MENANGIS DI BUMIAYU

Sudah lama saya tidak memposting tulisan Pak Iqbal di blog ini. Tulisan yang dapat membuka pikiran dan hati kita. Tulisan yang dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk menghargai alam di mana kita dilahirkan.

Kali ini, beliau menceritakan pengalamannya ketika naik kereta api menuju Kota Purwokerto. Pada satu sisi, beliau takjub dengan keindahan panoramanya. Tapi, pada sisi lain, beliau merasa miris dengan kondisi yang ada. Bahkan juga menangis melihat pemandangan yang dilihatnya.

Secara pribadi, saya rasakan hal tsb ketika naik kereta api atau bus,,,

Berikut ini tulisannya :

Akhir pekan ini saya menikmati perjalanan kereta melalui tiga provinsi yaitu dari Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah melewati Jakarta dengan kekumuhan pinggir rel dan hiruk pikuknya, memasuki daerah Jawa Barat yang hijau terasa tentram dan penuh syukur rasanya – kita dikarunia bumi yang seindah ini. Puncak keindahannya adalah ketika sampai ke Jawa Tengah di daerah yang secara harfiah disebut Bumi Nan Cantik (Bumiayu !) – alam terasa sangat indah dengan air jernih yang mengalir di mana-mana dan hijaun membentang sejauh mata memandang. Tetapi justru disinilah hati ini menangis ! mengapa ?

Ironi demi ironi saya temukan sepanjang perjalanan. Jakarta dengan tingkat PDB per kapita yang mencapai angka Rp 126.12 juta tahun 2013, seharusnya penduduknya makmur dilihat dari standar manapun. Dibandingkan standar kemiskinan US$ 2/hari-nya Bank Dunia, berarti penduduk Jakarta sekitar 15 kali lebih makmur. Dibandingkan dengan standar nishab zakat 20 Dinar, maka penduduk Jakarta rata-rata adalah lebih dari 2.5 kali dari standar kemakmuran Islam ini.

Tetapi mengapa kekumuhan masih terlihat di mana-mana ?, ya karena terjadi ketimpangan dalam angka PDB tersebut. Di Jakarta tempat berkumpulnya para konglomerat dengan pendapatan selangit, pada saat yang bersamaan juga menjadi tempat tinggal penduduk miskin yang luar biasa jumlahnya.

Ketika kereta memasuki daerah Jawa Barat, bumi mulai menampakkan keindahannya. Kehijauan ada di mana-mana, tetapi sayang sekali ternyata keindahan dan kehijauan tidak identik dengan kemakmuran. Jawa Barat yang langsung berbatasan dengan DKI Jakarta, ternyata hanya memiliki PDB per kapita yang kurang dari seperlima Jakarta – angkanya di sekitar Rp 23.01 juta per kapita untuk tahun 2013.

Memasuki Jawa Tengah, bumi nampak semakin indah. Ketika kereta melewati Bumiayu – entah siapa dan kapan daerah ini diberi nama demikian, yang jelas kecantikan daerah ini nampak jelas dari dalam kereta. Setiap sekian menit perjalanan kereta, Anda akan dengan mudah menemukan sungai-sungai yang mengalirkan air yang (masih) sangat jernih. Rerumputan yang hijau tebal menghiasi tanah-tanah di sepanjang kanan-kiri rel kereta – entah berapa kilometer panjangnya.

Yang membuat hati menangis adalah justru keindahan ini. Mengapa di bumi yang begitu Indah ini PDB rata-rata penduduknya (Jawa Tengah) hanya sekitar sepertujuh dari DKI Jakarta ? PDB per kapita Jawa Tengah hanya 18.75 juta untuk tahun 2013. Angka ini bila dilihat dari standar kemiskinan dari kacamata nishab zakat, hanya 47% dari nishab zakat !

Salah satu sebab yang menjadikan penduduk negeri ini tidak mencapai kemakmuran yang seharusnya barangkali karena kita kurang pandai atau kurang serius memanfaatkan sumber daya yang melimpah di alam. Air jernih dan rerumputan hijau yang merupakan kemewahan bagi saudara-saudara kita di Sub-Sahara Afrika misalnya, nyaris tidak dimanfaatkan sama sekali dan bahkan cenderung disia-siakan.

Dengan mata kepala saya sendiri (dan ini yang membuat hati menangis !), saya melihat rerumputan hijau tebal di sepanjang pinggiran rel kereta tersebut dibabat dan dibakar ! Tidak-kah (pemimpin-pemimpin) mereka pernah membaca : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS 3:191) ?

Kalau saja rerumputan yang melimpah di pinggir rel, di pinggir jalan raya, dibawah kebun-kebun, di area kehutanan – tidak dibabat dan dibakar, tetapi dikerahkan domba untuk ‘merapikannya’ sekaligus memupuk lagi bumi yang dipijaknya – betapa banyak kemakmuran yang bisa dihasilkannya .

Tentu perlu hal-hal teknis yang dipersiapkan, misalnya bagaimana agar domba yang digembalakan di pinggir rel kereta dan dipinggir jalan raya/tol tidak malah membahayakan keselamatan manusia yang lalu lalang dengan kereta dan kendaraannya. Tetapi masalah ini tidak sampai memerlukan rocket scientist untuk memikirkannya, salah satu solusinya adalah dengan menggunakan teknik precision grazing – penggembalaan presisi – yang pada waktunya akan saya tulis dan jelaskan secara terpisah, insyaAllah sudah sangat cukup.

Bila dari 8 ekor domba untuk bisa mencapai 40 ekor domba perlu waktu 2-4 tahun, dan kita tahu standar nishab zakat untuk domba adalah 40 ekor – maka hanya perlu waktu 2-4 tahun inilah penduduk yang penghasilannya dibawah nishab zakat (miskin) bisa diangkat menjadi wajib zakat (kaya). Tetapi mengapa hal yang sangat masuk akal ini belum dilakukan atau dicoba lakukan ?

Salah satunya adalah karena ayat-ayatNya baik yang qauliyah seperti ayat tersebut di atas, maupun yang kauniyah seperti rumput hijau yang melimpah di bumi nan cantik ini – belum dibaca, belum dipahami apalagi ditindak lanjuti.

Maka perjalanan saya kali ini menjadi sangat relevan. Di ujung perjalanan saya berhenti di stasiun Purwokerto, di kota pelajar yang berusaha mengejar kota-kota pelajar lainnya yang lebih dahulu tumbuh ini – saya dan team hadir untuk membuka cabang sekolah kami Kuttab Al-Fatih yang ke enam.

Apa bedanya Kuttab Al-Fatih dengan sekolah-sekolah lainnya ? Di Kuttab Al-Fatih, anak-anak bukan hanya diajari membaca, menghafalkan dan memahami ayat-ayat qauliyah – ini memang menjadi standar kami, anak 12 tahun lulus Al-Fatih standar minimalnya hafal 7 juz dan mulai mengerti dan melatih penerapannya di beberapa bidang – tetapi juga melatih mereka untuk bisa membaca, memahami dan merespon ayat-ayat kauniyahNya.

Bersama Kuttab Al-Fatih Jawa Tengah yang telah lahir sebelumnya – yaitu yang di Semarang , kehadiran Kuttab Al-Fatih Purwokerto ini diharapkan dapat mengakselerasi kehadiran generasi unggulan – yang nantinya insyaAllah mampu dengan sungguh-sungguh dan nyata dalam ikut merespon perintah Allah untuk memakmurkan bumi ini. InsyaAllah http://www.geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/84-gd-articles/umum/1413-menangis-di-bumi-nan-cantik

NB:

Bagi Anda yang di Purwokerto dan ingin tahu lebih lanjut dapat datang ke Kuttab Al-Fatih. Perum Sumampir Indah, Purwokerto Utara. Contact : Ustadz Fajar di no HP 0857 7720 5717

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in MOTIVASI, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

2 Responses to MENANGIS DI BUMIAYU

  1. hyurimalik@gmail.com says:

    untuk wil.jabar ada dimana pak? mohon alamat dan no. kontaknya pak

  2. den says:

    Kuttab Al-Fatih Depok , Kontak : Ust. Galan (021) 46320008

    Kuttab Al-Fatih Purwakarta, Kontak : Ust. Puji 083870714751 atau ust. Luqman : 081388787778

    Kuttab Al-Fatih Jati Melati, Bekasi , Kontak : Ustadzah Silmi : 08121074349

    Kuttab Al-Fatih, Ceger, Jakarta Timur, Kontak : Ustadzah Fenti : 087780906595 atau 0218441681.

    Sumber : geraidinar.com http://bit.ly/1iNvjIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s