POLITIK PERTANIAN

POLITIK DALAM BAHASA PERTANIAN 
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

sms masuk

Ada sms masuk ke hp. Bunyinya sbb,” pak, sekarang ini, polilik kita lagi carut marut. Apa pendapat bapak tentang politik? adakah yang disebut politik pertanian itu? “

Dalam hati, saya berdehem: heee, apa ya,,,,,

Ilustrasi sederhana

Dari mana saya mulai, apakah seperti ini: pada zaman dahulu kala, ada manusia,,,,,

“stopp, pendahuluanya dah basi pak, itu zaman SD”

Ya udah begini aja,

Ada petani A, dia tanam padi di pot. Nga banyak cuma 2 pot. Ada juga petani B, dia tanam juga padi di pot. Cuma agak banyak, sekitar 100 pot.

Selain petani A dan petani B, ada petani C dan petani D. Petani C ini tanam padi juga, cuma di sawah. Luas lahannya sekitar 0.5 ha. Dan terakhir petani D, dia tanam lebih luas lagi, ada sekitar 50 ha. Luas 50 ha tsb, ada di beberapa titik tanam, di 2 desa berbeda.

“lanjutkan pak,,,”

Setelah melewati fase-fase pertumbuhan padi, mereka pun hampir panen. Dan yang luar biasa, tingkat kebernasan petani A, B, C dan D hampir sama, mendekati 80 % malainya bernas.

Setelah dilihat-lihat, ternyata jumlah anakkan petani yang tanam di pot, ada 25 anakkan per pot. Jadi, petani A yang memiliki 2 pot, total mempunyai jumlah anakkan sebanyak 50. Tingkat kebernasan 80 %.

Petani B dengan 100 pot, total jumlah anakkannya 2.500. Dengan tingkat kebernasan hampir sama yaitu 80 %.

Bagaimana dengan petani C dan D ?

Petani C, dengan luas lahan 5.000 m2, bertanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Pakai sistem legowo 4:1 dengan tanpa sisipan di bagian pinggir.  Dari cara tsb, bisa menghasilkan rata-rata  25 anakkan.

Jadi, petani C memiliki sekitar 64.000 tanaman. Dengan rata-rata 25 anakkan, dihasilkan sekitar 1.600.000 batang anakkan. Ya, 1,6 juta anakkan.

Bayangkan, dengan 1.600.000 batang anakkan, petani C bisa menghasilkan tingkat kebernasan sampai 80 %. Ini sungguh menarik.

Petani D lain lagi, dia mengelola lahn seluas 50 ha. Luas 50 ha di beberapa titik. Dengan  luas  50 ha, berapa jumlah tanaman yang dikelola? berapa jumlah anakkannya?

Bila dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm, simtem legowo 4:1 tanpa sisipan, akan didapat 128.000 jumlah tanaman. Karena 50 ha maka menjadi 50 x 128.000 = 6.400.000 tanaman. Ya, 6,4 juta tanaman.

Tiap tanaman ini pun menghasilkan 25 anakkan, jadi total jumlah batang anakkannya sebanyak 160.000.000. Saya ulangi: 160 juta anakkan.

Dan yang luar biasanya, 160 juta anakkan tsb, tingkat kebernasan mendekati 80 %.

Apa artinya ini

Mereka semua petani. Mereka semua tanam padi. Mereka semua menghasilkan 1 tanaman dengan 25 anakkan. Tiap-tiap anakan menghasilkan malai dengan tingkat kebernasan hampir sama yaitu 80 %.

Titik beda dari para tsb adalah masalah jumlah.

Ada petani yang mengatur 2 tanaman, 50 tanaman, 64 ribu tanaman dan 6,4 juta tanaman. Tapi sama-sama mempunyai kebernasan yang sama sekitar 80 %

Ada petani yang memiliki 50 anakkan, 2.500 anakkan, 1,6 juta anakkan dan 160 juta anakkan. Tapi sama-sama mempunyai kebernasan yang sama sekitar 80 %.

Kalau kita umpamkan, jumlah anakkan adalah manusia. Dan tingkat kebernasan adalah tingkat kesejahteraan. Maka kemampuan petani-petani tsb akan mudah dilihat.

Petani A sanggup menggelola 50 orang/insan dengan tingkat kesejahteraan 80 %. Ini adalah biasa, sebab jumlahnya kecil. Dalam bahasa sederhana, siapapun banyak yang bisa.

Petani B sanggup menggelola 2.500 orang/insan dengan tingkat kesejahteraan 80 %. Ini boleh dibilang bagus, sebab jumlahnya orang yang dikelola sudah ribuan.

Petani C sanggup menggelola 1,6 juta orang/insan dengan tingkat kesejahteraan 80 %. Ini adalah pekerjaan hebat. Sebab sudah sanggup mengatur 1,6 juta insan.

Tapi, Petani D sanggup menggelola 160 juta orang/insan dengan tingkat kesejahteraan 80 % . Ini adalah pekerjaan yang luar biasa. Sebab sudah bisa mengatur ratusan juta insan.

Jelas sekali, mengatur 160 juta insan dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi bukan pekerjaan ringan. Petani/Pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan.

Pengertian Politik

Menurut saya, politik itu bukanlah sebatas ungkapan kata-kata. Politik bukanlah kumpulan “titik titik”. Politik bukanlah masalah pengertian  menurut para pakar, menurut pakar A politik adalah ini itu, menurut pakar fulan adalah itu ini,,,,,

Menurut saya,

Pertama, Politik itu bersifat masal, oleh sebab itu yang mengatur dan melaksanakan harusnya negara.

Sebabnya apa kok negara? karena negara mengelola uang !!!

Berapa kemampuan mas avi buat agrobio, mikoriza dan isolat ? jelas terbatas.

Seandainya saja, mas avi ada di pucuk manajemen kementan ( Kementrian pertanian ) maka dia bisa saja membuat agrobio, mikoriza atau isolat atau isolat-isolat bersifat massal atau dalam jumlah banyak, kemudian dibagikan kepada para petani. Wah, tanah pertanian akan cepat sehat.

Sebab ada dananya dari APBN. Negara yang bayar.

Jadi, Politik itu bersifat massal/banyak.

Kedua, Politik itu alat perubah, oleh sebab itu harus dikendalikan oleh orang yang punya niat atau perbuatan baik.

Jadi, politik itu ada arah perubahan

Gampangnya politik merupakan alat perubah yang bersifat masal.

Persoalannya cuma satu saja, mau dibawa kemana arah perubahan tsb? kearah yang baik atau sebaliknya?

Oleh sebab itu, jangan lupakan politik sebab ini menyangkut perubahan hidup kita, kesejahteraan kita. Dan juga, akan berdampak pada lingkungan lahan-lahan sawah kita nantinya.

Sawah: miniatur negara

Saya pribadi, punya pendapat lingkungan sawah bisa diibaratkan miniatur negara. Maka dapat dilihat, bagaimana  selama ini, sebagian besar petani kita memperlakukan sawahnya.

Dan ternyata, sawah petani kita hampir sama dengan “perpolitik di tanah air”. Sawah sebagian besar petani kita belum sehat, pupuk kimia terlalu banyak, herbisida kemana-mana, guyuran pestisida merajela, dll.

Bisa jadi, ini adalah reaksi dari para petani melihat kondisi ini,

“Ada yang masa bodoh, itukan lahan-lahan dia, terserah mereka lah.”
“Ada yang ikut-ikutan, kalau mereka pakai, saya juga pakai. bereskan?”
“ada yang tidak ikut, tapi dia berbuat sendiri melakukan perbaikan sawahnya saja, syukur-syukur yang lain ikut”. Ada yang sudah melakukan tapi sedikit sekali yang mengikutinya
“ada yang  melakukan perbaikan, tetapi harus ikut pelatihan dulu, biayanya cukup  mahal,,,”
“ada yang melakukan dalam bentuk kelompok, minimal buat lingkungan sekitar sawahnya”
“ada  yang lewat media seperti internet ini, maka daya jangkaunya bisa lebih luas lagi,,,,”
” dst dst”
 

Nah, karena politik itu bersifat massal, maka mau tidak mau, kita  harus bekerja bersama-sama memberi perubahan/pencerahan kepada masyarakat. Pencerahan disini supaya sawah kita sehat dan sawah mereka sehat.

Kalau anda setuju, angkat tangan dong,,,,

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

11 Responses to POLITIK PERTANIAN

  1. cahyo says:

    Wah, ada dunia politik juga ternyata di pertanian😛 tapi emang bener juga, kalau negara ingin maju, yang pintar, bersih, amanah, wajib mencalonkan diri jadi yg di depan. Lewat politik salah satunya. Masalahnya banyak yg rumongso iso tp ndak iso rumongso. Maaf, kebawa efek 2014 hehehe.

  2. yudi says:

    Tx pencerahanya Mas Nurman jadi tau arti politik. Mantepp deh

  3. avi says:

    Menarik treadnya mas nurman,hehehe harapan sy sih petani kita tidak dipolitiki luar negeri dg sulapan pestisidanya

  4. Agus siswoyo says:

    Politik benihnya jg mas navi,
    Benih hibrida dg ketergantungan beli benih baru dan rentan hama penyakit sehingga ‘cenderung’ boros pestisida dan perlakuan laennya, sungguh ‘didikan’ yg kurang mendidik dari bapak kita yaitu Kementan. itu dilihat dari sisi baik lainnya yaitu dg tujuan surplus swasembada beras nasional, menggenjot produktivitas padi petani.
    Politik di sini saya mengartikan lebih sederhana;
    – Politik membedakan perlakuan lahan untuk MT hujan-kering,
    – Politik kapan pengairan, pemupukan, penyemprotan,
    – Politik pemilihan varietas padi tergantung lahan dan musim dan umur padi serta target setelah padi,
    – Politik pasca panen untuk dijual GKP/GKG/disimpan untuk dimakan/disimpan untuk dijual nanti pas harga tinggi,
    – Politik jarak tanam tergantung lahan dan karakteristik padi,
    – Politik pembentukan banyak anakan, pengendalian hama penyakit, pembernasan bulir,
    – Politik persilangan padi, mau dihilangkan karakter yg bagaimana dan dimunculkan yg mana,
    dll,

  5. avi says:

    siip mas agus…pemikiran yg cerdas.Kalau politik persilangan padi lg sy coba atas request dr bnyk petani dg karakter berbulir seperti ciherang,anakan spt IR64,berbatang logawa,berdaun umbul,rasa nasi spt dewi ratih,ketahanan penyakit spt super win.Kebanyakan karakter yg diminta malah dr persilangan sudah sedang sy coba muncul karakter padi dg bulir paling kecil,🙂

  6. Agus siswoyo says:

    Mau update hasil tanam padi ‘srunggen’ dr petak ciherang yg saya sengaja tanam pot kemaren.Batang warna merah ungu,
    Daun lebar panjang lbh dr ciherang,
    Bulir berubah dr mirip ciherang jd mirip cilamaya jumlah sama ciherang rata-rata,
    Karakter keseluruhan mirip PTB pdhl asal tempat hidupnya di kumpulan ciherang yg VUB,
    Yg paling menarik, dr asal benih berbulu ditanam tp hasilnya tdk berbulu.
    Saya agak heran, makanya mau saya tanam ulang benih yg masih/sama saya simpan, buat pembuktian ulang…
    Buat mas yuri…ini hasil update tanaman yg diminta kemaren.

  7. huda ndaan says:

    aihamdulillah
    saya sangat berterima kasih pd semua yg masih menjunjung tinggi alam pertanian ini. walaupun saya hanya bs membaca tulisanya. smoga allah memberi pertolongan dlm menekuni politik pertanian ini. yg hasilnya nanti bs bermanfaat bagi petani kususnya.
    amiin.
    ( mohon di daftar dlm acara copy darat nanti)

  8. Parwito says:

    Untuk menjadi yang besar kita harus setia dengan hal kecil, mulai dengan yang kedil/sedikit tetapi lakukan dengan cara besar, benar dan tepat. Memulai dengan menyehatkan lahan sendiri dengan sumberdaya yang dimiliki, bertanam dengan metode SRI atau jajar legowo, menggunakan MOl dan POC karya sendiri dan apa yang seperti ditulis oleh Pak Agus Siswoyo (sebagai langkah menjadi petani mandiri) dengan saling berjejaring dengan satu sama lainnya untuk memperkuat gerakan yang sudah dilakukan. Dari titik-titik bisa dikumpulkan sebagai kekuatan dalam perubahan gerakan pertanian hijau atau alami. Petani mempunyai daya tawar sendiri untuk menentukan harga produknya dan dengan gagah menyampaikan bahwa saya sudah tidak membutuhkan pupuk bersubsidi lagi. Semoga

    Terima kasih

  9. musaffak says:

    BETUL PAK WITO… SUDAH SAATNYA PETANI MEMPUNYAI POSISI TAWAR DALAM HAL HARGA. JUGA PUNYA KEKUATAN POLITIK DALAM HAL REGULASI PERTANIAN DIMANA SUARA PETANI TIDAK PERNAH DI AKOMODIR.

    JUJUR SAJA BELUM ADA YANG BELA PETANI DENGAN SUNGUH-SUNGGUH DAN IKHLAS KECUALI SAAT “DIBUTUHKAN” DAN BILA “TAK DIBUTUHKAN” LALU DITENDANG. SAYA SEBAGAI PELAKU TANI GUREM SAYA SERING NGELUS DADA PRIHATIN

  10. ant says:

    Pakde salah menggnakan istilah negara Dan politik, karena kedua Hal tersebut sesuatu yang mudah namun rumit…
    Sepertinya pakde tertukar dengan yang namanya pemerintahan …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s