OTAK PEMIMPIN KITA

Perayaan APEC di Bali

Belum lama ini, kita sebagai anak bangsa disuguhkan suatu “perayaan tipu-tipu”. Mengapa saya katakan “perayaan tipu-tipu” ? sebab dari perayaan tsb, tidak pernah dijelaskan kepada kita, apa keuntungan perayaan itu bagi anak bangsa, khususnya kepda para petani kita yang jumlahnya mencapai jutaan tsb.

Perayaan itu adalah APEC yang berlangsung di Bali. Hasil dari perayaan APEC (bagi saya APEK) tertuang dalam 7 butir kesepakatan.

Isi tsb menurut saya seperti ungkapan si Vickysasi: “Referensi terhadap perdagangan multilateral ini adalah pengenalan pada perdagangan di antara anggota APEC yang membawa keuntungan lebih pada ekonomi dan kesuksesan dalam kerja sama multilateral di kawasan,” kata Presiden SBY

para pemimpin APEC setuju untuk meningkatkan konektivitas institusi dan sumber daya manusia di antara anggota APEC. Untuk itulah, dibuat konektivitas yang menitikberatkan pada investasi dan infrastruktur.

Secara substansi, hasil APEC malah seperti ini, merugikan kita sebagai anak bangsa :

– biaya untuk perayaan itu sekitar 350 milyar. Ada pertanyaan mendasar, apakah semua biaya itu ditanggung pemerintah kita? kalau betul, bagaimana mungkin uang pajak-pajak kita digunakan untuk membiayai pemimpin-pemimpin asing dan CEO perusahaan-perusahaan besar?
– produk andalan kita seperti kelapa sawit, karet dan kretek malah tidak bisa masuk ke negara lain. Tidak masuk produk yang bisa bisa bebas masuk ke negara lain.
– Dari 54 produk yang masuk daftar produk yang menikmati bea masuk 5 persen di APEC saja, Indonesia nyaris hanya akan menjadi target ekspor bagi negara-negara produsen. Sementara CPO dan Karet yang menjadi andalan agar bisa mendapatkan kemudahan dan masuk dalam daftar produk ramah lingkungan justru gagal diperjuangkan di forum APEC Bali.
– produk-produk negara lain bisa mudah masuk ke negara kita, pada saat yang sama produk kita malah susah masuk ke negara lain
– dll

Menurut logika insan yang pendidkannya kurang tinggi seperti saya, timbul pertanyaan: dimana logika dan otak para pemimpin kita?

Berikut ini adalah tulisan yang bisa membahas tentang hal tsb,,,

SBY, HATTA dan GITA, Sulap Indonesia Jadi Pasar Untuk Negara Lain

Pesta bernilai ratusan miliar di Bali itu akhirnya usai sudah. Lalu lalang pesawat jet milik para kepala negara itu juga sudah hilang dari bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Namun tanpa disadari, pesta pora berlabel Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) yang dihadiri para “pemilik” negeri-negeri di kawasan Asia Pasific ini menjadi awal baru bagi penderitaan rakyat di republik ini.

Hal itu dimulai dari kebohongan besar yang ramai – ramai dilontarkan para pemrakarsa dan “panitia” acara itu yang tidak lain para petinggi di republik ini, yakni bahwa APEC telah membawa sukses besar bagi langkah Indonesia ke depan dan kesejahteraan rakyat di negeri ini. Dengan dalih usulan-usulan Indonesia disetujui oleh seluruh peserta APEC, para pembesar republik dengan membusungkan dada kemudian berbicara kepada rakyat bahwa mereka telah berjuang untuk membawa ekonomi negeri ini menjadi lebih baik di masa mendatang.

Dalam konferensi yang dihadiri 21 pemimpin negara dan 1200 CEO dunia serta menghabiskan tak kurang dari 350 miliar rupiah tersebut , menghasilkan 7 butir kesepakatan beberapa diantaranya yaitu melakukan percepatan terhadap Bogor Goals dan konektivitas antarnegara serta mendesak anggota APEC utamanya Indonesia sebagai Ketua sekaligus tuan rumah konfrensi yang bertemakan “Resilient Asia Pacific-Engine of Global Growth” untuk membuka keran perdagangan bebas sebesar-besarnya.

Disinilah penderitaan itu tanpa disadari dimulai. Sepintas keran perdagangan bebas akan memberi peluang yang luas kepada rakyat di negeri ini untuk bersaing secara global di pasar Internasional. Artinya ketika kita akan memasukkan barang kita ke luar negeri, maka bea masuk yang rendah dan kemudahan ekspor akan dinikmati oleh para produsen. Sebaliknya hal yang sama juga akan diterapkan terhadap barang impor dari negeri tetangga yang masuk ke republik ini.

Namun fakta yang sesungguhnya dan selama ini terkesan ditutupi dari ruang-ruang publik pada akhirnya akan berbicara. Ketika kedelai, cabai, bawang putih, daging, beras hingga garam yang dinikmati oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini ternyata harus dipenuhi oleh negeri tetangga hingga negeri nun jauh di Amerika Selatan sana maka sudah jelas terlihat neraca perdagangan itu akan timpang. Dimana produk luar membanjiri pasar dalam negeri, sementara produksi nasional tidak mampu bahkan tidak mencukupi untuk menembus pasar internasional.

Diluar itu, fakta lainnya yang ditutupi oleh para pemangku kekuasaan di negeri ini adalah produk-produk unggulan kita yang menghasilkan devisa dan berpotensi menyeimbangkan neraca ekspor-impor ternyata tidak mampu masuk dalam daftar barang yang menikmati keuntungan dari perdagangan bebas.

Dari 54 produk yang masuk daftar produk yang menikmati bea masuk 5 persen di APEC saja, Indonesia nyaris hanya akan menjadi target ekspor bagi negara-negara produsen. Sementara CPO dan Karet yang menjadi andalan agar bisa mendapatkan kemudahan dan masuk dalam daftar produk ramah lingkungan justru gagal diperjuangkan di forum APEC Bali.

Mungkin Presiden SBY, Menko Hatta Rajasa hingga Menteri Gita Wirjawan bisa berdalih bahwa mereka telah menanamkan awal yang baik dengan dibukanya kemungkinan pembahasan ulang di forum berikutnya. Namun kegagalan Indonesia dalam memperjuangkan Kretek masuk ke Pasar Amerika hingga mental inferior yang terlihat dengan di bebaskannya bea masuk hingga nol persen untuk sejumlah barang yang di impor dari luar negeri yang dipertontonkan oleh pemerintah bisa menjadi ukuran bahwa ke depan perubahan itu masih jauh dari harapan.

Liberalisasi yang menjadi program sejak KTT APEC di Bogor pada 1994 hingga yang baru saja di helat di Bali jelas sangat tidak berdasar dan tidak berkaca dari kemampuan dan kemandirian produksi yang dimiliki bangsa ini. Jargon dan slogan yang diulang-ulang oleh pemerintah hanya merupakan copy paste dari teriakan-teriakan negara – negara maju yang memiliki basis ekonomi kuat dan kemampuan produksi yang mumpuni.

Masterplan Percepatan Pembangungan yang digaungkan oleh SBY melalui MP3EI dan menjadi dasar logika berfikir disetujuinya perdagangan bebas dengan diiringi pembangunan basis ekonomi dan peningkatan produksi dalam negeri justru hilang dan terlupakan. Hanya menjadi slogan kosong tanpa realisasi. Faktanya setelah 20 tahun Bogor Goals dilahirkan, kondisi ekonomi Indonesia belum mampu menyiapkan diri menyongsong liberalisasi perdagangan yang kian mengglobal tersebut.

Negeri Agraris ini sekarang sudah menjadi pasar bagi produk agraria negara lain dan menggantungkan kebutuhan pangannya dari impor. Republik yang memiliki tanaman sawit ratusan hingga jutaan hektar dan memiliki puluhan produk kretek ini juga gagal menjajakan barang dagangannya ke negara lain dengan berbagai alasan.

Jika negara lain bisa menolak produk kita, bisa menolak program-program kemandirian yang menguntungkan buat rakyat kita, mengapa liberalisasi perdagangan, yang jelas-jelas menjadikan Indonesia pasar buat negara lain, jelas-jelas tidak menghasilkan keuntungan buat rakyat tapi justru menciptakan ketergantungan dan mematikan produksi dalam negeri justru kita telan mentah-mentah tanpa perlawanan.

Jangan-jangan ada keuntungan yang dinikmati oleh sekelompok atau segelintir orang saja yang saat ini jelas bisa dibilang menjadi juru kampanye yang masif untuk negara-negara besar. Menjadi para komparador yang menjual rakyat negeri ini untuk kepentingan asing. Sadarkah kita?

Musyafaur Rahman
Peneliti Indonesia Economic Development Studies (IEDS)

*http://www.muslimdaily.net/berita/lepas/sby-hatta-dan-gita-sulap-indonesia-jadi-pasar-untuk-negara-lain.html

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in KONSPIRASI, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

8 Responses to OTAK PEMIMPIN KITA

  1. fahmi says:

    oooooh gitu. ckp sudah kita dipimpin mereka nga nyepek

  2. huda ndaan says:

    selamat menjalani hidup miskin yg berkepanjangan utk rakyat indonesia.

  3. Adimaz says:

    mungkin mentri mentri kita makanny cuma telur aja..coba makany pake ikan teri,walau pun kecil masih ad otakny.

  4. Adimaz says:

    mungkin mentri mentri kita kebanyakan makan telur kali ya..coba makanny pake ikan teri,walau pun kecil masih ad otakny.

  5. fahmi says:

    aqu bc 7 butir kesepakatan betul kaya vikinisasi. nga jelas apa maksud yg dikatakan SBY. apa keuntungan bt kt sbg rakyat . tx

  6. ugisawa says:

    Dan anehnya tak ada satupun partai diluar pmerintah yg tergerak untuk mengkritisinya

  7. Mbahe Rifqi Hasna says:

    Pemimpin adalah cerminan rakyatnya.Rakyat yang baik akan memiliki pemimpin yang baik,sebaliknya rakyat yang jelek akan dipimpin oleh pemimpin yang jelek, maka marilah kita mulai dari diri kita sebagai rakyat harus baik duluan baru setelah itu kita pilih pemimpin yang baik. oke ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s