PANEN DI TIAP MUSIM TANAM

BEDA MUSIM TANAM, BEDA HASIL PANEN
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Pada suatu kesempatan, saya pernah membuat penjelasan mengenai tulisan panen 17 ton GKP/ha. Tulisan ini dibuat untuk menjelaskan tulisan sebelumnya: budidaya padi gaya anak muda dan budidaya padi gaya anak muda (2)

Sehingga, para pembaca mempunyai pemahaman yang utuh, bagaimana bisa didapat hasil panen sebesar itu.

Penjelasan Lanjutan

Mungkin yang terbayang di sebagian besar pembaca adalah panen tsb terjadi di tiap musim tanam.

Ternyata, hasil panen sebasar itu “hanya” bisa didapat di MT-3 saja. Benarkan demikian?

Bagaimana dengan dua musim tanam yang lainnya, panen  di MT-1 dan panen di MT-2 ?

Kok bisa begitu ya?

Ternyata, disinilah titik persoalannya !!!

Kalau kita perhatikan di MT-2 di 2013 ini saja, dari hasil pengamatan, info-info dari teman, kementar-komentar dari teman-teman di oksigen pertanian, hasil panenya terjadi penurunan. Bahkan ada yang hasil panennya melorot sampai diangka 30-40 %.

Alsannya bermacam-macam, ada yang kena hama penggerek batang (sundep dan beluk), wereng, tikus, potong leher, hawar daun, dll.

Seakan-akan hama dan penyakit di MT-2 ini bersatu. Kemudian menyerang sebagian besar sawah-sawah yang ada. Apalagi, bila sang petani “rajin” mengguyur sawahnya dengan pestisida,,,

Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah banyak beli racun pestisida, tapi panen berkurang.

Belum lagi, “keluhan-keluhan” yang keluar:

“hasil panen, bagusan di MT-1 daripada diMT-2 ini, mas nurman”

“hasil panen musim ini, benar-benar buat pusing kepala,,,”

“setelah padi mulai merunduk, ehh penyakit potong leher menyerang,,,”

“dst dst”

Tapi bagi petani yang rajin menggunakan bahan organik/POC/MOL terlihat lebih enjoy. Apalagi bila pupuk organik tsb buatan sendiri. Beban ongkos produksi tidak memberatkan kantong,,,

Pola Tanam dan Agroklimat

Bila dilihat secara garis besar, keadaan agroklimat suatu daerah akan berpengaruh pada pola tanam yang diterapkan para petani.

Dan ternyata, ini berpengaruh pada hasil tertinggi panen.

Di daerah dengan pola tanam 3 x

– padi padi padi seperti daerah Pak Sutopo, Mas Avi, dll, secara umum hasil panen

di MT-1 : normal
di Mt-2  : terjadi penurunan
di MT-3 : tinggi/ sangat tinggi
 
– padi padi palawija seperti daerah Kebumen, Grobogan dll, secara umum hasil panen
di MT-1 : normal/tinggi
di Mt-2  : normal/terjadi penurunan
di MT-3 : palawija
 
Di daerah dengan pola tanam 2 x- padi padi padi seperti daerah pesisir Cilacap seperti sawah Pak Yuri, dll, secara umum hasil panen
di MT-1 : normal/tinggi
di Mt-2  : normal
 

– padi padi seperti daerah pak Ali, daerah saya dll, secara umum hasil panen. Boleh dibilang tadah hujan, secara umum hasil panen

di MT-1 : normal
di Mt-2  : normal/terjadi penurunan

– Dan pola tanam dan agroklimat lainnya di tempat lain

Mungkin penjelasan di atas, dari segi hasil di tiap MT bisa dikomentari. Tapi dari penjelasan di atas, saya hanya ingin mengambil benang merahnya, bahwa hasil padi tertinggi akan di dapat di MT-3.

Penen Tertinggi

Dari berbagai tempat yang pernah panen di tiap musim tanam, akan kita jumpai hasil tertinggi akan di dapat di MT-3. Ini berlaku bila daerah tsb melakukan pola tanam padi padi padi.

Bagi Mas Avi sendiri, di MT-3 pernah mendapat 17 ton GKP/ha, tapi di MT-1 kemarin dapat 12,5 ton GKP/ha. Di MT-2 ini, saya belum tahu hasilnya.

Demikian juga dengan daerah Pak Sutopo, ada petani di dekat daerah saya yang airnya selalu ada,dll juga demikian.

Itu artinya, dengan pola tanam dan agroklimat yang pas maka akan didapat hasil panen tertinggi.

Panen di MT lainnya

Dengan demikian, bila para petani ingin mengharapkan hasil panen di MT-1 dan MT-2 sebesar 14-17 ton GKP/ha, itu berarti sangat berat, walaupun kemungkinan itu tetap ada.

Dengan penjelasan ini, sebaiknya kita para petani harus kembali melihat “peta target” di tiap-tiap MT. Sebab menyamaratakan “peta terget” di tiap musim tanam, menurut saya kurang pas.

Misalkan saja, petani yang saya sebut dalam tulisan jurus panen hasil tinggi yaitu pak salim. Maka pak salim harus merubah “peta target” tsb di tiap musim tanam. Misalkan saja, target :

di MT-1 : target 10-11 ton/ha
di Mt-2  : target 8-10 ton/ha
di MT-3 : target 13-15 ton/ha
 

Semoga penjelasan lanjutan ini dapat dipahami dan bisa bermanfaat bagi para pembaca semua. Amin

 
 

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

22 Responses to PANEN DI TIAP MUSIM TANAM

  1. Agus siswoyo says:

    Ketinggian lahan dr permukaan laut, mungkin jg berpengaruh mas nurman.
    Semisal, padi di daerahnya mas navi berbeda dg padi di daerah saya di purwodadi, grobogan, jawa tengah, dlm hal ketahanan trhadp hama/penyakit.
    Semisal benih ‘X’ di dataran A berbeda potensi ‘n ketahanannya jika ditanam di dataran B.
    Pemilihan benih brdasarkan ketinggian lahan dr permukaan laut jarang kita perhatikan. Yg paling diliat cm potensi hasil/anakan/tinggi/umur/dll.

  2. idin says:

    ass mas nurman,mas avi, dan bapak2 rekan pemerhati masalah pertanian.
    1. apakah penggunaan saponen utk membasmi keong mas pada pertanian organik diperbolehkan?
    dikarenakan sawah selalu tergenang air sehingga pembuatan parit disekeliling sawah pun tidak efektip.
    2. pada salah satu penjelasan mas avi perihal penginjakan setelah pemupukan,disebutkan ada pemupukan dan injak pada usia 21 hst sedang pada tulisan mas nurman tidak disebutkan mengenai hal tsb. mohon pecerahannya ya mas.
    3. apakah bisa dimungkinkan mas avi bekerja sama dgn mas nurman lewat blog ini membantu kami yg belum berpengalaman dalm pertanian organik dan kesulitan mencari isolat dll, dengan membantu menjual via blog ini spt poc dgn 32 isolat, agrobio, pestisida fungisida nabati dll.
    makasih mas, maaf bila kurang berkenan,wslm.

  3. avi says:

    yth bpk idin lokasi ada dimana?mohon maaf bukannya sy anti suatu produk dan fanatik suatu cara.Untuk penggunaan samponen dan herbisida dlm penyiangan ibarat makan buah simalakama,sy yakin jika kita mau mempelari dan memperbaiki pengalaman pasti ada jalan keluar.Kita tunggu saja hasil uji pengendalian keong secara mekanis yg sedang dicoba disubang dan karawang,mudah mudahan sukses seperti di biruen aceh

  4. avi says:

    @ mas nurman: hasil panen MT2 sy fluktuatif mas tp jelas turun 50% dan bahkan yg padi hitam varietas cempo ireng tidak bawa pulang sedikitpun tp alhamdulillah jeraminya bs buat bekal MT3.Ditiap titik lokasi sy dpt hasil yg berbeda beda ada yg 4,5 ton,5 ton,6,5 ton dan tertinggi 8 ton.Hasil evalusi disebabkan cuaca yg tidak mendukung,serangan burung emprit yg maha dahsyat akibat migrasi dr dataran bawah dan ledakan tungro,blast yg sudah jd endemik daerah sy

  5. suli says:

    Salam kenal Pak Agus….
    Ternyata dari purwodadi tho…..wuih pakar kedelai, ni urusan kedelai kita bisa berguru dari Pak agus ini….bisa kan pak.
    Oke oke aja urusan target, hanya seperti yang banyak di komentkan sesama teman semua itu tergantung agroklimat, lokasi,DPL dll…seperti daerah saya gombong,di MT2 khususnya petani harus memperhitungkan varietas padi (umur),jenis palawija di MT3 yang harus di tanam, kapan maksimal tanam palawija (memakai pranotomongso) seperti tidak bisa lebih dari tanggal 8 agustus >>>ilmu titen. lebih lebih jika yang ditanam berumur 80-90 hari (kedelai umur dalam), makanya di MT3 tidak bisa di targetkan berapa hasilnya, hanya hampir tidak mengeluarkan modal yang banyak.
    MT1 dan 2 bisa di target, biasanya MT2 menurun 15-20% dari MT1, MT3 sebagai imbuhan rezeki, jika bisa 2.4 ton/ha kedelai gepak kuning ya alhamdulilah,atau hitam bisa 3 ton/ha ya syukurlah. Daerah masing masing yang lain punya keunikan tersendiri itu merupakan pengkayaan pertanian sawah itu sendiri.

  6. zuna says:

    salam kenal dulur2.
    setuju, usulan pak idin yg no.3

  7. efendy manan says:

    Memang betul sekali mas nurman,banyak sekali faktor eksternal yang berpengaruh terhadap hasil panen.Tidak hanya bergantung pada jenis benih padi,pupuk,atau berpuluh2 mikroba.Inilah yang tidak disadari petani….terkadang fikiran kita terjebak hanya dalam pencapaian satuan angka kuantitas karena sebuah metode tertentu tanpa dibarengi pemahaman terhadap faktor-faktor eksternal dan kondisi lahan kita.

  8. Parwito says:

    Berdasar pengalaman kami memang hasil tertinggi di MT3 karena disamping lahan /tanah semakin subur juga karena lebih sedikit gangguan yang datang. Ada pengalaman dari teman kami di Ngawi yang memperlakukan tanaman, tikus dan seluruh ekosistem yang ada untuk diajak dialog /bicara karena pada dasarnya mereka adalah makhluk hidup sehingga ada ikatan batin dengan “penunggu sawah” dan jangan sekali-kali kita mengeluh atau menghakimi sawah yang tidak produktif atau yang lainnya karena kata adalah doa dan akan menjadi kenyataan. Jadi selain usaha mekanis yang kita lakukan juga usaha spiritual dalam arti mengajak dialog dengan seluruh penghuni yang ada di sawah.

    Terima kasih

  9. Agus siswoyo says:

    Wah saya cm anak petani kecil mas suli.
    Mslh padi aja blom pernah pegang sendiri, bisanya cm bantu orang tua, nurut ilmunya orang tua yg kuno ‘n gak mau maju seperti pemikiran pakar” pertanian di oksigen pertanian.
    Mslh kedelai di sini malah blom pernah tanam mas, lbh milih kacang ijo..
    Kacang ijo aja dr dulu petani” di sini pada ndak tau jenis varietas benihnya, taunya cm besar/kecil atau kusam/beningnya…
    Informasi dr MT-1 ke MT-2 ini di purwodadi gak mengalami penurunan. Rata” harga/hasil sama dg MT-1 dulu yaitu 3,5 – 4 jt per 1/4 bau, ket: 10 hari lg panen MT-2.
    Pada bingung disini mas, mau tanam kacang ijo tp udah msuk bulan 8 yg biasanya bnyak hama nantinya, ditambah mundur lg krn tanak msh becek berair. Rencana mau ditebar benihnya mas nanti biar gk trll mundur waktu tanamnya.
    Ada penawaran benih kacang ijo berlabel varietas vima-1, itu jg baru kali ini ada benih berlabel masuk purwodadi.
    Mungkin diantara teman” ada yg punya benih kacang ijo berlabel resmi dr litbang atau benih lokal yg tonasenya gede plus tahan pecah wktu panen atau kelebihan lainnya, saya boleh minta/beli pas kopi darat ntar, mohon ikut dibawa yg punya, hehehe

  10. suli says:

    Pak Agus….
    Jangan merendah diri, namun itulah karakter bima, tokoh pendawa lima…yang memakai ‘gelung minangkara cinandi rengga’, rendah depan duwur mburi (tinggi belakang) artinya manusia yang selalu merendah, namun di belakang……tebak sendiri.
    Baguslah tinggal 10 hari lagi panen,udah kacang ijo aja, tidak usah bingung sebar aja…beres. udah pakai aja vima 1. ya yang kusam lebih bagus, di biarkan aja, sehat. malah kalau di semprot macam macam nga panen, kalau patokan di tempatku, sebenarnya yang masuk bulan 8 itu menanamnya, jika di paksakan kecuali masuk mangsa KARO( palawija harusnya sudah tumbuh) juga udah musimnya ulat menetas* (biji baru tumbuh tidak kuat di makan ulat) dan panen nanti keburu hujan/lagi mengisi biji keburu hujan.
    Maaf pak ihsan loncat ke palawija, masalahe menjelang pra palawija sih….
    *dalam pranatamangsa ,sudah menjadi pakem bahwa telur telur ulat yang tadi dorman, menetas di bulan agustus.

  11. suli says:

    Penyuka pertanian ….
    Silakan buka hal pranatamangsa, bukan berarti suatu aturan yang baku, namun sebagai pertimbangan karena ada hubungannya dengan rasi bintang/penanda musim/arah angin,keberadaan air, tanah, kapan serangga bertelur, dll…adakalanya kita tidak lepas dari hal hal semacam ini. terima kasih.

  12. cantrik says:

    Mungkin terkesan kolot dan klenik, tapi uraian pak Parwito juga beberapa kali saya dengar dari petani petani tua di tempat saya.
    Karena paling awal keluar malai, sawah saya jadi tempat berkumpulnya walang sangit dan tikus. Nyemprot pesnab sampai bosan, tapi walang sangit jatuh satu tumbuh seribu, dan burung ayam ayaman serta tikus tetap nyaman bertelur dan beranak. hampir menyerah dan terbersit memakai pestisida kimia, menjadikan makhluk lain layaknya musuh yg harus dibasmi.

    • cantrik says:

      Racun tikus dan racun untuk walang sangit sudah saya siapkan, semuanya kimia.
      Di tanggul menuju sawah berjumpa dengan petani tua. Saya ceritakan niatan saya membunuh tikus dan walang sangit. Pak tua berkata ” mereka juga makhluk, butuh makan dan tempat tinggal. Nanti sampai sawah, “bicaralah” kepada walang sangit dan tikus, biarlah mereka mencicipi padi kita. Bukan kah padimu bukan mutlak milikmu?”.

    • suli says:

      Pak Ali….padahal ayam ayaman aku rindu lho….suaranya, kalau mau nyintip yang bikin gemes ekor sang jantan….nakal sekali…beberapa hari telurnya bisa di curi dari sarangnya, yang di nanti ya dagingnya…di goreng. di indramayu pesisiran saya pernah makan ayam anyaman goreng seporsi isi dua, 50 rb.
      La den baguse….pesan saya, jangan sekali kali sangat kesal sekali sewaktu di sawah, apalagi ngrasani mau membunuh semua, sabar, jangan di racuni phospit, gropyokan boleh gotong royong, jika sudah siang dan capek tinggal makan ‘tumpeng bosok’ bersama sama.

      • cantrik says:

        iya pak, ayam ayaman dan gemak liar emang maknyuss. kalau ingat saya ngajak ngomong tikus kayak orang gila.. Kekuasaan Alloh SWT seringkali tidak tercerna akal. bebeapa tahun yg lalu, sawah 7 Ha ludes sehari setelah pemilik sawah membunuh dan menyumpah serapah tikus yang merusak bebrapa rumpun padinya.

  13. Agus siswoyo says:

    mas suli: ini malah saya udah tanem di kebun belakang rumah di sela” taneman terong yg baru tumbuh, umur kacang ijonya 4 hss dihitung dr 17 juni kmren;
    Yaitu kacang ijo yg batang/cabangnya brwrna ungu dan punya ‘lugut’/bulu bnyak di batang/rantingnya. Mslh wrna daun saya ndak tau ntar jd hijau ato ikut ungu, hehe…
    Katanya orang” tua dulu, yg berkarakter demikian itu nanti produktivitasnya di luar perkiraan alias melebihi tarjet…itu benih hasil mengumpulkan sndiri…
    Mohon do’anya smoga sesuai target ‘n bisa mmperbaharui benih” yg dipakai temen” petani sekitar sini.

    • suli says:

      Oke, bagus kembangkan terus.Oia bisa di teruskan ke bagian palawijaan….nga enak sama yang lain.terima kasih

  14. idin says:

    terima kasih mas avi, semoga hasil penelitiannya cepat terwujud dan diapliasikan. saya dari karawang mas, hatur nuhun, wslm

  15. Parwito says:

    Saya setuju mas Cantrik dengan nasihat Pak Tua di atas, maksud saya juga demikian. Mengajak dialog dengan padi agar dapat mengahsilkan yang terbaik dan kita juga sebaliknya akan memberikan gizi dan perawatan yang terbaik, mengajak dialog dengan tikus bahwa kamu (tikus) boleh makan tapi tidak banyak-banyak karena ada pak tani yang bersusah payah dan saya berjanji untuk tidak membunuh tikus, Insya Allah mereka tahu yang kita sampaikan. IMenurut saya ini bukan klenik dan ini adalah sebagai bentuk ikatan batin dengan ekosistem yang ada di sawah. Semoga

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s