HIDUP PETANI

HIDUP PETANI MAKIN BERAT
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Berapa rata-rata kepemilikan lahan sawah petani kita?

Menurut Menteri Pertanian Bapak  Suswono, pada tahun 2013, luas kepemilikan lahan sawah petani kita sekitar 0,3 ha per kepala keluarga.

Tapi menurut saya, luas kepemilikan lahan sawah petani kita, masih bisa kurang dari angka tsb. Bisa jadi dengan hilangnya lahan-lahan sawah tiap tahun. Belum lagi, sekarang banyak petani yang hanya menggarap sawah milik orang lain. Banyak yang hanya jadi buruh tani. Dan juga, banyak sawah-sawah di desa yang sudah dibeli “orang kota”, dll.

Dari itu semua, bisa jadi, rata-rata luas kepemilikan sawah garapan petani kita hanya tinggal 0,25 – 0,3 bahu. Atau tinggal 1.700 m2 – 2.000 m2 per kepala keluarga.

Dari luas sawah yang kecil tsb, apa yang bisa diharapkan dari usahaa taninya. Apalagi sejak petani Indonesia mengenal pupuk kimia dan pestisida. Sejak era tsb, hasil panen padi petani kita, secara umun dari tahun ke tahun cendrung mengalami penurunan.

Ada tulisan menarik, yang bisa kita jadikan pelajaran bersama, agar kita bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah tsb. Tulisan tsb saya ambil dari bisnis keuangan kompas.

Bertani, bagi Daldiri (67), kini tak ubahnya bak perjudian. Bekal ilmu bercocok tanam ataupun strategi menaksir cuaca tak bisa lagi diandalkan. Cuaca ekstrem dan merebaknya hama membuat bulir-bulir padi di sawah petani hampa. Di tengah harga gabah yang tak berpihak kepada petani, ia merasa dimiskinkan.…

” Saya sampai tak bangga lagi kalau ada yang menyebut saya ini Pak Tani. Beda dengan 30-an tahun lalu saat banyak orang naik haji dari hasil bertani. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya lebih sering utang kepada tengkulak,” tutur petani di Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Saat ditemui, Daldiri sedang menanam benih padi di sawah seluas setengah bau atau 3.548 meter persegi (m) miliknya (1 bau sama dengan 7.096 meter persegi atau sekitar 0,7 hektar).

Masalah harus utang agar bisa menanam rupanya makin banyak dialami kaum tani. Dono (65), petani di Dusun Mojorejo, Laban, Sukoharjo, Jateng, misalnya. ”Ini ikhtiar kami sebagai petani, tetap bertanam. Coba-coba siapa tahu nasib baik meski harus berutang. Utang saya masih tersisa Rp 1 juta dan belum bisa saya lunasi sampai sekarang,” kata Dono yang baru saja menyemprot tanaman padinya dengan pestisida.

Sebelum pulang, ia sempatkan juga mencari rumput untuk pakan sapinya. Meski sudah tiga kali gagal panen, Dono tak kapok kembali menanam padi. Bertani terpaksa dijalani meski terpaksa berutang untuk membeli pupuk serta ongkos tanam dan membajak.

Dono mengaku dapat pinjaman dari seseorang. Dari jumlah utang Rp 1 juta, ia harus mencicil Rp 100.000 per bulan selama 12 kali. Selama tidak ada pemasukan karena padinya gagal panen akibat serangan wereng, serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput, Dono bekerja serabutan untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, seperti menjadi buruh bangunan. Upah Rp 25.000 per hari digunakan untuk makan Rp 15.000 dan disimpan untuk membayar cicilan Rp 10.000.

Dono bercerita, sekarang ini biaya garap untuk satu musim tanam mencapai Rp 2 juta untuk satu patok lahan seluas 5.500 meter. Jika panen bagus, petani bisa memperoleh Rp 10 juta-Rp 12 juta.

Sukimin, petani di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, mengakui, bertanam padi dalam kondisi saat ini rentan terhadap serangan wereng coklat serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Itu sebabnya bertani mirip orang berjudi.

”Niki separone kados wong lotere. Wong tani wis mblenger (Setengahnya kami ini seperti berjudi. Petani sudah muak) karena gagal terus. Rata-rata petani pasti punya utang untuk modal tanam,” kata Sukimin.

Itu sebabnya tak semua petani masih bersemangat seperti Dono. Ada yang menyerah, membiarkan sawah terbengkalai karena kehabisan modal, sebagaimana dialami petani Dusun Menggungan, Desa Telukan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Para petani di sana memilih menjadi buruh tani, buruh bangunan, atau mencari buah-buahan dari kampung dan dijual lagi ke pasar.

Kesulitan hidup yang dihadapi Daldiri mirip dengan Dono dan Sukimin. Saat waktu ashar tiba, Daldiri menepi ke pematang sawah dan mereguk teh pahit yang dibawa Mufaridah (6), cucunya.

Lebih dari 40 tahun, Daldiri bercucur keringat di sawah. Ayah lima anak dan kakek tujuh cucu itu dulu seorang juragan tani di desanya. Luas sawahnya pada medio 1980-an bahkan mencapai 5 hektar (ha). Jumlah yang sangat banyak dibandingkan dengan rata-rata petani di eks Karesidenan Banyumas yang kepemilikan lahannya saat ini hanya 0,25 ha hingga 0,5 ha.

”Banyak petani kaya saat itu. Bahkan, karena masih banyak lumbung padi, kami biasa menyimpan sebagian hasil padi untuk dijual lagi saat harga tinggi. Namun, sekarang semuanya diatur tengkulak,” kata Daldiri.

Daldiri ingat betul, 15 tahun lalu, 1 bau sawah miliknya masih menghasilkan gabah 5 ton. Namun, 5 tahun terakhir, produktivitas sawah menyusut jadi 3 ton. Penyebabnya serangan hama wereng batang coklat dan tikus yang kian ganas.

Musim tanam hujan yang dimulai September lalu pun, ia sampai tiga kali tanam ulang karena benih padi yang sudah ditanam diserang wereng saat berumur 25 hari. Saat musim panen rendeng ini, Daldiri menjual gabahnya Rp 2.400 per kilogram. Dari 3.500 meter sawah miliknya, Daldiri mengaku hanya meraup pendapatan sekitar Rp 3,2 juta.

Namun, ia harus menyisihkan Rp 1,5 juta untuk modal tanam musim selanjutnya. Selain itu, ia juga harus membayar Rp 700.000 ke kios, koperasi unit desa, dan rentenir untuk menutup utang pupuk, pestisida, dan ongkos bajak. Sisanya hanya Rp 1 juta. Artinya, pendapatan Daldiri selama bertani pada September-Januari hanya Rp 250.000 per bulan.

Kondisi inilah yang membuat Daldiri dan Saniyem (63), istrinya, menjual satu per satu petak sawah mereka sejak 10 tahun terakhir. Mereka bahkan hanya bisa membagi sawah 1 hektar sebagai warisan kepada lima anaknya masing-masing seluas 2.000 meter persegi. ”Kini sisa utang saya masih Rp 7 juta. Semoga bisa dilunasi sebelum saya meninggal,” katanya.

Pemiskinan serupa dialami Guyub Winaryo (54), petani di Desa Sukawera Kidul, Kecamatan Patikraja, Banyumas. ”Pada 1980-an, setiap kali panen, orangtua saya selalu membeli emas dan sawah baru. Dulu, untuk membeli emas 3 gram hanya butuh gabah 1 kuintal. Sekarang 1 kuintal gabah belum bisa beli 1 gram (asumsi harga emas Rp 330.000 per gram),” katanya.

Setelah era pertanian pupuk kimia, tabiat tanah pun berubah tak ramah. Iklim ekstrem kini membuyarkan irama alam yang pemurah. Hama mengganas tak terbasmi, sedangkan biaya produksi kian tinggi….

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in SEPUTAR PETANI. Bookmark the permalink.

22 Responses to HIDUP PETANI

  1. cempe says:

    tulisan yang benar-benar mewakili apa yang ada di hati saya.

    lantas langkah apa yang harus kita lakukan?
    melihat kondisi yang demikian?
    apakah bertanya pada rumput yang bergoyang akan menjadi solusi..

  2. avi says:

    petani oh petani dimana ia berada slalu dipandang sebelah mata indentik dg pekerjaan kasar,kotor dan tk menjanjikan.Kadang sy jg malu dg keadaan pekerjaan sy sbg petani skr,tp hati sy msh ada semangat petani tdk harus miskin.Harus ada perubahan tehnik,setrategi,tekhnologi dan pola pikir pertanian agar kita para petani jaya spt masa masa kejayaan petani masa lalu

  3. abidin says:

    Meski pak Nurman merasa tidak bangga lagi jadi petani, saya sangat appriciate dan bangga ada pemuda/generasi muda yang masih rela jadi petani pada masa yang sangat tidak menguntungkan seperti sekarang ini, era di mana status petani dipandang rendah oleh sebagian besar pemuda.

    Semoga apa yang dilakukan pak Nurman dan rekan-rekan dalam bidang pertanian, menjadi pemberat timbangan amal baik di sisi Allah Subhana hu wa taala kelak di akhirat, amiin.

    • NURMANIHSAN says:

      Pak Abidin, saya bukan seperti itu. Justru dengan adanya blog ini, menunjukkan kebanggan saya sebagai petani dan berpihak kepada petani.

      Tulisan di atas, intinya menjelaskan realitas luas lahan sawah para petani per kepala keluarga. Kemudian permasalahan para petani kita sekarang ini.
      Yg kita butuhkan adalah solusi untuk hal tsb. Minimala bisa membantu para petani yang terjebak pada konsep “mati suri”.
      Bila tak ada pupuk kimia dan pestisida, tidak bisa bertani. Seakan2 keduanya adalah kunci sukses bertani.
      Nah, tugas saya dan teman2 adalah melepaskan “belenggu ini”.
      Selanjutnya adalah mengharapkan pemimpin kita bisa membuat kebijakan agraria. Artinya setiap anak bangsa yang ingin bertani, pemerintah bisa menyiapkan lahan. Makanya pemerintah harus menyiapkan lahan abadi. Agar anak negeri dapat hidup layak dengan lahan yang memadai. tks

  4. Tono says:

    Walau banyak yg memandang sebelah mata, petani ikut berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam lho. Mau tau?
    1. Petani membantu menghasilkan oksigen dri tanaman yg ditanam
    2. Petani menciptakan lapangan pekerjaan bagi yg lain.
    3. Petani menjaga keseimbangan siklus air. Bayangkan kalo semua area persawahan atau perkebunan dijadikan perumahan, siapa yg mau menyerap air hujan?
    4. Petani menjaga keseimbangan efek rumah kaca alias yg berdampak global warming, karena tanaman juga membutuhkan co2
    5. Petani yg mensuplai bahan pokok makanan alias produsen bagi sesama.
    6. Petani ikut berperan besar dalam menciptakan paru2 dunia
    7. Masih banyak sisi positif dari petani, kalo mau mencermati lebih luas.
    Bagi yg memandang sebelah mata, mereka belum sadar betapa penting keberadaan seorang petani. Namun semua tergantung dri kesadaran masing2 petani dalam menyikapi metode tanam, panen, maupun proses penjualan. Mari kita menyerukan
    “Aku cinta bertani”
    jgn mengeluh ya? Biar mereka tau, mereka yg berdasi tak akan bisa makan tanpa petani.

  5. cantrik says:

    Oleh karena itu, petani harus mau menggali informasi, memperbaharui teknik budidayanya agar lahan yang sempit hasilnya bisa memuaskan. penyempitan lahan tidak bisa dihindari.

  6. Tono says:

    Setuju mas cantrik. I love you! Ha.ha.ha

  7. Mungkin perlu di rangkum teknik bertani yang baik versi Oksigen pertanian untuk brmacam macam jenis sawah yang tentunya membutuhkan perlakuan berbeda….

  8. Tono says:

    Ho.o p.yuri. Tpi oksi-P Kan dah ngasih banyak tehnik mulai perencanaan biaya, pesnab, poc, dan bokashi.
    Tapi kalo saya boleh usul, p.NURMAN nyediakan STOK DONG.. Please. Contoh, spti M-11, bibit alfafa dll. Pembaca oksi tu tempatnya jauh2 lo pak.. Bahkan ada yg dri amerika. Kan kalo bisa pesen di oksi-p mudah aksesnya. Please p.NURMAN?

  9. Fiar akbar says:

    Mas nurman Maaf nyimpang dr tema lg bingung nangani gulma dg legowo 2:1 usia 35 hr sdh disiangi pakai ogrok 2x tp gulma cpt bnget diherbi takut stagnasi ini pertama nyoba sdngkn yg tanam bkn legowo gulmanya biasa sj atas bantuanya trm ksh

  10. Agus siswoyo says:

    Enak jadi petani berdasi

  11. sutopo says:

    ora enak mas agus jadi berdasi,seh di prentah wong diseneni,jadi penani sing mrintah mung awake dwe sing bayar langsung allah tangangah;iku drajad sing dwur lo mas,opo ono gawean sing di bebani zakat wajib 10 % ;pake logika berati allah iku mandan gawean petani ki mulyo,;cuma petani sekarang sering khianat dgn amamah allah yg 10% /5%,;

  12. Tarso says:

    Mungkin sudah saatnya Revolusi hijau 2.0

  13. suli says:

    Ikut urun rembug…
    Indonesia tanah subur,dua musim ‘HANYA’ hujan dan kemarau….namun sejak zaman entah kapan ada musim paceklik/larang pangan/parahnya ada yang bernama musim beri beri dan kolera,zaman jepang,zaman landa >>>.cerita nenek.
    Kedelai di amerika harus lebih lama umurnya bisa 150-170 hst, indonesia cukup 76-85 hst….bersyukurlah. padi indonesia gampang di tanam dan panen dan jemur matahari bersinar terik…kering dalam 3 hari….bersyukurlah. air melimpah ruah indonesia kaya sungai, waduk waduk banyak….pemerintah sangat memikirkannya >>>australia hanya sungai murray yang bisa untuk pertanian.
    Indonesia kurang apa???? insinyur pertanian melimpah, lembaga penelitian pertanian banyak, kurang apa coba???hidup petani begini begini aja???apa turun luasan sawahnya, secara luas menurun,namun bukankah kita di beri di ‘beri’lebih makan sekolahan, makan pojok sekolahan.ya gimana supaya tidak di kendalikan tengkulak, boneka pestisida, dan pupuk kimia (baca revolusi hijau) beserta utang piutangnya.
    Belajar mandiri bertani harus di mulai dari sekarang, belum bisa menambah sawah (karena sangat mahal), bisa untuk membeli ternak dulu tapi jangan tanggung tanggung, kompos dan urinenya bisa di manfaatkannya, pakan fermentasi,jual ternak harus melek harga di pasar jangan mudah di bohongi, timbang BB, atau sistem karkas,bila perlu tolak blantik datang, atau depan rumah….tidak menerima tamu blantik. Padi buat stok benih, stok komsumsi sampai panen berikutnya.buat pos pos keuangan yang lain dalam bentuk pasca panen.
    Anak anak ajari sejak dini menyukai pertanian, menyukai ternak.sekolahkan sampai tinggi, tapi harus menciptakan lapangan kerja.jangan menenteng ijasah kesana kemari seperti bapaknya, kalau masih menenteng ngalor ngidul artinya generasinya sama saja.

  14. Fiar akbar says:

    Baca komen mas suli jadi senyum

  15. Agus siswoyo says:

    Senyum membawa berkah…gambare cewek semok nek bak truk karo tiduran

  16. Parwito says:

    Pekerjaan sebagai petani adalah sebuah pekerjaan yang sangat bermartabat kalau benar-benar dipahami sebagai suatu karya yang tidak hanya menghasilkan tonase saja, seperti disampaikan rekan Tono sudah sangat jelas, meskipun kita tidak bisa lepas dari kebutuhan material berupa uang untuk menjaga agar dapur tetap ngebul. Menjadi petani tidak hanya cukup kerja keras tapi dibutuhkan kerja cerdas dengan memanfaatkan segala sumberdaya yang dimiliki tanpa meninggalkan daya kreatif dan imajinatif untuk tetap memberdayakan sawah miliknya. Untuk menjadi bermartabat, jangan sampai seorang petani menjual seluruh hasilnya tanpa menikmati nikmatnya beras yang ditanam sendiri, apalagi sampai makan beras raskin.

    Mari bersama mulai dari yang kecil tapi mentes (bernas), lakukan apa yang tidak orang lain suka melakukan (memakai pupuk bokashi/pupuk kandang, pestisida alami atau pengendali hama terpadu, dll), dan lakukan secara terus menerus hingga suatu saat orang lain akan berujar dalam hati ” betul apa yang dilakukan bapak……..dan kenapa saya tidak lakukan hal yang sama”. Dan kita akan semakin termotivasi ketika apa yang kita lakukan dilakukan juga oleh orang lain. Nasib petani semakin diperhitungkan dan mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat (mohon maaf bukan bermaksud yang lain-lain, ini hanya ungkapan perasaan dari hasil bertemu dengan teman-teman tani).

    Insya Allah lembaga kami akan melakukan kegiatan yang juga berkaitan dengan pertanian organik dengan dalam kegiatan Temu Nasional Pangan dan Pertanian Berkelanjutan dengan Narasumber dari Jepang (Masa Kagure), Pemasaran dan Pasca Panen (Koperasi Sedaya) di Surabaya pada tanggal 19-21 September 2013 dan mudah-mudahan saya bisa mengundang beberapa teman untuk hadir dalam pertemuan tsb.

    • cahyo says:

      Dari Jepang? Disana juga sistem organik ya Pak? Nanti ilmunya dibagi2 di blog ya Pak. Biar ketularan maju hehehe…

      • suli says:

        Mas Parwito….
        Titip pesan sama orang jepang itu nanti, pencetus revolusi sebatang jerami Masanobu Fukuoka…seperti apa prinsipnya.makasih

  17. suli says:

    Cuplikan Opini harian Kompas 18 juli 2013 yang di tulis, Bapak Siswono Yudo Husodo Anggota DPR

    Panyebab utama kurangnya produksi pangan adalah kurangnya lahan pertanian.Lahan pertanian tanaman pangan di Indonesia 7,8 juta ha, kalah dengan kebun sawit yang 8,2 ha, dengan 2.5 ha dia antaranya milik perusahaan asing. Saat ini,untuk setiap rakyat Indonesia, hanya tersedia lahan pertanian pangan seluas 359 m2. Rasio lahan per kapita untuk negara negara berpenduduk banyak adalah India 1.590,6 m2/kapita, China 1.120,2 m2/kapita, Vietnam 595,9 m2/kapita, Thailand 5.225,9 m2/kapita, dan AS 6.100 m2/kapita. Untuk komoditi pertanian , masalahnya amat jelas, diperlukan pembukaan areal pertanian tanaman pangan/holtikultura baru yang luas. Kegiatan ini dulu tercakup dalam program transmigrasi, yang pada waktu puncaknya pada 1995 pernah dalam satu tahun membuka lahan 200.000 ha lahan tanaman pangan baru yang di bagikan kepada 100.000 KK buruh tani dan petani petani gurem. Program ini telah ikut menopang swasembada beras,jagung dan kedelai pada tahun 1984

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s