PERUT DAN SAWAH

PERUT KITA DAN SAWAH KITA
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Antara Perut dan Sawah

Kalau saya renungkan dalam-dalam, sebenarnya ada persamaan antara  perut kita dan lahan sawah. Keduanya, merupakan wadah penampungan. Bisa mendapat masukan apa saja,,,

Perut kita

Perut kita bila dimasukkan makanan-makanan atau minuman-minuman yang alami, hasilnya akan sehat. Sebab jangan salah, di dalam perut kita juga terdapat mikroorganisme yang menguntungkan. Di perut juga ada zat pengurai, enzim, dll.

Apa jadinya, bila perut kita lebih banyak dimasukkan bahan-bahan kimia, seperti rokok, makanan-makanan olahan kimia, minuman berkarbonasi seperti coca-cola, bigcola, dll.

Akibatnya, mikroorgansime pengurai yang ada di dalam perut tidak dapat lagi bekerja secara maksimal. Bila sudah demikian, maka kerusakan-kerusakan akan terjadi di pencernaan kita.

Lahan sawah

Seperti saya katakan sebelumnya, apa-apa yang ada di perut dapat kita saksikan di sawah-sawah sebagian besar petani kita. Banyak bahan-bahan kimia berbahaya masuk ke dalam sawah. Kita masukkan herbisida untuk membunuh gulma-gulma, rerumputan dll.

Setelah itu, kita masukkan lagi insektisida, moluskasida, fungisida, bakterisida, dll. Akibatnya, mikroorganisme-mikkroorganisme yang ada di dalamnya akan berkurang drastis. Bahkan bisa saja, hampir tak ada.

Bila sudah demikian, jangan heran kalau kita saksikan sekarang ini, banyak keluhan dari para petanikarena masalah hasil panen berkurang, hama penyakit banyak, gagal panen, dll.

Perut sehat dan sawah sehat

Akan indah, bila perut kita lebih dapat asupan bahan-bahan alami seperti sayuran, buah beneran (bukan buah-buahan hee), singkong, ketela, dll, yang tanpa ada proses kimia. Bila demikian, maka mikroorganisme pengurai  di dalam perut kita akan senang. MO akan bekerja dengan giat.

Demikian pula, bila sawah kita dimasukan bahan organik, rerumputan, dedauan, kotoran hewan, dll. Maka mikroorganisme di dalam sawah akan menyambut dengan gembira. Sebab  “nyawa” sebuah sawah adalah adanya mikroorganisme yang melakukan proses penguraian.

Sebagai referensi bisa baca di bawah ini sehing  sehingga dapat menambah wawasan kita.

Tubuh kita sebenarnya di desain dengan sangat sempurna oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Semuanya dibuat dalam suatu keseimbangan yang indah.

Ketika terjadi gangguan atau ketakseimbangan dalam tubuh, maka muncullah berbagai penyakit yang kerap tak disadari sudah memberi tanda tanda pada tubuh kita.

Tubuh sebenarnya punya sistem pembuangan atau pengeluaran yang sudah sempurna, namun saat terjadi masalah akibat banyaknya asupan sampah atau banyak mengandung bahan bahan kimia.

Apa yang terjadi? maka makanan makanan tadi tak mampu lagi dicerna dan dimetabolisme tubuh disebabkan karena tubuh tak mempunyai pengurai dan makanan tersebut sudah terlalu dominan dalam perut atau pencernaan manusia.

Apa penyebabnya?

Dalam bahasa saya “tekor” sederhananya, lebih banyak makanan sampah yang sudah tidak ada lagi gizi di dalamnya akiibat terlalu banyak pengolahan dan terlalu banyaknya bahan kimia sintetik yang dimasukan dalam makanan tersebut sebagai suatu konsekuensi industri yang memproduksi massal.

Perut atau pencernaan kita dibekali Allah Subhanahu Wata’ala dengan enzim dan mikroorganisme pengurai yang bekerja untuk mencerna makanan atau apapun yang masuk ke dalam perut manusia.

Ketika perut terzolimi, mulai dari enzimnya, mikrorganismenya tak mampu bekerja lagi, maka makanan makanan yang masuk dalam tubuh akan menumpuk, tak mampu diurai karena “pekerja” nya pada keletihan dan tak mampu kuasa kerja lagi.

Kenapa bisa begitu?

Ketika “tekor” maka otomatis yang terjadi kinerja organ-organ ini akan mengalami kemunduran, perut atau pencernaan maksudnya.

Sampah sampah ini sebenarnya sudah kita ketahui bersama, setiap bahan bahan kimia sintetik yang dimasukan dalam produk apapun yang dikonsumsi manusia akan melemahkan kerja perut atau pencernaan manusia.

Kalau isinya semua bahan kimia sintetik seperti obat-obatan kimia sintetik seperti  apa jadinya?

Inilah yang akan menguras kerja pencernaan yang salah satunya dikenal dengan efek samping, jadi berhati hatilah dalam mengkonsumsi obat kimia sintetik.

Namun, yang paling harus diperhatikan justru bukan obat kimia sintetik, tapi justru makanan minuman dan berbagi produk harian yang dimakan oleh manusia.

Semakin banyak produk olahan yang dikonsumsi, maka semakin besar peluang menumpuknya makanan sampah dalam tubuh manusia.

Apa tanda-tandanya?

Paling mudah adalah terlalu seringnya mengantuk, emosi yang naik turun,  mood tidak jelas, badan yang selalu sakit sakitan.

Yah ini hanya sebagian kecil, masih ada sebagian besar lainnya.

Solusinya?

Pertama, hindari produk Olahan, kemasan sebisa mungkin, jika dikonsumsi pun hanya sekedar untuk pemuas selera.

Kedua, perbanyaklah konsumsi produk asli dan alami tanpa bahan kimia sintetik di dalamnya seperti; buah, sayur, produk herbal dari lebah atau yang lainnya.

Ketiga, makanlah produk fermentasi yang membantu mencerna dan membantu enzim dan bakteri dalam pencernaan kita seperti cuka, atau produk fermentasi lainnya seperti ragi.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in SEPUTAR PETANI. Bookmark the permalink.

2 Responses to PERUT DAN SAWAH

  1. cahyo says:

    Benar juga ya, ada kemiripan perut dengan sawah.

  2. Herry says:

    Setuju pak Ihsan, jadi ingat sama mbah buyut nih.., usia mereka diatas 100 tahun, saya yakin ini adalah salah satu jawabannya. “mereka memakan makanan organik”. ketika saya kecil, masih terasa segar di ingatan seringkali para eyang ini melakukan kebiasaan yang orang sekarang sudah jarang atau bahkan tidak melakukannya lagi. contohnya : makan uwi (semacam umbi yang batangnya merambat pohon lain) atau talas atau singkong atau suweg (umbi bunga bangkai) atau ganyong atau gembili atau jagung atau berbagai macam buah dan banyak lagi yang lainnya disaat sedang musimnya, meskipun pada saat itu mereka punya gabah/beras. tentu saja tetap mengkonsumsi sayur yang 100 persen organik (waktu itu belum ada pestisida di kampung saya) dan lauk seadanya (kadang tempe, tahu, ikan sungai, ayam peliharaan sendiri). alasannya bermacam macam : agar perut menerima makanan yang bervariasi / menghemat cadangan makanan (gabah) / memanfaatkan tanaman kebun. padahal tidak jarang minumnya air langsung dari sumur tanpa dimasak. anehnya ketika waktu itu ( sekitar tahun 1985) mulai ada mie instan dan ayam potong (broiler) di kampung kami, baru sekali mencoba para eyang ini tidak lagi mau memakannya, kata mereka rasanya tidak nikmat. mungkin karena lidah mereka sudah terbiasa full organik dari kecil (beda dengan generasi kami yang terbiasa instan dari kecil). ada hal lain lagi yang menurut saya jarang kita lakukan, mereka berpuasa tidak hanya di bulan ramadhan, bisa di hari lahir mereka, di bulan syawal dan masih banyak lagi hari-hari istimewa lain. Yang luar biasa menurut saya, dengan pola hidup seperti itu para eyang tersebut memiliki berat badan yang selalu ideal dan jarang sekali mengeluh sakit sampai ajal menjemput mereka. itupun sakit yang ringan. kesimpulannya apa yang diutarakan Pak Ihsan diatas tampaknya juga dilakukan generasi pendahulu kita (terutama di kampung yang memang jauh dari modernisasi), ada baiknya kita mengingat bagaimana kearifan mereka dalam menjalani hidup untuk kita terapkan sekarang tentu saja dengan modifikasi ala kita masing2. maaf kalo ngelantur kemana-mana pak… he..he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s