PETANI PEMULIA

PENGALAMAN PETANI PEMULIA TANAMAN PADI
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Berikut ini adalah tulisan yang saya ambil dari FIELD Indonesia, tulisan ini ditulis oleh petani pemulia yang bernama Joharipin. Saya bersykur ada petani muda yang bisa melakukan hal tersebut. Ternyata, keberhasilan ini tak lepas dari organisasi FIELD Indonesia yang bergerak dan turun langsung mengajarkan para petani. Mereka menjadikan para petani sebagai pelaku utama dalam hal pemulian tanaman padi.

JOHARIPIN: PENGALAMAN SAYA SEBAGAI PETANI PEMULIA

Saya sebagai salah satu penduduk yang dilahirkan asli di Desa Jengkok pada 31 tahun yang lalu, dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang mengandalkan hidup dari pertanian sangat prihatin ketika melihat kondisi yang terjadi di desa saya, khususnya bagi para petaninya. Kondisi-kondisi tersebut di antaranya adalah:

1. Harga gabah yang tidak stabil. Saat musim panen tiba harga selalu rendah berada di bawah harga dasar gabah.

2. Pupuk langka saat dibutuhkan. Walaupun ada harganya bisa jauh dari harga normal.

3. Ditemukannnya banyak varietas-varietas padi yang ditanam oleh petani tidak sesuai dengan kualitas yang tecantum dalam label kemasannya (benih-benih palsu).

4. Hilangnya pegetahuan/keterampilan para petani mengenai benih dan mbibiti benih (teknik menyeleksi benih), sehingga petani selalu membeli benih saat akan menanam. Yang akan menyebabkan semakin tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan. Apalagi kecenderungan harga benih padi setiap tahunnya semakin meningkat.

5. Banyak benih-benih yang tersedia tidak cocok dengan kondisi lahan yang ada. Di desa Jengkok hampir setengah luas areal sawah terdiri dari sawah lebak, dimana lahan selalu tergenang air sepanjang musim tanam. Sehingga saat masa menguningnya bulir padi tanaman sering rebah yang dapat menyebabkan berkurangnya produksi mencapai ½ dari produksi normal (di lahan tidak tergenang).

6. Adanya kecenderungan penggunaan pupuk kimia (UREA dan TSP) setiap tahunnya (2 musim tanam) terus meningkat untuk mempertahankan produksi yang sama (sekitar tahun 1999 kebutuhan pupuk Urea hanya 2 kw/ha, saat ini tahun 2006 kebutuhan pupuk Urea mencapai 3,5- 5 kw/ha). Bahkan saat ini untuk tetap mempertahankan produksinya selain menggunakan pupuk UREA dan TSP petani juga menggunakan pupuk lain seperti NPK Mutiara dan Ponska yang harganya lebih mahal dan hal ini tentunya meningkatkan input produksi mereka.

7. Hilangnya benih-benih padi lokal sebagai kekayaan genetika kita, yang walaupun produksinya relatif sedikit tetapi memiliki rasa yang khas (pulen), memiliki ketahan terhadap serangan hama dan penyakit, memiliki tingkat adaptasi yang tinggi, dan tidak membutuhkan terlalu banyak asupan pupuk kimia (dengan memakai pupuk organik hasilnya bagus).

8. Karena kurangnya keragaman jenis tanaman yang ditanam oleh petani menyebabkan ketika tanaman padi salah satu petani terserang hama/penyakit maka hampir semua petani yang tanaman sejenispun terserang. Dan ini menyebabkan penggunaan pestisida baik jumlah dan jenisnya semakin tinggi pula. Ini terkait juga semakin tidak seimbangnya ekosistem yang ada sehingga akan dapat menyebabkan ledakan hama dan penyakit.

Dari kondisi di atas, maka diperlukan sebuah jalan keluar yang dapat mengatasi semua permasalahan tersebut sehingga tingkat ketergantungan petani berkurang dan tingkat kesejahteraan para petani dapat ditingkatkan. Ilmu pengetahuan dan keterampilan serta sikap para petani perlu diperbaiki, sehingga dengan kemampuan mereka sendiri dan didukung oleh berbagai pihak mereka mampu mengatasi permasalahnnya itu.

Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh saya bersama kelompok yaitu bekerjasama dengan salah LSM (Yayasan FIELD) dan didukung oleh instansi pemerintahan terkait melakukan Sekolah Lapangan (SL) Pemuliaan Benih. Dengan mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peranan petani dalam pengelolaan sumber keturunan (genetika) tanaman, baik dalam hal persilangan, rehabilitasi dan seleksi, juga dapat memperbesar sumber genetika tanaman pada tanaman pangan dan sayuran. Selain itu juga dapat digunakan untuk memberikan landasan pengembangan secara ilmiah pemuliaan benih secara partisipatif.

Berbekal dari ilmu pengetahuan serta wawasan yang saya peroleh dari kegiatan tersebut banyak hal yang telah dan ingin saya lakukan. Saya telah mencoba untuk melakukan pemuliaan benih, dimana saya telah menyilangkan dan mempraktekkan segala sesuatu yang saya dapatkan dari sekolah lapangan. Setelah melakukan itu semua saya bertekad mendapatkan benih padi “idaman” yang dapat sesuai dengan kondisi di lingkungan desa dan memiliki keunggulan sehingga produksi dapat meningkat dan kebutuhan akan sarana produksi (terutama pupuk kimia dan pestisida) dapat menurun, bahkan dihilangkan. Saya juga melakukan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan wawasan yang saya peroleh kepada para petani lainnya baik di desa maupun di luar desa, sehingga diharapkan pada akhirnya kesejahteraan petani di Desa Jengkok khususnya dan para petani di Indramayu serta seluruh Indonesia pada umumnya dapat meningkat.

Saya juga melakukan studi dan pengembangan ilmu yang saya peroleh. Harapan saya ilmu tersebut menjadi lebih mudah dan praktis untuk dilakukan para petani. Hal-hal tersebut diantaranya adalah:

1. Teknik Penyilangan

Untuk memperbesar tingkat keberhasilan proses penyilangan maka saat dilakukan penyerbukan bunga jantan tidak diambil langsung dari sawah, akan tetapi tanamannya langsung yang di ambil dari sawah, baru dilakukan penyerbukan. Tingkat keberhasilan mencapai 60-75 %.

2. Teknik penyemaian

Penyemaian yang dilakukan adalah dengan menggunakan besek yang tujuannya untuk mempermudah pengawasan benih yang akan ditanam dari gangguan hama dan penyakit ( terutama dari hama penggerek batang padi putih dan tikus). Selain itu pertumbuhan dan perkembangan benih dapat lebih mudah dikontrol, mengingat persemaian dapat dilakukan dirumah. Media semai yang digunakan berupa campuran antara kompos, tanah dan arang sekam dengan perbandingan 1: 1: 1. Dengan perbandingan tersebut mempermudah saat pencabutan bibit dari persemaian ke lahan, akar pun tidak akan banyak yang putus, sehingga bibit dapat langsung beradaptasi dengan lahan. Dengan teknik ini umur persemaian pun maksimal hanya 12 hari, sehingga umur persemaian dapat dipersingkat. Selain itu tingkat kemurnian benih yang ditanam lebih terjamin, karena tidak tercampur dengan benih lain.

3. Teknik Tanam

Teknik tanam yang dilakukan berbeda dengan tehnik tanam yang dilakukan oleh petani kebanyakan, setiap lobang tanam ditanam 1 bibit. Hal ini dapat mempermudah kita dalam mendapatkan “gen” yang diinginkan. Keuntungan lainnya dapat menghemat penggunaan benih (dengan tanam biasa, diperlukan 3-5 bibit per lubang tanam). Tanaman pun ditanam dangkal (akar menempel di permukaan lahan) hal ini dapat memaksimalkan pertumbuhan anakan dari tanaman, karena kebutuhan udara untuk akar terpenuhi secara optimal.

4. Teknik perawatan

– Pengamatan dilakukan terus-menerus sehingga perkembangan tanaman dapat terus diamati. Dengan perlakukan seperti ini diharapkan tanaman dapat dikontrol secara kontinyu, sehingga pencegahan terhadap gangguan-gangguan dari luar dapat dilakukan secara dini.

– Untuk pencegahan terhadap gulma tidak dilakukan dengan menggunakan herbisida (seperti yang dilakukan para petani indramayu pada umumnya) tetapi dengan melakukan perambetan dan menggarok. Sebenarnya dengan teknik ini berdasarkan pengamatan saya bisa memberikan tambahan unsur hara (dari rumput yang dicabut dan dibenamkan lagi ke tanah) dan kebutuhan akar akan udara dapat terpenuhi karena lahan menjadi lebih gembur. Dengan teknik seperti ini selain ramah lingkungan juga dapat memaksimalkan pertumbuhan tanaman padi. Secara sosial, sebenarnya teknik ini juga memberikan kesempatan kerja pada para buruh tani (di Desa Jengkok dari 3.813 petani 2.060 di antaranya adalah buruh tani) yang semenjak munculnya herbisida kehilangan mata pencahariannya baik sebagai buruh merambet atau menggarok. Selain itu juga secara tidak langsung kita dapat memberikan kesempatan para buruh tani mendapatkan sayuran (semanggen dan bengok) yang biasa tumbuh sebagai gulma di lahan sawah.

– Pengairan juga dilakukan secara macak-macak (tidak selalu menggenangi). Dengan teknik seperti pertumbuhan akar dapat maksimal karena kebutuhan akan udaranya dapat dipenuhi dan anakannyapun dapat tumbuh dengan maksimal. Selain itu secara alami dapat menghemat penggunaan air sehingga akan lebih banyak lagi lahan petani dapat terairi. Secara sosial konflik-konflik yang sering muncul karena berebut untuk mendapatkan air irigasi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

– Pemupukan juga dilakukan dengan mengkombinasikan pupuk organik dan pupuk kimia. Pupuk kimia yang diberikan sedikit demi sedikit terus dikurangi dan akhirnya suatu saat tidak akan digunakan. Pemanfaatan secara maksimal jerami padi dan penambahan unsur organik yang berasal dari lingkungan sekitar (pemanfaatan sampah dapur, limbah ternak, limbah organik rumah tangga lainnya dan MOL) terus dilakukan sehingga tanah menjadi subur dan sehat kembali. Dengan perlakuan ini diharapkan akan muncul benih padi yang dapat tumbuh dengan baik pada lahan organik. Hal tersebut akan mendukung terciptanya sistem pertanian organik, sehingga Kabupaten Indramayu dapat menjadi “tambak beras organik”-nya Jawa Barat. Dan hal ini juga menjawab tantangan Gubernur Jawa Barat untuk menjadikan Sistem Pertanian Organik di Jawa Barat tahun 2010.

– Pencegahan terhadap hama dan penyakit tanaman tidak dilakukan dengan menggunakan pestisida. Hal dilakukan untuk mendapatkan benih yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Perlakuan ini dilakukan dari F1 sampai dengan menghasilkan varietas baru. Selain itu secara teknis memudahkan para petani untuk menseleksi galur padi yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanpa harus menggunakan pestisida. Kondisi ini juga menjadi salah satu pendukung terciptanya Sistem Pertanian Organik.

5. Teknik seleksi benih.

Dari teori yang saya peroleh mengenai teknik seleksi yang dapat dilakukan dalam pemuliaan benih di tingkat petani (pedigree, semi pedigree, dan Bulk) ternyata teknik tersebut menurut saya kurang praktis dilakukan mengingat membutuhkan persyaratan lahan yang relatif luas, waktu yang lebih lama, dan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Sehingga dalam pelaksanaannya saya mengembangkan teknik seleksi yang lebih sederhana tetapi tidak mengurangi kualitas dari hasil yang diperoleh. Teknik tersebut saya beri nama teknik seleksi “metode Johar”. Teknik tersebut masih terus dicoba dan dikembangkan oleh kami dan dibandingkan dengan teknik seleksi yang sudah ada.

Demikianlah secara singkat kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh saya bersama kelompok. Adapun sampai saat ini kegiatan masih berlanjut dan kemungkinan untuk berkembang masih sangat besar. Sementara ini hasil kegiatan yang telah diperoleh antara lain adalah:

1. Di salah satu lahan milik petani (H. Udin) saat ini sudah menanam padi hasil seleksi petani dan hasilnya cukup baik, walaupun dengan penggunaan pupuk dan pestisida yang sedikit ( lebih rendah dari pemakaian yang yang biasa ).

2. Galur padi hasil persilangan ( F8 ) yang pernah diuji, ternyata hasil produksinya lebih tinggi dibanding varietas yang pada umumnya ditanam. Dimana galur padi hasil persilangan tersebut dapat memproduksi sebanyak 12,8 ton per hektar, sedangkan varietas yang biasa ditanam oleh petani hanya mencapai 6,5 ton per hektar.

3. Keterampilan petani dalam memuliakan benih padi semakin terlatih karena sering melakukan praktek pemuliaan benih. Sehingga juga dapat terus membuat benih yang sesuai dengan idaman.

4. Ketika para petani pemulia benih membutuhkan benih yang untuk ditanam, mereka tidak perlu membeli lagi benih di toko karena sudah dapat disediakan sendiri.

5. Semakin banyak keragaman benih/galur yang dimiliki. Semuanya masih belum stabil, perlu tahapan–tahapan seleksi lanjutan.

6. Banyaknya petani lain yang tertarik untuk melakukan latihan pemuliaan benih, setelah melihat hasil pemuliaan benih dan ngobrol–ngobrol dengan para petani pemulia.

Harapan ke depan dari Kegiatan pemuliaan benih:

1. Mengembangkan dan membuktikan serta terus melakukan studi-studi, agar teknik-teknik tersebut dapat dengan mudah dan praktis pada situasi dan kondisi di tingkat petani.

2. Menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang menaruh perhatian terhadap benih yang diproduksi petani (antar jaringan petani, pihak pemerintah, dll).

3. Mengembangkan bank benih di tingkat komunitas petani.

4. Adanya kesempatan bagi petani lain untuk mendapatkan ilmu tentang pemuliaan benih melalui sekolah lapangan dan pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh petani, agar ilmu tentang benih dapat dipahami oleh petani sehingga petani bisa mencukupi kebutuhan akan benihnya sendiri.

Ditulis: Joharipin, petani pemulia Desa Jengkok, 2006

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in PEMULIAAN TANAMAN. Bookmark the permalink.

One Response to PETANI PEMULIA

  1. Romy Abrory says:

    Semoga banyak generasi penerusnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s