BERTANI DENGAN KIMIA

BERTANI DENGAN KIMIA
Penulis : Nurman Ihsan, SP

Pada suatu kesempatan, saya dan teman sesama PPL sempat berbincang-bincang dengan salah satu petani. Petani ini tinggal di Kecamatan Teluk Naga. Petani ini saya panggil Pak Haji. Memang dia sudah berhaji. Nama petani ini saya sebut saja Haji Fulan. Saya tidak enak menyebut namanya di sini. Dari perbincangan tsb, saya ingin ada seputar ilmu yang bisa saya dapatkan.

” musim ini,tanam padi apa pak haji?”
” biasalah ciherang dan beberapa padi lain”
” hasil musim sebelumnya bagaimana pak haji?”
” hasilnya biasa aja sih”

Teman saya yang ikut dalam pembicaraan tsb berkata,
” oh ya pak haji, inpari 15 yang ditanam kemarin bagaimana perkembangannya?”

Saya kaget plus penasaran, sebab inpari 15 tsb berasal dari saya. Saya dapat dari teman. Teman saya ini dua musim lalu menanam padi inpari 15 dengan hasil bagus. Pada musim ini pun, sebagian besar petani di daerahnya yang tanam inpari 15, hasilnya pun bagus.
Dan saya menunggu jawaban pak haji.

“padi itu ya, wah padi kurang bagus. dibanding dengan ciherang dan lainnya, perkembangan inpari 15 kurang bagus”
“kok bisa gitu ya pak haji?” tanya saya
“tanah disini (tanah di lahan pertaniannya) memang beda dengan tempat lain. hasilnya beda jauh dengan tempat lain. saya juga bingung”
” bedanya bagaimana pak haji?”
” saya beberapa kali ambil bibit padi dari teman di Kerawang. Bibitnya sama. teman saya tanam di Kerawang, saya tanam di sini. Hasilnya beda jauh. faktor tanah kayanya”
” bisa jadi sih pak haji, mungkin cara budidayanya beda, mungkin perlakuannya beda,,,”
” saya penasaran, saya pernah panggil teman saya yang tinggal di Kerawang tsb. Dia petani yang ahli dah. Saya suruh tanaman di sawah saya. ya pas panen hasilnya sama saja

Rasa Penasaran

Saya jelas penasaran mendapatkan penjelasan dari pak haji tsb. Di mana letak permasalah tsb. Akhirnya, saya pancing dengan pembicaraan lain

” pak haji, sejak bertani sampai sekarang, pake padi apa hasilnya paling banyak?”
” ciherang, kayanya ciherang gulabet deh”
” dapat berapa banyak waktu itu?”
” 1 hektar bisa 5 ton”
” GKP pak haji, eh basahnya dapat segitu?”
” iya basah”

Bertani dengan Kimia

” pak haji, jerami biasa dimasukkan ke sawah lagi nga?”
” nga sih”
” sekam padinya?”
” nga juga
” pake pupuk ayam ( baca sekam plus kotoran ayam )”
” nga juga, pernah pake sekali, itu dah lama banget, kaki pada gatel. tukang tandur ngan mau lagi”
” kalo pupuk kompos bagaimana?”
” nga pake juga”

Bayangkan, selama bertani pupuk organik/kompos/jerami/kohe/dll tidak pernah masuk ke dalam sawahnya. Padahal, sudah berapa puluh ton jerami dan gabah yang terangkut dari sawahnya. Keluar dari sawahnya. Pada sisi lain, tidak ada yang masuk ke dalam sawahnya.

“kalau pemupukan bagaimana pak haji?”
“pemupukan biasa, pake urea, ponska, dan TSP”
Sayang saya lupa, saya tak tanya dosis pemupukannya

” kalo untuk hama dan penyakit, biasa pake obat apa pak haji. ehh, bukan pake obat, pake racun apa pak haji?” kelekar saya
” kalo soal semprot, saya sih MINIM 5 kali dalam satu kali musim tanam. buat jaga-jaga. pokoknya jangan lengah aja. musim ini saja, dah berapa kali semprot. kalo sampe panen bisa banyak”
” banyak juga ya pak haji?”
” ya minim itu 5 kali semprot”
” biayanya dikeluarkan untuk beli obat ( baca racun ) semprot, berapa per hektar pak haji?”
” kalo sehektar bisa keluar buat beli obat, ada sih sekitar 800-900 ribu”

Setelah itu
” Pak haji, pernah dapat hasil di atas 5 ton/ha GKP?”
” 5 ton itu dah mentok kayanya”
” kalo dijadikan 5,2 ton/ha, dinaikkin dikit bisa pak haji?” teman saya bertanya sekaligus berharap
” kalo naik belum, kalo turun sering juga”

Bayangkan, setelah tanah tidak mendapatkan ASUPAN bahan organik seperti kompos/kohe/jerami/sekam/dll, tetapi malah banyak kemasukan pupuk kimia dan racun pestisida.

Jadi, wajar saja dengan cara budidaya dengan gaya seperti itu, petani tsb hasilnya akan mentok sampai di situ. Sebab, petani ini bertani dengan gaya kimia full. Full abis deh,,,,

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

5 Responses to BERTANI DENGAN KIMIA

  1. Pupuk Organik DIGROW sudah lebih dari 10 tahun hadir menjadi Mitra bagi Petani Indonesia. Tanpa banyak berjanji dan berpromosi, BIARKAN PETANI YANG BICARA. Silahkan Klik di sini :
    http://www.bit.ly/VideoKesaksianDIGROW
    http://www.bit.ly/FotoKesaksianDIGROW
    http://www.bit.ly/ArtikelKesaksianDIGROW
    http://www.digrowindonesia.com

  2. efendy manan says:

    Budidaya padi seperti kisah di atas mmg sdh jamak dilakukan petani kita…entah pertimbangan praktis,lbh efisien atau kah krn tidak ada waktu…padahal sumber bahan organik sangat tersedia spt jerami yg berat nya 60% dr total panen (jerami+gabah)…seandainya itu bisa dilakukan tentu hasil panen akan lebih baik

    • Octav Verdian says:

      Iya mas Efendy,betul itu. Para petani melakukan membakar jerami dan tidak menebar pupuk organik ke lahan,dikarenakan malas dan buang2 duit katanya.

  3. Tono says:

    diwedar ilmunya pak.

  4. Tono says:

    Seandainya p.effendy, ikut membantu nyebar jerami dit4ku,
    alangkah bahagianya diriku ini. He.he.he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s