MENGHITUNG HASIL PADI SUPER

MENGHITUNG POTENSI PADI SUPER PER HA
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Pada tulisan Padi Bunda , cukup banyak respon yang diberikan oleh para pembaca. Banyak pembaca yang heran atas jumlahnya dan juga senang sebab bisa memberikan harapan baru ke depannya. Intinya, dengan jumlah malai yang 400-an bisa didapat hasil sekitar 20 ton/ha.

Kemudian ada tulisan tentang Pemulia Tanaman, pada tulisan tersebut memberikan inspirasi  kepada petani lain bahwa ada seorang petani yang bisa menghasilkan benih unggul yang luar biasa, jumlah malai sampai 702 butir. Artinya jumlah malai 75 % lebih banyak dari padi bunda.

Dari penjelasan di atas, akhirnya kita akan berhitung berapa sih potensi  hasil dari padi super tersebut.

Ada komentar dai Pak Barus tentang potensi hasil dari Padi Hasil Rakitan Pak Ito tsb, “hitungan kasar saya kira2 begini: kalau padinya bernas, bobot padinya bisa mencapai 0,004 gram per bulir x 700 bulir maka bobotnya mencapai 2,8 gram x 15 batang per rumpun = 42 gram, ditanam dengan jajar legowo yang antara nya disisipi bisa mencapai kira2 540.000 rumpun maka akan menghasilkan 22,68 ton / Ha. ini cara perhitungan dari Pak Hariyadi, karena beliau menggunakan jarak 19cm x 9,5cm (jajar legowo yang antaranya disisip”

Dari komentar di atas, saya bandingkan dengan padi bunda. Dengan malai yang jumlah bulirnya 400 saja bisa dihasilkan 20 ton/ha. Nah, bagaimana kalau malai 700 butir maka dengan bahasa sederhana hasilnya adalah 75 % lebih  banyak dari padi bunda. Bisa mencapai 35 ton/ha. Dengan asumsi ada 15 jumlah anakkan.

Sekarang akan saya ulas lebih lanjut,,,

Dari komentar Pak Barus tsb, saya lihat sistem tanam yang dipakai adalah legowo 2:1 dengan jarak tanam 19 x 19 cm. Populasi dengan jarak tanam tsb dihasilkan jumlah rumpun sebanyak 270. 010 rumpun (digenapkan jadi 270.000) . Karena memakai legowo 2:1 maka jumlah rumpun kok bisa bertambah 100 % menjadi 540.000 rumpun. Padahal rumus untuk legowo 2:1 terjadi penambahan 33,3% – 40 %. Atau rata-rata 35 %. Kalau dengan rata-rata 35% maka total jumlah rumpun jadi 364.500 per hektar.

Saya pernah buat ilustrasi dengan tanaman jarak tanam 25 x 25 cm. Jumlah tanaman 100 rumpun x 100 rumpun. Di Dapat hasil pakai legowo 2:1, jumlah populasi tambah 40 %, . Kalau demikian jumlah rumpun jadi 364.500 per hektar.Untuk legowo 3:1, tambah bibit 25 % dan Legowo 4:1 bertambah 20 %.

Untuk menghitung perkiraan potensi hasil, saya lebih suka memakai jumlah berat 1000 butir padi. Kalau kita melihat deskripsi varietas padi unggul, biasanya ada info mengenai berat 1000 butirnya. Biasanya berat dalam keadaan GKG. Contoh IR-64 beratnya 24,1 g, Ciherang 27-28 g, Padi Bunda sekitar 28,2 gram, Inpari 10 sekitar 27,7 gram, dll

Sekarang, Kita hitung perkiraan potensi Padi Bunda, Kalau dengan berat 1000 butir adalah 28,2 dan anakan produktif sekitar 10 saja maka perkiraannyaa adalah

Dengan potensi 540.000 rumpun x 10 anakan saja x 400 x 28,2/1000 = 60.912.000 gram atau 60,912 ton/ha. Artinya apa? dengan jarak yang rapat (jumlah rumpun yang banyak) tsb sangat sulit didapat jumlah anakan denga malai yang banyak sekitar 400 butir.

Apalagi dengan menghitung dengan rumpun yang sama (540.000 rumpun)  dengan jumlah malai 700 butir dengan berat 1000 butir 25 gram saja maka akan didapatkan perkiraan potensi sekitar 94,5 ton/ha.

Jadi hitungan di atas adalah hitungan akademisi, atau boleh disebut hitungan di atas kertas. Kalau dalam 1 ha (10.000 m2) ada 540.000 rumpun berarti dalam 1 m2 terdapat 54 rumpun. 1 m2 dengan 540 malai, 1 m2 dengan 378.000 butir. 1 m2 dengan 9.45 kg. Coba saja kita bayangkan, apa mungkin???

Hitungan saya sederhana saja, dengan jarak tanam 25 x 25 cm didapat 160.000 rumpun. Bila anakkan produktif 10 saja dengan malai 400 butir untuk padi bunda maka didapat perkiraan potensi hasil sbb :

= dengan jarak tanam 25×25 cm, jumlah rumpun 160.000 dan 10 anakkan serta berat 1000 butir padi bunda

= 160.000 rumpun x 10 anakkan x 400 butir x 28,2 gram/1000 = 18,048 ton/ha.

Atau untuk padi silangan Pak Ito dengan jarak tanam yang sama, anakan produktif 10, cuma berat gabah 25 g per 1000 butir maka didapat angka perkiraan

Jadi 160.000 rumpun x 10 anakkan x 700 butir x 25 gram/1000 = 28 ton/ha. Hasil ini pun terlalu besar.

Kalau kita hitung jarak tanam 25 x 30 dengan sistem legowo 4:1 tanpa sisipan maka akan didapat perkiraan

Jumlah rumpun didapat 106.667 rumpun x 10 anakan x 700 butir x 25 g/1000 = 18,667 ton/ha.

Sekarang, kalau jumlah bulir per malai dari 700 butir kita kurangi jadi 500 butir saja maka didapat angka perkiraan hasil : 106.667 x 10 anakan x 500 butir x 25 g/1000 = 13,33 ton/ha

Untuk lebih jelasnya memang kita harus mengetahui jarak tanam dan sistem tanam yang dipakai Pak Ito. Kemudian perkiraan berat 1000 butir gabahnya. Maka akan didapat hasil perkiraan yang lebih pasti. Dan tidak lupa juga, pupuk apa yang dipakai untuk mendapatkan hasil yang luar biasa tsb.

Semoga dalam waktu dekat ini, saya akan menghubunginya. Semoga,,,

Alhamdulillah, tadi siang saya menghubungi Pak Ito. Banyak info yang saya dapat. Jarak tanam yang digunakan Pak Ito adalah 35 cm x 35 cm dengan sistem tandur jajar biasa. Insya Allah, saya akan tulis cara budidaya yang dilakukan oleh Pak Ito. Semoga Allah memudahkan usaha saya. Amin.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI, BENIH UNGGUL PADI. Bookmark the permalink.

9 Responses to MENGHITUNG HASIL PADI SUPER

  1. suli says:

    Selamat sore….pak Ihsan

    Maaf saya sedikit ikut rembug aja….di awal tulisan diatas, tentang per bulir 0,004 gr apakah salah ketik ? karena dideskripsi padi pada umumnya dari 1000 bulir didapat 25 -28 gr yang artinya 0,025-0,028 gr/bulir. berarti lagi padi tersebut sangat ringan dong…semoga hanya salah ketik

    Hati hati memakai jarak tanam yang rapat, logika sederhana setiap tanaman dengan jarak tanam seperti itu tidak akan menghasilkan yang memuaskan. biarpun itu di tanah yang miskin hara….tetap seyogyanya dengan jarak lebar.

    Kalau boleh saya tawar coba nikmati jajar legowo 2 : 1 sampai 6 : 1 dengan jarak tanam 30 x 30 cm. walaupun di tanah pegunungan/teras sering….lebih lebih punya sawah datar menurut saya malah harus pakai 30 x 30 cm.silakan tulis di blog oksigen ini hasilnya……urusan pemupukan pak ihsan jagonya.
    Ke depan setahun lagi akan saya coba 35 x 35 cm plus biopori….rencananya bioporinya di buat di musim kemarau besok agustus-september prinsipnya hanya sebagai tandon pupuk organik pastinya.

    • NURMANIHSAN says:

      Tulisan huruf yg miring tsb saya kutip dari komentar dari Pak Barus, mas. Dia ingin menghitung perkiraan padi Pak Ito dengan perhitungan dari Pak Hariyadi,,,
      Makanya saya buat tulisan untuk menjelaskan cara perhitungan dng berat 1000 butir gabah. Intinya saya perjelas dengan beberapa kemungkinan. Bisa jarak tanam dengan 25 x 25, berat 1000 butir dengan 25 g, jumlah malai yang berkurang dll.
      Untuk jarak tanam dengan legowo, sy setuju dengan mas suli. Makin lebar seperti 30 x 30 cm, hasilnya makin baik.
      Bisa juga pake 30 x 25, 40 x 20 cm, 35 x 35 cm dll. Dng jarak yang lebar, petani main dlm jumlah anakkan.
      Wah ditunggu hasilnya mas dengan model bio pori tsb.
      Gambaran bio porinya bgm, mas suli?

  2. pak barus says:

    sepertinya memang masih banyak yang harus dikoreksi dari hitung-hitungan ini, dan setuju dengan Mas Nurman, sepertinya perhitungan padi bunda itu lebih cenderung kepada perhitungan akademisi
    terus terang, saya sendiri masih agak bingung dengan perhitungan Pak Hariyadi, karena setelah saya coba dengan jajar legowo 2:1 yang antaranya disisipi pada luasan kurang lebih 1000 m2, ternyata jumlah rumpun nya memang sekitar 27.000an saja (namun sayang seribu sayang penanamannya gagal total karena saya dibohongi oleh orang yang mengolah tanahnya), saya akan usahakan untuk konfirmasi ke Pak Hariyadi dalam beberapa hari kedepan
    lagi pula, sesuai dengan arahan Pak Hariyadi, pada sekeliling petak sawah harus dibuat semacam parit untuk menampung air, agar air tidak menggenangi lahan (maksimal cukup pada keadaan macak-macak saja), sehingga akan cukup banyak juga luasan yang terkurangi oleh parit-parit tersebut
    Mas Suli benar sekali, berat padi per bulir itu bukan 0,004, tapi 0,04 gram, itupun yang bernas sekali, kalau yang biasa memang hanya 0,03 gram atau bisa kurang, seperti 0,028 atau bahkan 0,025 gram
    namun saya coba menghitung dengan angka terendah pun, sebenarnya hasilnya masih cukup bagus dan menguntungkan, seperti ini:
    0,25 gram x 400 bulir per malai x 5 batang (malai) per rumpun x 270.000 rumpun per Ha x 0,85 (Faktor Produksi) = 11,45 ton per Ha
    coba bayangkan andai anakan per rumpun bisa mencapai 10, atau bahkan 15 (batas maksimal anakan padi bunda), maka hasilnya bisa mencapai lebih dari 20 ton per Ha
    padi bunda memang disarankan ditanam rapat, karena andai ditanam jarang sekalipun, anakannya tidak akan bisa banyak, karena itu memang sudah sifat padi bunda itu sendiri
    dan satu fakta yang rasanya juga tidak mudah kita abaikan bahwa salah seorang petani biasa (bukan dari akademisi), Mas Supangat, di banyuwangi telah berhasil mencapai hasil hingga 22 ton lebih, sementara yang lain pun masih bisa menghasilkan rata-rata 15 ton /Ha
    oh ya, sepertinya penggunaan biopori ini, logikanya sangat bagus, sayapun berharap nanti bisa mendapat info lebih banyak lagi, mohon di share ya Mas Suli…

  3. suli says:

    Pak Barus
    Saya prihatin sama semangat bapak,kulinya kebalikannya.bayak teori sebetulnya tentang parit dan memang harus,lebih di pinggir +- 30 cm buat pengumpul keong,mencegah penyerbukan dari varietas tetangga,mencegah pestisida tetangga yang pestisidanya sintesis, jangan sungkan buat parit tidak bakal mengurangi hasil,makin banyak parit makin banyak biji bernas.

    Oke,itu sifat padi bunda.namun agak bandel juga tidak apa apa,jadi coba saja jarak lebar, yang penting macak macak,bibit 1/2 perlubang,umur 12-15 hss. padi jawa/lokal kata orang dulu anakan sedikit tapi ternyata anakan sama dengan yang lain, ini terjadi pada padi rajalele, jangan banyak hitung hitungan, BOLEH menghitung kalau karung karung GKP pulang dari sawah,waktu ditimbang karungnya berat berat,hitung yang cermat. Banyak cara sebetulnya tanpa harus tanya doktorandus ,bisa di lakukan toh disawah sendiri ini….

    Hal lain harus dimengerti juga bagaimana dengan jarak lebar pasti nantinya gulma cepat tumbuh bebas, bagaimana pemeliharaan padinya, memcegah gulma tumbuh tanpa herbisida ? ini harus ada cara di lapangan…… HANYA petanilah yang bisa mengatasinya. pada umur 7 – 10 hst petani harus jalan pendek pendek/membuat bekas telapak kaki mengikuti jalur tanaman( idek idek-bahasa jawa)dan silang artinya setelah jalan utara-selatan dilanjutkan barat timur atau sebaliknya. bukan yang selama ini langsung pakai gosrok/landak atau malah menyiang/ngarambet-sundanya.baru setelah selesai petani boleh memberi pupuk I ,pengulangan kedua itu lagi( 25 hst) plus pupuk II.baru ketiga/terakhir menyiang/belah kalau jajar legowo lebih dari 4. tapi kalau jajar legowo 2 -3 tidak perlu. teorinya serahkan pak Ihsan, monggo.

    Biopori masih hanya ide,mencari solusi menyembunyikan jerami kedelai dari sambaran yang punya sapi.akan dicoba di sawah tadah hujan

  4. nira says:

    membaca coment / ulasan pak suli dan pak barus,.dalam hati saya berkata ” hebat euy “..beliau beliau ini petani kelas master. Apalagi pa nurman ihsan. semoga bisa bersilaturahim dengan mereka.

  5. Emir Fawas says:

    Kalau saya bandingkan sistem tanam jajar legowo dengan sistem tanam SRI, SRI lah yang paling bagus hasilnya.

    • NURMANIHSAN says:

      Sy setuju Mas Emir,
      cuma harus kita bedakan dahulu, antara sistem tanam legowo dng SRI.
      Tuk membandingkannya spt ini: tuk sistem tanam scra umum ada 3 yaitu : sistem tanam acak-acak/tidak rata, sistem tegel/tendur jajar dan sistem legowo. Dari 3 sistem tsb, biasanya sistem legowo yang lebih bagus.
      Nah, tuk SRI harus kita bandingkan dng yang Non SRI. Sebab bisa jadi etani SRI memakai sistem legowo juga,,,
      Bahkan ada jg yang membandingkan sistem SRI organik dng SRI semi organik atau yang SRI non organik. tks

  6. suli says:

    Boleh ikut menambahkan…..Pak Nurman

    SRI memang hasilnya semakin lama semakin baik (konversi dari konvensional ke organik), SRI lebih identik dengan organik tapi tidak baku, namun sayang jika sudah SRI kok kimia, karena aturan aturan SRI prinsipnya kembali ke alam. lebih lanjut perkembangan SRI di padukan jajar legowo , banyak di lakukan di teras sering, semi teras sering, irigasi teknis.

    Sedang jajar legowo bentuk melonggarkan jarak, memudahkan petani bekerja, memperlancar sirkulasi udara, memperbanyak anakan, dan lebih cocok di terapkan di semi rawa, irigasi teknis semi rawa.

  7. yulianto says:

    dimana Pak Nurman untuk mendapatkan benih super pak Ito Sumitro?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s