KISAH DUKA PARA PEMULIA

PEMULIA TANAMAN YANG DIJERAT HUKUM : APA SALAH MEREKA ??

Di Negeri ini, tangan-tangan para Korporasi Internasional benih punya kekuataan di segala bidang. Dengan kekuataan pengaruh/relasi dan kapital yang dimiliki telah melahirkan “penjajahan baru” kepada petani kecil. Petani yang berusaha mandiri di lahan atau wilayahnya sendiri tak lepas dari jerat-jerat hukum.

Simaklah 2 kisah yang menimpa para pemulia jagung yang berupaya hidup mandiri dari jeratan benih hibrida.

Benih, meski berukuran kecil, memiliki posisi vital dalam usaha pertanian. Dalam sebutir benih, terkandung potensi yang mempengaruhi produksi dalam usaha pertanian. Sebaik apapun lingkungan tumbuh tanaman, dari segi iklim maupun ketersediaan haranya, jika kualitas benih yang ditanam rendah, maka hasil yang didapat juga akan rendah.

Dalam hal produktivitas pertanian, khususnya tanaman pangan dan hortikultura, Indonesia masih jauh tertinggal dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Salah satu penyebabnya adalah kualitas benih yang digunakan. Karakter petani kita, masih banyak yang belum menggunakan benih unggul. Mereka umumnya terbiasa menggunakan benih dari hasil panennya sendiri. Jika kebiasaan ini dipertahankan, akan berpengaruh pada penurunan potensi genetik dari benih itu sendiri. Akibatnya produksi pertaniannya akan semakin merosot. Sebagai contoh untuk padi, menurut Achmad Suryana, Kepala Bandan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, saat ini petani yang menggunakan benih unggul bersertifikat baru sebanyak 35%. Sisanya masih menggunakan benih yang diperoleh dari penanaman sebelumnya.

Mengapa hal ini terjadi? Disamping karena masih lemahnya penyuluhan kepada petani tentang penggunaan benih unggul, juga karena tingginya harga benih unggul tersebut; apa lagi jika berasal dari impor. Jika harga benih biasa hanya sekitar Rp.3,000 – Rp. 5,000 per kg, harga benih unggul bisa mencapai Rp.30,000 – Rp.50,000 per kg. Belum lagi biaya-biaya tambahan yang harus dikeluarkan karena tuntutan perlakuan khusus dari benih unggul tersebut.

Tingginya harga benih unggul disebabkan karena adanya monopoli perusahaan-perusahaan benih. Mereka bisa melakukan monopoli kerena memiliki hak patent atas benih yang dipasarkannya. Jadi, hak petent benih inilah yang telah menjadikan petani kehilangan kedaulatannya, yaitu dengan dikuasainya benih oleh perusahaan agribisnis raksasa seperti Du Pont, Charoen Phokphand, Sygenta, Novartis, Monsanto, Sakata, Bayer, Delta and Pine Land dan anak-anak perusahaan mereka di tingkat nasional.

Bukan hanya itu, hak patent ini pun telah membawa “kurban”. Tukirin dan tetangganya, Suprapto, petani di Nganjuk, Jawa Timur, pada Maret 2005, diseret ke meja hijau, karena dituduh mencuri benih PT. BISI, sebuah perusahaan produsen benih jagung hybrida. Anak perusahaan Charoen Pokphand, konglomerasi usaha input pertanian terbesar di Asia ini, juga menuduh Tukirin melakukan sertifikasi liar atas benih jagung yang mereka patentkan.

Padahal yang dilakukan Tukirin sangat jauh dari apa yang dituduhkan. Ia memperoleh benih yang dijual bebas tersebut secara sah dari penyalur benih resmi. Lewat pengetahuannya tentang budidaya jagung, ia kembangkan benih jagung tersebut agar dapat digunakan sebagai benih. Yang dilakukannya adalah menanam benih jagung BISI yang dibelinya dalam 4 jalur. Ketika jagung-jagung tersebut berumur 3 bulan, dan mulai mengeluarkan serbuk sari, maka 3 jalur jagung dipotong serbuk sarinya. Dia sebut jalur ini jagung betina. Satu jalur jagung tetap dibiarkan serbuk sarinya berkembang, jalur ini dia sebut jagung jantan. Dengan pengaturan ini, maka 3 jagung betina tadi akan mengalami penyerbukan silang dari jalur jantan.

Cara budidaya yang tidak lazim ini ternyata berhasil. Jagung yang dipanen ternyata dapat digunakan sebagai benih dan berproduksi dengan baik. Petani-petani lain yang mengetahui hal ini sangat senang, karena tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membeli benih. Tukirin lalu membagi pengetahuan dan benihnya tersebut kepada petani lain. Berita tentang hal ini kemudian sampai ke manajemen perusahaan PT. BISI. Mereka khawatir, jika ini berlanjut petani tidak akan bergantung lagi pada benih yang dijualnya. Petugas lapangan PT. BISI pun kemudian terjun ke kebun Tukirin dan memperhatikan ladang jagungnya. Hingga akhirnya perusahaan melaporkan ke polisi dengan tuduhan sertifikasi liar. Ia dicecar dengan tuduhan melakukan pencurian benih induk jagung dari perusahaan dan kemudian menanamnya.

Akhirnya, persidangan memutuskan Tukirin dan Suprapto didakwa melakukan pembenihan illegal menggunakan teknik dari penangkaran benih milik PT BISI Kediri. Dalam putusannya pada tanggal 15 Februari 2005, majelis hakim yang diketuai oleh Makmun Masduki, SH, menyatakan keduanya melanggar pasal Pasal 61 (1) “b” junto Pasal 14 (1) UU No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. http://revolusi-islam.blogspot.com/2008/08/patent-benih-bertentangan-dengan.html

Ada juga kasus yang menimpa petani pemulia lain,,,

Kasus terbaru adalah Kunoto alias Kuncoro, seorang petani pemulia benih jagung yang merupakan anggota Bina Tani Makmur dari Dusun Besuk Desa Toyoresmi Kecamatan Ngasem Kediri Jawa Timur yang harus mendekam di penjara setelah ditangkap secara tidak sah oleh kepolisian pada tanggal 16 Januari 2010 dengan tuduhan telah melakukan pemalsuan Merk Bisi dan dijerat dengan pasal 60 dan 61 UU No 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman.

Hasil Investigasi Aliansi Petani Indonesia (API), Kunoto hanya seorang petani yang menangkarkan benih dan menjual jagung curah hasil penangkaran tersebut tanpa menggunakan Merk Bisi.

API, IHCS, TWN dan IGJ  telah melakukan pengaduan Ke Komnas HAM atas kejadian ini pada tanggal 5 Februari 2010 dan ditemui Bapak Ridha Saleh sebagai Wakil Komnas HAM. Penangkapan terhadap Kunoto sebagai petani yang mampu menangkarkan benih jagung dan kemudian dikriminalisasi dianggap melanggar hak asasi manusia. Komnas HAM akan segera mengirim surat ke PT BISI, Polres Kediri dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Jawa Timur.

Berdasarkan Pandangan Hukum (legal opinion) Indonesian Human Rights Committee For Social Justice (IHCS), hampir seluruh ketentuan UU No 12 tahun 1992 tersebut tidak memberikan perlindungan hukum bagi  para petani. Menurut Agus Sarjono, staf pengajar mata kuliah Hukum Ekonomi Universitas Indonesia mengatakan  bahwa pada kasus petani di Jawa Timur, hakim seharusnya menggunakan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 yang memberikan tentang hak khusus negara kepada petani pemulia. http://www.satuportal.net/node/2331?quicktabs_5=2

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in PEMULIAAN TANAMAN. Bookmark the permalink.

6 Responses to KISAH DUKA PARA PEMULIA

  1. Hapus UU no. 12 tahun 1992 karena itu akan menghambat pemulia Indonesia untuk berkreasi.

  2. suli says:

    Bukan hanya petani pemulia, petani biasa juga kena dampaknya kalau urusan benih, saya kutip pada majalah respec november 2010, Percy Schmeiser seorang petani Kanada di gugat Mosanto karena dianggap menggunakan benih secara ilegal. Kasusnya merebak setelah tanaman canola yang mereka tanam terserbuki secara alami oleh canola petani tetangga mereka yang benihnya berasal dari Mosanto.

  3. hanif says:

    kok serem gitu ceritanya.
    apakah para pemulia dari berbagai tanaman akan senasib dengan mereka ya.

    • NURMANIHSAN says:

      biasanya, pemulia tsb adalah pemulia yg benihnya dikuasai oleh perusahaan asing yg sdh mematenkan.
      untuk benih padi, karena pihak pemerintah yg melakukan pemuliaan mk petani tidak akan didzolimi. Kita bebasmelakukan penyilangan varietas apapun yang kita suka. asal tau caranya.
      makanya pakailah benih padi milik sendiri, benih jagung lokal, dll.

  4. suli says:

    Saya mengutip tulisan Dwi Andreas Santosa, beliau Ketua PS S2 Bioteknologi Tanah dan Lingkungan IPB, Salah Satu Penggagas Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia…Kompas di lembar opini 18 oktober 2012 tulisan awal sbb…Belakangan ini terdapat 3 peristiwa penting terkait petani dan pertanian. Pertama, demonstrasi ribuan petani di banyak kota di Indonesia dalam Hari Tani nasional ke-52 pada tanggal 24 september 2012. Kedua, pendaftaran uji materi UU nomer 12 tahun 2012 tentang Sistem Budidaya Tanaman ke MK pada tanggal 27 september 2012 dan ketiga, kontroversi transgenik”

    Penjabarannya sangat banyak tidak afdol di tulis semua, tapi saya sebagai petani gurem.garis bawahi gini, petani pemulia tidak bisa apa apa, dengan adanya UU itu, padahal mereka ‘jago’ di daerahnya, mereka senang menanam padi hasil temuannya sendiri. kedua masalah transgenik, contohnya jagung karya petani anggota AB2TI( Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia) berpotensi produksi sama atau lebih baik di banding jagung transgenik NK604 dan MON89034

  5. anonim says:

    Bibit monsanto hasil rekayasa genetik, hasil produksinya berbahaya jika dikonsumsi. Adakah cara untuk menyelamatkan bibit lokal agar tidak punah?? karena bibit hybrida yang kini digunakan petani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s