur dari negeri timur,  negeri-negeri ini berada di benua yang namanya Asia,   benua yang ditinggali oleh bangsa-bangsa yang sangat beragam. Beberapa di antara mereka adalah pemain ekonomi yang sangat kuat di masa lampau, tetapi mereka ini hidup materialistis – nyaris tidak mengenal Sang Penciptanya.  Di negeri-negeri Asia ini masih banyak penduduk yang menyembah dewa-dewa, menyembah patung dan  bahkan salah satu negeri yang masyarakatnya sangat rasional dan maju di bidang ekonomi dan teknologi-pun, ternyata malah masih menyembah matahari.

Di sebagian benua Asia ini Sang Pemimpin juga menemukan bangsa di negeri kepulauan yang nampaknya sudah mengenal  Sang Penciptanya dengan lumayan baik, namun amalan mereka nampaknya belum banyak. Ini terlihat dari negeri mereka yang kaya raya dengan sumber alamnya, tetapi rakyatnya miskin – bahkan wanita-wanitanya yang seharusnya dilindungi di rumah-rumah mereka, malah sebagian mereka harus pergi ke negeri lain meninggalkan anak dan keluarganya hanya untuk mencari pekerjaan.

Ditemuinya pula bangsa yang hidup di padang pasir yang gersang, tetapi mereka memiliki sumber daya alam melimpah yang sangat di butuhkan bangsa-bangsa lain di dunia yaitu energi.  Namun justru karena kekayaan ini mereka pada lalai, para pemimpin mereka hidup bergelimpangan dengan harta, rakyatnya-pun dimanja sehingga etos kerja dan daya saing mereka rendah.  Bahkan sebagian mereka punya kebiasaan buruk tidur dari pagi hari sampai siang menjelang tengah hari,  mereka paham agamanya tetapi tidak pula melaksanakannya. Agama mereka mengajarkan berpagi-pagi mencari rizki, kitab mereka secara eksplisit menyebutkan bahwa malam untuk istirahat dan siang untuk bekerja – tetapi mereka abaikan petunjuk ini semua.  Hasilnya mereka kaya dari mengeruk isi bumi, bukan karena karya produktif dari kerja keras mereka sendiri.

Kepada rakyat yang hidup di Asia  ini Sang Pemimpin menyerukan agar yang masih menyembah dewa-dewa, patung-patung dan bahkan matahari untuk belajar mengenal tuhan Sang Pencipta yang sesungguhnya, melalui jalan yang paling masuk akal untuk mereka – bukan sekedar mengikuti para pendahulu mereka. Kepada yang sudah mengenal tuhannya dengan benar, Sang Pemimpin sangat menganjurkan untuk memahami petujuk-petunjukNya sebaik mungkin, kemudian bekerja sesuai petunjuk itu – agar mereka bisa menjadi umat unggulan di muka bumi.

Sang Pemimpin melanjutkan perjalanannya ke barat,  dia jumpai benua yang dihuni oleh bangsa-bangsa yang sangat maju dalam bidang teknologi dan terbuka dalam hal pemikiran. Dijumpai pula pemimpin tertinggi dari agama yang banyak dianut di muka bumi ini.  Kepada pemimpin agama ini Sang Pemimpin menyampaikan agar memberi kesempatan kepada para pengikutnya untuk mendalami dan meneliti asal usul agama mereka, semakin mereka diberi kebebasan untuk mencari yang sedalam-dalamnya – maka mereka akan lebih dekat kepada kebenaran yang sesungguhnya.

Perjalanan dilanjutkan Sang Pemimpin ke arah barat daya, dijumpainya benua yang sangat besar namun gersang yang disebut Afrika.  Karena kegersangannya pula benua ini menjadi pusat-pusat kemiskinan dan kelaparan nyaris sepanjang masa. Tetapi benua ini pernah makmur, belasan abad silam di benua ini pernah terjadi suatu masa dimana mencari orang miskin-pun sulit. Sang Pemimpin tahu dari sejarah bahwa masa kemakmuran tersebut adalah ketika benua ini berada dalam naungan pemerintahan yang adil – pemerintahan yang menggunakan undang-undang dan system hukum yang sama dengan yang digunakan di negeri baru.

Maka untuk rakyat di benua ini Sang Pemimpin kehilangan kata-katanya karena merasa kesedihan yang luar biasa, dia takut tidak bisa berbuat adil, dia takut kalau tidak bisa berbuat adil maka kemakmuran tidak akan kunjung datang ke benua yang satu ini, dia takut karena ketidak adilannya  bisa membuat satu saja jiwa meninggal karena kelaparan – dia tidak bisa mempertanggung jawabkan amanah yang diembankan ke pundaknya.

Setelah perjalanan ke lima benua ini dia lalui, Sang Pemimpin kini mengenal rakyatnya seperti mengenal anak-anaknya sendiri. Dia bisa merasakan betapa berat penderitaan yang diderita oleh sebagian rakyatnya, dan betapa berat tanggung jawabnya sebagai pemimpin mereka.

(Episod 007) Dinaria : Mengurai Benang Kusut Kemiskinan…

Setelah perjalanan panjang mengunjungi rakyatnya di lima benua, Sang Pemimpin merenung memikirkan apa saja yang baru ditemuinya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, mengapa dalam abad yang paling pesat kemajuannya sepanjang sejarah peradaban manusia – justru jumlah orang miskin di dunia juga meningkat sangat pesat ?. Mengapa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu meredam kemiskinan ?.  Mengapa piramida kemiskinan semakin membengkak kebawah, sementara kelompok makmur di paling atas semakin kecil persentasenya tetapi semakin luar biasa kemakmurannya ?.

Dilihatnya system yang menimbulkan pemiskinan global ini seperti benang yang sangat kusut, yang harus ditemukan ujung-ujung nya dahulu sebelum bisa diurai.  Maka dipanggillah tujuh orang menterinya untuk membantu memikirkan dan  menemukan ujung-ujung dari benang kusut ini.

Ujung pertama yang ditemukan adalah system uang kertas. Dalam banyak hal memang system ini memberikan kemudahan, namun karena pencetakannya yang tidak terkendali telah membuat hasil kerja keras rakyat di seluruh dunia menguap melalui proses yang namanya inflasi.  Bahkan pernah terjadi di abad yang lalu, nilai kekayaan 200 juta lebih penduduk suatu negeri – lenyap ¾-nya dalam krisis yang mereka sebut sebagai krisis moneter, yang membuat daya beli rata-rata uangnya tinggal seperempat  dari daya belinya sebelum krisis.

Untuk mengurai benang kusust pemiskinan yang disebabkan oleh uang kertas ini, maka uang dikembalikan ke asal uang berabad-abad sebelumnya. Uang dikembalikan ke komoditi riil yang membawa nilai intrinsik dan nilainya ditentukan berdasarkan mekanisme pembentukan harga di pasar sempurna.  Untuk mengatasi problem ketidak praktisannya,  diberdayakan teknologi informasi dan mobile media yang memang sudah sangat maju saat itu dan terjangkau oleh nyaris seluruh penduduk bumi.

Ujung kedua yang ditemukannya adalah system pasar. Yang berkembang di abad lalu adalah pasar-pasar yang berbasis kapitalisme, yang mempunyai modal yang menguasai pasar. Yang kaya semakin kaya karena menguasai pasar, sebaliknya yang miskin tambah miskin karena tidak memiliki akses pasar.

Hanya ada satu – dua negara di abad lalu yang pandai memperjuangkan pasar bagi rakyatnya, maka rakyatnya menjadi makmur meskipun jumlahnya lebih dari satu milyar penduduk. Sebaliknya negara-negara yang tidak memperjuangkan pasar bagi rakyatnya, rakyatnya jatuh pada kemiskinan meskipun sumber daya yang dimilikinya melimpah.

Ujung ketiga adalah penguasaan sumber daya alam. Nyaris sumber-sumber daya alam paling penting dan paling tinggi nilainya dikuasi oleh perusahaan-perusahaan besar dunia dengan orientasi keuntungan maksimal bagi perusahaan tersebut. Banyak negara-negara yang seharusnya mampu memakmurkan rakyatnya dengan kekayaan alam yang dimilikinya, namun justru miskin karena nyaris segala bentuk kekayaan tersebut ‘tergadai’ dalam kontrak yang sangat panjang dengan para kapitalis.

Ujung keempat adalah kapitalisme ilmu dan teknologi. Banyak sekali temuan-temuan baru dibidang ilmu dan teknologi sepanjang abad lalu yang manfaatnya besar bagi peradaban manusia.  Namun sayangnya pengaturan property right, intellectual property , patent dlsb. membuat masyarakat seluruh dunia harus membayar kemajuan jaman tersebut ke segelintir orang saja di dunia.

Bahkan karya agung Sang Pencipta berupa siklus bercocok tanam yang sudah beribu tahun dinikmati para petani ketika tanamannya memberikan hasil, sebagian dikonsumsi dan sebagiannya ditanam kembali untuk menghasilkan panenan berikutnya – siklus ini-pun diputus rantainya oleh patent kapitalisme, sehingga petani terpaksa membeli benih baru setiap kali mau bertanam.

Untuk mengatasi system pemiskinan yang keempat ini, Sang Pemimpin menyerukan agar seluruh rakyat yang berhasil menemukan hal-hal baru yang unggul dan bermanfaat bagi rakyat di dunia – melaporkan temuannya ke pemerintahan negeri baru.  Temuan mereka akan dihargai dan dibayar sesuai tingkat kemaslahatannya, kemudian temuan tersebut menjadi milik masyarakat untuk kesejahteraan mereka semua.

Ujung kelima adalah akses kapital.  Sepanjang abad lalu yang tumbuh menjadi sangat besar adalah institusi-institusi keuangan global seperti bank, asuransi, dana pensiun dlsb. Saking besarnya institusi-institusi keuangan tersebut, banyak diantara mereka yang memiliki turn-over melebihi anggaran belanja dan pendapatan negeri kecil di dunia.

Sayangnya akumulasi kapital yang bersumber dari bermilyar orang di dunia tersebut – hanya bisa di akses oleh sebagian kecil saja rakyat di dunia. Segelintir orang-orang super kaya di negeri tertentu bisa  menguasai lahan beribu-ribu hektar dan membangun beberapa kota dengan menggunakan uang masyarakat luas yang ada di bank, sementara mayoritas  rakyat tidak bisa mengakses modal yang terakumulasi tersebut karena konon mereka tidak bankable.

Ketimpangan dalam akses modal ini telah ikut menjadi penyulut api kehancuran negeri adikuasa ketika demonstran yang mewakili 99 % rakyat menduduki pusat bisnis kebanggaan mereka, dan menyerukan untuk memindahkan uang-uang rakyat dari bank-bank besar dunia ke koperasi atau credit union yang bisa mengelola uang rakyat untuk rakyat, bukan uang rakyat untuk para  konglomerat.

Berangkat dari lima ujung benang kusut yang berhasil ditemukan oleh Sang Pemimpin bersama para menterinya ini, pemerintahan negeri baru mulai satu demi satu menguraikan simpul-simpul kekusutannya dan memulai kerja keras yang panjang untuk memakmurkan rakyatnya. Dalam perjalanannya kedepan,  bisa jadi masih banyak ujung-ujung benang kusut lainnya yang juga perlu diurai, tetapi memulai dengan jumlah sedikit yang dikerjakan dengan konkrit dan sungguh-sungguh – akan lebih bermafaat dibandingkan dengan berjuta program kerja yang tidak kunjung dikerjakan.

(Episod 008) Dinaria : Membangun Karakter Melalui Makanan…

Ketika negeri Dinaria terbentuk oleh keinginan bersama rakyat dunia, negeri-negeri geografis yang ada di dunia sedang berada pada puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya –  tetapi mereka juga sedang berada dalam titik nadir dalam hal karakter rakyat dan para pemimpinnya. Kebrutalan, keserakahan, kecurangan, korupsi, ketidak adilan, jual beli hukum dan sejenisnya menjadi hal yang lumrah di masyarakat saat itu. Hadirnya Sang Pemimpin yang menerapkan Undang-Undang dari Sang Pencipta langsung menjadi harapan baru, tetapi dari mana mulai membangun kembali karakter umat yang lagi luluh lantak ini ?

Selain system hukum, ekonomi, pendidikan, politik , pemerintahan dan lain sebagainya yang pada waktunya akan diceritakan secara detil, Sang Pemimpin ingin memulai dengan hal yang relatif lebih ringan tetapi berdampak luar biasa pada karakter bangsa baru yang sedang dibangunnya, mulai dari kepentingan semua rakyatnya, yaitu dari makanannya.

Kebrutalan dan keserakahan rakyat dunia ternyata tidak terlepas dari kebiasaan makan rakyat dunia ketika berada di titik nadir tersebut diatas. Kebiasaan buruk ini terkait dengan cara perolehan makanan, distribusi makanan, jenis makanannya itu sendiri sampai frekwensi berapa kali makan dalam seharinya.

Cara perolehan makanan yang buruk yang tidak halal menghasilkan anak-anak yang sulit dididik. Anak-anak yang sulit dididik ini ketika dewasa akan memperburuk tabiat dalam perolehan makanannya – lebih buruk dari orang tuanya, otomatis anak-anak mereka akan lebih buruk lagi dan seterusnya. Tanpa upaya membalik arah cara-cara perolehan makanan maka generasi demi generasi akan terus mengalami degradasi karakter. Pengawasan pasar dan perilaku pelaku ekonomi menjadi solusi untuk ini.

Distribusi pangan yang tidak adil di seluruh dunia menyebabkan sebagian wilayah dunia sangat kekurangan, sedangkan di wilayah lain berlebihan. Ini menjadi sumber ekploitasi si miskin oleh si kaya. Solusinya negeri baru membentuk badan yang mengelola distribusi pangan ini secara adil, kelebihan produksi dari satu wilayah dibeli dengan harga yang baik oleh negara dan didistribusikan ke daerah yang kekurangan juga dengan harga yang baik.

Jenis-jenis atau bahan makanan yang dimakan oleh rakyat menjadi perhatian khusus di negeri baru Dinaria. Hal ini dilandasi oleh bukti-bukti yang kuat bahwa karakter manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang dimakannya. Beberapa jenis makanan (dan minuman termasuk) bahkan dilarang untuk diproduksi dan dijual di seluruh negeri.

Lebih jauh pemimpin negeri memfasilitasi segala bentuk penelitian dan pengembangan jenis-jenis makanan yang akan berdampak positif pada perilaku manusia yang memakannya. Selanjutnya hanya makanan-makanan yang terbukti  berdampak positif ini yang boleh diproduksi dan disebarluaskan di masyarakat.

Melalui kampanye pemahaman yang luas tentang dampak makanan ini pada perilaku,  saat itu di negeri Dinaria – orang membeli makanan bukan lagi karena rasanya yang enak ataupun harganya yang murah, tetapi pilihan pertamanya pada seberapa kuat pengaruh positifnya pada perilaku baru kemudian faktor rasa dan harga.

Masih terkait dengan makanan, Sang Pemimpin dengan bantuan para ahli juga menemukan bahwa masyarakat dunia sebelumnya yang selama beratus tahun mempunyai kebiasaan makan sehari tiga kali adalah tidak ada dasarnya. Bahkan kebiasaan makan tiga kali sehari ini menghasilkan generasi yang tidak sehat karena tiga kali sehari perut diisi secara penuh.

Undang-Undang yang sangat detil dari Sang Pencipta mengatur kegiatan makan minum ini dikaitkan langsung dengan kegiatan peribadatan. Makanan yang sifatnya fisik menjadi terkait langsung dengan ‘makanan’ yang sifatnya rohani. Bahkan urutannya-pun diatur sedemikian rupa sehingga yang rohani didahulukan sebelum yang fisik.

Dengan pengaturan yang mengituti Undang-Undang ini, maka frekwensi makan bukan lagi tiga kali sehari tetapi lima kali sehari dan dilakukan setelah melaksanakan peribadatan wajib  yang memang juga harus dilakukan lima kali sehari.

Dengan frekwensi makan yang lima kali sehari ini membuat manusia tidak perlu makan sampai kenyang setiap kali makan, makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang – toh nanti sebelum lapar sudah jatuh waktunya untuk jadwal makan yang berikutnya. Dengan pola makan yang demikian ruang di dalam perut selalu terjaga seimbang dan umat manusia menjadi selalu dalam kondisi fit untuk berbagai tugas yang diembankannya.

Revolusi makanan dan pola makan inilah nantinya yang antara lain ikut menjadi faktor pembeda dan menjadi pendorong keunggulan penduduk negeri Dinaria dibandingkan dengan penduduk negeri-negeri geografis  – yang semakin tertinggal seiring dengan kemajuan negeri baru ini.

(Episod 009) Dinaria : Memimpin Melalui Contoh…

Suatu hari Sang Pemimpin kedatangan utusan dari wilayah yang jauh yang tidak puas dengan pemimpin daerah atau gubernur-nya. Utusan-utusan daerah ini mengungkapkan kekesalannya : “Wahai Sang Pemimpin, kami mengadukan nasib kami yang didhalimi oleh gubernur kami. Dia mengambil lahan kami dengan alasan untuk pembangunan, dia tidak membayar kami kecuali dengan uang yang sedikit. Dia menerapkan pajak yang berlebihan kepada kami sehingga pendapatan kami selalu tidak cukup. Dia tidak membangun pasar untuk kami sehingga kami tidak bisa melakukan jual beli secara maksimal. Dia tidak membuat pengairan untuk lahan kami sehingga produktifitas pertanian kami sangat rendah. Dia tidak membuat sekolah-sekolah yang baik dan terjangkau sehingga anak-anak kami tidak terdidik.  Dia tidak menjaga daerah kami sehingga banyak perampokan dan kejahatan di daerah kami…”.

Mendengar sumpah serapah rakyatnya yang menjerit karena kedhaliman pemimpin di daerahnya ini, Sang Pemimpin tidak langsung mengambil tindakan ataupun memberi jawaban. Sang pemimpin hanya meyampaikan : “Wahai rakyatku yang mengadu, aku terima aduan kalian ini – tetapi aku belum bisa memberikan jawaban ke kalian ataupun tindakan apa yang akan aku lakukan. Maka kembalilah kalian menemuiku satu bulan sejak sekarang”.

Setelah para utusan tersebut pergi, Sang Pemimpin mengunci kantornya untuk menyendiri berhari-hari. Dia merenungkan apa yang disampaikan oleh rakyatnya tersebut dan berkata pada dirinya sendiri : “bagaimana aku bisa menegur gubernurku, bila aku sendiri tidak yakin dapat memperbaikinya ?”.

Maka selama beberapa minggu kemudian, Sang Pemimpin bekerja keras untuk memperbaiki kondisi rakyat di wilayah tempat Sang Pemimpin tinggal. Dia meneliti apakah rakyatnya ada yang diambil hak tanahnya tanpa dibayar secara wajar. Dia memeriksa apakah rakyatnya dibebani pajak yang memberatkan. Dia memeriksa pasar-pasar yang ada apakah sudah memberikan peluang yang sama pada rakyatnya. Dia memeriksa pengairan apakah sudah sesui dengan peruntukannya. Dia memeriksa sekolah-sekolah apakah sudah memberikan akses pendidikan yang cukup bagi rakyat di wilayahnya. Dia memeriksa kemanan wilayahnya dang mengecek langsung apakah rakyatnya merasa aman.

Maka ketika sebulan kemudian utusan-utusan dari daerah yang jauh tersebut kembali menemuinya, Sang Pemimpin menjawab : “Aku sedang memanggil gubernur kalian untuk mengingatkannya.  Bila panggilanku kepadanya belum sampai, aku titipkan pada kalian surat panggilan kedua agar panggilan ini benar-benar sampai kepadanya”.

Lalu dari sebagian utusan tersebut mempertanyakan langkah Sang Pemimpin : “Mohon maaf tuan, tetapi mengapa hanya untuk memanggil gubernur kami tuan harus meminta kami menunggu satu bulan ?, bukankah ini membuang-buang waktu dan memperpanjang penderitaan kami ?”.

Dengan bijak Sang Pemimpin menjawab : “Bila gubernur kalian aku panggil sebulan yang lalu, aku belum bisa memberinya contoh apa yang mestinya dilakukan. Aku memang memanggilnya sebulan terlambat, tetapi sekarang aku bisa memberinya contoh langsung sehingga tidak ada alasan baginya untuk kembali men-dhalimi kalian semua.

Setelah surat panggilan sampai di tangan gubernur; sang gubernur ini bergegas menemui Sang Pemimpin. Sang Pemimpin tidak menasihatinya melalui ucapan, tetapi diajaknya sang gubernur ini keliling wilayah yang secara langsung dalam pengawasan Sang Pemimpin. Diajaknya melihat bagaimana jalan dibangun dan didanai, bagimana pasar dikelola, bagaimana pembagian air irigasi diatur, bagimana sekolah-sekolah di danai dan di kelola,  serta bagaimana keamanan dijaga.

Setelah itu Sang Pemimpin menyampaikan : “Buat daerahmu seperti apa-apa yang baru kamu lihat tadi, dalam satu bulan aku akan berkunjung kesana dan aku ingin melihatnya !”.

Sepulang kembali ke daerahnya sang gubernur mengumpulkan seluruh aparatnya untuk segera melaksanakan apa yang baru dilihatnya dengan Sang Pemimpin.  Karena semua contohnya jelas, tidak sulit bagi gubernur ini untuk membuat perubahan besar di daerahnya dalam waktu satu bulan yang diberikan oleh Sang Pemimpin.

Ketika sebulan kemudian Sang Pemimpin berkunjung ke daerah tersebut , sebelum ketemu gubernurnya Sang Pemimpin mendahulukan menemui para utusan yang pernah datang ke kantornya – untuk memeriksa apakah gubernurnya benar-benar melaksanakan contoh yang telah dia berikannya. Dia memperoleh jawaban yang menggembirakan bahwa semuanya kini berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh rakyat yang semula merasa terdzalimi tersebut.

Namun dalam perjalanan lanjutan untuk menemui sang gubernur, ditengah jalan Sang Pemimpin dihadang dan dicaci maki oleh sekelompok orang. Sang Pemimpin sambil tersenyum hanya menjawab : “Semoga kebaikan untuk kalian semua hari ini…!” , kemudian dia melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di kantor gubernur, Sang Pemimpin menyampaikan apa yang dilihatnya : “yang baik jelas nampak, demikian pula yang buruk”. Kemudian melanjutkan “Daerah kalian selama ini tidak makmur dan rakyat merasa terdzhalimi karena ada sekelompok orang yang mempermainkan tanah mereka, yang korup, yang opportunis dan gemar mengambil hak orang lain.”

Sang gubernur penasaran, “ dari mana tuan tahu adanya mereka ini ?”. Sang Pemimpin menjawab, “yang buruk itu gerah dengan kebaikan, maka dia akan selalu menampakkan diri karena berusaha menghalangi kebaikan.”  Lalu dia melanjutkan “carilah orang-orang yang menghadang saya di jalan tadi, carilah tuan-tuan mereka dan awasi apa pekerjaan mereka semua”.

(Bersambung )

Sumber baca disini

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s