EKOSISTEM SAMPAH

EKOSISTEM SAMPAH YANG HARUS DIRUBAH
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Melihat sawah teman
Belum lama ini, saja diajak teman ke Cikarang. Intinya: saya diminta untuk berbagi saran-saran dalam mengatasi problem sawahnya. Luas sawahnya sekitar 2 hektar. Sebab sudah 2 musim ini, teman saya mendapatkan hasil yang rendah sekali.

Sebelum ke sana, saya diminta saran: varietas terbaru apa yang cocok buat sawahnya?

Sebelum bercerita tentang varietas padi, alangkah baiknya kita melihat kondisi sawahnya, begitu saran saya.

Sesampai di sana, seperti biasa, saya berkeliling di seputar areal sawahnya. Dan juga sebagian areal tanaman padi yang lain.

Hama dan Penyakit

Saya lihat di sekitar lingkungan sawah tsb berada, ada hamparan yang terkena penyakir kresek, blas, dll. Untuk hama, ada walang sangit, penggerek batang, dll.

Dari sekain banyak hama dan penyakit tsb, ada hama yang luar biasa banyaknya. Hama itu adalah penggerek batang.

Bagaimana tidak? dari sekian banyak malai yang ada hampir 30-40 % malai kena beluk.

Belum lagi, banyaknya telur kupu-kupu yang banyak terdapat pada daun padi. Bahkan pada siang hari saja, ada banyak juga kupu-kupu penggerek, malah ada kupu-kupu yang begitu saya usir mampir ke baju saya,,,,

Dalam beberapa hari/pekan kemudian, akan banyak lagi kupu-kupu yang bertelur, akan banyak lagi telur-telur penggerek yang menetas. Dan akan banyak lagi muncul penggerek-penggrek yang baru.

Jadilah wabah penggerek batang yang mengerikan. Padahal, menurut petani yang menggarap sawah teman saya tsb, sudah 4 kali dilakukan penyemprotan. Mau 5 kali dengan hari itu.

Ekositem Sampah

Bagi saya pribadi, bila suatu ekosistem sawah sudah seperti tsb di gambaran di atas, maka ekosistem tsb sudah rusak. Ekosistem seperti inilah yang saya sebut sebagai ekositem sampah.

Varieta apa yang cocok?
Bila keadaannya sudah demikian, maka menurut saya tidak ada varietas apapun yang cocok di ekosistem yang demikian. Walau varietas yang agak tahan penggerek batang sekalipun.

Bagaimana solusinya
Dari sekian banyak solusi yang ada, saya melihat ada beberapa solusi pokok untuk ekosistem sawah yang demikian.

1. Merubah pola tanam

Beruntung sekali, bila ada daerah yang serempak sudah menerapkan pola tanam : padi padi palawija (tanaman leguminosa). Hasilnya bisa kita lihat.

Di MT1 bisa dapat hasil tinggi dengan tanaman yang umur agak panjang seperti logawa, muncul cilamaya, dll.
Di MT2 bisa menngunakan varietas umur genjah
Di MT3 tanam palawija seperti kacang hijau, kedelai, dll. Dengan pengeluaran biaya yang sedikit, hasil yang didapat akan besar. Apalagi harga komoditas kacang-kacangan terus naik.

Walau di daerah tsb, sewa sawah tinggi bisa di atas 15 juta per hektar/tahun. Tapi dengan hasil di MT-1 saja yang bisa mencapai 8-10 ton/ha, biaya sewa sawah bisa tertutupi.

Inilah pentingnya pola tanam !!!

Dengan menerapkan pola tanam yang baik maka banyak sekali keuntungan yang di dapat.

pertama, memutus siklus hama dan penyakit.
kedua, tanaman legum yang di tanam di MT3 dapat menghadirkan bakteri-bakteri pengkikat nitrogen alami sehingga akan menyuburkan tanahnya.
ketiga, tanah yang biasanya tergenang oleh air sawah, di MT3 akan bisa bernafas “lega” sehingga memberikan ruang udara buat pori-pori tanah.
keempat, dalam bahasa sederhana, tanah akan “bosan” bila disusupi/tanami oleh akar yang sama dari tahun ke tahun. Apalagi selama puluhan tahun,,,,
“elu lagi elu lagi” bagitu komentar tanah, kalau dia bisa berbicara. Dengan akar yang berbeda akan memberikan “rasa baru” bagi tanah.
Kelima, bla bla bla

2. menjadikan lahan sebagai makanan tanaman
Saya sesudah membahas masalah ini: “jadikan lahan sehat maka lahan yang akan memberikan makanan buat tanaman kita”.

BIla ada tanah kurang subur, tugas kita adalah menambahkan pupuk kompos terutaman pupuk kandang maka dengan sendirinya tanah akan subur.

Coba saja ambil 2 pot. Berikan pupuk secara rutin tiap 1 hari.
Pot 1 kita berikan pupuk kandang 1 sendok.
Pot 2 kita berikan pupuk NPK 1/2 sendok saja. Dalam 15 hari lihat saja hasilnya.

Di pot 1 akan ada kehidupan di tanah yang akan memberikan makanan bagi tanaman. semakin banyak pupuk yang diberikan tanah akan semakin sehat.

Sebaliknya, di pot 2 pupuk yang diberikan akan menjadi racun bagi tanaman. sebab semkain banyak dosisnya bisa jadi menghambat tanaman tsb. sebab pupuk tsb tidak memberikan kehidupan di tanah tsb. Malah proses yang dihasilkan membuat tanah masam.

Bila kita sebgai petani belum bisa mengikuti kaidah di atas, bertanam dengan semi organik adalah pilihan berikutnya.

3. Berikan nutrisi dan bakteri baru buat tanah

Setelah tanah subur, maka mereka para MO butuh akan hara. Maka berikan MOL/POC/pupuk hayati/dll agar bekerja lebih giat di lahan sawah kita. Selain dapat hara dengan pemberian MOL/POC/dll akan memberikan “teman baru” buat para MO yang menguntungkan tsb.

4. Jangan membunuh MO

Salah satu cara membunuh MO adalah memberikan pestisida di lahan kita seperti herbisida, insektisida, dll.

5. Menanam dengan serempak

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

10 Responses to EKOSISTEM SAMPAH

  1. rahayu says:

    Lho kok sama dengan ya dengan sawah2 di daerah saya, tikus belum reda petani2 mulai semai dan tanam padi lagi tp baik yang masih dipersemaian dan yang sudah tanam kena penggerek batang

    • NURMANIHSAN says:

      Bu Rahayu, bila paradigma para petani belum berubah dengan pertanian sehat. Hasilnya ya seperti yang saya ceritakan. Ada dimana-mana. Di pelosok daerah pun, akan kita jumpai hal sprt di atas.

      Paradigma/mainset inilah yg perlu kita ubah.
      Bgm merubah mainset (cara berpkir) ?
      Mau tidak mau kita harus membuka diri, mau belajar, mau bergabung dng komunitas pertanian yg sehat, bertanya, berkonsultasi, menerapkan secara bertahap, mengajari apa yg kita bisa, dll.
      Skrg justru dng media sosial spt blog, FB, twiter, dll mempermudah cara kita belajar. tks

  2. efendy manan says:

    Betul sekali…tidak hanya ditempat mbk saja tapi sudah banyak yg terjadi dimana2x.semangat kebersamaan petani sudah mulai hilang digantikan rasa ego dan mengejar untung semata.lambat laun tanah,ekosistem,dan keseimbangan alam menjadi korban…jika tetap dibiarkan tinggal menunggu detik2x hancurnya pertanian kita.

  3. suli says:

    Pak ef….
    Ngeri amat ya ….detik detik…berarti bentar lagi dong….he.
    Pak Ihsan…benar…pola pergiliran tanaman, sekarang lagi di bangun waduk jatigede untuk pengairan indramayu,cirebon dan beberapa kabupaten sekitar, oke…semoga kedepan sistem pengairannya tidak seperti citarum,yang mana air irigasi sudah sangat tercemari limbah pabrik,padahal air berperan penting untuk kelangsungan MO dan tanaman budidayanya,bagaimana bisa bertahan dari gemburan sana sini.
    Bicara pola tanam,tentu tidak lepas dari mekanisasi pertanian (jumlah traktor/sekian ha),sebagai contoh kecamatan saya dan sekitarnya tanam serempak selesai dalam waktu seminggu,panen selesai maksimal 10 hari, dalam kegiatan panen saja sudah menyebar benih kembali, di susul mesin turun untuk pengolahan Mt2, untuk mengejar tanam berikutnya, panen di harapkan serempak kalau ingin tanam palawija di Mt3….begitu seterusnya. pola pertanian seperti tidak lepas dari keberadaan waduk.
    SDM ini penting….mau belajar,menganalisa,menerima masukan bermanfaat dan memperbaiki kegagalan, pastinya akan merubah pola pikirnya.

  4. dedi says:

    jujur aja saya merinding membacanya,alhamdulillah disini pakai sistem padi padi bera/palawija.jarang terjadi ledakan hama,paling penyakit hdb dan blast.alhamdulillah sejak sering baca oksi p saya perlahan2 menyehatkan lahan saya dengan sama sekali tidak pake peskim.alhamdulillah cacing dan katak mulai banyak.moga petani indonesia makin bnyk yg beralih ke pertanian sehat

    • suli says:

      sip…kang dedi semoga menyusul kang dedi yang lain

    • NURMANIHSAN says:

      Setuju kang dedi, bila katak, cacing, dll sudah berada di lingkungan sawah. Yg jelas: mereka akan bernyanyi merdu,,,
      Nyanyian para hewan itulah yang akan membuat “tanaman bergembira” sehingga tanaman akan merasakan sehat.
      Ini tak ubah spt manusia, bila tiap hari kita dihibur dng nyanyian gembira, apalagi lingkungan sehat -Insya Allah- dipastikan kita akan sehat. Tks

  5. dedi says:

    alhamdulillah berhubung rumah pinggir sawah jadinya live music setiap malam he..ya walaupun baru bisa ngurangin pukim dan tanpa peskim alhamdulillah dampaknya mulai kelihatan.yg kliatan bgt capungnya skrg bnyk bgt,cacing jga kliatan bgt merah2 di tumpukan jerami.yg saya rasakan waktu over pakai peskim dan pukim seakan2 opt dan penyakit ada lagi 2x,dihajar wbc 2x,blast leher 2x.lha sekarang gk diapa2in ko adem ayem aja he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s