NAIK HAJI JUAL SAWAH

KONSEP PEMBERDAYAAN LAHAN
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN )

Petani yang berhaji
Dalam beberapa pekan ini, nama NGASMO jadi terkenal. Siapa Ngasmo ini?
Ngasmo adalah calon jema’ah haji asal Desa Betek, Dusun Klampok, Kecamatan Mojoagung, Jombang.
Ngasmo menjadi CJH tertua yang diberangkatkan embarkasi Jatim tahun 2014 ini.
Agar bisa ke tanah suci dia harus menjual sawahnya seharga Rp 1,3 miliar. Uang sebanyak itu, Rp. 700 juta di antaranya dibelikan sawah lagi. Sisanya untuk tabungan, biaya haji dan membayar makelar yang berjasa menjualkan sawah saya. http://www.tribunnews.com/regional/2014/09/05/usia-99-tahun-ngasmo-jual-tanah-untuk-naik-haji

Ada juga petani lain yang bernama Sanusi. Berkat hasil menjual sawah setengah hektar Sanusi petani asal Karangbawang, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, berangkat haji bersama isteri. Tekadnya yang bulat meski dengan bekal terbatas dari hasil menjual setengah hektar sawah senilai 60 juta rupiah, ia tunaikan niatnya itu dengan membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji melalui salah satu Bank di Banyumas. http://kalbar.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=12189

Rahasia Umum
Dan sudah menjadi rahasia umum bagi kita, sepertinya cukup banyak jamaan haji kita yang naik haji dengan menjual sawah/kebun/rumah/dll. Di daerah tempat kita tinggal, mungkin saja cukup banyak insan yang mau naik haji dengan menjual hartanya yang berharga seperti tanah, kebun, sawah, dll.

Tanah Umar bin Khattab r.a.

Dari cerita di atas, saya jadi teringat kisah Umar bin Khattab r a. Umar bin Khattab punya tanah yang luar biasa strategis di daerah Khaibar. Dia berfikir, tanah ini sebaiknya mau diapakan?

Akhirnya dia datang ke Nabi Muhammad SAW. Dia minta saran Nabi Muhammad SAW, apa yang harus dia lakukan atas tanah tsb?.

Apa jawaban Nabi Muhammad SAW: “kelola tanah tsb (ditanami dengan tanaman produktif, hasil dari tanaman tsb baru buat disalurkan/sedekah untuk kegiatan lain,,,”

Hadist dari Ibnu ‘Umar, dia berkata :
“Umar bin Khattab mendapatkan tanah di Khaibar, lalu dia menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan berkata : “Aku mendapatkan harta dan belum pernah aku mendapatkan harta yang lebih berharga darinya. Bagaimana baginda Rasulullah memerintahkan aku tentang harta tersebut ?”
Rasulullah SAW bersabda : “Jika kamu mau, kamu pelihara pohon-pohonnya, lalu kamu shadaqahkan hasilnya”.
Maka ‘Umar menshadaqahkannya, dimana tidak dijual pepohonannya, tidak juga dihibahkannya dan tidak diwariskannya. Dia menshadaqahkan hartanya itu untuk fakir, kerabat, membebaskan budak, untuk keperluan fii sabilillah, untuk menjamu tamu dan ibnu sabil. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan dari (hasil)-nya dengan cara yang ma’ruf dan untuk memberi makan teman-temannya asal bukan untuk menimbunnya”
. (Shahih Bukhari).

Tanah produktif

Kalau kita menelaah sejarah sahabat Nabi yang didik dengan ajaran Islam, sungguh luar biasa. Ketika zaman Khalifah Islamiyah, banyak penduduk dari negeri lain yang datang ke Madinah saat itu, tidak perlu repot dalam urusan perut. Sebab banyak rumah makan yang disediakan untuk para musafir. Rumah makan tsb sengaja dibuat memang untuk menerima kedatangan tamu dari luar madinah. Rumah makan tsb gratis sama sekali.

Dari hadist di atas, salah satu peruntukan hasil panen dari tanah Umar bin Khattab ra adalah untuk MENJAMU TAMU DAN IBNU SABIL.

Dari mana rumah makan tsb mendaptkan dananya???
Karena di Negeri Madinah saat itu banyak sekali tanah produktif yang punya konsep seperti Umar bin Khattab. Dan itu adalah resep dari Nabi Kita. Maka, dari hasil-hasil kebun-kebun produktiflah asalnya aliran-aliran dana tsb. Salah satu mengalir buat pemilik rumah makan tsb.

Pertanyaan saya: adakah di zaman yang ini punya konsep demikian????
Apakah ada daerah/kota di dunia ini yang bisa melakukan hal tsb????
Apakah ada di daerah/kota yang membebaskan para pengunjung makan minum dengan GRATIS

Impian Indah

Islam begitu indah mengajarkan kepada kita. Saya merenung, coba membayangkan menjadi tamu yang datang ke kota Madinah. Juga kota-kota besar dimana para khalifah Islam pada saat itu berkuasa

Saya membayangkan ke suatu tempat, saya datang kesana, saya datang ke rumah makan. Saya makan sepuasnya. Saya minum sepuasnya. Ketika saya akan membayar. “maaf bapak, di sini, di daerah ini, bila bapak makan, bapak tidak dikenakan biaya sama sekali” begitu kata seorang pelayan.

“Allah Akbar”

Konsep Pemberdayaan Aset
Benang merah dari itu semua adalah konsep pemberdayakan aset. Perberdayaan aset-aset yang ada, salah satunya adalah lahan pertanian. Untuk memahami konsep pemberdayaan ini silahkan baca di sini http://geraidinar.com/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/84-gd-articles/umum/1473-sustainable-financing-untuk-tahun-tahun-depan-yang-lebih-baik

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in AGAMA, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

One Response to NAIK HAJI JUAL SAWAH

  1. adit says:

    wakaf produktif terutama wakaf sawah harus diperkenalkan kepada yg lain agar sawah2 yg ada bisa berkembang lbh baik lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s