BAHAN PANGAN DAN DOLLAR

Jeruk kok makan jeruk

Ada istilah yang sering kita dengar: “jeruk kok makan jeruk”. Arti dari istilah ini, kita-kita -Insya Allah- sudah pada paham maksudnya.

Bagaimana kalau  istilah tsb berada dalam dunia pertanian? dan bagaimana bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tani?

Menurut saya, ketika ada petani yang mempunyai punya sawah, kemudian dia pun terpaksa membeli beras. Sebab gabahnya, karena alasan tertentu sudah habis terjual.

Atau ketika ada “raskin” yang datang ke daerah tertentu, yang di daerah tsb banyak para petaninya. Banyak sawahnya.

Dengan demikian, istilah yang pas tsb adalah: “Jeruk kok makan jeruk,,,”

Mata uang kita dengan dollar

Sebagian besar dari kita, sampai saat ini belum sadar akan bahaya “jeruk kok makan jeruk” dalam mata uang kita. Dan ini berbahaya bagi kebutuhan pokok  kita berupa bahan pangan.

Bagaimana bisa, mas nurman?

NIlai Dollar ketika terjadi reformasi

Dahulu ketika terjadi reformasi, ketika kurs rupiah terhadap dollar naik tajam, maka banyak perusahaan-perusaan dalam negeri yang bangkrut. Banyak perusahaan yang mati suri, sebab mereka hutang dalam bentuk dollar. Misalkan, ketika dollar diakhir tahun 1997 sekitar Rp. 4.850. Per tanggal 22 Januari 1998 berada disekitar angka Rp.17.000.

Dalam pekan-pekan ini, mata uang kita -rupiah- anjlok dalam dollar. Saya masih ingat, sepertinya sekitar tahun lalu, ketika kurs rupiah terhadap dollar sekitar 9.000-an. Kalau sekarang ini, per 22 Agustus 2013 sudah 11.350, berarti ada selisih 2.350.

Jadi, ketika mata uang negara kita didikte oleh mata uang asing seperti dollar, maka berlaku istilah: “jeruk makan kok jeruk”.

Contohnya, ketika negara kita ingin membeli bahan pangan dari negeri lain berupa beras dari Vietnam, Thailand, dll. Atau membeli tepung terigu dari negara lain. Maka negara kita “dipaksa membeli beras atau tepung terigu tsb dengan dollar”.

Negara kita harus menukar rupiah dulu dengan dollar baru kemudian membeli beras tsb. Kalau dollar lagi mahal seperti sekarang ini, maka negara kita akan kedodoran membeli dollar.

Padahal kita membeli beras urusannya dengan vietnam atau Thailand. Tapi kita “dipaksa” harus sepakat membelinya dengan dollar. Sehingga uang yang kita butuhkan untuk membeli beras tsb menjadi mahal. Sehingga nilai dari beras atau barang lain tsb pun jadi lebih mahal.

Itulah yang saya sebutkan dengan istilah “jeruk kok makan jeruk”. Dari sini saja, negara kita dan negara-negara lain akan rugi terus.  Bisa jadi, dalam beberapa pekan saja ini saja, nilai kerugian negara kita bisa mencapai ratusan triliun lebih,,,,,

Luar biasa bukan???

Kenapa kita tidak langsung membeli saja dengan negara-negara tsb dengan tukar mata uang, atau kenapa tidak dibarter saja?

Atau pun kalau mau, dalam Islam, ada sarana yang adil yaitu berupa uang emas. Uang emas menjadi sarana/timbangan yang adil. Sebab emas bukan berupa uang kertas.

Padahal, uang dollar dan mata uang lain sama-sama uang kertas? sama-sama uang kertas tapi beda nilai. Jeruk kok makan jeruk. Jadi, selama ini kita ditipu terus oleh dollar. Ditipu dan kita -negara kita- mau saja !!!

Bagaimana solusinya

Di tulisan berikut ini, menurut saya bisa menjadi salah satu solusi agar kita keluar dari kasus “jeruk kok makan jeruk”,

Bahwa kurs konversi antar mata uang bisa membuat badan penduduk negeri ini pada menjadi kurus, itu benar-benar bisa terjadi kini. Mata uang Dollar yang kita butuhkan untuk mengimpor barang-barang kebutuhan, telah naik sekitar 14 % terhadap uang Rupiah kita dalam setahun terakhir.  Tetapi hal ini mestinya bisa dicegah oleh kita semua, bagaimana caranya ?

Kebutuhan Dollar Amerika yang begitu tinggi untuk mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari kita termasuk kebutuhan pokok pangan, membuat harga barang-barang yang diimpor secara umum menjadi lebih mahal. Kalau kenaikan ini terjadi pada barang-barang kebutuhan sekunder, masih bisa dihindari untuk sementara tidak membelinya.

Tetapi kalau barang-barang ini menyangkut kebutuhan primer seperti bahan pangan, maka biar harganya mahal dia tetap harus dibeli. Tempe-pun kini sudah semakin mahal karena kedelainya sebagian besar diimpor dan ini dengan Dollar yang lebih mahal. Demikian pula dengan gandum, bahan pangan yang sama sekali belum diproduksi oleh negeri ini sendiri.

Apalagi daging yang harganya sudah terkerek naik sejak beberapa bulan lalu, belum nampak adanya upaya yang bisa efektif dan efisien dalam menurunkan harganya.

Walhasil kenaikan harga  tiga jenis bahan makanan kedelai, daging dan gandum ini saja sudah cukup untuk menguruskan badan rata-rata penduduk negeri ini.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa membebaskan diri dari problem yang klasik ini ? problem yang sama pernah memukul kita dengan begitu beratnya 15 tahun lalu dengan apa yang waktu itu kita sebut krisis moneter (krismon) .

Lima belas tahun era reformasi nampaknya belum cukup untuk membuat kita sadar akan kelemahan arah pembangunan era-era sebelumnya dan kemudian memperbaikinya. Kita tetap bergantung begitu besar pada bahan pangan impor.

Padahal tidak kurang produk-produk pertanian lokal yang bisa dikembangkan untuk substitusi produk-produk impor tersebut. Koro pedang misalnya, bisa menggantikan kedelai impor bila dibudidayakan dan disosialisasikan dengan baik ke masyarakat serta dibangun industrinya. Kandungan protein keduanya cukup dekat yaitu koro pedang sekitar 27.4 % sedangkan kedelai 36.5 %. Kelebihan koro pedang adalah sifatnya yang bisa tumbuh di tanah marginal – bahkan bisa menjadi potensi untuk menyuburkan lahan-lahan gersang kita.

Sorgum yang memiliki kandungan protein dan karbohidrat (10.4% dan 70.7%) mirip dengan gandum (11.6% dan 71.0%), mestinya dapat menggantikan impor gandum yang telah berkembang hampir setengah abad di negeri ini. Memang sorgum tidak memiliki gluten seperti yang dimiliki oleh gandum, sehingga kurang cocok untuk dibuat roti dan mie yang memerlukan gluten tinggi. Tetapi kan roti dan mie memang mestinya bukan bentuk makanan pokok kita ? jadi kita musti bisa berkreasi dengan makanan-makanan yang lebih sesuai dengan kita dengan menggunakan bahan-bahan yang memang bisa kita produksi sendiri seperti sorgum ini.

Kelebihan sorgum dia bisa tumbuh hampir di mana saja termasuk di tanah yang marginal, kami sudah mencoba menumbuhkannya juga di Jonggol yang aslinya gersang dengan hasil yang baik.

Selain yang sifatnya ikhtiar dengan bekerja keras menanam sendiri tananam-tanaman untuk pemenuhan kebutuhan pangan yang sesuai seperti dalam contoh koro pedang dan sorgum tersebut diatas, ada hal lain yang bisa menjamin kecukupan kebutuhan pangan kita dengan hasil panen yang banyak dan dengan rasa yang ueenak.

Hasil panenan yang banyak dengan rasa yang enak seperti ini dijanjikan oleh Allah untuk negeri yang diberkahi sebagaimana ayat berikut :

…Masuklah kamu ke negeri ini dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai …” (QS 2:58).

Yang dimaksud dengan ‘negeri ini’ yang memberikan hasil bumi yang banyak lagi enak pada ayat tersebut adalah Baitulmakdis – yang dalam ayat lain disebut secara spesifik sebagai negeri yang diberkahi (QS 17:1).

Kita memang tidak bisa menjadikan negeri kita Baitulmakdis atau bagian dari negeri Syam , tetapi kita penduduk negeri ini  bisa menjadikan negeri kita negeri yang diberkahi – bila kita bisa memenuhi syaratnya, yaitu bila penduduk negeri ini beriman dan bertakwa (QS 7:96).  Jadi kita sesungguhnya memiliki potensi ‘pupuk’ yang sangat unggul yang tidak bisa dihasilkan oleh pabrik pupuk manapun di dunia, yaitu pupuk yang dijamin memberikan hasil panenan yang banyak lagi enak – itulah ‘pupuk iman dan takwa’.

Dari rangkaian ayat-ayat inilah semuanya menjadi nyambung, bahwa bila kita bisa menjadikan diri-diri kita penduduk negeri yang beriman dan bertakwa, Allah membukakan berkahNya dari langit dan dari bumi. Kita menanam bahan pangan apa saja hasilnya banyak dan rasanya enak. Negeri ini akan cukup makan dari hasil bumi kita sendiri dan menjadikan negeri ini Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur (QS 34:15).

Bila kita makan hasil bumi kita sendiri secara cukup, kita tidak perlu mengimpor bahan pangan dari negara lain – kurs konversi menjadi tidak lagi relevan untuk kita. Kurs konversi tidak akan bisa menjadikan badan kita kurus karenanya. InsyaAllah.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in CINTA, KONSPIRASI, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

6 Responses to BAHAN PANGAN DAN DOLLAR

  1. abimanyu says:

    Saya jadi teringat waktu tanya ama orang yg lagi promo pestisida. Watu itu tak tanya, ”mas racun apa yg ampuh utk tikus”. Kata dia,”kalo berbagai cara dah dilakukan dan sidia tetap masuk sawah, kurasa iman dan takwa kita aja ditingkatin”.

  2. efendy manan says:

    Betul sekali mas Abimanyu…terkadang datangnya tikus ke sawah kita bukan semata faktor teknis misalnya mulai hilangnya predator.Namun sebagai mahluk “pengingat”pada kita yg dikirim oleh Tuhan apakah kita sudah banyak bersyukur,sudah membayar zakat dll.Ironisnya banyak dari kita yg tidak menyadarinya……

  3. cahyo says:

    kayaknya kenaikan dolar ini yg paling kerasa di kedelai. Tempe dan tahu dah mengkerut. Aku gak ngerti soal kedelai, kenapa kita kok masih sangat bergantung impor. Apa memang tanah sini tidak sebaik sana (luar negeri) jika ditanami kedelai???

  4. ferie says:

    Biasa mas….. Anekdot dari beberapa teman, klo menjelang pemilu Dolar pasti naik, soalnya pemerintah butuh uang banyak, tinggal bilang ke BI cetak uang yang agak banyak…. akhirnya rupiah yang beredar melebihi hari hari biasanya, akibatnya dolar pasti naik…..

  5. suli says:

    Sebetulnya jadi empot empotan kalau mengingat tanah di indonesia, yang di kalimantan di buat kepala sawit sampai orangutannya tidak punya ‘rumah’,yang di pulau jawa sudah banyak jadi rumah orang betulan. memang kalau lihat di youtube negara negara pertanian/peternakan mereka sudah maju,di garap serius dan lahan superluas, pandai memanfaatkan lahan, bahan pangan dan limbah, kedelai tidak akan turun lagi, seperti daging sapi yang enggan turun.

  6. sutopo says:

    klo masalah impor tergantung pejebat mas,mereka teken untuk impor karena dapat vie mas alias komisi dari importir,ingat kejadian daging sapi?,;jika pemerintah mau mengalakan pertanian menjadi sebuah industri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s