MENCARI HASIL PANEN PADI YANG TINGGI

 PETANI MENCARI HASIL TINGGI, BUKAN BANYAK JUMLAH BIBIT 
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan menanam padi dengan sistem atau cara legowo. Ada banyak keuntungan yang didapatkan oleh para petani atau para pengusaha tanaman padi bila menerapkan sistem tanam ini.

Pada suatu kesempatan, saya pernah berdiskusi dengan seorang petani. Nama petani tersebut Pak Oyom. Dia tinggal di Pasir Randu, Kecamatan Curug, Tangerang. Melihat cara dia bertanam padi, boleh dibilang dia petani yang sudah baik cara pengelolaan sawahnya. Sistem tanam yang digunakan adalah tandur jajar.

Beberapa tahun yang lalu, saya dan teman-teman THL memperkenalkan sistem tanam legowo kepadanya. Dia merespon. Di sawahnyapun ditanam sistem legowo 4:1, 6:1 dan 7:1.

Tetapi dia juga menanam sistem legowo tapi tak diselipkan di bagian pinggir seperti biasanya. Boleh dibilang itu adalah tandur jajar yang dilegowo. Sehingga dia bisa membedakan hasil yang ke-3 sistem legowo itu sekaligus melihat hasil sistem legowo tandur jajar. Sayangnya, pas panen saya tak sempat melakukan ubinan.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas masalah jumlah bibit yang ditanam dan hasil yang akan didapatkan.

Bila Pak Oyom menanam dengan sistem legowo 4:1, dengan jarak tanam 25 x 25 cm maka akan didibutuhkan 160 ribu bibit per hektar. Tetapi karena ini legowo 4;1 sisipan, maka jumlah bibit akan lebih banyak 20 %.

Maka jumlah bibit yang perlu ditambah sekitar 40 ribu bibit lagi jadi totalnya 200 ribu bibit. Bila dalama 1 tancep ditanam 2 bibit saja, bibit yang dibutuhkan ada 400 ribu bibit. Bila nanti setelah panen didapat, misalkan produksinya 10 ton GKP.

Sekarang kita bandingkan dengan sistem tandur jajar legowo tanpa sisipan. Jumlah bibit yang dibutuhkan untuk sistem tanam seperti ini akan lebih sedikit dari 160 ribu bibit, dengan jarak tanam 25 x 25 cm.

Bila saya hitung dibutuhkan sekitar 120 ribu bibit saja. Sebab akan berkurang 20 % dari 160 ribu bibit. Kalau dalam 1 tancep ada 2 bibit dibutuhkan 240 ribu bibit Bila nanti setelah panen didapat misalkan produksinya 9 ton GKP.

Sekarang kita bandingkan,

Bila jumlah bibit 200 ribu tancep ( baca rumpun ) menghasilkan 10 ton (10.000 kg) GKP maka 1 rumpun menghasilkan rata-rata
= 200.000 rumpun = 10.000 kg
= 200 rumpun = 10 kg
= 20 rumpun = 1 kg
= 1 rumpun = 1/20 kg = 50 gram

Bila jumlah bibit 120 ribu tancep ( baca rumpun ) menghasilkan 9 ton (9.000 kg) GKP maka 1 rumpun menghasilkan rata-rata
= 120.000 rumpun = 9.000 kg
= 120 rumpun = 9.0 kg
= 12 rumpun = 0.90 kg
= 1 rumpun = 0.90/12 kg = 75 gram

Dari hasil jumlah hasil per rumpun dapat kita lihat bahwa sistem tanam legowo tanpa sisipan menghasilkan jumlah yang lebih tinggi daripada yg pake sisipan.

Makanya sewaktu sistem tanam legowo ini diperkenalkan kepadanya, sempat terlontar dari mulutnya,
pak, bagi kami para petani yang kita cari hasil panen yang tinggi, bukan malah nambah bibit”.

Dan memang kalau kita melihat sejarah padi legowo,  ditemukan secara tidak sengaja tanpa melakukan penyisipan tanaman di bagian pinggir. Tetapi hasilnya lebih tinggi dari mesim sebelumnya.

Bagaimana tanggapan pembaca??

About these ads

About NURMANIHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in UBINAN/PANEN. Bookmark the permalink.

29 Responses to MENCARI HASIL PANEN PADI YANG TINGGI

  1. omyosa says:

    MARI..
    “KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA”. .

    “BERTANI DENGAN SISTEM GABUNGAN SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), PUPUK ORGANIK AJAIB (SO/AVRON/NASA), AGEN HAYATI PENGENDALI HAMA TANAH/TANAMAN (GLIO dan BVR), DENGAN POLA TANAM JAJAR GOROWO”

    Teknologi pola tanam jajar gorowo

    Kata “gorowo” diambil dari bahasa Jawa yaitu “lego”, “jero” dan “dowo”. Lego artinya luas/lebar, jero artinya dalam dan dowo artinya panjang. Teknologi jajar gorowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan sehingga terjadi pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebar jarak antar barisan dan diselang dengan parit/selokan sehingga seolah-olah rumpun padi berada dibarisan pinggir dari pertanaman yang akan memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir. Cara tanam padi pola tanam jajar gorowo merupakan rekayasa teknologi yang ditujukan untuk memperbaiki produktivitas usaha tani padi. Teknologi ini merupakan perubahan dari teknologi jarak tanam tegel menjadi tanam jajar legowo dan disempurnakan menjadi tanam jajar gorowo.

    Media tanam dalam bentuk bedengan tidak digenangi air, tetapi tinggi air pada parit/selokan sama atau sedikit lebih rendah dari permukaan tanah bedengan. Bibit ditanam pada usia muda (6 – 10 hst) dan satu bibit untuk satu titik tanam.

    Cara tanam pada pola tanam jajar gorowo bisa 4:1 atau 2:1. Pada pola tanam jajar gorowo 2:1, setiap dua bedengan terdapat lorong selebar 45 cm (10cm pinggir bedengan + 25cm parit gorowo + 10cm pinggir bedengan berikutnya), jarak tanam pada barisan masing-masing 18 cm s/d 20 cm, tetapi jarak tanam antar barisan berikutnya 40 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya bisa 2(dua) sampai 3 (tiga) kali lipat lebih tinggi dibandingkan produksi rumpun padi yang berada di bagian dalam.

    Rekayasa teknik tanam padi dengan cara tanam jajar gorowo 4:1 atau 2:1. Berdasarkan hasil penelitian terbukti meningkatkan produksi padi sebesar 18-22%.

    Keuntungan menggunakan pola tanam jajar gorowo adalah:
    1. Pada pola tanam jajar gorowo 2:1, rumpun tanaman padi berada pada barisan pinggir pematang, sedangkan pada teknik pola tanam jajar gorowo 4:1, separuh tanaman berada pada bagian tengah (yang akan mendapat manfaat border effect dari tanaman pinggir).
    2. Jumlah rumpun padi meningkat sampai 33%/ha.
    3. Meningkatkan produktivitas padi 22%.
    4. Memudahkan pemeliharaan tanaman.

    Keuntungan bertani pola gabungan SRI, PO, EM16+, dan pola tanam jajar gorowo adalah:
    1. Hasil yang diperoleh murni organik
    2. Penggunaan bibit sangat sedikit (5-6 kg per hektar).
    3. Mampu meningkatkan hasil sampai 400% dan kualitas produksi yang lebih baik, termasuk harga jual yang tinggi dibanding cara bertani konvensional.
    4. Pola tanam jajar gorowo memberikan ruang/lorong yang luas (termasuk parit/selokan yang dalam) dapat dan sangat cocok dikombinasikan dengan pemeliharaan ikan baby (minapadi)
    5. Masa pemeliharaan ikan baby dapat lebih lama, yaitu 70-75 hari, dibanding cara tanam jajar biasa yang hanya 40 – 45 hari.
    6. Hasil ikan yang diperoleh dapat meningkatkan usaha tani.
    7. Dapat meningkatkan pendapatan usahatani antara 10-30%.

    Terimakasih,
    omyosa@gmail.com; atau di 02137878827, 081310104072

  2. omyosa says:

    MARI..
    “KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA”. (lanjutan)

    Teknik bertani sistem gabungan SRI, PO, EM16+, dan.
    pola tanam jajar gorowo pada luas lahan 1 hektar.

    Lima dasar praktis dari sistem gabungan SRI, EM16+ PO,pupuk ajaib SO, dengan pola tanam jajar gorowo:

    1. Persiapan benih dan menanam benih usia semai muda
    Kebutuhan benih untuk tanaman padi model SRI adalah 5-7 kg per hektar lahan.Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung.
    Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam POC NASA dosis 2 tutup / 10 liter air selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organik atau kompos (1:1) didalam wadah segi empat ukuran 20×20 cm selama 6 hari. Setelah umur 6-10 hari benih padi sudah siap ditanam.
    2. Olah tanah dan atur jarak tanam dengan bibit tunggal
    a. Mula-mula tanah dicangkul tau dibajak menggunakan traktor atau tenaga sapi atau kerbau.
    b. Selanjutnya tanah digaru sambil disebari Dolomit 250 – 500 kg per 1 hektar dan pupuk kompos 2 ton/hektar dan ditaburkan serbuk agen hayati pengendali hama tanah GLIO NASA dengan dosis 30 pact @100gram per 1 hektar.
    c. Selanjutnya setelah tanah sawah digaru dikeringkan/ditiriskan semalaman untuk memudahkan pembuatan bedengan.
    d. Kemudian pada hari berikutnya bedengan dibuat dengan ukuran lebar 60 cm diselang parit selebar 25 cm dan dalam 30 – 40 cm.
    e. Selanjutnya buat larutan 10 liter cairan EM 16+ dengan 980 liter air air yang sudah ditambahkan 10 liter air gula (molas) diaduk perlahan berlawanan dengan arah jarum jam, dan didiamkan selama 4-5jam kemudian sejumlah 1000 liter larutan EM16+ tersebut disiramkan/digemborkan atau disemprotkan merata dipermukaan tanah bedengan untuk lahan seluas 1 hektar.
    f. Sehari kemudian parit diantara bedengan dialiri air sampai rata dengan permukaan tanah bedengan dan apabila terdapat pinggiran tanah bedengan yang rusak/larut kedalam air parit, lumpur yang ada diparit diangkat untuk memperbaiki bedengan, sekaligus permukan bedengan diratakan.
    g. Kemudian diatas bedengan dibuatkan garis-garis jarak tanam, yaitu 10 cm dari pinggir bedengan kiri dan kanan, sehingga jarak antar barisan selebar 40 cm. Selanjutnya dibuatkan titik-titik tanam pada masing-masing barisan dengan jarak titik tanam pada masing-masing barisan antara 18 – 20 cm.
    h. Selanjutnya bibit padi hasil semaian antara 6-10 hari dapat langsung ditanamkan pada masing-masing titik tanam dengan posisi akar dan batang menjadi berbentuk (L) dan akar dibenamkan tidak lebih dari 1 cm saja dari permukaan tanah.
    3. Mempertahankan tanah basah tapi tidak tergenang.
    Untuk mempertahankan agar tanah bedengan tetap basah tetapi tidak tergenang, maka upayakan tinggi air diantara bedengan maksimal setinggi bedengan atau sedikit dibawahnya (1-2 cm dibawah permukaan tanah bedengan).
    4. Pemeliharaan tanaman
    a. Membersihkan gulma pada hari ke 5 dan ke 6, diulang pada hari ke 12 dan 13, 19 dan 20, 26 dan 27 dengan cara digaruk dengan garukan kemudian dibenamkan, atau langsung dibenamkan dengan menggunakan logam dalam bentuk garpu. Tanah bekas pembenaman gulma tidak perlu ditutup sehingga akan terbentuk lubang-lubang kecil yang akan terisi dengan air resapan.
    b. Memberikan pupuk Ajaib SO yang dilarutkan dengan air 3 tutup/tangki 10 liter dengan cara disemprotkan. Pada minggu pertama (hari ketujuh) cukup 1 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 350 liter air dan semprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar,
    c. Kemudian pada minggu kedua dan minggu ketiga ditingkatkan menjadi 2 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 700 liter air dan semprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar,
    d. Kemudian pada minggu keempat ditingkatkan menjadi 3 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 1000 liter air dan semprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar.
    e. Selanjutnya pada minggu kelima diberikan larutan pupuk Power Organik NASA dengan dosis 2 kg dilarutkan kedalam 1000 liter air dan digemborkan secara merata ditengah-tengah bedengan seluas 1 hektar diantara 2 barisan rumpun padi (dibekas garukan atau lubang-lubang pembenaman gulma).
    f. Kemudian pada minggu keenam larutan pupuk ajaib SO disemprotkan kembali dengan dosis sama dengan sebelumnya yaitu 3 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 1000 liter air disemprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar.
    5. Mengendalikan hama tanah dan tanaman dengan agen hayati pengendali hama
    a. Pada minggu ketujuh dan minggu kedelapan apabila terlihat tanda-tanda terdapat hama berupa walangsangit dan lain-lain, larutan pupuk ajaib SO dapat dicampurkan dengan larutan BVR NASA dengan dosis 3 liter pupuk ajaib SO +10 pact@100gram dilarutkan kedalam 1000 liter air disemprotkan secara merata ke daun dan batang untuk tanaman seluas 1 hektar.
    b. Kemudian pada minggu kesembilan dan minggu kesepuluh larutan BVR NASA saja dengan dosis 10 pact@100gram kedalam 1000 liter air disemprotkan kembali ke daun dan batang secara merata.
    c. Kendalikan hama secara terkendali tanpa harus membunuh predator pemangsa hama dari awal tanam hingga masa panen
    Terimakasih,
    omyosa@gmail.com; atau di 02137878827, 081310104072

  3. warino says:

    saya mau tanya pak
    khusus utk tipe 2:1,3:1,4:1,5:1 populasinya meningkat jdi brp ribu /ha?
    trimakasih

    • NURMANIHSAN says:

      Dengan memakai rumus tsb, kita bisa menghitung jumlah populasinya. Kalau 2:1 kan bertambah jadi 33% dari populasi. Jd totalnya adalah jumlah populasi + (33% x jumlah populasi)
      cara hitungnya: tambah populasi = 1/ sistem legowo + 1.
      misal legowo 4:1, jadi tambah 1/4+1 = 20 %

  4. meidy. says:

    Terima kasih atas ulasan ulasan bpk,saya adalah petani sawah pemulahyang saya mau tanyakan bagaimana mengolah sawah yang sering terendam air(saluran air yang dangkal hanya ujan kecil saja air meluap masuk kesawah)tks mohon balasan

    • NURMANIHSAN says:

      Trim pak meidy atas komennya
      Pada dasarnya pengolahan lahan sawah sama sj yang membedakannya adalah lama waktu lahan tersebut istiahat, pemberian dosis pupuk organik. Masalah yg dihadapi bapak adalah saluran air yg dangkal. Maka saluran itu bisa buat tidak dangkal atau didalami sedikit. Itu yg pertama. Dan yg kedua, bapak bisa menanan varietas padi yang tahan akan rendaman air. Ada beberapa varietas padi yang tahan rendaman air samapi 3-4 hari sepeti Inpari 4 dan Inpari 7 atau Inpara 3, 4, 5 dan 6 yg tahan rendaman 6-14 hari.

  5. BUDI says:

    SAYA SETUJU KLW JA2R LEGOWO BS NAMBAH HASIL

  6. suli says:

    Setuju banget

  7. lito says:

    Salam Mas Nur,
    saya ini masih petani bodoh, dan kurang pengalaman, ada beberapa pertanyaan yg mungkin teman teman bisa bantu lito:
    1. dengan sistim penanaman gabungan pola tanam SRI, dan perawatan yg intensif sekali, serta pembuatan bendengan dan parit yg begitu banyak dalam per ha, dan pemakaian pupuk organik yg sempurna, mungkin kita bisa menghasilkan bulir padi yg banyak. masalahnya kalau sistim yg memerlukan banyak tenaga kerja, dan biaya yg cukup besar, apakah memadai dengan penghasilan yg diterima? dengan asumsi tanaman kita berhasil, dan tidak kena masalah karena kondisi alam dan iklim (penghasilan dikurangi biaya tambah resiko).
    2. bagaimana cara tanam padi dengan biaya yg minimal untuk mendapat hasil yg maksimal?(asumsi semua pekerjaan diupahkan)
    3. bagaimana cara mengatasi padi yg masaknya tdk serentak, padi induknya sdh menguning (sekitar 40%), anakan 1 baru matang susu (sekitar 30%), sedangkan anakan 2 baru dalam proses pembungaan (sekitar 30%)? padi varietas ciherang (bibit label dari PT SHS)
    4. bagaimana cara memperpanjang usia padi? apakah dengan pemakaian asam gliberelin? bisa memperpanjang berapa hari?

    thanks and regards
    lito

    • NURMANIHSAN says:

      Trim mas suli atas penjelasannya,
      setahu saya, pertanyaan mas lito: sulit-sulit, hee.
      tuk no.3: kalo kita telusuri, biasanya masa generatif tuk pembungan sekitar 28-30 hari setelah masa generatif atau fase terakhir dari fase generatif reproduktif. selanjutnya, masa masak susu 30 % dan 1/2 matang (40%) dalam fase generatif pematangan, baca http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2012/06/13/mengenal-fase-pertumbuhan-padi/. Menurut sy, pada tanaman tsb ada beda sekitar 25 hari lah.

      cuma kalo kita perhatikan lebih jelas, biasanya padi induk malai lebih panjang dan jumlah bulir jg, tuk anakkan 1 relatif sedang dan anakan 2 rata-rata lebih pendek. dengan kondisi tsb, secara umum anakkan 2 bisa menyusul. dalam kondisi ini, bila di sawah pengairan maka penggenanganair bisa dilakukan. Dengan demikian, kadar air di gabah kan tinggi. Bila kondisi anakan 2 sudah siap maka pengairan bisa dihentikan.
      Melihat kondisi tanaman yg demikian, memang bila ada anakan tak produktif sebaiknya dibuang. kemudian, bisa menanam varietas yg tahan rontok, spt inpari 13

      tuk 4: ya itu tadi bisa dilakukan penggenangan air.mungkin ada pembaca yg punya jawaban lain. di dalam tulisan mas isroi http://isroi.com/2010/09/01/hormon-tanaman-giberelin/ bisa menambah wawasan, ternyata pemberian asam gliberelin bisa memperlambat pematangan buah tertentu. trim

      • lito says:

        salam Mas Nur,
        Terima kasih sekali atas penjelasannya, penjelasan ini sangat membantu petani bodoh seperti saya ini, memang gambaran tanaman (indukan lebih panjang sekitar 20% dari anakan 1, dan anakan 1 lebih panjang sekitar 5%-10% dari anakan 2) dan asumsi Mas Nur tepat sekali (perbedaan indukan dengan anakan 2 itu terlihat beda sekitar 24-25 hari. terimah kasih sekali Mas Nur

        thanks and regards
        lito

      • NURMANIHSAN says:

        wasalamualaikum wr wb

        Sama2 mas lito, saya jg bisa belajar dari pertanyaan2 yg mas berikan

        asumsi saya, mas lito bekerja di instansi tertentu, terutama bidang pertanian.
        Dari pertanyaan dan jawaban yg diberikan, ada indikasi ke arah tsb. apalagi kadang dilengkapi dng data2.
        Sorry ini cuma sekedar analisa saja.
        Kalau salah mohon dimaafkan ya mas lito. hee

  8. suli says:

    Salam kenal Pak lito
    SRI identik dengan organik, namun tidak harus….artinya pelan pelan dari konvensional ke organik, yang saya alami biaya jauh lebih tinggi, hasil yang jatuh(bukan berarti jelek), yang tadinya 6-7 t gkp/ha, diawal mencoba bisa hanya 3-4t gkp/ha namun tiap musim tanam ada peningkatan, setelah 7-8 MT baru diatas rata rata petani umumnya, saya yang kesepuluh (5 taun) baru bisa tembus 11,2 t gkp/ha.

    Biaya minimal di sebut petani mandiri, kompos sapi,ayam,kambing sendiri, pestisida harus nabati,traktor dan mesin power threser punya sendiri jadi per musim bisa di hitung biaya susutnya.benih buat sendiri tanpa tergantung produksen benih hanya cara memurnikan yang benar bagaimana contohnya kalau untuk calon benih harus jajar legowo 21 tanpa sisipan.jarak dari pematang satu meter.tenaga kerja tidak bisa di kurangi, lebih organik harus ketat, meleng sedikit bablas parine….

    no 3 dan 4 silakan pak ihsan saja atau teman lain

    • lito says:

      Salam kenal Pak Suli,
      terima kasih atas penjelasan dan pengetahuan Pak Suli, lito sangat berterima kasih atas sharing pengalaman Pak Suli,
      oh ya, mau tanya apakah Pak Suli pernah dengar di daerah gersik dekat surabaya ada pabrik buat mesin panen yg seperti traktor tangan, lito baca di web http://adainiitu.blogspot.com/2012/04/mesin-panen-padi-yang-telah-dilirik.html
      apakah ada pengalaman yg bisa disharing? lito sangat tertarik dengan mesin tersebut,
      apakah ada teman teman yg lain pernah mencoba mesin tersebut (FUTATA)?

      thanks and regards
      lito

  9. suli says:

    Ada baiknya bapak melihat langsung, demo mesin mesin tersebut, terlebih dulu hubungi balitmektan tangerang, kapan ada efen,biasanya beliau2 diundang oleh pabrik mesin2 tersebut.atau hubungi pabrik manapun untuk melihat demo mau di mana, biasanya sebelum panen raya dan memilih mobilisasi yang lebih mudah.

  10. lito says:

    Salam Mas Nur,
    lito sebenarnya adalah petani kecil yg bodoh dan kurang pengalaman, yg hanya bisa menyewa beberapa petak sawah saja, makanya lito hanya mengharapkan teman teman mau sharing pengalaman dan pengetahuan pertanian supaya lito bisa bertahan hidup dengan sawah yg kecil, hanya lito gemar mencari data di internet saja.

    thanks and regards
    lito

  11. suli says:

    Saya menambahkan keterangan dari Pak nurman untuk Pak lito, tentang masak tidak serentak
    -tanam bibit terlalu dalam,menyebabkan anakan lama keluar,lama tumbuh,lama yang lainnya
    -Bibit dalam rumpun lebih dari satu penyebabkan anakan masing masing bersaing, ada yang lambat ada yang tidak, solusinya 1 bibit satu lubang
    -Tanam bibit terlalu tua, lebih dari 25 hari, idealnya 15-18 hss, anakan juga telat berkembang karena induk bibit sudah sakit duluan karena akar stress sewaktu di cabut, lambat bla bla bla….
    -Kandungan unsur hara kurang ( unsur organik), makanan hanya cukup untuk bibit pokok, jatah makanan anakan sudah nga ada/hampir habis, lebih parah lagi kepengisian malai/bulir untuk anakan habis total ujung ujungnya prosentase gabah hampa tinggi > produksi/ha rendah > masuk perhitungan pemerintah rata rata diangka 5-6 t gkp/ha.ini angka permanen…jika kita petani tidak segera berganti model cara bertaninya, benar benar menjadi petani yang gagal total.

    jawaban no 4 sudah terjawab dengan keterangan diatas, mengapa??? lakukan segera di sawah bapak. terima kasih

    suli

    • lito says:

      Salam kenal Pak Suli,
      wah wah , hari ini lito beruntung sekali mendapatkan pengetahuan yg sangat berharga dari Pak Suli, lito sangat berterima kasih sekali atas ulasan ulasan dari Pak Suli, memang selama ini lito juga terapkan sistim tanam seperti yg Pak Suli anjurkan, tanam 1 bibit muda, tidak dalam dan letak akar berbentuk L, setiap 3-5 hari sekali lito check kondisi daun dengan bagan warna daun untuk pemupukan.
      kali ini lito mencoba fungi trichoderma, bakteri laktobasillus sp, nitrosomonas sp, nitrobacter sp, Anabaena azollae, (karena bakteri dan fungi bisa kita biakan sendiri hanya membeli biang sekali untuk bisa mendapatkan f1 sampai f5 berarti penghematan selama 5 musim tanam, dan cukup dimasukan dari pintu air sewaktu pengisian air sawah, jadi penghematan biaya upah semprot dan biaya tabur pupuk) hasilnya tanah semakin gembur, pemakaian pupuk N bisa dikurangi karena masih cukup, sesuai dengan bagan warna daun, pengisian bulir sampai ke pangkal malai, masalahnya anakan yg seharusnya tdk produktip menjadi produktip, tdk diambil sayang, diambil perbedaan umur induk dengan anakan terlalu jauh, gimana bagusnya ya? mohon pencerahannya
      sekali lagi lito ucapkan terima kasih sekali kepada Pak Suli atas pencerahan dan sharing pengalaman.

      thanks and regards
      lito

  12. suli says:

    Ok pak lito, sudah organik, Saya agak kurang mengerti tentang umur induk dan anakan, selama ini umur panen rata rata serempak tidak ada perbedaan yang berarti, malah saya sulit membedakan malai induk dan anak karena sewaktu tua, sama sama menguning. maaf hanya pengamatan petani kecil saja, tidak sampai ke situ situ. panen 90% menguning atau tua

  13. lito says:

    salam Pak Suli,
    thanks atas penjelasannya, pengamatan dan pengalaman Pak Suli masih jauh lebih baik daripada lito yg masih kurang pengalaman ini, lito masih harus banyak belajar dari Pak Suli, Mas Nur dan teman teman lain,
    sekali lagi lito ucapkan banyak terima kasih kepada Pak Suli dan terutama kepada Mas Nur yg telah memberikan kesempatan untuk lito belajar di Blog ini.

    thanks and regards
    lito

  14. a.bayu h says:

    sorry numpang nimbrung ,saya bayu dari banyuwangi petani pmula yg baru blajar tanam padi satu kali musim ..yg kbetulan saya pola semi organik ..waktu itu saya focus nyemprot pakai fermentasi urin kambing seminggu skali sampai padi bunting ..sama skali tanpa obat lain /kimia ,,hasilnya bulir padi lbih berisi lbih berbobot ..o ya untuk pmupukan saya tebar sebelum lahan dibajak dgn pupuk kandang/kohe 1ton yang saya fermentasi dgn suplemen organik.trus 15 hst saya pupuk phonska dan urea sedikit urea 50kg phonska 50kg luas lahan 5000m..memg hasil blm maximal tp bagi saya sdh lumayan dpt 3ton..bg temen yg punya masukn tak tunngu lo ..salam kenal bayu

  15. ali says:

    Letak akar mengikuti atau membentuk huruf L manfaatnya untuk apa ya pak suli? Itu saya pernah melihat di video sistem SRI.

    • suli says:

      Pak Ali
      Ya itu teori sri…memang kalau harus pas banget membentuk huruf L ya lama, ya kalau hanya beberapa meter, la kalau banyak keburu malam. tanam aja tidak terlalu dalam asal nempel dikit di tanah,tetap umur muda sama dengan SRI. manfaatnya perkembangan akar sempurna tidak sesak nafas, tanaman cepat membentuk anakan. yang tidak kalah penting benih sewaktu di sebar di buat jarang, tidak rapat, kalau saya tidak pakai nampan/baki/pipiti ( jika baru tanam di hajar hujan sama keong tamat), tapi persemaian biasa di sawah, hanya jika orang lain satu gulan/guludan (ukurannya sama) 3 kg, saya 1 kg, perha cukup 15 -20 kg >>>20 gulan.

  16. efendy manan says:

    Numpang sharing mas Nurman
    Salam kenal mas Bayu..saya juga petani dari Jatim ,kalau melihat hasil panen 5000m2 dpt 3 ton atau rata2 6 ton/ha dan hanya dengan pupuk kimia 20% dari dosis pemerintah itu sebenarnya sudah bagus mas..tapi alangkah baiknya jika mas bayu ingin menaikkan hasil bisa ditambah dengan pembenaman jerami 100% dan dosis pupuk kimianya 50%,pupuk kandang tetap diberikan juga lebih bagus…

  17. wiwid says:

    asslmualaikum.wr.wb bpk?
    Saya wiwid dri ngawi.ingn brtny pda bpk.musim tanam 1 ini saya menanam padi ciherang,dgn jarak 30 cm x 20 cm .kira2 apa kelemahan dan kelebihanya dgn jarak segitu.dan dosis pupuk yg efisien untk sawah luas 3/4 h?trm ksh untk jwbny

  18. Pingback: Cara Mengolah Panen Padi | Penghemat Bahan Bakar Mobil | Penghemat Motor Matic Post

  19. penta kurnia putra says:

    Untuk mesin pemanen padi futata,di tempat saya di tentang banyak petani.soalnya dgn pake mesin itu.pekerjaan memanen padi manual jadi tdk laku.karena biasanya kalo orang kerja manen padi dpt upah dgn perbandingan 8:1.dan dgn adanya mesin itu tenaga manual tdk laku lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s