PENYAKIT BLAS PADI

MENGAPA PENYAKIT BLAS MAKIN MENJADI?
Oleh : Efendy Manan

Judul diatas merupakan pertanyaan yang semakin sering saya terima baik lewat telepon, inbox FB maupun secara langsung dari petani yang merupakan signal bahwa dari tahun ke tahun peyakit ini semakin merajalela serangannya.

Dahulu penyakit blas hanya menyerang tanaman padi areal tadah huja saja. Namun beberapa tahun belakang sudah mulai “turun gunung” menyerang padi sawah dan menjadi momok menakutkan di beberapa sentra tanaman padi di tanah air.

Didaerah pantura Karawang-Subang-Indramayu team IPB pada tahun 2014 melaporkan sekitar 25% areal persawahan terserang blas leher/neck blast mulai dari kategori ringan sampai puso. Disisi lain beragam fungisida kimia bermunculan namun hanya mampu menahan dalam beberapa musim dan tentu saja makin lama petani semakin tergantung pada fungisida kimia.

Selama ini kita hanya tahu penyakit blas/teklik dari efek yang ditimbulkan dan pengendalian kuratif saja jika terkena penyakit ini dan dalam blog ini pun telah dibahas bagaimana pengendaliannya baik kimia maupun organik. Namun ada info terbaru dari beberapa penelitian mengapa blas seperti selalu muncul hampir di tiap musim penghujan dan gadu yang semuanya bersumber dari perilaku kita dalam budidaya padi yang kurang bijaksana namun cepat atau lambat memberikan efek yang makin memperparah serangan blas.

Perilaku budidaya petani kita yang kurang tepat adalah sebagai berikut :

1.Tidak Mengembalikan Jerami

Perilaku petani kita yang sering membakar jerami karena alasan praktis menyebabkan hara kalium dan silikat yang ada didalam tanah menjadi semakin terkuras tanpa ada penggantian yang sepadan.Seperti kita ketahui bersama padi merupakan tanaman yang menguras unsur silikat lebih banyak daripada tanaman lain.Dan juga silikat dan kalium memiliki peran penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman padi menghadapi serangan hama dan penyakit padi. Pendek kata Silikat diibaratkan dinding terluar tanaman dan Kalium memperkuat sel tanaman.Terkurasnya silikat dan kalium di tanah secara berlebihan membuat tanaman padi kekurangan 2 unsur tersebut sehingga bisa ditebak tanaman padi kita menjadi rapuh. https://ceritanurmanadi.wordpress.com/?s=silikat

2.Rendahnya Pemberian Pupuk Kalium

Seperti telah dijelaskan diatas bahwa perilaku petani yang tidak mengembalikan jerami memberi sumbangan defisit kalium di tanah ditambah dengan tidak seimbangnya pemberian pupuk (lebih banyak unsur Nitrogen dan phospat saja) daripada kalium menyebabkan sel tanaman menjadi lemah.Secara visual bisa dilihat tanaman yang kekurang unsur Kalium menjadi lemas,mudah terserang hama penyakit dan mudah rebah.pemberian pupuk daun berbahan dasar kalium dan MOL sabut kelapa bisa membantu mensuplai kebutuhan kalium bagi tanaman.

3.Minimnya Pemberian Pupuk Organik

Pupuk organik,kompos kohe,bokashi padat dll merupakan unsur penting sehatnya tanah sawah kita namun kurang diperhatikan petani.Rendahnya minat petani kita pada pupuk organik sebagian besar karena pupuk organik dianggap menambah beban pekerjaan semata dan stigma bahwa pupuk kimia lebih bisa memberi efek yang lebih baik dan nyata daripada pupuk organik.Sebenarnya pemerintah telah memberi subsidi harga dan bantuan pupuk organik tapi sering dijumpai petani enggan memanfaatkan bantuan tersebut.Rendahnya kandungan C organik dalam tanah menyebabkan tanah tidak mampu mendekomposisi tunggak jerami yang tersisa sebagai inang cendawan Prycularia Oryzae karena minimnya mikroba dekomposer.

4.Penggunaan Herbisida

Dari tahun ke tahun konsumsi herbisida pada padi sawah semakin meningkat.Menurut data dari Komisi Pestisida pada tahun 2012 ada 600 merek herbisida yang terdaftar (Beritasatu.com April ,2012).Dampak semakin mahal dan langkanya tenaga kerja di bidang pertanian membuat petani memakai Herbisida untuk menanggulangi gulma.Tapi secara tidak disadari herbisida membawa efek buruk bagi tanaman,padi menjadi lebih ringkih karena padi juga terkena efek herbisida.Ringkihnya ketahanan padi di fase vegetatif membuat padi juga rentan terhadap serangan penyakit termasuk blas.

Saran Pengendalian:
a. Perlakuan benih dengan PGPR
b. Menggunakan benih sumber yang sehat
c. Pengembalian jerami disertai aplikasi dekomposer sehingga lebih cepat lapuk
d. Aplikasi pupuk silikat dan kalium
e. Aplikasi compost tea atau MOL
f. Penyiangan tidak dengan herbisida
g. Aplikasi pupuk organik yang cukup dan pemupukan yang berimbang

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in HAMA DAN PENYAKIT. Bookmark the permalink.

3 Responses to PENYAKIT BLAS PADI

  1. iwan says:

    Ditunggu tulisan terbaru dan informasi terbarunya pak

  2. Megantara says:

    Bagaimanapun juga petani akan berusaha menekan biaya serendah mungkin dengan berbagai cara :
    1. Pembenaman kembali jerami kelahan sawah memang bagus untuk menggemburkan tanah, namun memerlukan biaya untuk tenaga kerja yang tidak sedikit. Sehingga pembakaran jerami setelah dirasa lapuk akan lebih praktis dan murah.
    2. Penggunaan pupuk kompos petani siapapun tak akan menyangkal kasiatnya bagi pemulihan kondisi tanah yang menjadi lebih gembur, namun biaya tenaga kerjanya juga tinggi sementara efek peningkatan hasil padi tak seberapa atau bahkan tak ada. Penggunaan pupuk kimia adalah jalan termurah dan terpraktis.
    3. Penyiangan dengan tenaga manusia ( digaruk / gosrok ) atau apalah namanya siapapun tak akan menyangkal akan memberikan efek yang bagus bagi anakan dan kesehatan padi. Namun lagi2 memerluka biaya tenaga kerja yang cukup banyak. Sementara penggunaan herbisida untuk menangkal pertumbuhan rumbut liar menjadi solusi praktis dan murah.
    4. Penggunaan mesin2 pertanian, semacam mesin tanam dan mesin pemanen tidak banyak menolong petani dalam menekan biaya produksi. Mesin tanam bantuan pemerintah bagi kelompok tani jatuhnya tak lebih murah dengan tanam manual, karena operator menghitungnya tetap berangkat dari “jika per petak lahan ditanam secara manual” Kelemahan lain masih juga mesin tanam memerlukan banyak tenaga untuk sulam (menanami kembali rumpun yang kosong). demikian juga dengan mesin pemanen, menghitungnya si empunya mesin tetap “berapa Kg gabah untuk upah per petak sawah” barulah dikonversi ke rupiah. Jatuhnya tetap sama saja bahkan lebih mahal karena masih ada tenaga ekstra untuk menebang jerami yang masih terlalu tinggi akibat dipotong mesin pemanen untuk dipendekkan supaya bisa ditanam kembali.
    5. Tiap tahun tenaga kerja selalu minta kenaikan upah. Rombongan mbokdhe mbokdhe tukang tanam per tahun selalu minta tambah antara Rp. 5.000 s/d 10.000 per petak lahan yang mereka tanami. Sementara pakdhe pakdhe tukang membajak sawah ( traktor ) juga minta tambahan upah untuk besaran yang sama.
    6. Penggunaan obat2an herbal (kalau boleh saya menyebutkan) kelihatannya bagus, walaupun saya belum pernah memakainya. Namun melihat proses pembuatannya begitu susah harus cari bahan kesana kemari, makan waktu dan biaya. Sementara kasiatnya, mudah2 bagus ( saya berprasangka baik saja). Penggunaan obat2an kimia menjadi solusi yang paling ekonomis untuk petani, baik dari segi waktu – biaya dan khasiatnya. Bukannya saya sok “kimiawi” tapi sekali lagi itu jalan keluar yang paling mudah
    6. Sudah sekitar 3 atau bahkan 5 tahun terakhir harga gabah asal petani tak mengalami kenaikan harga. Sehingga petani mencari cara2 yang paling murah untuk menekan biaya, walupun itu ada efek samping yang bisa dianggap remeh. Tapi mau bagaimana lagi …. ?
    7. Terimakasih kepada mas Efendy juga pada pembaca lain, mudah2an tidak sebel membaca komen saya. Tapi bertani itu asik ko’. Bukan ketika panen, tapi justru ketika melihat apa yang kita tanam sedang proses tumbuh, dari imut – imut menjadi glewo – glewo. Masalah biaya tak usahlah dipusingkan. Kalau hanya tanam padi, jagung, kedelai; percayalah ndak pernah ada ruginya. Kalau penghasilan dirasa kurang banyak, seberapapun yang kita dapat akan selalu merasa kurang. Suwun.

  3. Fahmi Aufa says:

    komentnya jadi ndak mendidik,mau gampangnya saja dan mengabaikan fakta yg ada di lapangan dan berpotensi merusak lingkungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s