PAKAI JERAMI DAN POC, PUPUK BISA BERKURANG 50 %

TEKNOLOGI REDUKSI DOSIS PENGGUNAAN PUPUK NPK PADA PRODUKSI PADI SAWAH

Ditulis oleh:Efendy manan

Seperti  kita ketahui bahwa kondisi tanah di Indonesia telah mengalami degradasi kesuburan yang begitu tajam. Hal ini  disebabkan tren dikalangan petani di Indonesia dalam menggunakan pupuk kimia sejak awal periode Orde Baru untuk meningkatkan hasil pertanian.

Bila pada awal penerapan intensifikasi pertanian,dosis anjuran Pupuk Urea adalah 50-70 kg per hektar. Namun,factor keinginan petani yang ingin memacu hasil panen menyebabkan petani meningkatkan dosis.sehingga dalam kurun waktu 3 dekade dosis pemakaian pupuk urea meningkat drastis.Tidak jarang petani saat ini memupuk padinya 250-300 kg urea perhektar-belum termasuk pupuk kimia lain seperti SP36,ZA,KCL.

Praktek membakar jerami dan melupakan penggunaan pupuk kandang semakin memperparah kondisi tanah pertanian kita yang efek jangka panjangnya adalah semakin turun kualitas dan kuantitas produk pertanian kita.Atas dasar itulah penulis ingin mengangkat hasil penelitian Dr.Ir Sugiyanta,Msi. Dr.Ir.Purwono,MS, Dr.Dwi Guntoro,SP,Msi, Dr.Ir.Anas Dinurrohman,Msi  seperti judul diatas sebagai bahan penyadaran bagi kita untuk lebih memanfaatkan jerami yang selama ini terbuang menjadi bahan organik yang dapat menurunkan penggunaan pupuk kimia tanpa menurunkan hasil.Yang akhirnya dalam jangka panjang petani tergugah untuk kembali memposisi tanah sebagai subyek penting dalam bercocok tanam.Penulis berusaha men-sarikan hasil penelitian tersebut sebagai berikut:

LATAR BELAKANG PENELITIAN:

1.Mempertahankan swsembada beras dalam rangka menunjang ketahanan pangan

2.Penggunaan pupuk NPK anorganik secara intensif tanpa pengembalian bahan organik ke tanah menye Babkan kesuburan tanah menurun sehingga produktifitas cenderung menurun.

3.Pengembalian jerami ke sawah,aplikasi pupuk hayati dapat mengurangi dosis pupuk NPK anorganik tanpa penurunan produktifitas.

4.Verifikasi pada tahun I dan tahun ke II pembenaman jerami dapat mengurangi pupuk NPK sebesar 50% tanpa menurunkan hasil.

5.Penyusunan rekomendasi dan petunjuk teknik teknologi (SOP) reduksi pupuk NPK dalam bentuk video dan rekomendasi bagi kebijakan pemerintah.

LOKASI PENELITIAN

Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Karawang,Indramayu dan Cianjur pada tahun 2011

NILAI EKONOMI JERAMI

Dalam 1 ton jerami terkandung Nitrogen 49 Kg  setara Rp.174.400,-,Phospat 16,1kg setara Rp.114.400,- Kalium/K2O 145kg  setara Rp.1.305.000,-,Kalsium 24,5kg setara Rp.27.470 dan Magnesium 14kg setara Rp.42.000,-.Jika ditotal berjumlah Rp.1.663.270,-

Sebuah fakta yang fantastis mengingat selama ini  jerami  hanya dianggap sebagai sampah yang wajib di buang.Dan jika dikalkulasi secara nasional dengan reduksi 50% dari dosis anjuran pemerintah dengan acuan Urea:250kg,SP36:100kg,KCL:50kg  maka dapat menghemat 3,22 juta ton Urea,1,288 juta ton SP36,dan 664 ribu ton KCL setara dengan Rp. 8,53 triliun pertahun.

Jika memakai parameter pemakaian Pupuk Majemuk NPK dengan acuan NPK:300kg dan Urea:200kg maka terjadi penghematan anggaran Rp.6,5 triliun.

METODE PELAKSANAAN REDUKSI DOSIS PUPUK NPK

1.Panen potong atas.

2.Panen potong bawah kemudian jerami ditebar-aplikasi decomposer dengan dosis 100 cc/ton jerami atau 0,7-1 liter decomposer per ha.

3.Aplikasi Pupuk hayati ke 1 dilakukan sebelum tanam dengan dosis 2 l/ha,Aplikasi  pupuk hayati ke2 dilakukan pada saat umur 2MST dengan dosis 2 liter/ha dan Aplikasi ke -3 dilakukan pada saat umur 4 MST dengan dosis 2 liter/ha.

5.Aplikasi pupuk NPK Anorganik digunakan ½ dosis anjuran /rekomendasi.Aplikasi pupuk NPK seluruhnya diberikan pada saat umur 7 hst,pupuk ditebar dengan kondisi air macak-macak.

POLA PENANAMAN

1.Penanaman dengan system LEGOWO atau Tegel.

2.Jarak tanam 30x15cm (tegel) dan 12,5x25x50cm (Legowo)

3.Bibit umur 10-15 hari

4.Jumlah bibit 1 batang tiap lubang.

HASIL DEMFARM KARAWANG

PERLAKUAN 

Jerami+50% NPK+Organik+hayati

Jerami+50% NPK+Organik+hayati

Jerami+50%NPk +Organik+hayati

Jerami+50% NPK+Organik+hayati

100% NPK

Hasil (ton/ha)
MT-1              MT-2             MT-3                  Rataan7,6 ton           8,8 ton          9,4 ton               8,6 ton

9,1                   10,4              8,8                      9,4

8,9                    7,9                8,8                      8,5

9,7                    6,8                8,1                      8,2

8,7                    8,6                8,6                      8,9

 

HASIL DEMFARM INDRAMAYU

PERLAKUAN 

Jerami+50% NPK+Organik+hayati

Jerami+50% NPK+Organik+hayati

Jerami+50%NPk +Organik+hayati

100% NPK

Hasil (ton/ha)
MT-1              MT-2             MT-3                  Rataan11,2                11,2               10                         10,8

10,5                 9,2                 10,5                     10,0

10,5                 10,5              10,4                      10,4

10,2                  9,8                10,1                     10,7

 

HASIL DEMFARM CIANJUR                                                                                                                                                         

PERLAKUAN 

Jerami+50% NPK+Organik+hayati

Jerami+50% NPK+Organik+hayati

Jerami+50%NPk +Organik+hayati

100% NPK

Hasil (ton/ha)
MT-1              MT-2             MT-3                  Rataan12,3                12,3               10,56                  11,62

11,2                 10,8              10,72                  10,9

10,04               10,72            11,84                  11,2

11,84               10,2               8,64                    10,2

 

HASIL PENGAMATAN LAPANGAN

1.Tanah dengan pembenaman jerami dan aplikasi pupuk hayati memiliki soluk lebih dalam,lebih lunak,dan berwarna lebih gelap dibandingkan yan hanya dipupuk NPK dosis 100% tanpa pengembalian jerami dan aplikasi pupuk hayati.

2.Lahan dengan pembenaman jerami dan aplikasi pupuk hayati memiliki gulma lebih banyak demikian juga musuh alami dibandingkan lahan dengan 100% dosis pupuk NPK tanpa pegembalian jerami dan aplikasi pupuk hayati.

3.Jumlah anakan lebih banyak,tetapi warna daun lebih hijau muda dibandingkan tanaman pada pemupukan 100 % dosis NPK.

4.Serangan hama dan penyakit lebih rendah dibandingkan petakan NPK dosis penuh.

KESIMPULAN

1.Pengurangan dosis pupuk NPK sebesar 50% (400 ke 200 kg/ha) pada padi sawah dengan pembenaman jerami +pupuk hayati(mengandung decomposer dan fungsional)memberikan hasil yang tidak berbeda  dengan aplikasi 100% pupuk NPK.

2.Diperlukan diseminasi ke semua pelaku produksi padi agar teknologi reduksi pupuk anorganik NPK dengan pembenaman jerami segera menyebar.

SUMBER:

Dr.Ir Sugiyanta,Msi. Dr.Ir.Purwono,MS, Dr.Dwi Guntoro,SP,Msi, Dr.Ir.Anas Dinurrohman,Msi

IMHERE-OUTRECH-SCIENCE-POLICY INTERFACING-DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKUTURA –IPB

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

8 Responses to PAKAI JERAMI DAN POC, PUPUK BISA BERKURANG 50 %

  1. suli says:

    Seharusnya petani sudah terbiasa melaksanakannya, seperti pemakaian power threser saat panen kan gampangnya potong atas.maka tersisa 2/3 batang. pupuk anorganik juga harus terbiasa di kurangilah….ingat kantong tipis gara gara hanya beli pupuk yang superbanyak, belum lagi kalau cerita langka…kalang kabut, masih belum tentu hasilnya bagus.

  2. CANDRA says:

    PAK SULI,PAK NURMAN.PANEN INI SAYA POTONG ATAS APA PERLU OBAAT TAMBAHAN UNTUK MEGHANCURKAN JERAMI ATO CUKUP DI SINGKAL/BAJAK LALU DI GARU SAJA TRIM

  3. efendy manan says:

    Assalamualaikum..semua,
    Betul pak Suli,kalau kita membaca kandungan jerami dan seandainya di rupiahkan maka akan menghemat pengeluaran petani yang luar biasa,tanah menjadi sehat dan hasil berlipat.Penelitian diataspun mematahkan pameo bahwa makin banyak konsumsi pupuk kimia maka makin tinggi pula hasil panen atau sebaliknya.
    Buat pak candra,kandungan jerami terdiri sellulosa yang secara alamiah sulit didegradasi; di alam butuh 45 hari agar bisa terurai.Namun hal ini bisa diatasi dengan decomposer/pengurai berbahan mikroba pengurai sellulosa,banyak dijual di pasaran.Aplikasinya setelah panen potong atas kemudian disemprot decomposer,dibajak dan didiamkan selama 2 minggu,baru digaru…
    InsyaAllah sy akan coba menulis bagaimana membuat decomposer bagi jerami…
    semoga membantu,

    • NURMANIHSAN says:

      Wa’alaikum salam mas
      Betul apa yg dikatakan mas efendy, dng bantuan multimikroba yg ada di pupuk hayati/POC maka selain dpt mengurai sellulosa pada jerami, fungsi mikroba adalah “pabrik pupuk” di dalam tanah/sawah.
      Ada juga yang menerapkan, setelah sawah disingkal, baru disemprot decomposer. Setelah 2 pekan baru dibajak. beberapa hari kemudian baru digaru.
      jd, silahkan pakai cara yg mana. Intinya, pakai pupuk hayati spy jerami cepat terurai,,,

  4. suli says:

    Pak Candra maaf saya petani cowboy jadi ala kadarnya, kalau saja obatnya buatan sendiri silakan saja, saya sendiri tidak bisa membuat obat jadi langsung di terjang sama glebeg/bajak. beda lagi saran Pak ihsan sebagai PPL…..namun yang jelas kalau langsung di glebeg nunggu waktu agak lama menggarunya, beda dengan dekomposer lebih cepat matang dan tidak terjadi gas metan pengaruhnya ke tanaman berikutnya agak terganggu.

  5. candra says:

    walaikum salam,trimakasih semuanya atas saran dan masukannya,soalnya petani di daerah saya jarang yang di potong atas bahkan hampir 80% dipotng pangkal.makanya saya kerepotan mau menghancurkan jeraminya,klo ada dekomposernya kan lebih mudah.trima kasih pak suli,pak nurman dan pak efendi

  6. suli says:

    Terus terang petani sekeliling saya juga gitu pak candra, hanya yang ngerti aja kok. memang masih sedikit yang pakai, kebanyakan masih memakai threser manual yang di gerakan sama kaki.jadi memang harus potong bawah, hasilnya setelah MT1 disetiap pojok sawah teronggok jerami.merekapun membiarkannya,jikalau di minta sama peternak sapi senang bukan kepalang.

  7. ass. Mas Nurman, saya terbiasa mengolah jerami dengan cara dibakar. Tapi kalau lagi banyak hujan jerami menjadi masalah karena tidak bisa dibakar. saya ingin mencoba untuk memakai decomposer tapi bagaimana caranya? dan berapa lama jerami tersebut bisa membusuk. terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s