SWASEMBADA PANGAN DENGAN VARIETAS LOKAL

DICARI SEGERA : PEMULIA TANAMAN UNTUK VARIETAS LOKAL
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Melihat judulnya saja, mungkin pembaca akan terkejut, apa mungkin bisa? padahal varietas lokal hasil panennya sedikit. Bukan cuma itu, biasanya tanamannya berumur panjang dan tanamannya agak tinggi.

Kalau melihat varietas lokal yang tersebar di pelosok Indonesia, memang ada betulnya pernyataan di atas. Varietas lokal yang dibiarkan tumbuh begitu saja. Artinya varietas lokal yang tak mendapatkan sentuhan tangan-tangan kreatif dari petani pemulia tanaman. Dan ini sudah dibuktikan oleh para petani pemulia tanaman di daerah Indramayu. Dan juga pembaca dapat melihat disini : Indramayu: Sumbangsih yang Tersisih.

Coba bandingkan dengan varietas unggul yang diciptakan BB Padi, sebagai contoh Ciherang. Pada tahun 2000, varietas ini dilepas ke pasaran. Kemudian menyebar ke pelosok-pelosok Indonesia. Padahal setiap daerah beda jenis tanah, agroklimat, tekstur tanah, pH tanah,  dll. Jadi varietas ini butuh adapatasi atau penyesuaian dengan lingkungan setempat. Jadi dalam bahasa gaulnya,” satu varietas untuk semua tempat”. Padahal ada kendala-kendal yang melingkupinya.

Lain halnya bila, varietas lokal yang sudah berpuluh-puluh tahun bahkan telah mencapai ratusan tahun telah hidup dan berkembang di daerah tersebut. Sebut saja, Varietas Kebo, longong, gundhil, rangsel, jalawara, sriputih, dan marong, yang ada di sekitar Daerah Indramayu. Lain halnya di Magelang banyak varietas lokal seperti Menthik Susu, Jowo Melik, Kenongo, Rening, Papah Aren, dll. Belum lagi daerah-daerah di seluruh Indoensia. Ada ratusan bahkan ribuan varietas lokal yang menunggu “dikawinkan” oleh penghulu yang bernama petani pemulia tanaman.

Jadi, yang kita butuhkan adalah tangan-tangan terampil dan kreatif dari para petani pemulia ini. Bayangkan, bila seorang pemulia seperti Ito Sumitro bisa menghasilkan varietas padi  yang panjang malainya sampai 52 cm. Malai dengan jumlah bulir sampai 702 butir. Ini baru dari Indramayu, padahal banyak petani pemulia di Indramayu seperti Pak Warsiah, Joharipin dll yang bisa menghasilkan varietas baru dari silangan varietas lokal dangan lokal atau lokal dengan lainnya.

Apa jadinya, bila setiap daerah Di pelosok Indonesia mempunya petani pemulia tanaman seperti di atas. Bukankah ada ribuan lebih para petani pemulia di Indonesia yang sanggup menciptakan varietas lokal yang baru dengan hasil yang mengagumkan tsb. Kalau sudah demikian, setiap daerah punya varietas lokal yang spesifik lokasi. Mereka tak tergantung benih unggul dari luar daerah atau dari pusat. Bahkan tak tergantung dari benih hibrida luar negeri yang hasilnya sangat mengecewakan dan rakus pupuk. Mereka menjadi tuan rumah atas benih ungulnya.

Oleh sebab itu, sebagai saran dari insan yang mencintai dunia pertanian, saya menghimbau kepada pemerintah gunakan jurus baru : “ciptakan petani pemulia di setiap daerah”. Selain program-program yang telah digulirkan untuk mencapai swasembada. Kalau belum sanggup, cari SDM yang mumpuni untuk itu. Dan saya rasa, Field Indonesia bisa diajak kerjasama untuk menciptakan petani-petani pemulia berkelas. Semoga,,,

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in PEMULIAAN TANAMAN. Bookmark the permalink.

3 Responses to SWASEMBADA PANGAN DENGAN VARIETAS LOKAL

  1. suli says:

    Saya mengutip tulisan di majalah nasional geografic edisi juli 2011 yaitu tentang benih pusaka
    Adalah Svalbard Global Seed Vault menjadikannya ‘bahtera pangan’didirikan di pulau stilsbergen norwegia,berjarak hanya 1,13 km….dari kutub utara. menyimpan benih benih pusaka (heirloom)dari seluruh dunia, mungkin benih padi merah lokal kita, atau benih padi hitam lokal asal cina ikut membeku abadi bersama biji gandum lokal asal ethiopia yang tahan penyakit karat batang dan virus Ug99

    Memang revolusi hijau dengan varietas unggulnya bisa menggenjot produksi pangan, namun dampaknya menganaktirikan benih yang sudah beradaptasi terhadap lingkungan,cekaman iklim,penyakit dan hama.setiap domestikasi benih/bibit merupakan jawaban bagi masalah yang sangat spesifik,misalnya kekeringan/penyakit, ditempat yang sangat spesifik. bergantung pada sedikit jenis tanaman adalah resiko.
    Lebih lebih berupaya mendatangkan benih ‘terminator’ khususnya padi yang rentan penyakit, sudah jelas hasilnya tidak sesuai harapan walaupun dengan kawalan ketat oleh instansi terkait dan produsen pestisida adalah tindakan mempercepat musnahnya benih benih pusaka tersebut.

  2. suli says:

    Virus AI (Avian influenza) varian baru Clade 2.3.2 yang menyerang unggas lokal kita (itik) melululantakan peternak sebagian di sentra sentra itik petelur (kompas 15 januari 2013) adakah jenis/ras unggas air yang masih bertahan?? mestinya ada beberapa itik tertentu terhindar dari virus ini (resisten) inilah jawaban apa yang di sebut benih pusaka (heirloom) : varietas buah buahan,sayuran dan hewan dari periode masa yang lampau,tidak diproduksi dan digunakan dalam skala besar (majalah National Geografic Juli 2011)

    Masih menyampung pada majalah yang sama,….manusia menyantap telur dan daging unggas lebih banyak daripada dahulu,tetapi ketergantungan dunia pada beberapa jenis ayam yang bersifat unggul menggusur ratusan jenis lainnya, hamppir sepertiga varietas ayam terancam punah. itu mengejutkan karena banyak diantaranya memiliki sifat resisten terhadap panas atau patogen, yang bermanfaat di masa depan.

  3. Romy Abrory says:

    Saya, pak penggemar smean setelah baca puluhan tulisan smean ini😀
    Kebetulan saya jurusan biologi dan suka coba** menyilang. Sekarang lagi mengumpulkan benih** unggul lokal, masih perbanykan dulu dan belum saya silang. Benih tersebut antara lain Padi sertani 1b, sertani 3b, sertani 8b, sertani 10 dan sertani 13b, Padi hitam lokal Malang jatim. Padi Cempo ireng, Jagung putih dan kacang panjang merah putih.

    semoga ilmu saya yang sedikit ini bermanfaat untuk indonesia

    Amiiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s