BERTANI DI GAZA PALESTINA

Dalam hidup ini, bila kita menyertakan Sang Pencipta dalam aktivitas/pekerjaan apapun, maka hal tsb merupakan sebuah keni’matan. Kalau boleh dibilang, hal tsb merupakan sebuah keharusan.

Mengapa demikian? sebab apapun yang kita lakukan, bila kita sertakan (niatkan) kepada Allah SWT, maka hal tsb, Insya Allah, akan bernilai ibadah. Apapun pekerjaan tsb.

Demikian pula dengan bidang pertanian. Bila dari awal kita sertakan Allah SWT, maka pekerjaan kita sebagai petani, mulai dari memilih  benih, merendam benih, peram benih, membuat persemaian sampai panen adalah ibadah.

Saya jadi teringat, ketika Pak Muhaimin Iqbal berkunjung ke Negeri yang dijajah Israel yaitu negeri Gaza – Palestina, belum lama ini. Di negeri yang sedang berperang dengan penjajah Israel tsb, negeri yang sebagian besar tanahnya boleh dibilang gersang, kita bisa belajar.

Betul, kita bisa belajar. Negeri yang sulit karena keterbatasan sarana, iklim sampai dalam kondisi perang. Tapi karena aktivitas pertaniannya menyertakan Allah SWT, maka pertanian di negeri tsb memperoleh berkah yang luar biasa.

Negeri yang merupakan “penjara besar” karena di blokade penjajah Israel, tapi bisa mencukupi kebutuhan pertaniannya sendiri.

Dan hebatnya, sebagaian besar petani di sana ketika selesai panen, mereka membayar zakat pertaniannya. Bila mereka tak membayar zakat pertaniannya atau lupa membayarnya, maka bisa dipastikan hasil panen musim berikutnya akan turun.

Jadi, zakat pertanian bagi mereka adalah sebuah kerelaan. Zakat pertanian adalah sebuah keikhlasan,,,

Intinya, bila siapapun atau negeri manapun, bila menyertakan Allah SWT dalam bidang apa saja (pertanian), dan membayarkan zakat pertaniannya, maka hasil pertanian di negeri tsb, akan mencukupi kebutuhan penduduknya.

Berikut  ini adalah tulisan dari Pak Iqbal,,,

Dalam berbagai tulisan sebelumnya telah banyak saya ulas mengenai kurma, zaitun, anggur, delima, tin dan berbagai tanaman lain dalam Al-Qur’an. Tetapi dimana kita bisa belajar langsung tanaman-tanaman ini di habitat aslinya ? Dimana lagi kalau bukan di tempat-tempat yang juga disebutkan dalam Al-Qur’an ! Sayangnya negeri-negeri Syam yang secara khusus disebutkan keberkahannya ini lagi dalam kondisi perang, bisakah kita belajar bertani dari mereka ? InsyaAlah sangat bisa

Maka di sela-sela mendampingi para sukarelawan Indonesia mengunjungi saudara-saudara kita di Gaza beberapa hari ini, kami menyempatkan diri juga untuk belajar dari para petani di negeri yang terdholimi secara luar biasa ini. Meskipun kondisi alamnya sangat berbeda, insyaAllah sangat banyak yang bisa kita pelajari.

Untuk kurma misalnya, menurut publikasinya FAO pohon kurma bisa bertahan di cuaca dingin dengan suhu dibawah 0 derajat Celcius. Zero vegetation point (suhu di mana kurma berhenti tumbuh) adalah 7 derajat Celcius, artinya dibawah suhu tersebut pohon kurma bisa bertahan hidup tetapi berhenti tumbuh. Di atas 7 derajat Celcius kurma tumbuh normal, sampai mencapai suhu 40 derajat Celcius – kemudian mulai menurun daya tumbuhnya pada suhu di atas ini.

Kurma juga terbukti tumbuh di belahan bumi utara di Asia, Afrika dan Amerika, maupun di belahan bumi selatan seperti Australia. Jadi dari sisi geografis maupun iklim, Indonesia mestinya berada pada posisi yang cukup ideal untuk pertumbuhan kurma – apa yang bisa kita pelajari di Gaza, insyaallah juga bisa kita aplikasikan di Indonesia.

Untuk anggur, wilayah Indonesia yang umumnya cenderung panas dan lebih banyak dataran rendahnya ketimbang yang di dataran tinggi – maka anggur dataran rendah lebih berpeluang besar untuk dibudi-dayakan secara masif mendampingi budi daya kurma. Anggur di Gaza juga anggur dataran rendah karena lokasi Gaza yang pas di pinggir pantai.

Pekan lalu sebelum berangkat ke Gaza ini saya lebih dahulu mengunjungi suatu pusat pengembangan tanaman Anggur di Jawa Timur, yang telah memiliki sejumlah besar varietas tanaman Anggur yang cocok untuk dikembangkan di Indonesia. Konon tempat ini sudah ada sejak jaman Belanda, jadi mestinya kita sudah sedari dahulu dapat menjadi produsen Anggur – minimal cukup untuk mengisi pasar kita sendiri.

Mengapa Anggur ini penting untuk menjadi perhatian ? Anggur adalah tanaman kedua terbanyak yang disebut di Al-Qur’an setelah kurma. Anggur juga menjadi tanaman terbanyak di Al-Qur’an yang disebutkan secara berdampingan dengan kurma.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Ath-Thibbun Nabawi menerangkan manfaat Anggur sebagai berikut : “Anggur merupakan buah yang paling baik dan paling banyak manfaatnya. Dapat dimakan dalam keadaan basah dan kering, masih hijau maupun masak. Anggur adalah buah di antara buah-buahan yang lain, makanan pokok diantara makanan pokok yang lain, sebagai obat bila dibandingkan dengan obat-obatan yang lain, dan minuman apabila digabungkan dengan aneka minuman lainnya.”

Secara ilmiah Anggur juga terbukti berperan dalam berbagai pengobatan jantung, obat anti lelah dan anti virus, mengikis kanker, menangkal stroke, mencegah insomnia, mencegah kerusakan gigi dan gusi dlsb.

Secara ekonomi anggur berpotensi tinggi, meskipun diusahakan di pekarangan yang sempit sekalipun. Saya menyaksikan sendiri bagaimana di atap-atap rumah penduduk Gaza, mereka banyak menanam buah yang satu ini.

Selain rumah menjadi tambah asri, menurunkan suhu di musim panas – juga ikut meningkatkan kemampuan bertahan penduduk Gaza yang sudah di-blockade atau lebih miripnya dipenjarakan oleh Zionis Israel lebih dari lima tahun terakhir.

Di negeri muslim yang terdholimi secara luar biasa ini, saya menyaksikan atau lebih tepatnya belajar – bagaimana pertanian mereka hidup dengan kebun-kebun kurmanya, kebun zaitunnya dan juga anggur-anggurnya yang mudah dijumpai di sepanjang jalan sampai atap-atap rumah mereka tersebut di atas.

Pelajarannya bukan hanya sekedar bagaimana bertanam kurma, zaitun dan anggur – tetapi lebih dari itu adalah pelajaran untuk mensyukuri nikmatNya yang tidak terhingga. Bahwa di bumi yang gersang-pun barakah itu melimpah manakala penduduknya beriman dan bertaqwa.

Lihat dari tanah yang saya genggam dalam foto disamping, tidak nampak tanda-tanda kesuburan di tanah ini, dan ini berada di dalam penjara terbesar di dunia – yaitu negeri yang (berusaha) diisolir oleh Zionis melalui blockade-nya. Kok bisa menghasilkan produk pertanian khususnya buah-buahan secara cukup ?

 

Nampaknya bukan karena petani-petani mereka lebih pinter, karena ketika kami coba bertanya ke mereka tentang bagaimana membedakan pohon kurma jantan dan betina – hanya satu dari tiga petani yang bisa menjawabnya dengan baik.

Lantas apa pembedanya ? kemungkinan terbesarnya adalah ketakwaannyalah yang membedakan mereka. Seorang petani yang kami kunjungi tidak mengijinkan kami pulang sebelum kami memasuki rumahnya dan menikmati minuman yang disuguhkannya. Dia menuturkan bahwa hasil panenan mereka langsung turun manakala mereka lalai dalam membayar zakat.

Barangkali inilah yang harus banyak-banyak kita pahami dan sebar luaskan, bahwa bertani bukan hanya terkait dengan kesuburan lahan dan kepandaian kita bercocok tanam, bertani terkait langsung dengan keimanan dan ketakwaan.

Bila hanya Dia yang mampu melahirkan benih dari bijinya (QS 6:95), dan hanya Dia yang mampu menumbuhkan tanaman-tanaman ini (QS 56 : 63-64), lantas mengapa hakNya tidak kita berikan ?.

Maka sosialisasi dalam membayar zakat pertanian ini, mestinya tidak kalah pentingnya dengan berbagai program sosialisasi dan penyuluhan pertanian lainnya.

Zakat adalah cerminan keimanan dan ketakwaan, maka bila di Gaza yang padang pasir dan terkepung saja petaninya bisa makmur – mengapa tidak dengan kita yang hidup di tanah merdeka nan subur ?

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in AGAMA, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

7 Responses to BERTANI DI GAZA PALESTINA

  1. huda ndaan says:

    menang betul. zakat pertanian adalah pupuk alami yg sangat ampuh utk menunjang hasil pertanian saya. manakala saya enggan mengeluarkanya atau terlambat niscaya hasil panen berikutnya pasti menurun. semoga kita di beri pertolongan allah utk bisa dan sadar atas kewajiban tsb.

  2. avi says:

    Menurut pendapat sy bnyk sekali faktor dan sistem yg hrs diubah agar pertanian dan petani indonesia yg lahannya subur bisa makmur
    1.Tunaikan zakat hasil pertanian bila telah mencapai nisabnya,kalau ini sy rasa sebagian petani sadar akan kewajibannya
    2.Hindarilah sistem ijon pd pertanian kita,ini yg sering kita lalai dan dianggap sepele
    3.Hindari sistim rentenir dlm permodalan pertanian maupun usaha lainnya
    4.Jgn menjual habis hasil pertanian tp sisihkanlah sebagian utk persediaan kebutuhan sehari hari
    Dan msh bnyk lg

  3. Parwito says:

    Yang paling utama adalah mensyukuri apa yang kita peroleh, apapun bentuknya, berapapun jumlahnya. Lalu secara sadar akan kewajiban kita untuk memberikan sebagian harta kita kepada yang berhak menerima karena dalam harta kita ada hak-hak mereka (zakat). Kita harus menyadari bahwa apa yg dimakan tikus, dimakan burung adalah juga bagian dari mereka dan yakinlah apa yg dimakan oleh binatang tsb adalah juga bagian yang harus dikeluarkan meskipun kita juga harus berupaya untuk mengurangi dan menanggulanginya untuk meminimalisir. Petani harus menyisihkan hasil panen untuk kebutuhan sehari-hari (tidak diual semua) karena petani juga harus memakan hasil jerih payahnya sehingga akan valid bila ditanya rasa dari hasil panennya. Jangan sampai petani menikmati beras raskin karena ini akan bertolak belakang atau sangat memprihatinkan.

    Jangan mendholimi lahan, lahan juga perlu istirahat untuk jeda dan memberikan yang terbaik bagi pemiliknya.

    Terima kasih

  4. musaffak says:

    SEPERTI YANG DI SAMPAIKAN UJE : SETELAH MENERIMA (DARI ALLOH SWT) LALU NGASIH PADA MEREKA YANG BERHAQ DI KASIH, INI INTI TERIMAKSIH . INSYAALLOH BERKAH

  5. h.iwansutiawan says:

    Alhamdulillah….
    Akhirnya ada juga pembahasan tentang zakat..

    Terima kasih mas nurman..

    Sekedar sharing aja dari pengalaman saya..
    Sekitar 3 tahun lalu sya mulai bertani
    Walaupun ga pernah megang pacul cuma bermain d belakang pacul artinya nyuruh orang yang garap…
    Dengan hasil 5 ton perhektar waktu itu..
    Dengan serangan hama yang membabi buta terutama TIKUS hampir 4 petak sawah kena.
    Kemudian sy termotifasi oleh seorang ust yaitu yusuf mansur kemudian sy praktek lansung alhamdulillah sangat ada hasilnya sawah yang tetangga kena punya kita selamat..
    Apapun yang d janjikan ALLAH itu Benarr
    Mudah2 an apa yang kita targetkan 8ton,10 ton, 12 ton ataupun 17 ton dapat d raih..
    Apabila ALLAH berkehendat maka jadi..

    Terimakasih mas Nurman
    Pokoknya jaya lah Petani Indonesia

    Bravo OKSIGEN PERTANIAN

    • NURMANIHSAN says:

      Sama2 Pak Haji Iwan. Tks
      ya smg zakat pertanian yg kita keluarkan, menjadikan panen kita tiap tahun makin meningkat dan sehat. Dan pastinya menjadi berkah. amin

  6. Syahrir h.s says:

    Mas, apa disulsel bisa tumbuh dan berbuah lebat pohon anggur dan pohon zaitun tolong dijawab ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s