PERTANIAN ALAMIAH (4)

PLOWBOY: Dan apakah Anda terus bertani sejak saat itu?

FUKUOKA: Ya, nyaris terus-menerus. Selama Perang Dunia Kedua saya dikirim untuk bekerja di Pusat Percobaan Pertanian di Kochi, di mana saya terpaksa terperosok lagi ke dalam pelatihan-pelatihan ilmiah. Tetapi setelah perang berakhir, saya senang sekali bisa kembali ke gunung dan kembali hidup jadi petani.

PLOWBOY: Mulai berapa luas lahan yang Anda garap?

FUKUOKA : Setelah perang diselenggarakan pembaruan agraria secara masif di Jepang —yang disebut dengan Nochi-kaiho. Pemilik tanah seperti ayah saya harus melepaskan kepemilikan tanahnya. Ayah saya meninggal tak lama kemudian, dan saya diwarisi sepetak kecil sawah sekitar seperempat akre ukurannya (kira-kira 1.000 meter persegi).

KEBUN

Caption foto: Keseimbangan alami yang barangkali
dibayangkan oleh Fukuoka ..
Lokasi taman National Olympic Park ini disebutnya
dalam salah satu wawancara dengannya.
Bukankah kita juga punya banyak hutan hujan tropis?
Tapi siapa yang sungguh bisa dipercaya menjaganya?
Bisakah kita juga menanam padi di lingkungan semacam itu?
Bukankah konflik rakyat dan BKSDA sporadis terjadi di mana-mana?

PLOWBOY : Apakah Anda langsung mulai mempraktikkan pertanian alami?

FUKUOKA : Saya telah mulai melakukan eksperimen di beberapa kebun jeruk mandarin ayah saya bahkan sebelum perang. Saya yakin bahwa —supaya alam bekerja sesuai dengan keinginannya— pohon-pohon seharusnya tumbuh sepenuhnya tanpa campur tangan saya, maka saya tidak menyemprotkan apa-apa atau memangkasnya atau memberinya pupuk … Saya tidak melakukan apa-apa. Dan, tentunya, sebagian besar dari kebun itu lalu rusak karena dimakan serangga atau kena penyakit.

Masalahnya, Anda tahu kan, adalah bahwa karena saya tidak mempraktikkan pertanian alami, tapi yang saya praktikkan barangkali adalah apa yang bisa disebut dengan “bertani secara malas”. Saya sama sekali tak terlibat. Saya biarkan seluruh pekerjaan kepada alam dan sekaligus berharap bahwa semuanya akan jadi baik pada akhirnya.

Tetapi saya keliru. Pohon-pohon muda itu sebenarnya telah sebelumnya dijinakkan, ditanam, dipangkas dan diurus oleh manusia. Pohon-pohon itu telah menjadi budak-budak manusia, sehingga mereka tidak dapat survive ketika dukungan buatan tiba-tiba tidak lagi diberikan oleh petani.

PLOWBOY : Jadi jika hendak bertani secara alami, itu tak berarti bahwa petani tidak melakukan apa-apa? (do-nothing technique)

FUKUOKA : Tentu bukan, pertanian alami melibatkan suatu proses yang mengarahkan pikiran Anda mendekat dan segaris dengan haluan alamiah dari fungsi-fungsi lingkungan.

Tetapi Anda harus hati-hati: Metode ini tidak berarti bahwa kita tiba-tiba membuang begitu saja pengetahuan ilmiah tentang hortikultur yang telah kita miliki. Tindakan itu adalah pembiaran tanpa tanggung jawab sama sekali, karena melalaikan siklus ketergantungan yang telah dipaksakan oleh manusia terhadap ekosistem yang telah berubah.

Jika seorang petani membiarkan lahannya atau lahan yang telah ‘dijinakkan’-nya itu secara tidak bertanggung jawab dengan begitu saja menyerahkannya kepada alam, maka kekeliruan dan kehancuran tak akan dapat dihindarkan.

Cara yang benar dalam bertani secara alami menuntut seseorang untuk mengetahui apa itu yang disebut dengan ‘alam yang asali’ atau belum diubah atau disentuh manusia, sehingga dia dapat memahami dengan nalurinya apa yang perlu dilakukan —dan apa yang wajib dilakukan—, bagaimana caranya bekerja dalam keselarasan bersama dengan proses-prosesnya.

PLOWBOY : Sikap itu tentunya menyangkal pendasaran dari pertanian modern yang bekerja dengan cara “memanipulasi dan mengendalikan”. Bagaimana Anda dapat berubah dari praktik pertanian tradisional menuju suatu konsep pertanian yang sama sekali tak biasa?

FUKUOKA : Sewaktu masih muda, saya telah melihat semua petani di desa menanam padi dengan cara memindahkan benih dari tempat persemaian ke sawah yang telah digenangi air .. tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa itu bukanlah cara bagaimana padi itu tumbuh dari kodrat dirinya sendiri!

Maka saya kesampingkan pengetahuan saya tentang metode pertanian tradisional dan langsung saja saya lihat siklus alamiah dari tumbuhan padi.

Dalam kondisi liar, padi menua pada musim panas. Selama musim gugur daun-daunnya rontok, dan tumbuhan padi merunduk untuk menjatuhkan benih-benihnya ke bumi. Setelah salju meleleh selama musim semi, benih-benih itu mulai melembaga, dan siklusnya berputar lagi. Dengan kata lain, bijih padi jatuh di tanah yang tidak dibajak, melembaga, dan tumbuh dengan dayanya sendiri.

Caption: Tanaman buah-buahan berdampingan dengan sayuran. Jangan sampai ada lahan yang terbuka dan tak terpakai. Kecuali untuk menjaga kelembaban tanah, sayuran dan rumput-rumputan menjamin ketersediaan kandungan sari makanan untuk tanah dan tanaman serta mengendalikan penyakit dan hama. Sumber: Pertanian Alami – Natural Farming

Setelah mengamati proses alami itu, saya berpendapat bahwa rutinitas memindahkan bibit padi ke lahan atau menggenangi sawah adalah kegiatan yang sama sekali tidak alami. Saya juga berpendapat bahwa praktik-praktik yang selama ini sudah jadi kebiasaan seperti memberikan pupuk di sawah dengan kompos yang telah disiapkan terlebih dahulu, membajak sawah, dan menyiangi sampai bersih adalah kegiatan yang sama sekali tidak perlu.

Semua penelitian saya sejak saat itu mengarah kepada prinsip tidak melakukan ini atau itu. Praktik pertanian yang telah saya jalani selama 30 tahun ini mengajarkan pada saya bahwa lebih baik jika para petani itu tidak melakukan apa-apa sama sekali!

Orang sering berpikir, dengan kesombongan dan kebodohan mereka, bahwa alam membutuhkan bantuan mereka agar bisa berkembang. Padahal, yah, yang benar adalah bahwa alam sesungguhnya (dapat) melakukan semuanya itu jauh lebih baik tanpa “bantuan” dari manusia!

Jika lahan sudah jadi sehat dan mampu bekerja sendiri, pertanian alami —atau “tanpa campur tangan manusia”— menjadi suatu kemungkinan yang nyata. Namun, seperti tampak jelas dari percobaan di kebun jeruk saya, kondisi (kesuburan) semacam itu tidak akan bisa tercapai begitu saja.
Di Jepang and negeri-negeri pertanian yang lain, lahan-lahan itu telah dibajak-bajak dengan mesin-mesin selama berpuluh-puluh dekade .. dan sebelumnya juga sudah diputarbalik oleh sapi, kerbau dan kuda. Di lahan-lahan seperti itu, Anda tidak akan mencapai hasil yang bagus pada permulaannya, jika Anda begitu saja menghentikan kegiatan bertani dan kemudian tak melakukan apa-apa saja sekali (do-nothing agriculture).
Lahan tanah haruslah pertama-tama diberi kemungkinan untuk memulihkan dirinya sendiri. Kesuburan kemudian dapat dipertahankan dengan cara menutup permukaan lahan dengan berbagai bahan organik dan (terutama) jerami yang semuanya akan membusuk ke dalam lahan.

PLOWBOY : Untuk orang-orang yang mungkin tak akrab dengan buku Anda, Revolusi Sebatang Jerami, bisakah Anda meringkas praktik-praktik dasar yang Anda kembangkan dalam sistem penanam secara alami untuk menumbuhkan bulir-buliran, sayuran dan jeruk.

FUKUOKA : Pertama-tama, saya menerapkan empat prinsip pokok.

Pertama, JANGAN MEMBAJAK … maksudnya, jangan membalik atau membongkar tanah. Sebaliknya, saya membiarkan bumi membudidayakan dirinya sendiri dengan cara membiarkan masuknya akar-akar tumbuhan ke dalam tanah dan dengan cara membiarkan kegiatan menggali yang dilakukan oleh mikroorganisme, cacing tanah, dan semua binatang kecil dalam tanah.

Prinsip kedua adalah JANGAN MENGGUNAKAN PUPUK KIMIA ATAU PUN KOMPOS YANG DISIAPKAN TERLEBIH DAHULU. Saya temukan bahwa Anda sebenarnya dapat menghabiskan sari-sari makanan tumbuhan dari dalam tanah dengan cara menggunakan kompos secara sembarangan! Biarkan saja, bumi menjaga kesuburannya sendiri, sesuai dengan siklus keteraturan antara tumbuhan dan kehidupan binatang, (antara flora dan fauna).

Petunjuk ketiga adalah JANGAN MENYIANGI, baik dengan cara melakukan budidaya tanaman tertentu atau dengan pembasmi rumput-rumputan. Gulma memiliki bagian peranan penting dalam membangun kesuburan tanah dan menjaga keseimbangan komunitas biologis ..

Maka saya melakukan praktik mengendalikan —daripada memusnahkan— gulma di ladang saya. Jerami sebagai tutupan tanah, atau tumbuhan semanggi ditanam berselang-seling dengan tanaman pangan, dan penggenangan secara sementara semuanya memberikan kemungkinan pengendalian gulma secara efektif di ladang saya.

Prinsip terakhir dari pertanian alami adalah JANGAN MENGGUNAKAN PESTISIDA.

Seperti telah saya tekankan sebelumnya, alam berada dalam keseimbangan sempurna jika sama sekali kita biarkan. Tentu, serangga-serangga dan penyakit-penyakit yang merugikan akan selalu ada, tetapi umumnya tidak sampai ke suatu tingkat seperti yang terjadi jika diterapkan bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan untuk mengendalikan hama.
Satu-satunya pendekatan yang paling masuk akal dan berpegang pada semangat kepedulian (sensible) terhadap pengendalian hama dan penyakit, saya kira adalah dengan cara menanam tanaman-tanaman pangan yang kuat di suatu lingkungan yang sehat.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in BUDIDAYA TANAMAN. Bookmark the permalink.

One Response to PERTANIAN ALAMIAH (4)

  1. 1 tahun belakangan ini saya sangat suka sama dunia agrokompleks, termasuk hidroponik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s