GULA PASIR DAN GULA PUTIH

Adalah Pak Tono, dia senang minum kopi. Cuma, dia nga suka kopi instan yang dijual di warung-warung dengan harga sekitar Rp. 1000 per bungkus. Dia lebih suka kopi bubuk yang dicampur sendiri gulanya.

Suatu hari, dia lihat di dalam tempat gula, kok gula ini putih, tak seperti biasanya, ada gula yang agak kecoklatan. Dia bertanya kepada istrinya:
“bu, kok gula ini putih banget, agak halus lagi”
” iya, pak. di warung adanya gula seperti itu”
“ini bahaya nga?”
” ya mana ibu tau pak” jawab istrinya

Nah, sekarang ini, banyak kita jumpai, jenis gula pasir yang warnanya putih. Tidak sekedar bening, tapi berwarna putih. Padahal, dulu waktu saya kecil, gula pasir warnanya agak bening agak kecoklatan.

Ternyata, itulah warna alami dari perasan tebu. Ada zat di dalam tebu yang bernama Molases. Molases adalah suatu zat ada di dalam tebu yang berwarna gelap. Dengan process tertentu, molases yang berwarna coklat itu dapat dipisahkan, sehingga gula menjadi kristal putih. Atau warna gula menjadi gula berwarna putih sekali (gula rafinasi).

Gula Putih

Kalau saya sebut gula pasir, maka itu bisa gula kecoklatan, bisa juga gula berwarna putih. Nah, bagaiamana pertanyaan pak tono tadi, berbahayakah gula putih ini bagi kesehatan?

Di dunia barat, gula putih sekarang dianggap sebagai musuh nomor satu dalam menu makanan mereka. Saat ini konsumsi mereka sungguh berlebihan sampai ada peneliti yang memperkirakan mencapai 22 sendok teh gula putih per orang setiap harinya.

Padahal menurut mereka sendiri berbeda dengan lemak dan protein yang dibutuhkan tubuh, gula putih tidak memberikan nilai nutrisi pada tubuh. Dia memberikan energi tubuh sesaat tetapi setelah itu dia tidak meninggalkan sesuatu kecuali penyakit bagi orang-orang tertentu.

Karena karakternya yang demikian, WHO didukung oleh kajian ilmiahnya menyarankan kontribusi energi dari gula seharusnya tidak lebih dari 5 % dari energi yang dibutuhkan tubuh manusia – inipun sudah termasuk gula dari buah-buahan, madu dan sumber gula lainnya.

Bila gula putih begitu banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya tersebut di atas, lantas mengapa dia tetap menjadi produksi industri yang sangat massif di seluruh dunia ? Disinilah masalahnya, industri pada umumnya digerakkan oleh motif mencari keuntungan – sehingga maslahat bagi masyarakat sering menjadi nomor yang kesekian.
http://geraidinar.com/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1527-gula-yang-tidak-harus-putih

Proses Gula Putih

Dalam proses produksi gula putih umumnya melibatkan Sulphur Dioxide, Phosphoric Acid, Calcium Hydroxide dan Carbon Active – yang semuanya sebenarnya tidak diperlukan kehadirannya dalam gula. Sebaliknya zat-zat yang berguna dari dalam tebu malah dihilangkan ketika tebu diproses menjadi gula putih. Zat-zat tersebut adalah Calcium, Zat Besi, Magnesium, Potassium dan Phosphorus – yang semuanya dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan mineral di dalam tubuh kita.

Dengan proses dan kandungannya tersebut di atas, maka dengan mudah kita sekarang bisa tahu bahwa mengapa penggunaan gula putih berusaha ditekan oleh bahkan lembaga-lembaga resmi seperti WHO, juga Departemen Kesehatan R.I. yang berusaha menekan penggunaan gula, garam dan minyak.

Manis Alami

Lantas bagaimana solusinya bagi kita yang terlanjur menyukai rasa manis di hampir semua menu makanan apalagi minuman kita ? Rasa manis bisa datang dari perbagai produk alam seperti madu, buah dan bahkan juga dari tebu itu sendiri.

Tebu yang menjadi salah satu penghasil gula atau rasa manis yang paling efektif, sebenarnya tidak harus dibuat gula putih. Bila tebu diproses menjadi gula yang disebut secara international sebagai brown sugar – gula coklat, maka prosesnya tidak memerlukan begitu banyak zat-zat yang tidak diperlukan – dan sebaliknya mempertahankan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.

Jadi selain alasan kesehatan, alasan cita rasa semestinya juga mengunggulkan brown sugar yang lebih alami ketimbang gula putih – mengunggulkan produk industri yang sederhana dengan tidak melibatkan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh, ketimbang produk industri canggih yang malah melibatkan zat-zat yang tdak memberi manfaat.

Gula Di Warung

Bagi saya, bila di warung ada gula pasir yang berwarna agak kecoklatan, saya lebih suka membelinya. Sebab, gula pasir itu lebih alami.

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in KESEHATAN, SHARE ILMU. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s