PENGOLAHAN LAHAN PADI SAWAH

PENGOLAHAN LAHAN PADI SAWAH
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP di BANTEN )

Hari ini, ada 3 petak sawah sedang diolah oleh kuli traktor. Sawah itu milik Pak Sarjan. Luas lahan 3 petak sawah sekitar 6000 m2. Lahan sawah itu sedang dibajak dengan hand traktor.

Di sudut sawahnya ada bibit padi yang sudah berumur 18 hari. Kalau tidak cepat dibajak, bisa jadi bibit padi yang sudah disebar itu akan ditanam lebih dari 20 hari.

Tak berapa lama, 2 insan THL datang menemui pak Sarjan. Pak sarjan segera menghampiri mereka.
“ ohh pak mantri,”
“ sedang apa, pak sarjan?” salah seorang thl yang bernama dedih bertanya. Sedangkan temannya yang satu lagi bernama Pak Ruhli, dia melihat bibit padi di pojok sawah
“ ini pak mantri, lagi olah lahan. Soal bibit dah 18 hari. Kalo telat dikit bisa-bisa ditanamnya lewat 20 hari nih”
“ memang seperti ini tiap tahun keadaannya, pak sarjan”
“ sebagaian besar memang seperti ini, kebut dibajaknya. Paling lusa besok baru bisa ditanam”
“ kalau menurut bapak, proses seperti ni sudah betul apa belum?”
“ abis mau bagaimana lagi pak mantri, traktor cuma satu”
“ karena cuma 1 trakktor, makanya bisa disiasati pak”
“ caranya bagaimana pak mantri?”

Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang pengolahan tanah padi sawah. Yang dimaksud Pengolahan Lahan adalah proses membalik tanah dari lapisan bawah tanah ke permukaan tanah agar terjadi proses pertukaran aliran udara, air bisa meresap masuk dan sinar matahari masuk kedalamnya. Pada saat yang sama, sisa-sisa jerami atau rumput pada lapisan atas berada dibawah agar terjadi proses pembusukan.

Proses pengolahan pada padi sawah ini biasanya diawali dengan mengalirkan air ke dalamnya. Setelah beberapa hari tanah sawah dikeringkan. Setelah itu, proses selanjutnya adalah tanah tersebut dibalik. Proses pembalikan tanah itu bisa dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan hand traktor.
Bila menggunakan handtraktor, proses membalik tanah ini bisanya seperti spiral, memutar dengan menyempit. Oleh sebab itu biasanya, tanah padi sawah perlu dipacul kembali pada bagian-bagian sudutnya atau pinggirnya.

Setelah proses ini selesai, sebaiknya ditambahkan pupuk kandang. Kebutuhan pupuk kandang minimal 1-2 ton pe hektar. Lebih baik lagi, diberikan jerami padi yang telah dikompos. Atau bisa juga dimasukan sekam padi hasil atau gabah. Semakin banyak semakin baik.

Selanjutnya tanah kembali diratakan, agar proses percampuran lapisan tanah dan bahan organik atau sekam ini dapat terurai dengan baik. Biarkamlah proses ini berlangsung selama 15-20 hari.

Lebih baik lagi, disemprotkan pupuk hayati/POC/MOL. Dengan perlakuan ini, proses dekomposisi di lahan sawah lebih cepat. Bukan itu saja, di dalam tanah sudah banyak mikroorganisme yang siap menjadi “pabrik pupuk”.

Jadi setelah bibit berumur < 20 hst, lahan sawah juga sudah siap ditanami. Boleh dibilang lahan sawah tersebut sudah sehat.

Setelah 15-20 hari setelah proses percampuran tersebut, lahan sawah yang telah di balik dan dicampurkan (baca digemburkan) diproses kembali. Proses itu dinamakan pelumpuran lahan.

Bila benih yang kita hasilkan sudah sehat, maka akan bertambah subur bila tanah sawah yang kita akan tanami bibit-bibit tersebut juga tanah sehat.

PENGOLAHAN LAHAN TEMPAT PERSEMAIAN

Selama menunggu proses penguraian lahan sawah selesai, sebaiknya kita membuat tempat persemaian. Rekomendasi tempat persemaian yang baik adalah 4-5 % dari luas lahan yang akan kita tanam.

Kalau kita mempunyai lahan 1 hektar maka tempat perseamaian yang akan kita buat minimal 400 – 500 m2. Bila petani punya lahan ½ ha maka diperlukan sekitar 200-250 m2.

Untuk tempat pembibitan ini, harus kita perhatikan.
Pertama, lihat arah matahari. Arah temapat pembibitan ini harus menghadap timur dan barat. Mengapa? Jawabannya: supaya sinar matahari maksimal merata sampai ke semua tanaman, terutama pada bagian bawah tanaman.

Kedua, Jangan terhalang pohon lain.

Ketiga, Lebar tempat pembibitan. Sesuai rekomendasi, bila kita beli benih kemasan (label biru) biasanya ada petunjuk teknis pembibitan. Lebar tempat pembibitan tersebut 1,1-1,2 meter. Dan tak boleh lebih dari 1,5 m. Sedangkan buat panjangnya disesuiakan dangan panjang sawah si petani. Untuk mudahnya, tempat pembibitan yang baik sama seperti kita menanam pohon bayam/kacang tanah dll. Ada jarak yang lowong.

Keempat, berikan juga pupuk kandang atau bahan organik yang sudah jadi untuk tempat pembibitan ini. Ukurannya bisa 50-100 kg per 400 m2.

Kelima, berikan pupuk npk kujang//ponska sebanyak 1 sendok maka per 1 m2. Kalau 1 sendok ukurannya adalah 15 g maka untuk 400 meter adalah 6000 g atau 6 kg. Pupuk organic dan pupuk NPK bisa dicampurkan dan disebar merata pada permukaan tempat pembibitan. Setelah itu permukaan lahan yang akan ditanami diratakan.

Keenam, benih siap ditaburkan ke tempat persemaian.

Ketujuh, Taburkan/sebarkan 1-2 genggam benih yang ada di tangan kita untuk setiap 1 meter persegi.

Kedelapan, tanamlah bibit-bibit tersebut dibawah 20 hst, sebab makin muda bibit ditanam maka semakin banyak anakannya. Saran saya, tanamlah 1 bibit dalam satu lubang tanam.

Demikianlah, proses pengolahan lahan sawah beserta pernak-perniknya. Bila kita melaksanakannya, itu artinya kita menyiapkan lahan sawah yang sehat buat bibit-bibit padi.

Kalau bibit-bibit padi tsb bisa ngomong, maka mereka akan mengucapkan kepada petani tsb: terima kasih !!!

About these ads

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

11 Responses to PENGOLAHAN LAHAN PADI SAWAH

  1. dwi khoirudin says:

    Saya sangat tertarik sekali tetapi ada beberap yang harus saya konsultasikan

  2. siti J says:

    tulisan ini sangat membantu untuk d lapangan,makasi gan,,,,

  3. nurul badri says:

    mas nurman…….
    ,mohon bantuannya, q di jember jawa timur kebetulan saat ini di sawah sdang musim tanam padi, yg q tanyakan pada umur (HST) berapa saja pupuk dasar, pupuk I dan pupuk susulan itu diaplikasikan…?
    terima kasih sebelumnya

  4. suli says:

    Ini menurut pengalaman petani karawang dalam hal membuat lahan persemaian beserta kapasitas sebar benihnya.
    Sebagian tulisan ini mewakili sms yang masuk ke saya….lebih mendasar pada ukuran bibit nantinya dan kekuatan terhadap banjir,hama keong dan kemampuan beranak dan luasan sawah
    -Kebutuhan benih 20 kg/ha
    -Lahan persemaian 700 m2, di buat antara 20-22 gulan yang asumsinya 1 kg atau kurang /gulan
    -Yang di harapkan benih jarang/tidak rapat, akan membuat benih leluasa beranak sejak dini
    -Jikapun nantinya di tanam tunggal, akan kokoh dan perasaan besar menjadikannya ‘tega’ sendirian
    -Jika harus ditemani,karena beralasan keong ada, dimakan satu masih ada satu > selamat
    -Keong tidak ada cukup tunggal
    -Umur tanam sesuaikan kondisi air dan kondisi geografis paling umum 20- 25 hss
    -Sawah irigasi teknis jarak adalah 30 cm x 30 cm dan jarwo

    Coba teman bandingan dengan sebar benih rapat, hasilnya benih seperti lidi, panjang dan lemas yang berujung pada tukang tandur tidak ‘tega’ tanam tunggal walaupun sang empunya sawah menyuruh satu satu, mereka ini mau jika bibit besar, jika seperti lidi, atau SRI umur 8-10 hr (waktu lama,banyak orang), hujan deras 3 hari kemudian, kelelep….belum keong….tamat

    Cobalah bergurulah pada petani petani di sawah, beliau adalah guru sejati, tinggal kita memolesnya.

  5. 21yoyok says:

    Terima kasih, tulisan bapak banyak membantu saya, yang sekarang ini baru awal belajar “Nyawah”. itupun sawah sewa punya Desa, luas 8 rakit / 1 ha kurang 2 rakit,…
    saya ingin bertanya mengenai Penggunaan Pupuk / Kompos bekas Tinja utk sawah, bagus tidak ya? butuh berapa ton utk luas 8 rakit, dan bgm Aplikasinya..?
    Mohon Penjelasan & Pencerahanya.
    Trims.
    Nuwun..

  6. suli says:

    Pak Ihsan terima kasih….Pak Yoyok….

    Saya senang menyebutnya kompos nenek moyang, kenapa ? ya leluhur kita yang hidup di desa mereka mempunyai dua jamban keluarga, kalau satu sudah penuh jangka setahun akan du uruk/ditutup dengan abu sekam padi, kemudian di biarkan menunggu musim kemarau dan diangkut ke sawah. begitu seterusnya.

    Oke…generasi sekarang memakai mirip cara di atas hanya banyak modikasi sendiri, antara lain di harapkan 2 bulan matang dengan starter, dolomit, serbuk gergajian kayu (jenjen ),abu sekam dll tergantung selera. cara saya sedot menjelang akhir musim hujan
    -Siapkan abu sekam minimal 20 karung , serbuk kayu/gerjen 20 karung, dolomit 20 kg, starter EM4 1 lt encerkan
    -Semua orang kasih masker dan sarung tangan
    -Sedot dengan mesin pompa, curahkan di tumpukan abu sekam supaya meresap
    -Tutup dengan gerjen dan bahan lain
    -Jangan diaduk takut mabok dan tidak mau makan seminggu.
    -Tutup dengan terpal, biarkan 1-2 bln
    Hal yang perlu di perhatikan…..
    Usahakan buat lubang ukuran 3 x 2 m kedalaman 1 m/lebih, kalau ada bekas kolam ikan bisa, kalau dekat saluran irigasi yang sudah kering bisa tinggal memagari kanan kiri memakai terbal,paling gampang seperti mau membuat kolam lele terpal.
    Ukuran 8 rakit cukup 2 septik tank 1 tahun.
    Lebih baik lagi tampung urine semua anggota keluarga, biar menjadi petani merdeka

  7. 21Yoyok says:

    OK. Trims. Pak Ihsan dan pak Suli,.
    sementara kemerin sy pakai Kohe Ayam Petelur, karena mau pake KOMPOS NENEK MOYANG belum berani takut Fanass krn belum matang/belum jadi, alhamdulilah krn mkn roboh sebelum panen jadi dpt hasil 8Ton/Ha. saya pingin bisa panen minimal 10Ton/Ha biar seperti Reken” petani diSana hingga dpt panen 14Ton/Ha GKG,..
    trims. Nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s