BUDIDAYA KEDELAI

BUDIDAYA KEDELAI
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN BANTEN )

PENDAHULUAN
Ketergantungan terhadap kedelai impor sangat memprihatinkan, karena seharusnya kita mampu mencukupinya sendiri. Ini karena produktivitas rendah dan semakin meningkatnya kebutuhan kedelai. PT. Natural Nusantara berusaha membantu dalam peningkatan produksi secara kuantitas , kualitas dan kelestarian lingkungan sehingga kita bisa bersaing di era pasar bebas.

SYARAT TUMBUH
Tanaman dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C – 300C, kelembaban 60% – 70%, pH tanah 5,8 – 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.

PENGOLAHAN TANAH
– Tanah dibajak, digaru dan diratakan
– Sisa-sisa gulma dibenamkan
– Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m
– Tanah dikeringanginkan tiga minggu baru ditanami
– Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m² (10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:
– Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
– Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.

PENANAMAN
– Rendam benih dalam POC NASA dosis 2 cc / liter selama 0,5 jam dan dicampur Legin (Rhizobium ) untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai
– Buat jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm
– Buat lubang tugal sedalam 5 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang
– Tutup benih dengan tanah gembur dan tanpa dipadatkan
– Waktu tanam yang baik akhir musim hujan

PENJARANGAN & PENYULAMAN
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.

PENYIANGAN
Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.

PEMBUBUNAN
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.

PEMUPUKAN
Contoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut :

Waktu
Dosis Pupuk Makro (per ha)
Urea (kg)
SP-36 (kg)
KCl (kg)
2 Minggu Setelah Tanam
50
40
20
6 Minggu Setelah Tanam
30
20
40
Total
80 kg
60 kg
60 kg

POC NASA diberikan 2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4 – 8 tutup POC NASA/tangki).
Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10 – 20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3 – 4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan, akan lebih aman jika disiramkan.

PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT
1. Aphis glycine
Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) semprot Natural BVR atau PESTONA dilakukan pada permukaan daun bagian bawah.

2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan PESTONA

3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)
Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.

4. Kepik polong (Riptortis lincearis)
Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.

5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)
Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat benih ditanam, tanah diberi POC NASA, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan PESTONA. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

6. Kepik hijau (Nezara viridula)
Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat.

7. Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian : (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa Natural VITURA.

8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)
Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman.
Pengendalian : Pemberian Natural GLIO

9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)
Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan dan tebarkan Natural GLIO di awal

10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )
Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian : (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2) Pencegahan di awal dengan Natural GLIO

11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)
Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian: (1) cara menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit; (2) semprotkan Natural GLIO + gula pasir

12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)
Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian : (1) memperbaiki drainase lahan; (2) Tebarkan Natural GLIO di awal

PANEN DAN PASCA PANEN
– Lakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul.
– Perlu diperhatikan, kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 – 100 hari, sedangkan untuk benih umur 100 – 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.
– Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur.
– Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.

Sumber : http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kedelai.html

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in BUDIDAYA TANAMAN, KEDELAI. Bookmark the permalink.

9 Responses to BUDIDAYA KEDELAI

  1. pak barus says:

    Mas Nurman, apa udah pernah lihat kedelai mulyowilis yang konon memiliki banyak kelebihan dibanding kedelai impor ?
    katanya sih rendemen nya juga lebih tinggi dan tahan terhadap kondisi tanah yang relatif masam
    pernah dibahas juga sih sama Tempo interaktif, coba simak disini:
    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/08/ILT/mbm.20100308.ILT132900.id.html
    saya dulu pengen banget mau nanem kedelai ini, tapi sampai hari ini belum berhasil mendapatkan benih nya
    mudah-mudahan suatu saat nanti bisa menikmati kedelai mulyowilis ini….

  2. suli says:

    Selaamt sore Pak Barus

    Sesama petani, saya senang pada semangat bapak…pak kita punya balitkabi, mungkin bapak sudah tau pastinya, kedelai kedelainya sudah saya banyak buktikan….yang terbaru varietas grobogan kemarin 3 t/ha full organik tanpa olah tanah habis padi MT2, varietas gepak kuning 2.5 t/ha.
    Kedelai tahan masam,varietas rajabasa bagus.

    • NURMANIHSAN says:

      Terima Kasih Mas Suli,
      Tadi sy ingin memberitahukan Pak Barus, coba hub Mas Suli. Tapi alhamdulillah ada komentar dan Info dari Mas Suli.
      Silahkan Pak Barus kontak-konrtakan dng Mas Suli. Smga dapat apa-apa yg kita harapkan. Amin

  3. pak barus says:

    terima kasih Mas Suli,
    untuk sementara ini saya mau fokus dulu ke padi bunda…
    waktu denger tentang kedelai mulyowilis itu memang tertarik sekali, tapi waktu itu sulit sekali untuk mendapatkan benihnya….

  4. suli says:

    Sama sama Pak Ihsan dan Pak Barus….
    Usul saja, kedelai juga sebagai program pemotong hama dan penyakit padi tanaman padi, saya sebagai daerah dengan irigasi teknis aman aman aja terhadap wereng contohnya,tidak seperti yang jor joran padi padi padi…malah pemerintah mau coba IP 400…silakan mau gulung tikar. sejak saya lahir sampai sekarang adalah padi padi palawija,sejak kenal bung efendy saya lebih mudah mendapatkan varietas kedelai yang saya inginkan,sebelumnya selalu kedelai hitam.

    Jadi menurut saya atur saja bagaimana caranya jangan sampai padi terus menerus.urusan benih apapun saya cenderung ke balai penelitian…seperti cabai merah besar sekarang ada yang tahan antraknosa,lupa namanya.tanam cabai bisa hasilnya bisa 8 x lipat padi ! walaupun harganya biasa biasa saja.urusan pemupukan biasa biasa saja….nah hasilnya yang luar biasa itu yang hebat.

    • NURMANIHSAN says:

      Sy setuju sekali Mas Suli, Alangkah indah dunia pertanian bila pola tanam dibuat seperti yang mas suli sebutkan. Ada banyak manfaat yang bisa para petani dapatkan.
      COba dong Mas Suli, share budidaya kedelai versi mas suli. Supaya pembaca lain bisa mengambil manfaatnya.
      Dan untuk tanaman cabe, sy masih penasaran bisa mencapai 8x lipat. Sekali lagi share pola tanam, cara tanam, pola pemuoukan dll kepada saya dan para pembaca lainnya

  5. pak barus says:

    wah… sepertinya boleh tuh benih cabe nya, kapan-kapan tolong share disini jenisnya apa, biar kita-kita juga bisa menikmati manisnya cabai….

  6. suli says:

    Pak Ihsan ….
    Pertanian itu indah….asal mau mensyukuri nikmat-Nya. sawah daerah kami memang sejak dulu sudah terbiasa dengan pola pertanian itu.jadi tanpa di pupukpun kedelai/kacang hijau tumbuh baik,tanpa penyiangan,tanpa pengairan.cara tanamnya langsung setelah panen MT2 dengan di tugal mengikuti bekas pokok batang padi,sawah diharapkan pada kondisi retak rambut/empuk.diisi 2-3 butir/lubang.kalau bekas jajar legowo ya di ikuti jajar legowo tanpa sisipan tentunya.jadi kenapa petani tempat saya pada MT2 lebih suka tanam varietas sangat genjah seperti inpari 13….adalah untuk mengejar tanam palawija lebih awal. setelah selesai jerami disebar merata kemudian 3-4 hari bisa di bakar,ini satu satunya cara untuk mendapatkan pupuk dari abu jerami dan mencegah biji gulma tumbuh.pembakaran jangan sampai lebih dari 4 hari karena biji sudah bertunas dan menyembul keluar lubang.

    Terus terang saya bukan petani cabai,hanya segelintir teman yang tanam,hanya saja hasil pendapatannya petani padi kalah sama petani cabai pada luasan yang sama.maaf hanya hitung hitungan petani gurem saja, yang pastinya beda dengan hitungan pak Ihsan.

    Pak Barus…saya hanya baca di trubus edisi maret 2011, waktu di terbitkan masih uji multilokasi yang mau merelease jurusan pemuliaan tanaman fak pertanian UNPAD nama varietas Jatinangor-6 dan balai penelitian sayuran Lembang, juga sama namun beda nama tentunya.

  7. suli says:

    Tambahan kedelai….
    Kedelai kedelai release-san Balitkabi Malang terbaru lebih tahan hama dan penyakit diatas,satu lagi sebetulnya adalah belalang, pada masa pertunasan/daun dua awal penjadi momok petani kedelai namun setelah saya pakai varietas gepak kuning dan grobogan belalang tidak doyan, sementara varietas2 sebelumnya harus sudah siap siap penyemprotan.
    Saya sarankan bagi petani kedelai khususnya daerah saya, tidak beli kedelai curah yang tanpa nama/tidak jelas yang tersedia dikios kios menjelang panen MT2, karena pedagang saya hampir yakin hanya keuntunganlah di mata mereka. kecuali tidak murni juga,varietas varietas tersebut terlahir banyak kekurangan yang tidak tahan hama.

    Ada juga menyimpan benih kedelai hasil panenan terbaik,bagus …hanya tradisi ini membuat kedelai makin menurun kwalitasnya,karena harus menyesuaikan dengan hama dan penyakit yang kadang makin kebal.

    Memang urusan benih dari balai pasti mahal,saya ambil contoh varietas genjah gepak kuning 17.000/kg secara kwantitas bisa 2.5 t/ha.kedelai curah sama sama genjah 10.000/kg,pedagang bilang ‘mentel’yang berarti lebat,namun setelah saya cek dideskripsi yang mirip fisik mentel adalah varietas petek lahir 1988,produksi 1,2 t/ha tidak tahan penggerek polong.

    Nah pengalaman kemarin saya alami begitu,banyak petani yang beli asal asalan,hasilnya ya asal asalan.saya beli benih 17.000/kg di katakan banyak duiit, memang sebagian petani ada yang pinter memilih benih tanpa tau varietas dan hasilnya juga tinggi,tapi umurnya sudah punya cucu sekian artinya pakai ilmu ‘titen’ ilmu yang susah dipelajari kadang tidak bisa di buktikan,kalau gagal paling gampang ‘sudah kersaning Gusti Allah’….kan kemarin panen padi banyak…masa mau panen lagi…lho panen kok di tolak

    Inilah karakter petani kedelai yang harus segera naik kelas,siapa yang bisa menaikkan dia ? ya diri sendiri harus ‘penasaran’ terhadap kedelai kedelai tetangga,tanya ini itu.tidak harus menunggu program SLPTT,demplot pestisida gratis, menunggu penyuluhan itu itu aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s