MENGAPA TANAM BIBIT MUDA

BIBIT MUDA MEMPERBANYAK ANAKKAN PADI
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Ekosistem Yang Sehat

Dalam budidaya tanaman, khususnya tanaman padi, semua proses pertumbuhan dari awal sampai akhir adalah suatu rangkaian. Rangkain yang saling berhubungan.

Bisa disebut, adanya keterkaitan antara fase pertumbuhan awal dengan fase pertumbuhan berikutnya. Bila ada yang fase/rantai yang putus, bisa berakibat pada berkurangnya hasil panen.

Tapi perlu diingat, pertumbuhan dari fase ke fase selanjutnya perlu media tumbuh yang sehat. Disinilah kata kuncinya: media hidup yang sehat.

Artinya sawah tsb sehat, jauh dari racun-racun yang membahayakan pertumbuhan hidupnya. Di sawah tsb tanaman pun perlu ada makhluk lain, yaitu adanya mahkluk berupa cacing, planton, multi mikroorganisme, dll.

Tujuan keberadaan makhluk-makhluk ini sebagai suatu ekosistem yang alami. Ekosistem yang memiliki proses saling menguntungkan buat semua, khususnya buat kelangsungan hidup tanaman tsb.

Bibit Yang Punya Cadangan Makanan

Cobalah kita semai benih di media terbatas seperti nampan, wadah kecil, dll. Setelah tumbuh sekitar 8, 10, 12 dan 14 hari setelah semai,  coba kita lakukan pengamatan.

Apa yang perlu kita amati?

Setelah 8 hss, cabut 2 bibibt dengan halus. Selanjutnya, pencet biji padi pada bibit tsb. Apakah masih  keras atau setengah keras atau sudah kempes ???

Setelah 10 hss, cabut 2 bibibt dengan halus. Selanjutnya, pencet biji padi pada bibit tsb. Apakah masih  keras atau setengah keras atau sudah kempes ???

Setelah 12 hss, cabut 2 bibibt dengan halus. Selanjutnya, pencet biji padi pada bibit tsb. Apakah masih  keras atau setengah keras atau sudah kempes ???

Setelah 14 hss, cabut 2 bibibt dengan halus. Selanjutnya, pencet biji padi pada bibit tsb. Apakah masih  keras atau setengah keras atau sudah kempes ???

Apa artinya itu ?

Kalau masih keras, berarti cadangan makanan pada bibit tsb masih banyak

Kalau masih setengan keras, berarti cadangan makanan pada bibit tsb tinggal sedikit

Kalau sudah kempes, berarti cadangan makanan pada bibit tsb sudah habis

Biasanya, di umur 8 hss, bibit padi tsb bijinya masih keras dan setengan keras. Untuk 10 hss – 14 hss,  kondisi biji padi akan bermacam-macam, ada yang sudah kempes, tinggal 1/4 nya, dll.

Biasanya, media persemaian yang miskin pupuk kompos, biji padi akan cepat kempes.

Rahasia Tanam Bibit Muda

Ternyata, disinilah rahasianya mengapa SRI Organik menanam dengan bibit muda ( sekitar 7-8 hss). Bibit muda tsb siap diterjunkan di sawah.

“Kan masih muda, bagaimanan bertahan hidup?” mungkin ada pertanyaan yang demikian,,,

Bibit muda memang akarnya terbatas tapi ditanam agar tak putus. Dan juga, bibit muda masih punya cadangan makanan. Dan itu digunakan untuk hidup, di hari-hari pertamanya hidup di sawah,,,,

Kalau bicara bibit muda  stress, pastilah stress. Tapi, dengan akar yang tak putus dan masih ada “perbekalan” makanan di bijinya, bibit tsb akan memulai perjalan hidupnya.

Masalahnya, mengapa bibit tsb “nyaman-nyaman” saja diletakkan di lingkungan sawah. Sebab seperti di awal tulisan, adanya keterkaiatan antara antara fase-fase tsb dengan media hidupnya atau tempat tinggalnya.

Karena media hidupnya sehat, bibit muda tsb “seakan-akan merasa gembira” bisa diterjunkan di tengan sawah. Karena gembira, hujan, angin dan panas perlu dirisaukannya. Hujan, angin dan panas matahari adalah ujian pertama yang harus dilaluinya.

Setelah beradaptasi beberapa hari  di sekitar permukaan sawah ( tanam dangkal). Biji pun dah kempes bahkan hilang karena persedian cadangan sudah habis. Saat itulah, akar-akarnya dah mulai kuat.

Disinilah fase selanjutnya untuk memperbanyak “keluarga besar”.

Dari 1 bibit (batang utama) , biasanya, akan keluar 2 bibit/anakkan/keluarga baru (generasi pertama/batang primer). Dari 3 bibit inilah, akan lahir anakkan-anakkan baru. Setiap anakkan yang keluar akan berlomba membuat anakkan baru.

Mengapa? sebab dari fase bibit muda sampai masa generatif ada banyak waktu yang bisa bibit tsb gunakan untuk memperbanyak anakkan.

Bahkan, kata Pak Iwan dari NOSC, dari 1 bibit tsb bisa mengeluarkan anakkan sampai batas terbayak yang pernah dia dilihat sendiri : 202 anakkan !!!

Bila Bibit Diterjunkan di Media Bermasalah

Yang jadi masalah adalah bila bibit muda tadi diterjunkan di sawah yang kurang bersahabat. Pupuk kompos sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Bekas pupuk  kimia yang diberikan banyak, bahkan terus ditambah lagi walau usianya masih muda.

Selain itu, bekas-bekas racun berbagai pestisida yang disiramkan terus menerus masih menggenang di areal sawah. Bahkan masih ditambah lagi dengan guyuran furadan dan sejenisnya sewaktu pengolahan lahan. Tujuannya, agar teman-teman hidup bibit tsb seperti cacing, mikro organisme, dll jadi koit.

Bagaimana bibit tsb akan ceria bila teman-teman yang mensuplai cadangan makanan untuk hidupnya pada koit.

“wahai petani, berikan sawahmu pupuk organik/pupuk kompos yang layak agar aku dapat tumbuh dengan baik bersama teman-temanku” demikian jeritannya yang menyayat hati,,,

Sayang, jeritan bibit muda tsb tak didengar petani.

Dengan blog inilah, jeritan bibit tsb saya gemakan kepada para petani,,,,

Semoga Bermanfaat. Aminnn

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI, PUPUK ORGANIK, SISTEM TANAM. Bookmark the permalink.

28 Responses to MENGAPA TANAM BIBIT MUDA

  1. agung says:

    pak nurman,gmn caranya perawatan bibit padi yg bagus pak,,apakah aman klo dkasih poc utk umur dbwh 20hss..untuk pemupukan dan penyemprotn insektisida pada bibit umur brp?

  2. suli says:

    Bahasanya….mulai kelihatan seorganis sekali, …..pada suatu waktu bersamaan dengan beliau (Pak Ihsan) menegur orang yang merokok di serambi masjid dan akhirnya lebih baik menghindari saja….salut sama beliau ini.

    Guyuran pesticida…..ya cukup di mengerti, saya sering memakai kata kata tersebut pada petani kangkung yang sangat getol memakai pestisida, di desa saya dan parahnya 3 hari menjelang di petik ( panen tiap 20 hr sekali) lambat laun petani tersebut sadar akan rusaknya sawah dengan lebih banyak wereng hijau.

  3. ali says:

    Assalamu’alaikum pak Ihsan.. Benih mira1 dari pak ihsan saya tanam umur 12 hari dimana masih ada gabahnya. Jarak tanam 32×32 jajar biasa. Walaupun baru pertama terjun langsung ke sawah, saya tetap nekat menerapkan pola SRI. Banyak kendala dan tantangan, mulai dari persiapan lahan, persiapan benih, penanaman sampai mengatur air yang menjadi faktor vital selamat tidaknya benih muda tsb. Berikutnya akan saya share kendala yang saya alami sampai hari ini barangkali berguna dan ada masukan dari insan insan pertanian yg berkunjung ke blog ini.

  4. ali says:

    Yang pertama persiapan lahan. Jerami tidak terkembalikan ke sawah karena ada yg membakar, bahkan kompos yang siap saya tebar hilang dicuri. Akhirnya kompos mentah dan setengah matang saya tebar setelah tanah disingkal atau dibalik, plus semprot EM4 per tiga hari sekali selama 15 hari. Persiapan lahan kurang maksimal.

  5. ali says:

    Saya lanjutkan curhatnya pak,.. Setelah dilakukan uji benih bernas dengan air garam, benih saya rendam dan saya tinggal ke luar kota selama dua hari. Benih terendam selama dua hari dua malam. Ketika saya tiriskan Ternyata benih tsb telah berkecambah yang pada akhirnya penebaran ke media semai tidak merata dan menimbulkan permasalahan pada masa pertumbuhan bibit dan proses penanaman. Banyak benih bertumpuk sehingga menimbulkan permasalahan baru.

  6. ali says:

    Masalah berikutnya adalah sulitnya mencari buruh tanam karena pola tanam pola SRI belum dimengerti dan belum pernah mereka lakukan. Pada tahapan inilah masalah dari kurang ratanya penebaran benih ke media sebar besek muncul. Bibit susah dicabut karena akar saling membelit. Proses tanam menjadi lama, dan banyak bibit terbuang karena akar tercabut/rusak.

  7. ali says:

    Kendala berikutnya adalah permasalahan yang paling membuat saya pusing, yaitu menjaga agar sawah selalu macak2. Karena jika tergenang air, bibit yg masih muda tsb akan habis dimakan keong mas. Tergenang satu malam, saya mesti “nanjangi/ngayuman” atau tanam ulang seluas setengah petak. Itupun setelah tanam, di paritnya sudah saya taburi pepaya mentah. Andai saja tidak ditaburi pepaya mentah, bisa jadi satu petak penuh harus saya tanam ulang. Tiap pagi dan sore, keong keong yang berkumpul di irisan pepaya mentah tsb saya ambil agar tidah invasi ke padi.

  8. ali says:

    Pada akhirnya saya dijuluki memedi sawah plus petugas ppl karena hampir tiap hari mengawasi sawah saya yg cuma 4 petak. Dan pada akhirnya pula target “mendapatkan hasil panen yang lebih tinggi”, saya ubah menjadi “yang penting bisa panen dan sawah saya lebih sehat”. Toh kalaupun gagal, saya belum jera untuk mencoba dan lebih banyak belajar. Intinya, faktor “sangat merepotkan” menjadi aktor utama enggannya petani di tempat saya tanam bibit muda dan bertani padi pola SRI, meskipun jauh sebelum SRI berkumandang mereka faham akan manfaat tanam bibit muda.

  9. ali says:

    Curahan ilmu dan saran dari pak Ihsan, pak Efendy dan pak Suli, pak Sutar dan yg lainnya memang selalu saya harapkan pak. Keong dan orong2 memang bikin pusing, tapi apa iya saya kalah sama keong dan orong2 hehe. Sempat sy melirik anti keong kimia, tapi daripada mahluk lain ikut mati biarlah saya punguti saja keong tsb. Malah tetangga yg memelihara bebek g perlu ke sawah cari keong.

  10. efendy manan says:

    Tetap semangat pak!!memang tanam benih muda apalagi SRI untuk tanam Musim hujan terasa “sedikit menyiksa” sampai 20 hst.Banyak kendala yang dihadapi,namun saya yakin akan menjadi pengalaman yang berharga.saya dulu sama dengan Pak Ali,pertama kali bertani hasilnya rugi,maklum saya nol putul pertanian karena jebolan sarjana jurnalistik yang kesasar jadi petani he3x.InsyaAllah dengan Media blog ini kita bisa sharing mencari solusi dan berbagi pengalaman.
    Semoga…

  11. hanif says:

    saya menanam bibit muda umur 18 hari dan hasilnya adalah banyak tanaman padi yang mati.
    mengapa demikian.ini karena waktu setelah tanam petakan sawah tergenang air yg akibatnya padi tersebut menjadi busuk setelah tanam.ya pengalaman untuk tidak memindah bibit muda bila sawah tak bisa dikeringkan.

    • NURMANIHSAN says:

      betul pak hanif, bila sawah tak bisa dikeringkan, tanam bibit muda memang beresiko. cara ini atau cara SRI adalah kondisi sawah yang bisa direkayasa agar sawah tak tergenang airnya.

  12. ali says:

    Terimakasih pak efendy untuk supportnya. Kebetulan permukaan lahan sawah saya tidak benar2 rata, ada area yg jarang tergenang air. Area yg tidak tergenang tsb pola tanamnya saya modifikasi seperti sisipan jajar legowo. Bibit yang berada di area yg sering tergenang saya tanam di area yg agak kering agar selamat dari serangan keong, bibit dari area yg tergenang saya sisipkan di area yg lebih kering. Setelah 20 hst nanti sy pindahkan lagi ke area yg tergenang.

  13. suli says:

    Wah makin seru pak ali ini….
    Jangan terlalu leter lek (orang jawa bilang) jangan terlalu sesuai teori, di lapangan segalanya bisa terjadi….saya contohnya alat penggaris roda ( pola 4 : 1) udah di buat jauh jauh hari , sawah sudah siap , umur 18 hss sudah di cabut, malamnya hujan lebat ( berkah gusti Allah) paginya air tidak bisa di hilangkan akhirnya pakai model biasa ….tegel. legowo ( pasrah secara iklas) saja…manusia hanya kawula…sadermo anglakoni, yang menentukan gusti Allah. namun harus cari akal bagaimana nanti bisa jadi jajar legowo, mau 2 ;1 – 6 : 1 sah sah ae. umpama sawah banjir terus tanaman banyak mati, umur 10 hst buat jalur legowoan…..gitu pak ali keterangannya.

  14. suli says:

    Pak Agung….
    Perawatan persemaian pada dasarnya sama, umur tebar benih kalau benih tersebut udah keluar akar….dari waktu meniriskan 2-3 hari bisa di tebar tergantung ukuran akar, makin lama akar berantem susah di tebar, persemaian di kelilingi plastik sebelum tebar atau waktunya bareng dengan tebar, sebaiknya pagi sebelum terik di harapkan di sabet dengan sapu lidi pelan pelan, supaya jika hujan tidak bergerombol. sampai umur 5 hss persemaian kering, diharapkan benih sudah pertunas sedikit panjang, buat jarang/tidak terlalu rapat, ini penting jika menghendaki umur tanam >20 hss karena batang besar besar yang di harapkan sudah beranak dua dan bisa tanam satu satu, lain halnya sebar rapat belum beranak dan mudah mati jika kena banjir. lakukan penggenangan macak macak umur 7 hari berbarengan pemberian pupuk, sesuaikan ketinggian air dengan ketinggian benih. makin tinggi benih , air bebas asal tidak kelelep, atur limpahan ( air buangan) di pematang bawah supaya air tetap ada. kadang hal ini juga menjaga tikus tidak masuk.

    Jangan buru buru tanam sendiri, jika di sekitar belum ada yang tanam, hal ini untuk menghindari tikus datang duluan pada padi yang lebih dulu hijau. biarpun umur mekongga lama, tidak masalah tunggu orang lain tanam duluan, ada keuntungan lain yaitu mekongga juga nantinya telat bunting, harapannya tikus juga tidak datang ke varietas yang buntingnya lama, mana yang bunting duluan lebih berisiko terserang dan anehnya susah pindah jika sudah menemukan sawah yang bunting duluan, bisa sampai habis, makanya kadang di komen lain, saya tidak terlalu senang pada varietas sangat genjah macam inpari 13.

  15. ali says:

    Saya mah dari awal sudah bertekad “ndableg”, orang orang di sawah bilang kemaki lan keminter yo ben, aku ajar tani neng sawahku dewek koq. Sawah saya memang sulit mengatur airnya, menimbulkan masalah yg kompleks. Saya juga tanam tegel pak Suli, 32x32cm. Karena untuk menutup area yg gundul dimakan keong, akhirnya saya rubah jadi jajar legowo 4×1 tanpa sisipan. Baris ke lima saya pindahkan ke area yg gundul.

  16. suli says:

    Sip pak ali, ya ya….memang legowo asalnya dari situ, di bawa sama pemerintah karena irit bibit hasilnya rata rata lebih tinggi. terus ada yang otak atik di sisipi,padahal percuma.

  17. ali says:

    Yang bikin saya heran adalah komentar pemilik sawah sebelah yg notabene aktif di gapoktan.. Beliau bilang begini..” mas, ibarat ngaji di pesantren, kamu melanggar paugeran. Baru masuk pesantren, langsung belajar kitab kuning Ihya Ulumuddin.. Baru terjun ke sawah udah tanam bibit muda, caplakan lebar dan semi organik, apa kamu mampu?”..saya jawab, “Insya Allah panen”. Kan ada pak Ihsan, pak Suli, pak Efendy tempat saya minta saran..

  18. efendy manan says:

    Dalam pertanian tidak sama dengan dunia pendidikan pak yang wajib ada tingkatan.Kalau disini pengalaman adalah ilmu yang paling berharga.Sederhananya siapa yang sering bertanya dan menimba pengalaman orang lain dialah yang akan sukses.Saya ada cerita,teman saya di Pasuruan sekarang tanam cabe merah,beliau tidak punya pengalaman apalagi ilmu tanam cabe yang terkenal rumit dan beresiko tinggi.Sebelumnya beliau tanya saya,saya sarankan untuk minta nasehat dan pengalaman ke petani2 senior.Alhamdulillah sekarang tanaman cabenya bagus,melebihi petani2 senior,yang sebelumnya beliau dicibir karena sok tahu dan melawan arus..insyaAllah saya akan nitip foto cabe beliau di blognya mas Nurman.

  19. suli says:

    Pak Ali, kita semua petani….
    Seperti tulisan terdahulu yang di tulis empunya blog ini, petani macamnya banyak, kita sama sama belajar, ada yang pingin naik sesuai harapan dari kelas 1 ke dua, dari dua ke tiga…dst. tapi ada yang dari kelas 1 naik kelas 5 …dari 5 naik kelas 11, tapi bisa nga naik malah turun ke 8, dari 8 biasanya mikir bagaimana tidak turun lagi, nafsunya gimana kalau di atas 11. adapula yang tidak naik naik, dari kakeknya seorang petani sekian puluh bau ( 1 bau=7 rb m2) turun keanaknya cuma sekian bau, turun ke anaknya lebih sedikit lagi, karena tidak naik naik….istilah jawa “tunggak jati mati”

  20. ali says:

    Ya betul pak efendy, memang udah resikonya petani baru banyak yg meragukan. Apapun kata orang, saya ambil positifnya aja. apapun hasilnya nanti, saya syukuri.

  21. ali says:

    Ya betul juga pak Suli.. Justru karena sawah saya cuma selebar daun sirsak, saya ingin menggarap sebaik mungkin. Agar yg sedikit hasilnya bisa memuaskan. Gak ada target angka. Targetnya, kedepannya bisa seperti pak suli, sawah sehat menghasilkan beras yg sehat pula.

  22. suli says:

    PAk Ali
    Ciamis masih kental jawanya….banyak etok-etok atau pura pura. tidak bakal di kasih tau berapa luas yang sebenarnya, nga ilok….kan ( Etika Jawa, karya Frans Magnis Suseno)

    Ya beras sehat penting, sawah sehat adalah harapan,supaya penghuninya lestari.

  23. intenfarm says:

    iyo saya stuju dengan mas suli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s