DESA TERCINTA

Desaku yang tercinta

Pada suatu waktu, di suatu desa, bisa dilihat dengan bola mata, ada hamparan sawah yang begitu luas. Ada kebahagian tersendiri, bila berada di tempat tsb. Di atas kepala kita, ada ribuan capung yang beterbangan. Mereka seolah-olah tidak pernah lelah untuk mengitari hamparan sawah tsb.

Desaku Yang Tercinta

Di dalam sawah, masih banyak dijumpai aneka jenis binatang. Ada anak katak, kecebong, laba-laba, belalang, kepik, kungkang, tomcat, ikan sepat, ikan betik, ikan gabus, yuyu, dll.

Alunan musik

Ketika waktu malam tiba, begitu jelas terdengar nyanyian suara binatang. Yang terdengar dominan adalah suara ribuan katak. Mereka memecah sunyi dengan suara-suara khas mereka.

Setahu saya, suara-suara katak merupakan alunan musik alami. Mereka ciptakan melodi-melodi indah di tengah-tengah hamparan sawah. Suara-suara katak dan binantang lainnya merupakan “hiburan gratis” atau “live music” bagi jutaan tanaman padi. Dan itu terjadi hampir setiap malam.

Hasilnya? Tanaman padi akan rileks, sehat, kuat, dll. Pertumbuhan tanaman akan optimal. Hasil yang akan didapatkan berbobot. Padi yang dihasilkan, begitu dimasak dan dimakan, rasa kenyangnya akan terasa lama di perut. Nasi dulu kalau dimakan, lama kenyangnya, begitu kalimat pernah saya dengar.

Panen Tiba

Pas tiba waktu panen, kebahagian di wajah-wajah petani di daerah tsb begitu jelas terlihat. Hampir tak ada wajah duka. Semua begitu gembira.

Aktivitas di daerah tsb begitu hidup. Seluruh warganya memiliki kegiatan masing-masing. Ada yang panen, ada yang menggebot panen padi, ada yang mengangkut hasil panen, ada yang menjemur gabah, dll.

Setelah kegiatan itu selesai, gabah-gabah yang berada di dalam karung sudah menumpuk diberbagai sudut rumah. Gabah-gabah tsb adalah harta riil penduduk desa. Siapa yang paling banyak karung gabahnya, mereka itulah yang paling berharta. Gabah-gabah di dalam karung begitu berlimpah,,,

Kakek kita jadi petani

Cerita di atas adalah gambaran hidup para petani puluhan tahun yang lalu. Bisa jadi, cerita di atas, bisa saja kita alami, saat kita masih kecil. Cerita itu, bisa saja terjadi saat orang tua kita atau kakek kita, kala itu jadi petani.

Zaman Kini

Saat ini, ketika waktu panen dimulai, justru banyak juga kita jumpai dan saksikan, tidak ada kecerian di sebagian wajah petani yang ingin memanen hasilnya. Panen yang mereka harapkan, malah menyisahkan cerita kepiluan.

Sebagian wajah dari mereka tertunduk lesu. Sudah kebayang, berapa banyak panen yang akan mereka dapatkan. Sudah kebayang pula, berapa biaya yang telah mereka keluarkan!!!

Panen yang mereka hasilkan, banyak yang kurang optimal. Banyak sekali kendalanya. Bisa hama dan penyakit, iklim yang kurang bersahabat, kelangkaan pupuk, dll.

Tiap musim tanam, ada saja hama yang menyerang. Mulai dari persemaian hingga panen. Ada penggerek batang, WBC, tikus, dll. Belum lagi, penyakit-penyakit endemik tanaman padi spt blas, kresek, kerdil rumput/hampa, tungro, dll.

Untuk menghadapi hama dan penyakit tsb, sebagian besar para petani hanya punya satu cara: semprot dengan “obat” (baca racun). Entah mengapa, kata “obat” buat pestisida, lebih indah terdengar di otak para petani daripada kata “racun” pestisida.

Hasilnya:

Seakan-akan hama dan penyakit tak pernah berhenti. Makin banyak disemprot makin banyak populasinya,,,
Setiap musim, tak pernah reda dari gangguan hama dan penyakit. Hama seperti penggerek batang seperti sundep dan beluk menjadi langganan petani. Belum lagi wabah wereng coklat yang begitu ditakuti petani, dll.

Sekarang ini, banyak petani yang raut wajahnya lebih tua dari usianya.
Mengapa? Sebab dia banyak menghirup “obat” (baca racun). Berapa kali, dia hirup “obat” pestisida dalam 1 musimnya. Bisa jadi, ada yang menyemprot 3-5 kali dalam 1 musim. Ada juga yang lebih.

Tapi ingat, ketika “obat” pestisida menempel di daun dan batang padi maka “bau dan sisa” obat pestisida masih bisa terhirup oleh hidung selama berhari-hari. Apalagi, bila “obat” pestisida bersifat mematikan.

Belum lagi, hampir sebagian besar petani kita adalah “non organik” (baca perokok). Makin klop, asam rokok dan bau racun pestisida masuk ke dalam ruang paru-parunya.

Ketika di sawah, ada teman termasuk saya yang biasanya bertanya kepada petani: “sudah berapa hari disemprot pak?”
Bila baru 1-3 hari, dalam beberapa menit sudah harus cabut dari situ. Minimal menjauhlah,,,

Coba lihat kondisi sawah sekarang ini, coba lihat di atas kepala kita, berapa banyak capung yang masih giat beterbangan. Coba lihat, kondisi di dalam sawah, berapa banyak katak dan anak katak, laba-laba, kecebong, laba-laba, belalang, kepik, kungkang, tomcat, ikan sepat, ikan betik, yuyu, dll.

Bisa jadi, binatang-binatang tsb hanya sedikit yang masih ada di sawah kita. Belum lagi, ketika malam tiba, alunan melodi suara ribuan katak sudah tak terdengar lagi, walau masih ada, suaranya terdengar sayup-sayup.
Padahal, suara-suara katak tsb adalah “hormon pertumbuhan” bagi tanaman padi.
Padahal, suara-suara katak tsb adalah “obat penenang” bagi tanaman padi.
Padahal, suara-suara katak adalah “live music” bagi tanaman padi.

Desaku Yang Tercinta

Pertanyaannya adalah bagaimana mengembalikan agar sawah kita bisa kembali indah.
Bagaimana para capung mau mengitari hamparan sawah kita kembali.
Bagaimana mengembalikan aneka binatang bisa menjadi penghuni sawah-sawah kita.
Bagaimana menghadirkan kembali, nyanyian suara-suara ribuan katak yang dibutuhkan oleh tanaman-tanaman padi kita supaya sehat.

Bagaimana caranya agar bisa kita jumpai suatu desa dengan julukan : DESAKU YANG TERCINTA

Nb: Gambar diambil dari internet

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s