SURAT BUAT ANAKKU

Rasa Kehilangan Anak

Ketika seseorang kehilangan anak kesayangannya, maka biasanya rasa sedih yang dirasakan akan membuncah. Dan rasa sedih tsb akan lama bersemayam di hati. Apalagi, bila anak tsb adalah anak satu-satunya.

Maka hal tsb wajar saja, ketika seseorang kehilangan anaknya, rasa sedih adalah ekpresi yang mengharu biru dalam sejarah kehidupan seseorang tsb.

Saya pribadi mempunyai 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Dan anak perempuan ini, karena anak satu-satunya maka merupakan “permata hati” bagi saya. Saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya bila kehilangan anak tsb.

Akan tetapi, dari tulisan di bawah ini, saya jadi sadar. Anak adalah titipan Allah SWT. Anak adalah amanah Allah SWT yang dititipkan lewat perantara kita sebagai orang tua.

Kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dan suatu saat nanti, anak dan orang tua akan berkumpul kembali dengan satu syarat. Syaratnya: anak dan orang tua harus mengikuti ajaran Allah SWT.

Dan dari cerita di bawah ini, saya bisa belajar banyak tokoh unik ini,,,

Ekpresi sedih yang luar biasa

Tetapi, bagi sebagian insan yang paham betul tentang hakikat kehidupan dunia ini. Mereka yang paham inti sari agama, maka cara mereka mengsikapi duka tsb agak berbeda dengan kebanyakan insan lainnya. Agak unik dan luar biasa,,,,

Bagi mereka-mereka yang punya pemahaman unik ini, kehilangan anak bagi mereka ini adalah suatu “keberkahan“. Apalagi bila kematian anaknya berada di  medan perjuangan.

Beginilah yang dialami salah satu petinggi organisai keagamaan, sosial dan kemasyarakatan di Mesir (Ikhwanul Muslimin), ketika kehilangan satu-satunya putri yang dia miliki.

Bagi Dr. Muhammad Baltaj, yang telah kehilangan putrinya, yang berumur17 tahun dalam medan perjuangan adalah suatu keberkahan. Sesaat setelah gugurnya putri beliau, Dr Baltaji diwawacarai Al Jazeera. Beliau menyatakan, “Saya tidak butuh bela sungkawa untuk putriku Asma’. Sekarang dia sudah di Surga Firdaus,,,”

Bahkan, dia menulis surat buat anaknya yang syahid di medan perjuangan tsb sbb:

Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.

Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.

Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, kau selalu yang terbaik di kelas 

Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu.

Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, “Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk” dan kukatakan “Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga.”

Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik. 

Ketika kau berbaring disampingku aku bertanya, “Apakah ini malam pernikahanmu?” kau menjawab, “Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam”. Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.

Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu.

Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.

Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia… aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan”.

__
NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab’ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin.

*diterjemahkan oleh @nastarabdullah dari http://www.middleeastmonitor.com/news/africa/7007-letter-from-dr-mohamed-beltaji-to-his-martyred-daughter

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in AGAMA, CINTA, PUISI DAN SYAIR. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s