PETANI LOKAL

BELAJAR DARI PETANI LOKAL 
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Di Indonesia, masih ada beberapa contoh yang masyarakatnya masih melestarikan tradisi penanaman padi lokal. Dan biasanya,  meraka melakukan secara organik.  Kita bisa ambil contoh Masyakarat Baduy di Banten, Masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya – Jabar, dll.

Ternyata, dari berbagai tradisi yang mereka dalam menanam  padi, ada banyak point yang bisa kita pelajari . Salah satunya adalah cara mereka dalam melakukan proses mencari benih unggul.

Ternyata, dari cara mereka melakukan proses tsb,  kita bisa jadikan salah satu panduan dalam budidaya padi.

Sebuah Pelajaran

Salah satu pelajaran tsb adalah ketika para petani lokal tsb akan panen, apa yang mereka lakukan?

Mereka  ( ibu-ibu tani) akan panen melakaukan panen perdana/pendahuluan. Panen pendahuluan tsb adalah memilih malai-malai padi untuk dijadikan benih pada musim berikutnya. Para ibu-ibu tani tsb akan memiilih malai-malai padi yang punya kriteria gabah yang mengkilap, berisi dan bening.

Menurut saya, sebaiknya selain kriteria di atas ( mengkilap, bernas dan bening), yang bisa kita dilakukan dan perhatikan adalah mencari malai-malai padi yang baik. Baik disini, bisa dilihat dari tanaman yang seragam (tidak panjang pendek), batang jerami yang kokoh, panjang malai, kebernasan malai, daun bendera, stang malai, dll.

Mereka akan mengambil  malai-malai tsb, sebanyak kebutuhan lahan sawah yang akan mereka  garap pada musim berikutnya.  Ya, mereka ambil hanya malai-malainya. Kemudian mereka jemur. Dijemur berikut malainya juga. Kemudian beri tanda khusus, agar tidak tercampur dari malai-malai gabah yang lain.

Apa selanjutnya ?

Setelah malai-malai padi kering, ada kiat khusus yang harus mereka lakukan? Dan ini yang saya sebutkan di atas.

Apa itu? Mereka akan memilih  gabah-gabah buat  benih, yang berada di  ujung malai sampai tengah malai saja. Mereka gunakan batok tempurung untuk memisahkan bulir-bulir padi padi tsb.

Mereka (para petani lokal) mengetahui, bahwa bulir-bulir yang berada dari ujung – tengah malai adalah benih-benih terbaik. Saya pribadi setuju sekali dengan cara mereka ini,,,

Dari kiat inilah kita bisa belajar, sahabat-sahabat Oksigen Pertanian ( saya singkat Oksi-P) !!!

“ Ambil benih-benih buat sawah kita dari ujung malai – tengah malai “

Tapi, menurut saya pribadi : 60-70 % malai padi dari ujung malai masih merupakan benih-benih terbaik.

Mengapa demikian ?

Pertama, sebab biji-biji malai yang berada di antara ujung malai sampai di tengah merupakan bulir-bulir yang terlebih dahulu keluar dari malai.

Kedua, biasanya, bulir-bulir padi tsb lebih bernas.

Ketiga, bulir-bulit tsb, biasanya jauh lebih besar.

Keempat, dll

Apakah ada lagi?

Bila mereka akan menyebar benih, setelah itu, mereka menyiapkan ember dan air. Mereka juga akan menyiapkan abu bakar yang masih panas. Kemudian, abu yang masih panas tsb dimasukan kedalam ember yang  berisi air.

Proses selanjutnya, mereka aduk sampai dingin. Setelah itu, air yang berisi abu, mereka saring/peras airnya. Nah, air inilah yang mereka jadikan untuk merendam benih-benih padi tsb.

Nah, Sekali lagi, kita bisa belajar bertani dari mereka.

Terima kasih buat para petani lokal. Dari salah satu bagian dari cara budidaya yang mereka lakukan, kami bisa belajar. Salam Pertanian.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in BENIH PADI, BUDIDAYA PADI. Bookmark the permalink.

24 Responses to PETANI LOKAL

  1. Parwito says:

    Saya sependapat dengan mereka yang dengan gigih mempertahankan kearifan lokalnya baik dalam melakukan budidaya padi, sosial kemasyarakatan dan budaya mereka sampai hari ini masih bertahan di tengah tergerusnya jaman. Kebetulan saya pernah tinggal di Badui beberapa hari di sana dan kurang lebih 1 bulan tinggal di Badui luar pada tahun 1993. Bersyukur saya dapt melihat secara langsung kehidupan mereka.

    Petani lokal akan sangat setia dengan keyakinan mereka dan selalu melakukan ritual-ritual tertentu baik sebelum bertanam (Tedun di Bojonegoro) atau Wiwitan (sebelum panen) dan mereka selalu memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada di sekitarnya, baik benih dan juga pupuknya. Kegiatan ritual baik sebelum atau menjelang panen semua dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atau pengharapan agar panen berhasil dan tidak ada gangguan selama masa penanaman. Hal ini yang akan semakin memperkaya khasanah budaya negeri ini karena hampir di seluruh pelosok nusantara memiliki keunikan sendiri-sendiri.

    Terima kasih

  2. suli says:

    Pak Ihsan….
    Salah satu kearifan petani lokal, tidak lepas dari keberadaan leuit (lumbung padi), coba tengok konstruksinya khususnya baduy dalam ( cikeusik ) agar tidak di masuki tikus, sebuah mahakarya Yang Agung, terus fungsinya sekaligus menjadi bank benih juga, mereka makan dari padi padi yang paling lama panen, jadi nasinya mekar sekali, padi dalam, malai panjang, bulat dan berekor

    Petani kita ??? Lumbung ??? masih adakah?? cobalah simpan dulu barang sejenak, menunggu harga stabil, apakah banyak sudah berhutang dengan kios, apakah sudah di tebas sewaktu padi menguning merunduk ??? maaf agak lugas bahasanya….

  3. dedi says:

    maaf pak,fungsi direndam dengan air abu itu apa ya?saya lagi belajar menanam padi organik.alhamdulillah baru semi organik tanpa pestisida kimia,terima kasih

    • NURMANIHSAN says:

      Setahu saya abu sekam tsb mengandung Kalium dan silikat (Si),dll
      Nah, fungsi Si inilah yang menonjol dalam abu (air abu)
      Salah satu fungsi silikat ini adalah memperkuat jaringan tanaman sehingga tanaman lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
      Unsur Si juga dapat mengurangi cekaman suhu, air, kekeringan, dll. tks

  4. Tono says:

    Maaf p.ihsan. Menurut saya, jika dilihat dari lahannya, petani itu ada 2 kriteria. Petani sawah pribadi dan petani sawah sewa. Kalo perangkat desa menurut saya masuk kriteria pertama. Kalo kriteria pertama, saya yakin mereka masih menyisakan panenannya dirumah entah besar ato sedikit, untuk persiapan pangan sampai musim panen depan. Kalo petani kriteria 2, ada 2 alternatif.. Tunda jual bagi yg modal besar, dan dijual semua bagi yg modal pas2an. Bukannya selalu petani utang pupuk dikios, melainkan menyesuaikan situasi &kondisi. Bagi petani kriteria 1, mereka masih punya rasa ingin belajar dan terus belajar, agar tanah dan hasil panennya membaik. Bahkan pengolahan lahanpun dibuat sedemikian rupa, agar mendekati sempurna. Semua ini berbanding terbalik dgn petani kriteria 2.
    Saya pernah bertanya pd teman petani. “pak, memberi kompos / petro organik di sawah itu baik ndak?”
    beliau jawab, “bagus mas, kedepannya bisa mengurangi pupuk kimia.”
    saya tanya lgi, “mengapa sawah bpk tdk diberi kompos / petro organik?” beliau jawab, “sawah sewaan mas, pembenahan tanah butuh biaya tambahan, entar terlanjur mengeluarkan biaya ekstra, kalo sawahnya diminta yg punya kan jdi rugi.”
    Pembenahan tanah aja sulit, apalagi lumbung padi.

  5. cantrik says:

    Mas Suli ini selalu bernas.. udah sulit nyari yanh begitu mas.. tadi aja saya nungguin mbah sutar lama bener milih milih malai di petak orang tua saya. malai malai seleksi itu rencananya mau disimpan sama mbah sutar.

  6. Wah seru nih.. Kalau saya saya sendiri ngga tahu masuk kategori mana ,,lokal,nasional atau malah internasional…. He 3x..🙂 ,kalau menurut saya ada beberapa tipe petani
    Pertama” Petani yang bertani hanya untuk makan keluarga sendiri
    Kalau petani lokal saya fikir masuk golongan pertama dan biasanya mereka memang susah menerima perubahan,Ada sisi positif dan negatif mnurut saya dari cara mereka bertani. Kelemahannya adalah mereka akan tertinggal dari petani lain yang mau menerima perubahan/mau belajar lebih maju cara bertaninya,sisi positifnya tentu saja cara bertani mereka sangat ramah lingkungan.

    Kedua” Petani yang bertani dengan tujuan usaha /bisnis.
    Biasanya petani golongan ini akan mengejar tonase sebagai tuntutan usaha yang sukses,Kenapa….??? “karena mereka berfikir bertani untuk bisnis bukan sekedar makan dan mereka akan menggunakan segala cara dan ilmu agar produksinya bisa maksimal.Nah saya termasuk petani yang kedua Bagaimana dengan anda…???🙂 Untuk menghasilkan produktifitas yang tinggi kita perlu mlihat segala sesuatu dengan ekonomis,karena tidak semua cara yang bagus itu ekonomis dan tentu perlu di pertimbangkan kepraktisannya karena tidak semua metode /cara bertani kalau dikerjakan akan menguntungkan dan menghasilkan maksimal.Sesuaikan segala sesuatu sesuai dengan kadaan sawah yang akan kita garap.Sebenarnya segala sesuatu itu sudah Pada jalannya itulah dunia “ada yang baik ada yang jelek,Tapi kita ngga perlu menghakimi yang jelek karena mereka juga bagian dari sebuah proses.tq

  7. irwan says:

    assalamu’alaikum
    perkenalkan saya irwan rumah saya kediri, saya baru belajar bertani dan sering baca2 di web ini.
    kemarin saya baca tentang varietas padi inpari 19, saya ingin menanamnya, cuman saya bingung dimana nyari benihnya, mohon di bantu pak Nurman, Pak Efendi, Pak Suli, Pak Cantrik dan semua..
    nomor hp saya 085649254123.
    terimakasih.
    wassalamu’alaikum

    • cantrik says:

      Wa’ alaikumussalam.. selamat bergabung pak Irwan. Maaf pak Ihsan agak melenceng dari topik.
      Pak Irwan, sebenarnya kuota permintaan benih, tepatnya gabah sudah saya batas di 1 ton. Dengan alasan yang mungkin lebih bersifat pribadi. yaitu:
      1. sebagai petani pemula, saya bukan penangkar, atau setidaknya dianggap mampu untuk menyediakan benih yang berkualitas, dan layak dipercaya keasliannya. Ini kritikan yang berkali kali saya tangkap, dan kritikan teesebut memang sesuai kemampuan, kredibilitas saya yg notabene baru dua kali tanam padi.
      2. Perlu difahami bahwa potensi inpari 19 sebanding dengan tingkat kesulitan budidayanya. diantaranya yang saya dan rekan tani yang menanam inpari 19 disini adalah:
      a. Diperlukan lahan yang subur agar pengisian bulir maksimal.
      b. rawan rebah jika air tidak bisa dibuang.
      c. walang sangit sangat suka berkunpul di petak inp 19, meskipun keluar malai bersamaan dengan varietas lain.

      • Setuju gan,,,,mungkin saya tambahkan sedikit di sini,…
        Pertama : perlu di perhatikan umur tanam benih…usahakan di bawah 20 hss udah tanam bagus lagi kalau bisa di bawah 10 hss.
        Kedua :Kalau sebelah sawah anda tanam varietes lain seperti ciherang sebaiknya inp 19 di tanam mundur 1 minggu atau 10 hari sesudah yang lainnya tanam,hal ini menurut sya penting karena inp 19 lebih genjah.
        Ketiga : Aplikasi pupuk organik, bisa organik yang di pasaran,,bisa juga kompos /bokashi.lebih bagus lagi kalau di tambahkan mikroba.. 🙂
        Ke empat : sesuikan jarak tanam dengan umur benih,,.

        saya tanam inp 19 dengan metode masih biasa ( tanpa organik ) penggunaan pupuk npk sesuai standar ,tanaman di pindah umur 20 hst karena gangguan keong mas,saat ini tengah mulai merunduk bulir 250-350.. maklum tanaman ngga normal .satu dua batang ada yang terkena beluk/sundep.,daun lebar .kalau walang sangit kayaknya semua padi sekarang ngga ada yang luput dari walang sangit.

  8. suli says:

    Wah…di mana Pak Efendy…komentnya…pak haji iwan dari pedes.
    Pak Ali…itulah pak sutar beliau lebih bernas,mas yuri lebih berbobot, saya petani bawang kotong, tidak masuk kelas, dalam sebuah permainan/dolanan tidak di masukin dalam grup, hanya sebagai imbuh ibarat beli kacang goreng sangrai sewaktu nonton wayang wayang kulit dalang gino banyumas, di imbuhi barang dua tiga butir, sudah senangnya tidak karuan, ha ha ha…..ibarat tokoh durmogati, tokoh tidak penting perannya hanya sebagai pelengkap saja.

    Namun tanpa durmogati, dalang siapapun tidak laku, dan penonton akan mempertanyakan jika tidak ada bersama dursasono,citrakso,citraksi dan kartomarmo….lumbung padi adalah penting agar petani berbobot dan kokoh, agar bisa memperpanjang usia (bukan cuma istri ayu seperti sinden sunyahni dan punya sawah) jika harga membaik akan di lepas, itupun jika tengkulak mau membayar di muka, kalau di utang … maaf silakan pergi, masih banyak tengkulak yang lain. dari penjualan bisa untuk persiapan usaha tani berikutnya, tenaga kerja,pupuk,PBB,iuran pengairan/irigasi,iuran gropyokan tikus, bersih desa nanggap wayang kulit jika ada sisa untuk bisa di tabung dalam bentuk ternak.

  9. Herry Kartika says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Ikut urun rembug Pak Ihsan, setelah beberapa lama mengikuti tulisan-tulisan di oksigen pertanian, sedikit demi sedikit saya mulai menerapkan ilmu dari para pakar pertanian disini terhadap lahan pertanian saya.
    Selama beberapa MT yang sudah saya lalui, bisa disimpulkan beberapa hal:
    1. Pentingnya bahan organik.
    Pengembalian jerami padi, Penambahan kompos dan mol/MO yang lain sebelum pembajakan, semakin lama akan semakin terlihat hasilnya. jadi bukan sesuatu yang instan. Panen saya di musim ini (MT-2) memang hanya +-6 ton/Ha (var. pepe & mekongga ), tetapi dengan catatan terserang penyakit/hama dengan wajar (tanpa disemprot pestisida kimia) dan tambahan pupuk kimia hanya 300 Kg/Ha (phonska). terpaut jauh dengan kiri kanan saya yang banyak terserang blast leher/HDB dan sundep/beluk sampai 50%, padahal sudah banyak mengeluarkan biaya untuk penyemprotan berbagai macam pestisida dan fungisida juga pupuk kimia mencapai 1Ton/Ha (phonska & urea).
    2. Pentingnya sistem tanam yang baik.
    Dengan sistem tanam jajar legowo memang dihasilkan malai-malai padi yang berisi dan terlihat bernas terutama di kiri-kanan “legowo”nya, tentu saja itu bisa dijadikan BENIH untuk MT berikutnya. (saya sendiri lebih sering memakai jajar legowo 5:1 tanpa sisipan di MT-1 dan MT-2, dengan sisipan di MT-3, jarak tanam 20×20).
    3. Pentingnya memahami musim.
    Saya pernah menanam Inpari Sidenuk di MT-1 dengan harapan mendapat hasil tinggi seperti musim sebelumnya (MT3 : 12 Ton/Ha), akan tetapi ketika panen tinggal 2 minggu lagi hujan angin yang tidak seberapa kencang sudah cukup untuk merobohkan seluruh tanaman. Jadi untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi di atas 10 ton/Ha tidak bisa dilakukan di semua musim tanam, diperlukan penyesuaian berbagai varietas padi di setiap musimnya dengan hasil yang maksimal untuk tiap musim pula. sehingga sekarang saya pribadi lebih menyukai menanam Inpari 1/4/10 di MT-1, Mekongga/pepe/sintanur di MT-2, Ciherang/Inpari Sidenuk di MT-3. (sesuai dengan pengalaman di tempat saya).
    4. Pentingnya bersikap bijak saat panen.
    Ada petani yang ingin menjual padinya dengan sistem tebas, ada lagi yang ingin dibawa pulang untuk dijual secara berkala sesuai kebutuhan, ada juga yang menyimpan semuanya karena hasilnya sangat bagus untuk dijual saat harga tinggi dan lainya, apapun itu ketika kita sudah memutuskan salah satu pilihan, jangan pernah menyesalinya. karena menjadi pelajaran berharga untuk musim-musim berikutnya.
    Itulah secuil pengalaman sebagai petani yang mencoba untuk berubah, walaupun masih belum optimal. saya yakin dengan bertambahnya waktu, wawasan dan pengalaman terutama dari oksigen pertanian ini akan membuat proses perkembangan selanjutnya lebih mudah, Semoga Allah SWT memberkati bapak-bapak semua yang tidak “eman” membagi ilmunya. Amin.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    • NURMANIHSAN says:

      Wa’alaikum Salam Wr. Wb.
      Trima kasih atas info, saran, masukkannya dll buat para pembaca lain Pak Herry.
      Terima kasih telah berbagi kepada para pembaca, semoga ALLAH SWT membalas kebaikkan bapak.
      Oh ya, Di mana Pak Herry tinggal? tks

  10. Tono says:

    Asyik… Kita : bangsa yg majemuk. Indonesia ada, karna ada perbedaan, sama dgn kita(petani), perbedaan ini mari kita buat pembelajaran untuk saling mengisi dan tambal sulam untuk kita semua. Terutama saya yg banyak kekurangan.. Mohon pembelajaran dari semuanya. Salam kenal.. Tuk semuanya, dan tk lupa, “SALAM TANI.” DAN MAJULAH PETANI INDONESIA! Amiin

  11. Herry Kartika says:

    Maaf kemarin belum menyebutkan alamat Pak Ihsan. Saya tinggal di Sragen, pernah menanyakan ke bapak perihal tanaman alfafaa untuk anak yang alergi protein hewani.
    Sebagai tambahan informasi, untuk tepung gasol (kedelai, pisang, beras merah, kacang hijau dll) seperti yang bapak sarankan telah kami berikan semenjak usia 6 bulan setelah ASI eksklusif sebagai PMT. akan tetapi sekarang setelah usia 1 tahun, ASI sudah sangat berkurang, kami pikir perlu memberikan makanan yang bertekstur lebih kasar dengan kandungan gizi yang sesuai untuk usianya.
    Dari berbagai sumber, unsur calcium dan protein paling banyak terdapat dalam produk susu dan turunannya, telur serta bermacam daging, padahal si anak alergi. sehingga untuk sementara kami memberikan secara bervariasi produk dari serealia dan kacang-kacangan untuk kebutuhan proteinnya dan brokoli (salah satu tanaman yang bernutrisi baik) untuk asupan calciumnya. itu juga dari berbagai info yang kami dapat.
    Maka, ketika kami membaca artikel bapak tentang alfafaa, yang memang jarang kami dapatkan. sungguh luar biasa tanaman tersebut. kami pikir, bagaimana jika langsung dikonsumsi oleh manusia dengan cara dimakan mentah (di blender) atau dibuat berbagai macam makanan? sayang, untuk mendapatkan tanaman atau kecambahnya(taoge) tidak mudah.
    sekali lagi mohon maaf apabila melenceng dari topik Pak Ihsan he..he.. maklum kami sangat membutuhkan informasi tentang berbagai macam tanaman yang bernutrisi tinggi (kata Pak Ihsan “nutricious plants”), agar generasi kita menjadi manusia yang lebih baik.
    Sekian, kami mohon saran dari semuanya. Terima kasih

  12. Tono says:

    Siang p.tani semuanya. saya mengubah Semprotan swan/solo tanki plastik menjadi semprotan elektrik. Biayanya murah. Harga Alatnya dit4 saya 25rb + accu basah 5A Harga 95rb jadi total biaya cuma 120rb. Kalo lum ada uang tuk beli accu, bisa pake accu sepeda motor. Setrumnya habis, tinggal pasang lagi ke sepeda motor, ato beli adaptor seharga 15rb. Awet lo. Daya pancarnya bisa 2 s/d 5 meter tergantung amper accu dan lubang selang. Ada yg mau coba buat? Mudah2an bermanfaat.

  13. Tono says:

    Siang p.tani semuanya. Maaf mlenceng dri topik. saya mengubah Semprotan swan/solo tanki plastik menjadi semprotan elektrik. Kalo ndak ada tangki bisa diganti jerigen 20 ltr. Kalo dah punya tangki plastik, Biayanya murah. Harga Alatnya dit4 saya 25rb + accu basah 5A Harga 95rb jadi total biaya cuma 120rb. Kalo lum ada uang tuk beli accu, bisa pake accu sepeda motor. Setrumnya habis, tinggal pasang lagi ke sepeda motor, ato beli adaptor seharga 15rb. Awet lo. Daya pancarnya bisa 2 s/d 5 meter tergantung amper accu dan lubang selang. Lebih murah dibanding beli instan yg harganya berkisar 750rb s/d 900rb. Ada yg mau coba buat?
    Mudah2an bermanfaat.

  14. Agus siswoyo says:

    Alat yg 25 ribu itu mohon diterangkan…
    Bwt memancarkan ato mngkin dinamo ato apalah, alatnya apa ya…
    Yg jelas mas…jgn ngambang…maap.

  15. Tono says:

    Maaf lupa. Namanya motor washer. Bisa dibeli di toko onderdil mobil. Beli yg 12 volt. Kalo mau buat, biar jelas, bisa tlpn / sms di 085853612181 .

  16. avi says:

    wah lama sy g sempat nongol maklum sibuk tandur,ikutan nyundul aja gan😀

  17. Tono says:

    Maaf p.NURMAN. Mo kirim foto semprotan elektrik diblog ini, hpku ndak mampu. Jdi foto cara rakitnya bisa dilihat di fb saya. Trims.

  18. Agus siswoyo says:

    Fb jenengan SUPAR TONO ya ?
    Maap kalo salah. Diupdate dg alamat email biar gk salah orang.
    Yg di fb kan gak jelas diagram alur skemanya. Mohon di-share di sini scr terperinci sbg tmbahan referensi bwt teman” smua, smoga jd ilmu yg barokah.

  19. Tono says:

    pak aqrom, sudah lihat kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s