HORMON TBA DI DAGING SAPI IMPOR

Kasus-Kasus Kasat Mata

Di negara Indonesia, banyak kejanggalan yang dapat kita lihat dengan kasat mata. Kejanggalan-kejanggalan yang jelas-jelas merugikan negara dan rakyat dengan nilai sangat besar.

Sebagai contoh kasus Century yang merugikan negara 6.7 triliun. Kasusnya sampai sekarang nga jelas-jelas. Nilai yang fantastis menjelang pemilu 2009 kala itu,,,

Trus ada kasus Hambalang, bagaimana mungkin ada suatu bangunan di satu areal yang nilainya hampir 2 triliun. Dan itu disetujui oleh Menteri Keuangan sebagai bendaha negara? dan kita tahu uang tsb mengalir ke mana saja.

Belum lagi kasus impor sapi. Anehnya, setalah kasus tsb mencuat, justru pihak pemerintah semakin gencar melakukan impor daging sapi.

Padahal di lain sisi, pihak Kementan sudah berusaha memperketat impor sapi agar industri sapi lokal dapat berkembang dengan baik. Sehingga nantinya akan tercipta swasembada daging di negara kita.

Inikah aneh, kita terus menerus disuguhi kasus impor sapi, tapi pada saat yang sama Kementerian Perdagangan atau BULOG “malah gemar” melakukan impor daging sapi yang cukup besar.

Analisa saya, karena pihak kementan kokoh memperketat impor daging sapi, kemudian para importir “menggoyang atau menciptakan” kasus impor sapi. Setelah kasusnya berhasil, maka mereka dengan leluasa melakukan impor dengan bebasnya.

Apakah impor sapi merugikan rakyat?
Banget, selain merusak minat para petani sapi yang merapakan rakyatnya sendiri, juga merusak perkembangan industri sapi lokal, ternyata di dalam daging sapi ada bahaya yang lain. Bahaya yang merusak anak bangsa.

Ternyata, di dalam daging sapi impor ada hormon yang membahayakan kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.

Ada tulisan yang membahas masalah ini: bahaya hormon TBA bagi kesehatan. Terima kasih kepada Mas Suli atas info dan kiriman berita artikelnya. Baca juga tulisan lain ini : bahaya hormon TBA

Sapi Impor dari Australia, Apa sudah Bebas Hormon TBA?

Beberapa hari ini, Bulog gencar mengimpor daging sapi impor beku dari Australia. Sebanyak 3000 ton telah diimpor dan digelontorkan ke pasar-pasar di Indonesia, terutama sekali pasar Jakarta.

Impor daging sapi ini untuk memenuhi kebutuhan puasa dan lebaran yang melonjak dua kali lipat dibandingkan biasanya. Beberapa permasalahan yang melingkupi daging impor sapi beku ini diantaranya adalah penolakan pedagang. Maklum, harga sapi segar dari rumah pemotongan hewan cukup tinggi, sehingga bersaing dengan daging impor beku akan membuat mereka kehilangan keuntungan.

Selain itu, pasar tradisional tidak mempunyai cold storage untuk menyimpan daging beku tersebut. Tidak memiliki rantai dingin. Sehingga sekali lagi, jika tidak habis dalam sehari, daging beku impor tersebut bisa cepat membusuk.

Selain mubazir, jika ada pedagang yang nakal tetap menjualnya, bisa membahayakan konsumen

Itu dari sisi pedagang. Sementara dari sisi konsumen, daging beku tentu berbeda kualitasnya dengan daging segar.

Daging segar yang lebih fresh memang bisa jadi harganya lebih mahal dari daging beku. Kalau daging beku, bisa jadi dipotongnya berbulan-bulan yang lalu.

Selain itu, tentu yang dibutuhkan adalah sertifikasi halalnya daging tersebut. Untuk ini, Mendag menjamin bahwa daging sapi itu halal. Ehmm, sertifikatnya mana yak?
Selain itu, permasalahan yang melingkupi daging beku asal Australia ini adalah suntikan hormon yang dipakai untuk penggemukan sapi. Australia, Jepang dan Amerika Serikat (AS) adalah negara-negara yang masih mengijinkan suntikan hormon bagi penggemukan sapi.

Sementara Uni Eropa melarang suntikan hormon ini. Aturan Indoensia mengikuti Uni Eropa, sejak tahun 1998, sudah ada pelarangan mengenai hal ini.

Masalahnya, tidak ada pemeriksaan mengenai kandungan residu hormon pada daging sapi ini. Semuanya masuk begitu saja ke pasar Indonesia, dengan tujuan untuk mengendalikan harga pasar.

Bahaya Hormon TBA

Dari studi yang dilakukan oleh Drh.Kisman untuk disertasi doktornya (2010) di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, beliau mengambil sampel daging sapi australia dan ternyata mengandung hormon trenbolon asetat.

Hormon ini digunakan untuk proses penggemukan sapi. Selain itu, beberapa penelitian lain yang mengambil sampel daging dari australia, positif mengandung hormon TBA ini.

Dampaknya bagi manusia adalah dapat memicu kanker prostat bagi lelaki, dan kanker payudara serta kanker rahim bagi perempuan.

Selain itu, RSCM juga mencatat remaja-remaja yang cepat sekali menstruasinya sekarang ini, karena pengaruh hormon semacam ini.
Sedangkan para lelaki yang sudah mengkonsumsi daging mengandung TBA sejak dini, walah, pertumbuhannya bisa kecewe-cewe-an alias jadi banci.

Indonesia sendiri sudah melarang adanya residu hormon melalui Keputusan Mentan tahun 1994 dan Keputusan Komisi Obat Hewan tahun 1998. Tetapi sayang, sama dengan nasib impor pangan segar lainnya, Indonesia tidak punya mekanisme pengawasan/pengujian keamanan pangan di pintu masuk impornya. Jadi semua bablas masuk pasar Indonesia.

Dan sayang sekali lagi, alih-alih mengembangkan pertenakan sapi sendiri, malah impor daging sapi ini akan diperpanjang hingga Desember 2013. Padahal jika hanya untuk memenuhi kebutuhan puasa lebaran, mengapa tidak sampai hingga H+2 saja yak?

Padahal potensi peternakan sapi yang katanya dibiayai hingga Rp 10 Trilyun, tetapi tidak terserap (statement Menteri BUMN) dan pengembangan organik melalui pengembangan sapi sebesar Rp 20 trilyun, tampaknya memang tidak serius dijalankan. Senangnya emang impor sih. Padahal tingkat keamanannya belum jelas. – Ilyani S. Andang – Anggota Pengurus Harian – YLKI

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
Image | This entry was posted in SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

3 Responses to HORMON TBA DI DAGING SAPI IMPOR

  1. rahayu says:

    wah bahaya juga ya… terima kasih infonya pak nurman….

  2. Yuzt el tarso says:

    Apa yg harus kita lakukan,pak?

  3. suli says:

    Pak Tarso…
    Saya pikir sebagai petani masa bodoh aja,lagian kita jarang makan daging sapi,paling merasakan daging pas lebaran atau ada kupon pembagian daging kurban….kalau pas lebaran biasanya juga sapi tetangga yang cuma makan rumput aja.
    Negara kayaknya juga nga memikirkan ke situ situ yang penting lancar,aman ‘persediaan’ istilah di berita itu kan gitu. padahal kalau di liat sampai ke desa desa….daging sapi bukan makanan yang harus ada, kita banyak mentok jantan, angsa, ayam kampung….tiap saat tinggal potong. pas lebaran bisa memotong mentok jantan 2-4 ekor. protein saya pikir tidak kalah…organik pastinya.ini namanya diversifikasi pangan…..orang desa itu dekat dengan ternak….bebas mengkomsumsinya.orang desa itu mandiri….beras tidak pernah beli,sayuran tinggal petik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s